Jumat, 05 Juni 2015

Kalau Tidak Cinta, Saya Pasti Menyerah



Pesona/No. 06 /Juni 2015 Halaman 32-33
Cover depan majalah Pesona itu mengingatkan aku akan hutangku. Hutang artikel tentang pertemuanku dengan Maudy Koesnaedi.

"Kalau bukan karena cinta dari hati, mungkin saya sudah menyerah untuk memberdayakan potensi Abang None Jakarta untuk melestarikan budaya Betawi," ujar mpok Mod sapaan akrab Maudy Koesnaedi

Rabu, 03 Juni 2015

Emak, Mana Sarapanku?

Menganggap biasa jika melewatkan sarapan? Wah, harus mulai mengubah cara berpikir nih. 
Pikiranku terbuka saat hadir di acara Community Gathering KRAFT "Pagi yang Sehat, Hari yang Hebat".  Rabu, 20 Mei 2015 di Locanda Food Voyager Senayan Jakarta; Victoria Djajadi Nutritionist yang menjadi pembicara hari itu mengungkapkan bahwa sarapan merupakan "asupan pertama" di pagi hari yang dilakukan sebelum memulai aktivitas dengan kandungan energi mencapai 20-25% dari total keseluruhan energi yang dibutuhkan hari itu. 
Nah dari situlah, aku berpikir untuk lebih berjuang untuk menyiapkan sarapan. Sarapan untuk si kecil Gara dan Ayah sebelum berangkat kantor.


Temukan Dunia Penuh Kesempatan dengan PINT@RNET




"Bayangkan jika temanmu internet!"

Iklan untuk PINT@RNET dari Indosat. Di mana semua orang yang masih menggunakan featured phone bisa menikmati akses cepat dan gratis.

Bagaimana caranya?


Senin, 01 Juni 2015

28+1, Memaknai Bertambahnya Umur

"Pagiii, met ultah ya. Semoga sehat selalu, makin rajin nulis, hepi to the max, melampaui semua yang dicita-citakan. Gak mood2an lagi. "

Ada banyak rencana untuk menyambut bertambahnya umur. Sungguh aku ingin jadi yang terbaik paling tidak untuk diriku sendiri.

1. Makan Lebih Sehat dan Seimbang

2. Berteman dan meluaskan jaringan

3. Menuliskan 1 novel di akhir tahun

4. Memaknai setiap hal kecil

5. Konsisten memasak

6. Konsisten menulis

7. Konsisten membaca

8. Konsisten mengisi buku diary

+1 Tidak memaksakan semua harus sempurna dan sesuai keinginan

Bertambahnya umur semoga selalu terus belajar memaknai dan mengaplikasikan ilmu ke dalam aksi nyata.

Phalupi Apik Herowati (31 Mei 1987- 31 Mei 2015)
Jumat, 24 April 2015

Google Sandbox, Hukuman atau Pembelajaran?

Lagi rajin-rajinnya mengisi blog, komentar banyak, bahkan ada yang sampai membagi artikel yang aku tulis. Eh hari ini cek alexa, naik drastis dari 2.036.767 ke 2.759.155.

Awalnya sih gak panik ya tetapi pas baca beberapa artikel di www.google.com kok mulai deg-degan. Kenapa? Di salah satu artikel yang aku baca, ada yang bilang kalau website milikku masuk ke google sandbox.

Merasa penasaran apakah benar blogku masuk ke google sandbox aku klik alamat link-nya: https://www.searchenginegenie.com/sandbox-checker.htm

Dan setelah memasukkan artikel yang aku curigai, inilah hasilnya:
Ternyata blog aku masuk di google sandbox. Langsung deh rasanya pusing dan ingin pingsan. Oke, sepertinya aku terlalu lebay.

Google sandbox sebenarnya semacam penjara. Penjara yang mengurung blog kita sehingga saat kita mencarinya di google.co.id maka kita tidak bisa menemukannya. Artikel yang kita tidak terlacak SERP Google.

