Rabu, 25 Februari 2015

Selingkuh dengan Gadget

"Kalau udah main game di hp tuh, suamiku lupa semuanya."
"Istriku di depan laptop, alamat rumah gak keurus deh."

Pernah menggerutu atau bahkan menegur pasangan secara langsung? Ketika melihat mereka konsentrasi penuh di depan gadget masing-masing. Rumah berantakan, anak tampak tak terurus, bahkan makanan atau minuman sambutan saat pulang kerja tidak ada di meja.

Selingkuh dengan gadget? Iya lah. Bangun tidur yang dicariin ponsel, pulang kerja yang dipegang tablet, dan mau tidurpun yang dibuka dulu laptopnya. Awalnya gak masalah. Eh lama-lama kok dunia kaya milik dia dan gadgetnya, kita ngontrak aja tuh.

Hati rasanya dongkol tetapi apa daya. Kita harus lebih bersabar menunggu saat yang tepat untuk membicarakan masalah perselingkuhan ini dengan kepala dingin.

Belum sempat waktu tepat itu datang, musibah telah mendahului. Anak jatuh dari sepeda karena si orang tua sibuk dengan gadget masing-masing. Posisi jatuh ekstrim membuat anak mengalami pendarahan di tangan dan kepala.

diambil dari sini
Untunglah, orang tua si anak ini bersikap bijak dengan tidak saling menyalahkan. Mereka berdua sama-sama tersadar dan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan anak.

Belajar dari peristiwa itu, maka sebaiknya kita sesegera mungkin menyelesaikan masalah perselingkuhan dengan gadget ini.

^ Bicarakan saat pasangan baik itu suami maupun istri terlihat terlalu fokus dengan gadget saat sedang bermain dengan anak.

Mintalah dengan nada yang lembut untuk meletakkan gadget dan fokus dengan yang sedang dilakukan. Misalnya sudah waktunya bermain dengan anak, ya ingatkan untuk memberikan perhatian penuh tanpa terbagi dengan apapun.

^Sepakati jadwal bersama

Sebaiknya suami istri memiliki kesepakatan tentang jadwal untuk bisa saling memahami. Apabila sudah memiliki anak maka suami istri bisa melibatkan anak. Agar waktu keluarga bisa lebih berkualitas.

Untuk anak yang sudah mengerti, biasanya dia akan meminta gadget kita. Baik jika anak meletakkan di tempat seharusnya. Namun ada anak yang langsung membanting gadget kita begitu tahu kita tidak memberikan perhatian penuh padanya. Gadget rusak, hubungan dengan anak pun bisa memburuk. Jadi segeralah patuhi jadwal jika sudah disepakati bersama.

^Sadari bahwa gadget untuk memudahkan kita bukan kita yang diperbudak oleh gadget


Kembali lagi ke proses ya. Kita tidak bisa terburu-buru menuntut orang lain untuk berubah. Namun niat kuat untuk berubah pasti akan memuluskan jalan kita menuju perubahan.
Selasa, 24 Februari 2015

Para Pemeras Emosi

Para pemeras emosi ada di sekita kita. Bagi para pemula seperti ibu baru, blogger junior, atau penulis yang mengawali karir; para pemeras emosi adalah yang semestinya bahkan wajib dihindari. Kenapa? Karena mereka bisa membuat Anda kehilangan impian Anda. Impian untuk menjadi ibu yang terbaik, blogger konsisten, dan penulis produktif.

Mereka tidak mem-bully kita dengan cara memukul atau melakukan kekerasan fisik tetapi verbal. Kalimat-kalimat mereka begitu tajam laksana pisau. Bagi para pemikir, si melankolis, atau yang bahasa kasihnya pujian; tentu kata-kata seperti ini: "Anak kok gak dikasih susu tambahan, nanti kelaparan lho", "Artikel blogmu gak banget deh",  atau "Novel apaan nih. Datar banget, udah bisa ketebak endingnya." Sangat menjatuhkan mental.

http://www.iaam.com/artimages/advice/Girl-Bullying.jpg
Tiba-tiba kita merasa tidak mampu, merasa tidak layak dan yang parah kita memutuskan untuk menyerah. Berhenti di tengah jalan.

Aku baru saja dicurhatin seorang penulis terkenal yang punya penggemar nyeleneh. Si penggemar selalu membeli dan membaca novelnya. Namun uniknya penggemarnya selalu memberikan 3 bintang, memberikan review jelek. "Novel ini datar, gak ada twist, ceritanya ketebak." Lalu setelah makan hati berkali-kali, penulis ini bilang ke penggemar uniknya, "Sudah lah berhenti beli novelku, genre kita gak cocok." Eh penggemarnya tetap saja beli novelnya.

Begitulah para pemeras emosi bekerja. Tanpa putus asa menghasut kita hingga kita kalah. Menyerah untuk memperjuangkan mimpi. Kita tidak bisa terus menghindari mereka karena terkadang mereka adalah orang yang ada di sekitar kita. Bahkan kadang pemeras emosi kita adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Bisa jadi mereka adalah papa dan mama kita, suami kita, atau saudara-saudara kita. Jika tetangga atau teman, kita bisa tidak menemui mereka lagi terus kalau ternyata dia adalah orang dekat kita yang tidak mungkin dihindari. Bagaimana?

1. Cobalah untuk berkomunikasi
Hanya diam saja tidak akan menyelesaikan masalah. Cobalah untuk menenangkan diri dulu. Jika kita sudah tenang, maka kita akan siap berkomunikasi. Komunikasikan dengan kepala dingin, bicarakan bahwa kata-kata mereka menyakiti kita. Ungkapkan keinginan kita tentang teguran yang pilihan katanya positif. Bukan yang menjatuhkan.

2. Pilih waktu yang tepat
Waktu tepat bagi kedua belah pihak. Tidak dalam keadaan yang sama-sama marah atau lelah.

3. Perubahan adalah proses
Hari ini kita bicarakan, belum tentu besok pemeras emosi berhenti mengganggu kita. Semua butuh proses. Kita harus merubah pola pikir instan kita. Mie instan aja butuh waktu untuk bisa kita makan, apalagi orang yang biasa menjadi pemeras emosi. Tentu butuh waktu untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.

Note:

Ditulis sebagai katarsis. penulis sedang menghadapi omongan-omongan yang membuat penulis ingin berhenti meraih impian..

Terima kasih untuk teman-teman penulis, blogger, dan emaks yang selalu mengingatkan diriku untuk terus konsisten meraih apa yang aku impikan.