Untuk kasusku, di artikel yang aku posting berjudul: Book Hoarder, Yes I Am ternyata judul mirip-mirip dan keyword yang diulang-ulang yang tidak sesuai dengan google webmaster guidline. Sehingga blogku masuk di google sandbox dan menurunkan jumlah pengunjung secara drastis.

Google sandbox adalah hukuman bagiku untuk konsisten mengisi blog dengan konten-konten yang segar. Bukan sekedar kumpulan link tetapi hasil dari membaca, diberi foto-foto dengan keterangan yang sesuai, dan secara berkala di posting.

Lalu apa cara apa yang bisa digunakan untuk bisa keluar dari google sandbox?

1. Mengedit artikel yang sudah masuk di google sandbox.

Artikel yang sudah aku edit dari Book Hoarder, Yes I Am menjadi Si Penimbun Buku Itu Aku

2. Membuat kronologi kenapa artikel di blog bisa masuk ke google sandbox.

Untuk kasusku, judul yang aku gunakan mirip-mirip dan juga mengulang keyword 'book hoarder'

3. Saat membuat artikel tentang google sandbox, masukkan baclink menuju ke google, wikipedia, dan artikel yang masuk ke google sandbox. Seperti artikel yang sedang saya tulis ini.

Selain artikel "Book Hoarder, Yes I Am" artikel yang berjudul Depresi Pasca Melahirkan sempat tidak terindex. Namun setelah melakukan editing artikel tersebut bisa terindex lagi.

4. Setelah semua selesai dan di-posting, submit sitemap dengan klik webmaster tool. 

5. Berdoa agar semua usaha dan pembelajaran dari kurungan google sandbox bisa dilewati dengan baik.

Semoga aku segera bebas dari hukuman google sandbox dan pembelajaran yang aku dapatkan hari ini selain bisa bermanfaat buatku juga bermanfaat buat pembaca semua.

Aku berharap artikel Google Sandbox, Hukuman atau Pembelajaran? ini bisa membuat aku segera bebas dari google sandbox. Amin.

Jika ada yang punya lebih banyak ilmu dan pengalaman bisa bantu aku dengan menuliskan cara lain yang lebih efektif di kolom komentar.Terima Kasih.
Rabu, 22 April 2015

Si Penimbun Buku Itu Aku

Saat aku melihat serial 'hoarder' di kompasTV. Langsung terbayang tumpukan bukuku. Ya, setelah menulis beberapa artikel, aku menemukan ada yang salah denganku. Sebenarnya sudah lama aku merasakan ini. Namun belum bisa menemukan nama yang tepat. Obsessive Compulsive Disorder. Memang belum parah karena kadang aku merasa bisa mengendalikannya. 

OCD yang aku alami memiliki ciri-ciri. Aku selalu mencoba menenangkan diri saat mencuci dan meninggalkan anak tidur di kamar. Di lain waktu aku bolak-balik untuk memastikan sudah mengunci pintu. 

Saat aku hamil baby G, aku tinggal berjauhan dengan suami. Dia tinggal di Jakarta dan aku di Semarang. Kamar kosku sangat berantakan karena aku bisa menemukan rasa nyaman dengan benda-benda yang berupa tumpukan. Namun kalau suami mau balik ke Semarang, aku akan secepat kilat membersihkannya. Merapikan semua sesuai dengan tempatnya.

Melalui terapi yang panjang, akhirnya aku bisa sedikit mengurangi kepanikanku. Meskipun tetap, ada yang kurang saat tidak merasa khawatir atau terlalu memikirkan sesuatu.

Nah, setelah semua berkurang. Ada satu yang sampai sekarang belum bisa aku kontrol yaitu menimbun buku. Aku masih berusaha mengontrol. Saat belajar hening bersama mas Adjie Silarus, aku belajar untuk one book in one book out. Belum berhasil sepenuhnya tetapi aku mencoba. Baru bisa melepas 2 buku untuk memeriahkan giveawaynya mba Myra.