Sabtu, 21 Februari 2015

Belajar Dari Audrey

 Umurnya baru genap 4 tahun. AUDREY MIRELA ROSA. Gadis mungil, kulit putih, rambut lurus diikat dengan gaya kepangan khas anak-anak, dan yang tidak terelakkan adalah aroma semerbak khas bedak bayi dan minyak telon. Tiap pagi aku berusaha meluangkan waktu untuk menyapa Audrey  lalu "down on knee" agar setara dengan tinggi badannya kemudian membentangkan dengan lebar kedua tanganku sambil bilang, “Peluk dulu." Seketika itu juga Audrey akan berlari kecil menuju pelukanku. Aku sangat menikmati momen indah saat memeluknya. Melalui pelukan itu seperti ada proses transfer aura ketulusan yang dimiliki Audrey. Aku menyimpan aura dengan helaan napas yang dalam. Ajaibnya setelah pelukan itu, aku merasa ketenangan meliputi alam bawah sadarku.
Audrey masih di playgroup, dia adalah murid kesayangan kami semua karena dia adalah si sosialita. Ceria, enerjik, paling banyak cerita dan pertanyaan dari awal sampai akhir kelas. Dia adalah my mood booster. Sebelum bertemu dengan kakak-kakak TK A, aku akan menemui Audrey untuk rutinitas pelukan hangat sekaligus terapi aura. Ya, aku adalah seorang guru TK A. Hari-hari aku lalui dengan berinteraksi dengan anak-anak umur 4-5 tahun. Setelah berpelukan dengan Audrey, aku memiliki keyakinan penuh bahwa hari ini semua akan berakhir dengan solusi-solusi yang terbaik. Melalui 07.30-11.30 tanpa teriakan, bentakan ataupun wajah judes.
Di suatu pagi dia berangkat diantar sang Mama sampai di lantai 2. Tidak seperti biasanya, hari itu dia tidak mau dipeluk dan terus menempel dengan sang Mama hingga waktu masuk ke sentra bermain tiba. "Gak tahu nih Miss, Audrey bilang teman-temannya juga diantar mamanya kalo ke sekolah jadinya saya mengalah untuk ambil cuti hari ini supaya biar bisa menemani dia."
       7 Februari 2012, kabar mengejutkan datang:  Mama dan Suster Audrey masuk rumah sakit karena luka bakar. Suster Audrey kena hampir 95% dan mama Audrey kena 90%. Audrey selamat tanpa luka. Ayah Audrey selamat karena sedang kerja di luar kota. Kami belum tahu apa yang terjadi. Kami masih menduga-duga apa yang terjadi.. Kami terus berusaha mencari kabar berita.
 Tanggal 14 Februari 2012, Suster Audrey meninggal. Tanggal 18 Februari 2012 kami ke Solo untuk menjenguk Audrey. Mama Audrey tidak bisa dikunjungi  karena masih di ICU.  Kami menuju hotel tempat keluarga Audrey menginap. Kami membawa semua yang dia sukai. Buku tentang kuda, mainan kuda yang bisa berjalan, kuda mainan.
Ketika kami datang, Audrey bersembunyi di belakang Oma. Tatapannya kosong, bingung dan perih. Kami berusaha senormal mungkin. Menciptakan suasana yang santai dan biasa dinikmati, seperti saat dia berada di sekolah. Berusaha memunculkan keceriaan yang biasanya ada di diri Audrey. Itu tidak mudah. Dari sang Oma, kami mendapatkan cerita tentang musibah yang meninggalkan trauma bagi Audrey. Siang itu, suster sedang memasang regulator gas tetapi tidak berhasil. Mama Audrey membantu. Belum pas regulator tersebut terpasang, suster sudah menyalakan kompor. Duarrr! Tabung gas meledak. Membakar Suster dan Mama. Di saat genting seperti itu, Mama Audrey sempat berteriak: "Audrey, keluar! Kebakaran Drey!" Audrey yang masih di kamar, memungut boneka kesayangannya lalu berlari keluar dan berhasil diselamatkan tukang sampah biasa lewat yang mungkin memang dikirim Tuhan sebagai penyelamat. Audrey tidak tahu kalau Susternya meninggal karena Omanya bilang '"Suster pulang kampung". Tanggal 20 Februari 2012, Mama Audrey akhirnya meninggal. Aku ikut terpukul, umur Audrey  baru genap 4 tahun tetapi cobaan yang Tuhan berikan sungguh tak terperikan oleh kata-kata. Catatan  ini aku tulis untuk menyemangati diriku.
            Dear My Beloved Audrey
Untuk cobaan yang Tuhan hadirkan saat ini, Miss Apik yakin jika Dia pasti juga akan hamparkan solusi yang sesuai. Tuhan Maha Tahu dan Maha Pengasih. Audrey kuat, Audrey hebat!
          Kejadian yang menimpa Audrey, membuat aku lebih mensyukuri apa yang aku miliki. Apa yang Tuhan miliki pasti akan kembali kepada-Nya. Selama kita masih memiliki rejeki dan anugerah yang Tuhan titipkan seperti: suami, istri, anak, orang tua, saudara, teman atau apapun bentuknya, JAGALAH DENGAN BAIK, sehingga saat Tuhan mengambil mereka kembali ke sisi-Nya, tidak ada PENYESALAN yang tertinggal karena kita telah memberikan yang terbaik.

Note:
Tulisan ini aku posting di notes facebook dan akun kompasiana milikku.