Agar tidak mengarah ke hal negatif, aku mengumpulkan hal-hal positif tentang penimbun buku.

1. Potensi meredam stresnya tinggi. Kalau stres bisa ubek-ubek buku yang masih plastikan. Mencium aroma buku baru yang bagaikan candu. Asal jangan stres lagi pas melihat harga buku yang masih terpampang nyata. Tentang hal ini, aku tidak bisa memaksa kamu untuk mengerti. Sebab, hanya penimbun buku yang tahu nikmatnya mencandu aroma buku.

2. Menambah pengetahuan. Buku-buku yang sudah dibuka, entah kapan waktunya pasti dibaca. Saat stres bisa baca komik, majalah, atau novel-novel favorit memberikan ilmu-ilmu tambahan tanpa kita menyadari. Pas ada masalah, eh aku pernah baca nih di majalah X cara move on dari mantan yang suka PHP-in aku.

3. Saat buku-buku yang dibaca sudah banyak maka bisa disumbangkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Buku ini mungkin belum bermanfaat buat aku tetapi pasti bermanfaat buat si A.

Book hoarder, Yes I am. Wish me luck. Hope I can share more to others. Share books of course.

sebagian buku yang dirawat sama kakak ipar
ini yang aku bawa balik ke Jakarta karena butuh
Akan aku baca lagi buat menambah ilmu



Mulai Membangun Jaringan Si Emak Sensi

Semenjak bergabung dengan komunitas FUN BLOGGING, aku mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dengan guru-guru baru selain Mba Ani Berta, Mba Shinta Ries, dan Mba Haya Aliya Zaki.

Rabu, 18 Maret 2015 poster Funday Sharing mampir di grup fun blogging. Pembicaranya Ita Sembiring. Temanya 'The Power of Networking'. 

Aku memutuskan untuk ikut karena setelah hampir satu tahun di Jakarta, fokus menjadi ibu rumah tangga, dan sedikit stres karena belum ada teman yang bisa satu frekuensi untuk ngobrol.

Aku ingin memiliki lagi teman-teman yang tidak melulu membicarakan urusan domestik rumah tangga. Namun bisa ngobrol tentang hobi, kejadian terkini, atau lowongan-lowongan pekerjaan sebagai pemasukan tambahan nantinya.
Mas Karmin selaku penggagas Funday Sharing membuka acara
Setelah pembukaan, mba Ita beraksi. Dia tuh mentor yang kocak banget. Dua jam tuh gak kerasa mengalir begitu saja. Pipi rasanya mau kram karena ketawa terus.


Mba Ita beraksi menjelaskan bagaimana cara membangun jaringan
Lalu apa manfaatnya belajar membuat jaringan. Toh kita berkomunikasi dengan orang lain setiap hari. Lalu apa hasil dari komunikasi itu? Ya, cuma gosip sih, kalau tetangga yang rumahnya dicat biru baru beli mobil. Eh terus si tante juga borong ikan koi kemarin. Dapat ilmu gak dari situ? Gak dapat ilmu, panas iya.

Nah maka dari itu, Mba Ita berbagi tips pada kami agar semua orang bisa tahu kekuatan jaringan yang dimiliki untuk akhirnya bisa memaksimalkan komunikasi dengan orang-orang sekeliling kami.

1. Communication Skill (Kemampuan komunikasi)
Kemampuan komunikasi, ya bukan hanya sekedar ngobrol. Namun kita bisa menangkap apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang kita ajak bicara. Mendengar dan mengerti. Artinya kita benar-benar hadir dalam percakapan itu. Bukan mendengarkan tetapi pikiran kita entah terbang kemana.

Kita harus mengasah kemampuan komunikasi terus menerus. Tidak bijak rasanya saat kita tidak paham lalu memancing lawan bicara untuk membicarakan orang lain yang tidak hadir di situ. Seperti yang biasanya kita lakukan saat ngerumpi bareng tetangga. Jika kita tidak paham maka kita harus bicarakan dengan orang yang kita maksud, yang bisa menjelaskan hingga kita paham. Bukannya malah membicarakannya dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal tersebut.

Di sinilah kemampuan komunikasi kita terlihat. Orang yang piawai berkomunikasi pasti akan membicarakan dengan teknik komunikasi yang baik. Tidak membiarkan kesalahpahaman terjadi. Contoh nyatanya adalah saat kita memperbaiki motor di satu bengkel yang baru kita kunjungi. Belum ada satu minggu berlalu, eh motor kok rusak lagi. Jika kita memiliki kemampuan komunikasi yang baik maka kita akan mengajak pemilik bengkel untuk membicarakan kenapa kerusakan motor terjadi lagi padahal satu minggu belum ada. Bukan memperbaiki motor di bengkel yang lain dan membicarakan kekurangan si bengkel ke khalayak ramai.

Ingat kita adalah apa yang kita katakan. Orang bisa menilai karakter kita dari apa yang kita bicarakan. Kalau kita membicarakan hal-hal positif maka itulah yang terpancar.

2. Lingkaran dalam (Inner circle)
"Mba, aku mau punya jaringan yang luas tetapi bagaimana caranya menghindari penipuan yang lagi sering terjadi."

Kamu suka baca? Bergabunglah dengan komunitas pembaca. Gak kok, aku sukanya bongkar mobil ya bisa ikutan komunitas yang juga suka bongkar mobil.

Kamu bisa kenal orang tetapi masih di satu lingkaran, artinya kita tidak berkenalan dengan orang sembarangan. Bukan orang di pinggir jalan, kita main tegur dan sok kenal aja. Big no no!

Bermula dari lingkaran dalam komunitas tersebut pasti nantinya lingkaran tersebut akan semakin besar dan besar. Dengan membesarnya lingkaran itu berarti jaringan kita juga semakin luas.

3. 'Jual diri'
Apa artinya? Kita pasti punya nilai yang bisa 'dijual'. Misalnya kita mampu memperbaiki mobil, blogger profesional, atau koki handal. 

Kualitas diri itulah yang kita jual. Bisa bermanfaat untuk orang lain. Nantinya kita bisa meminta bantuan pada orang lain untuk membantu kita. Membuat kita lebih berkembang dan berkualitas.
 
4. Keep in touch
Setelah jaringan kita punya maka tinggal mempertahankan. Bagaimana caranya? Ya dengan terus terhubung. Jangan lebay ya. Usahakan saat ada momen-momen khusus kita bisa memberi hadiah atau kartu ucapan seperti saat ulang tahun, hari raya, atau ulang tahun komunitas yang dia pimpin.

5. Ambil hikmah
Hidup lurus, mulus tetapi gak terurus. Ya artinya tidak ada yang sempurna kawan. Pasti ada aja kerikil yang nyelip di kaki kita. Jika itu terjadi, artinya kita harus ambil hikmahnya. 

Lagi banyak kerjaan, bonus melimpah eh kok ya kecopetan. Mungkin saja kurang sedekah.

6. Berpikir positif
Belum tentu semua orang yang tertipu saat membangun jaringan bisa mengambil hikmah. Lalu berpikir positif bahwa setelah musibah ada jalan lain terbuka baginya.

Berpikir positif itu seperti skill. Harus terus dipakai layaknya pisau yang diasah terus agar tajam. Jangan berharap bisa berpikir positif jika kita tidak berlatih setiap harinya.

Jaringan itu tidak seperti candi prambanan yang bisa dibangun semalaman oleh Bandung Bondowoso tetapi jaringan adalah Roma yang kita punya seribu jalan untuk mencapainya.

See, it starts in mind. Positive mind of course.

7. Time management
Ini sih pertanyaan si Emak sensi bin rempong. Merasa tidak bisa konsisten karena ternyata payah dalam mengatur waktu. Bisa rajin di hari Selasa, gak ngapa-ngapain di hari Jumat.