21 Februari 2015, aku memposting ulang tulisan ini. Aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Aku ingin sedikit demi sedikit belajar melepaskan. Laksana pasir yang aku genggam erat, pasir itu sedikit demi sedikit akan lepas pula dari genggaman. Aku tidak ingin menggenggam erat apa yang aku miliki. Aku ingin ikhlaskan saja agar sesak di dada ini berkurang.
Aku merindukan Audrey. Aku tak tahu kabarnya kini. Semoga dalam waktu dekat, aku bisa tahu keadaannya. 
Jumat, 20 Februari 2015

BELAJAR HENING, TAK HARUS SEPI

Hadiah tantangan 2 dari grup #funblogging adalah ketemu mas Adjie Silarus. Seorang praktisi MindFullness, Sadar Penuh Hadir Utuh. Kami bisa curhat tentang emosi-emosi yang sedang dirasakan saat ini. Sekaligus bisa belajar bagaimana cara mengolah emosi negatif menjadi positif. Merasa bersyukur karena hampir saja memutuskan tidak hadir karena badmood yang menyapa.

Buat teman-teman yang sudah menang tantangan tetapi berhalangan hadir, semoga artikel ini bisa memberikan gambaran tentang belajar hening bersama mas Adjie Silarus.

 1. Sesi Curhat
Sesi belajar hening bersama Mas Adjie Silarus diawali dengan penjelasan tentang kehidupan kita yang sangat cepat. Banyak hal yang dilakukan dan diinginkan hingga kita lupa sisi being (yin) kita. Lebih mengedepankan sisi doing(yang) kita. Doing (yang) terlalu berambisi, ingin semua serba cepat, dan jika mampu kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Lalu dari ketidakseimbangan itulah muncul masalah-masalah yang membuat kita tidak menikmati hidup, stres berat dan gangguan mood.
Jika tidak disikapi dengan tepat maka bisa berakibat pada keinginan kuat untuk mengakhiri hidup. Seperti halnya fenomena yang dewasa ini acap kali ditemukan. Artis sangat terkenal, pengusaha kaya raya, atau ibu rumah tangga sukses yang ditemukan bunuh diri. Kok bisa? Mereka kan terkenal, kaya, sukses pula. Bagaimana bisa mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup?

Tentu saja kita harus menyeimbangkan sisi being (yin) dan juga sisi doing (yang) milik kita. Penjelasan tentang apa itu  being (yin) dan doing (yang), ada di bawah ini.


 

Banyak pertanyaan yang muncul setelah mas Adjie Silarus menjelaskan pentingnya menyeimbangkan sisi being (yin) dan sisi doing (yang). Sayangnya karena tidak ada catatan atau rekaman, aku masukkan yang aku ingat saja ya. 
- Jika kita sudah belajar hening, apakah kita tidak boleh punya ambisi?
Tentu saja boleh tetapi kembali lagi bagaimana cara kita untuk tidak tergesa agar ambisi kita bisa jadi hal yang tepat untuk kita dapatkan.

-Bagaimana cara kita konsisten setelah memilih untuk belajar hening?
Dengan cara menikmati proses. Tidak terlalu mengharapkan hasil. Jika kita nothing to lose maka dengan sendirinya kita lebih menikmati apapun keputusan yang sudah kita ambil. Jangan selalu membenci setiap keputusan yang sudah kita putuskan sendiri.

-Saya stres tetapi tidak bisa curhat ke orang?
Orang introvert tidak bisa dipaksa untuk lebih terbuka ke orang lain. Namun tidak ada salahnya mencoba. Jika memang tidak bisa curhat ke orang, bisa mencoba curhat melalui tulisan. Berbagi emosi-emosi kita ke orang lain berarti kita bisa mengurangi beban yang berpotensi membuat stres.

-Saya sering dicurhati lalu terlalu larut dalam curhat seorang teman, apa yang harus saya lakukan akan bisa kembali menikmati hidup?
Luangkan waktu untuk meletakkan kedua kaki atau tangan di tanah. Menjejak ke tanah. Jangan lupa meminta maaf ke ibu pertiwi karena kita menyalurkan energi negatif kita dan menyerap energi positif dari alam atau ibu pertiwi.
Dekat dengan alam membuat kita lebih bersyukur dan rasa syukur memberikan ketenangan. Ketenangan membuat kita bisa menikmati hidup kita kembali.