Si Emak disarankan mulai membuat jadwal. Fokus melakukan hal-hal sesuai jadwal hingga akhirnya bisa konsisten.
Emak rempong foto bareng guru kece mba Ita Sembiring ^___^
Sesi foto yang selalu ditunggu
Senin, 20 April 2015

Sarjana kok Pengangguran, Kamu? 5 Pekerjaan yang Sering Dianggap Pengangguran

Apa sih pekerjaanmu? Pekerjaan yang setiap hari dilakukan walaupun bosan dan meskipun lelah bahkan tanpa bayaran yang pasti. Sampe dikira jadi babi ngepet karena gak pernah kelihatan kerja eh kok pulang-pulang bawa mobil. Sakitnya di sini kan ya? *nunjuk gigi.

Belum lagi desahan menyesal orang tua yang sudah membiayai kita dari taman kanak-kanak sampai sarjana. Eh ujung-ujungnya memilih pekerjaan yang dari luar kelihatannya seperti pengangguran.

Emang apa sih pekerjaan yang sering disangka pengangguran?

1. Ibu rumah tangga
"Mak, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma pake daster di rumah."
Apakah kamu masih mengira jika ibu rumah tangga sama dengan pengangguran? Jika satu hari saja diminta menggantikan mereka ada di rumah dengan daftar pekerjaan yang panjangnya mengalahkan struk belanjaanmu di awal bulan.

Hanya mendengarkan deskripsi bagaimana sibuknya seorang ibu rumah tangga tidak akan membuatmu berubah pikiran. Beda jika kamu mengalami sendiri bagaimana rempong dan ribetnya jadi ibu rumah tangga.

Ini masalah pilihan, ketika kamu seorang sarjana ekonomi memutuskan menjadi ibu rumah tangga maka ilmu ekonomi yang kamu pelajari bagaimana? Wah tentu saja masih berguna. Saat semua barang kebutuhan naik pasti akan ada cara yang bisa diterapkan ketika kamu belajar bagaimana menyusun anggaran yang tidak besar pasak daripada tiang.

Itu sarjana ekonomi? Bagaimana dengan sarjana sastra? Tentu saja kamu bisa mulai merangkai kata untuk dijadikan dongeng pengantar tidur anakmu. Anak yang kamu sayang dengan segenap hati.

Ciee ciee, mulai bisa melihat kan? Apapun nantinya pilihanmu bisa dilihat secara positif. Setiap orang punya mulut dan otak bukan? Lihat ya ngomong, lihat ya komentar, dan lihat ya kepikiran. Tinggal kamu aja ambil sisi positif apa negatif?

diambil di sini
2. Penulis pro
Penulis yang memang benar-benar menjadikan tulisannya sebagai sumber penghasilan utamanya. Bagaimana bisa mereka disebut pengangguran? Ya karena mereka keluar untuk belanja, mengantar anak sekolah, dan kondangan.

Namun di rumah mereka produktif, menghasilkan karya yang disukai banyak orang. Sementara tetangga kanan kirinya tidak tahu siapa dia.

Indah Hanaco, penulis pro yang produktif menulis

3. Editor pro
Tidak jauh berbeda dengan penulis pro. Editor juga kerjaannya di rumah. Melototin naskah novel untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang ada seperti eyd.

4. Blogger
Iya yang suka menulis di blog dan menghasilkan uang dengan soft dan hard selling di blognya.

Ah, aku sudah tahu dong Mak. Kan aku blogger juga. Terus kamu masih anggap blogger itu pengangguran juga.

5. Penjual online
Toko gak ada, gak punya stok di rumah, dan kerjaannya cuma pegang hp sama duduk depan laptop. Eh akhir bulan bisa ngajak anaknya nge-mal.