-Social Media Anxiety Disorder, bagaimana cara saya menghindari penyakit itu?
Social Media Anxiety Disorder adalah penyakit yang membuat kita khawatir saat kita tidak segera mengecek notifikasi-notifikasi facebook, twitter, email, whatsapp grup, dan akun-akun sosial media yang berhubungan dengan keseharian kita. Akhirnya kita kemana-mana tidak bisa jauh dari gadget kita.
Agar kita terlepas dari kekhawatiran dan memiliki waktu yang lebih berkualitas dengan orang-orang yang kita cintai  maka harus dibuat jadwal. Dari jam berapa sampai jam berapa kita mengecek semua notifikasi tersebut. Di luar waktu-waktu itu, kita bisa memaksimalkan waktu untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

-Saya ingin bisa belajar melepaskan, bagaimana caranya?
Belajarlah dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti halnya kebiasaan, 1 book out 1 book in. Jika kita mau beli satu buku baru maka harus ada satu buku yang diberikan ke orang lain.
Setelah itu tanamkan pikiran bahwa tidak akan rugi jika kita berbagi. Perubahan pola pikir akan membuat kita lebih mudah untuk melepaskan.

-Mas Adjie, saya punya teman dekat yang membuat saya nyaman. Saya takut jika suatu saat dia pergi, bagaimana dengan saya?
Tidak ada satupun hal di dunia ini yang kekal. Kita akan lebih tegar menghadapi kenyataan-kenyataan pahit seperti kehilangan jika kita tahu bahwa semua itu tidak abadi.

-Apakah kita harus berada di tempat yang sepi untuk belajar hening?
Tidak harus, belajar hening bisa dilakukan di mana saja. Saat menunggu, saat KRL penuh sesak kita bisa belajar hening. Menikmati setiap hembusan napas, bersyukur untuk setiap hal yang kita miliki. Saat ini, ya hembusan napas kita.



2. Sesi Meditasi
Sepuluh menit terakhir, mas Adjie Silarus mengajak kami untuk berlatih meditasi. Salah satu cara untuk belajar hening, merasakan tarikan dan hembusan napas kita sendiri. Diiringi musik yang menenangkan. Duduk dengan posisi senyaman mungkin, mulai menutup mata. Jika merasa ngantuk yang luar biasa (seperti yang aku rasakan, hihihi), mas Adjie Silarus membimbing agar kita bisa mengontrol pikiran kita sendiri. Menahan secara bertahap rasa kantuk yang menyerang. Setelah itu, meletakkan tangan kanan di perut dan tangan kiri tetap di paha untuk merasakan keluar masuknya udara. Kami melakukan pernapasan perut. Saat menarik napas, perut diupayakan mengembang dengan maksimal. Ketika menghembuskan napas, perut dikempiskan hingga sekempis mungkin.
"Ada beberapa teman yang masih menarik napas secara terburu-buru," kata mas Adjie mengingatkan.
"Lakukan perlahan, nikmatilah keluar masuknya napas. Bersyukur kita masih diberi napas hingga hari ini," mas Adjie membimbing dengan sabar.
"Jika ada pikiran yang berkelana menyesali masa lalu, tarik kembali ke masa kini. Jika ada pikiran yang jalan-jalan ke masa depan, ingatkan dia untuk pulang ke masa kini."
Kami berkonsentrasi dengan napas kami. Napas yang masuk. Napas yang keluar. Saat ini. Bukan kemarin. Bukan juga besok. Sekarang, sadar penuh hadir utuh di sini.

Terima kasih mas Adjie Silarus dan tim SukhaCitta yang telah menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami pulang dengan hati senang dan riang. Plooong rasanya, siap menghadapi hari baru yang penuh rasa syukur. Semoga bisa ketemu lagi lain waktu. Belajar hening lagi. Terapi aura lagi. Aura positif tentu saja.


Kamis, 19 Februari 2015

Tertipu Pikiran

Banyak sekali alasan kenapa kita menunda.Dari banyak alasan, tertipu oleh pikiran sendiri adalah yang sering

aku alami. Aku sering akhirnya kalah oleh pikiranku sendiri dan tidak ada tulisan yang diposting di blog.

Di bawah ini, pikiran-pikiran yang sering menipuku:

1. Ah, sebentar juga selesai

Ketika ada deadline yang menjelang, tiba-tiba terlintas pikiran: "Ah, sebentar juga selesai." Padahal masih

harus menata layout, membaca beberapa sumber, dan memasang banner yang belum aku kuasai caranya.

Tentu saja itu tidak akan memakan waktu yang singkat. Namun entah kenapa pikiran itu berhasil menipuku

berulang-ulang kali.

http://2.bp.blogspot.com/-s96Q8eCBEAk/Uc2umqiSOGI/AAAAAAAAAGc/atqb7A99qb0/s180/sebentar-gue-pikirin-dulu.jpg


2. Besok juga bisa

Besok, adalah kata paling mujarab untuk menunda pekerjaan. Besok masih bisa, besok kan libur jadi

waktunya banyak, atau besok ada pembantu yang bisa jagain anak.

Esok hari mati listrik karena pemadaman bergilir, anak rewel, cucian menumpuk. Dan lagi, gagal posting

terjadi.

http://fashionurge.com/wp-content/uploads/2014/10/Life.jpg


3. Aku kan si ahli "bekerja dalam tekanan"

Aku kerap merasa lebih maksimal jika mepet deadline. Ada banyak ide yang datang menghampiri. Saat ide-

ide itu datang, rasanya tangan begitu lincah mengetik di atas keyboard. Selain itu tekanan yang dirasakan

justru membuatku lebih pede jika menulis pada saat diburu deadline.

Namun akhir-akhir ini, ahli "bekerja dalam tekanan" sering terjebak. Ketika waktu kurang dari dua hari, aku

berusaha mengerjakan. Di depan laptop, memandang tulisan yang harus aku selesaikan. Si ahli "bekerja

dalam tekanan" tiba-tiba kehilangan kekuatan supernya. Merasa tidak mampu, merasa kurang bahan bacaan,

dan merasa tulisannya belum sempurna untuk dibaca orang lain. Lagi-lagi tertipu oleh pkiran sendiri.

http://www.luvpk.com/wp-content/uploads/2014/10/Best-Life-Quotes-HD-Desktop-Wallpaper.jpg
Note: tulisan ini dituliskan sebagai katarsis. Penulis sedang dalam masa penyembuhan dari penyakit 'menunda akut'.
Rabu, 18 Februari 2015

MERDEKAKAN HATIKU



“Meeeel...”
Lengkingan cetar itu membahana di seluruh lorong fakultas bahasa. Mel langsung menghentikan langkah, menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang memanggil, dan berdiri menunggu. Cewek gembul berkacamata itu berlari dengan terengah-engah.
“Mel, untuk tujuhbelasan tahun ini kampus ngadain lomba menulis tentang makna kemerdekaan. Hadiahnya lumayan, kamu ikutan ya?” pinta Sandhy sambil mengatur napas.
“Aku udah baca pengumumannya,” ucap Melati tak bersemangat
Ingatan Mel melayang ke peristiwa saat dia meminta pendapat Ben.
“Kalau Ben bilang gak boleh ya gak boleh. Gak perlu tanya alasannya,” bentak Ben seraya berlalu meninggalkan Mel yang masih terduduk diam di bangku taman kampus.
“Busyet, baru pacaran aja udah berani bentak-bentak,” celetuk seorang pria ceking yang menjadi saksi dengar.
Perasaan Mel campur aduk. Ben pacar Mel, seseorang yang seharusnya bisa mengerti apa yang Mel impikan atau setidaknya apa yang Mel suka. Namun tidak dengan Ben. Ben ingin dimengerti tanpa mau berusaha mengerti Mel.
“Kok jadi ngelamun Mel? Ada yang Shandy belum tahu ya? Ayolah cerita! Shandy kan jadi bingung kalo Mel diem.”
“Shandy, emangnya salah ya kalau aku pengen ikutan lomba menulis itu?”
“Loh kok malah nanya gitu? Kan Shandy yang minta Mel ikutan.”
“Alasannya apa kamu pengen aku ikutan?”
“Ya ampun, nanyanya kaya Shandy baru kenal Mel kemaren aja. Ya karena Mel itu punya bakat, karena Shandy suka baca tulisan-tulisan Mel. Dalem banget.”
“Kamu bilang gitu karena kamu temenku kan?”
“Susah kalo ngomong sama orang lagi sensitif. Coba sekarang kita masuk kelas, Mel duduk di depan laptop terus mulai nulis deh. Nanti bakalan keliatan itu aura ketenangan di sekitar Mel.”
“Syukurlah kalo aura ketenangan, gak aroma bau badan.”
Krik... Krik... Mel buru-buru ngacir sebelum ditimpuk kamus bahasa Indonesia-Inggris yang dibawa Shandy. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dada Mel. Harapan untuk membanggakan. Membanggakan siapa?
"Ibu ingin melihat namamu di atas karyamu," harapan mendiang ibu Mel terngiang.
Tepat satu bulan kemudian. Mel memandangi karyanya. Karya yang ada namanya sendiri di atasnya. Karya yang akhirnya memerdekakan dirinya. Merdeka untuk memilih dan melakukan apapun sesuai dengan keinginannya.
“Kamu masih mau ikutan lomba menulis itu? Kalo ya silakan saja tapi hubungan kita berakhir sampai di sini saja.”
“Tapi kasih tahu aku apa alasannya Ben, apakah semata-mata cuma masalah ikut lomba menulis?”
“Hanya lomba menulis kamu pikir? Ini masalah besar buat aku Mel. Kamu gak  nurut sama aku. Sekarang aja gak  nurut, apalagi kalau sudah menikah.”
 Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai diriku sendiri. Ya diriku, kebebasanku. Alasanmu tidak cukup kuat untuk menghentikanku, Ben.”
Mel menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan butiran air mata yang tumpah. Dia tidak tahu untuk apa air matanya itu. Untuk naskahnya yang lolos sebagai juara? Untuk Ben yang tiba-tiba memutuskan hubungan karena pilihannya ini? Atau untuk mendiang ibunya yang menanti kemenangannya ini? Ini adalah kemerdekaannya dari segala egoisme Ben, tapi juga kesedihannya di detik-detik penobatan gelar kemenangannya. Jelang Ramadhan, jelang Hari Kemerdekaan, juga jelang ulang tahunnya. Dia harus kehilangan.
"Sudah, sudah! Kita lomba balap karung aja yuk," Shandy mencoba menghiburnya.
Mel mengangkat wajah dan segera menghapus air matanya. "Aku mau panjat pinang aja!

catatan: pernah dikirim ke majalah STORY tetapi tidak lolos. 
Senin, 16 Februari 2015

Istri atau Satpam?



"Duilee... Mbanya, istri apa satpam? *edisi nyinyir..."
Aku membaca berulang-ulang status salah satu temanku. Sepertinya merasa tersindir, sepertinya merasa dihakimi dan sepertinya merasa ditimpuk bata tepat di jidat. Apakah aku seorang istri atau satpam? Baiklah! Akan aku telusuri... Jika suamiku pulang, awalnya aku berjanji untuk tidak akan mengecek isi handphone suami, karena jika ada sesuatu yang tidak sesuai maka aku bukanlah orang yang dengan mudah bertanya untuk mendengarkan penjelasan. Aku biasanya akan menumpuk pikiran-pikiran, berasumsi, atau membuat alur cerita sendiri. Namun akan ada suara-suara seperti: "percayalah, kamu tidak akan menemukan sesuatu yang aneh jadi buka aja." Atau bujukan seperti: "apa salahnya kamu tahu isi handphone dia. Dia kan suamimu, kamu berhak donk tahu siapa saja yang berhubungan dengan dia." Setelah perdebatan yang sengit biasanya aku akan mulai jadi satpam, mulai mengecek isi handphone suamiku: siapa saja yang sms, telpon, chat dengan siapa aja. Ahhh lega, tidak ada yang aneh-aneh. Bagiku, butuh perjuangan untuk berdamai dengan pikiran-pikiran atau asumsi-asumsi negatif. "Bagaimana kalau udah dihapus? Handphone aja sekarang selalu di saku atau silent mode, jangan... Jangan..." Kalau udah begini rasanya kepala cenut-cenut dan pengen benturin ke tembok aja.

STOP! STOP! STOP!
 
"Saat kita memutuskan untuk memaafkan orang lain, bukan semata-mata karena orang tersebut layak untuk dimaafkan. Melainkan kita selalu layak untuk memiliki kedamaian/ketenangan di dalam hati.
Memaafkan itu dekat sekali dengan damai.
*dari pepatah arab"

Berulang-ulang aku membacanya, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Aku tidak bisa memaksakan apa yang aku yakini pada orang lain. Aku juga tidak bisa membuat orang lain melakukan sama seperti yang aku lakukan. Terhadap masa lalu aku memilih untuk membiarkan masa itu tetap ada di posisinya dengan cara tidak berhubungan dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Dan aku tidak bisa meminta bahkan memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama. "Kalau tiba-tiba kamu menemukan nama mantan dia di chat atau FB atau email gimana?" Selama aku berusaha untuk jadi istri yang bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan ke dia maka hasil dari usaha itu aku serahin aja ke اللّهُ. Berkaca dari pengalaman: tidak bijaklah orang yang hanya menuntut tetapi tidak mengusahakan yang terbaik. Jika menginginkan ketenangan maka aku harus berhenti menjadi satpam dan mulai berusaha untuk jadi istri yang baik.
Minggu, 15 Februari 2015

AKU BISA KARENA TERPAKSA




Terpaksa. Membuat seseorang terbangun dari zona nyaman. Zona yang merupakan rangkaian aktivitas yang berulang lalu menimbulkan kebosanan. Sungguh kata ‘terpaksa’ membuat hidup seseorang memiliki dinamika. Ada naik turunnya.
Masuk ke jurusan pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang adalah paksaan. Awalnya aku ingin masuk jurusan psikologi. Namun karena semasa SMA jurusanku adalah bahasa maka ibuku bersikukuh bahwa jurusan bahasa Inggris adalah yang paling tepat. Aku menjalani masa empat tahun dengan sukses. Tepat waktu. Karena apa? Terpaksa membuat aku akhirnya menempuh apa yang sudah ada digenggaman. No other possible choice. Take it or leave it!
Skripsi adalah keterpaksaan yang membuat aku merasa jadi manusia yang paling kuat di dunia. Bayangkan saja, aku yang biasa tidur dua belas jam sehari tiba-tiba bisa tidur hanya dua sampai empat jam sehari demi kertas-kertas ratusan lembar yang harus selesai setiap paginya agar dapat ikut bimbingan. Antrian yang mengular setiap pagi, coretan dosen sebagai tanda revisi, dan di depan laptop untuk waktu yang tak berbatas. Setelah semua berakhir, aku tersadar. Jika aku tak memaksa diriku maka tidak akan ada gelar S.Pd di belakang namaku. Aku tak akan dengan bangga bercerita kepada adikku bahwa aku lulus tepat waktu. Aku juga tak akan bisa memberi motivasi adikku untuk lulus lebih cepat.
Jika hidup menawarkan pilihan maka tidak ada salahnya kita salah pilih. Karena dari kesalahan itulah kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Memaksa kita untuk mengingat bahwa jika sudah memilih maka kita harus siap dengan segala keruwetan, kerempongan, keriwehan yang ditimbulkan dari pilihan kita.
Dulu aku tak suka anak-anak. Namun karena terpaksa aku bisa menjalani dua tahun yang penuh perjuangan mengajar anak-anak di taman kanak-kanak Bukit Aksara. Aneh tapi nyata. Berawal dari rasa terpaksa, berproses. Lalu ada satu titik dimana aku sangat menikmati ada di sekitar mereka. Menjadi idola, menjadi panutan dan selalu ditelepon pagi-pagi hanya untuk menanyakan seragam warna apa yang dipakai hai ini. Sungguh waktu memang selalu bisa memberi kejutan yang tak disangka.
Sungguh apabila kita jeli, kita bisa melihat bahwa keterpaksaan membawa hasil yang bagus. Kita jadi berani mengambil resiko terkadang tanpa memikirkan apa hasil atau tantangan yang akan kita hadapi.   
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design