Note: gak papa dianggap pengangguran yang penting rezeki lancar jaya. Amin...
Kamis, 16 April 2015

Tips Anti Bosan di Stasiun

Tak selamanya kita bisa memperhitungkan waktu dengan tepat. Kita sudah berangkat lebih awal eh ternyata terlambat sampai tempat tujuan. Mending kalau acara kondangan, telat cuma kehabisan makanan. Lha kalau telat sampai stasiun dan kita ketinggalan kereta. Wah ribet urusannya mak. Uang tiket melayang dan belum tentu di hari itu ada kereta dengan jurusan yang sama.

Nah daripada terlambat lebih baik kita datang lebih dulu. Menunggu di stasiun. Menunggu sebentar sih gak masalah, lha kalau menunggunya sampai tiga atau empat jam. Bagaimana?

1. Buka gadget, foto-foto sekitar, dan jadikan draft untuk postingan

Purwokerto-Jakarta +75 M

2. Jika bepergian dengan batita seperti baby Gara, pastikan kita siapkan atau beli makanan favoritnya 

Baby Gara suka kentang goreng

3. Biarkan anak kita bermain agar tidak cepat bosan


Baby Gara mudah akrab dengan anak laki-laki yang lebih tua

4. Lupa bawa power bank? Bisa nge-charge baterai gratis lho buat yang lagi kecanduan main game di ponsel


Perlu diawasi dan jangan sampe kelupaan ya ^_^
5. Welfie bisa diandalkan buat yang anaknya hobi foto sebagai kegiatan pengusir ngantuk
 
Baby Gara suka kamera dan sadar kamera

Rabu, 15 April 2015

Tulis Apa Saja




15 April 2015

Udah melotot di depan laptop, idenya entah kabur kemana. Ya sudah tulis apa aja yang terlintas.

12:18
  • Emak mulai menyusun meja kerjanya, menetapkan di spot mana dia akan menulis. 
  • Saat laptop sudah menyala, dia hanya memandanginya saja
  • Membuka beberapa draft tidak membuat idenya kembali
  • Sungguh menulis itu tidak mudah
  • Emak menyalakan radio, berharap lagu-lagu memercikkan kata yang bertenaga. Namun dia malah teringat masa mudanya. Membuat lamunannya terbang kembali ke masa jaya. Di mana dia bisa melakukan apa saja. Tidak perlu memikirkan gunung cucian, baju belum disetrika atau piring gelas kotor
12: 25
  • Blog harus tetap diisi agar alexa rank tak gendut lagi
  • Blog sudah seperti diari berisi curahan hati agar orang lain juga mengerti apa yang dirasakan hati ini
  • Sungguh menulis itu bukan hal yang cepat
  • Butuh tekad yang kuat untuk terus konsisten
  • Bahwa setiap orang memang bisa menulis
  • Namun tidak semua orang mau dan mampu terus menulis
  • Banyak alasan timbul hanya untuk menunda dan akhirnya tiada kata yang tercipta
  • Sungguh menulis itu proses
  • Hari ke hari dilewati, halaman tak juga terpenuhi
12:31
  • Layaknya latihan isi kertas kosong
  • Tulis apa saja yang terlintas
  • Tak perlu pikirkan judul
  • Tak lagi bayangkan hasil
  • Cukup ingat tangisan anak, yang berkorban demi sesuatu yang disebut passion
  • Passion untuk menulis 
  • Semangat menulis agar bakat yang diberi Tuhan tidak sia-sia
Senin, 13 April 2015

Social Media Anxiety Disorder

diambil di sini
Waktu belajar hening bareng mas Adjie Silarus bulan Februari lalu, aku menemukan penyakit baru. Penyakit yang muncul seiring dengan makin banyaknya orang terikat dengan social media. Penyakit ini memiliki ciri-ciri:
  1. Anda menjadi cemas jika Anda tweet seseorang dan mereka tidak membalas dalam enam jam.
  2. Jika Anda terus menggenggam ponsel di meja makan dan semua orang juga sibuk dengan ponsel mereka saat makan dan tidak ada orang yang bicara satu sama lain.
  3. Jika Anda memasang foto yang manis di Facebook, Twitter, Pinterest, Instagram atau situs berbagi foto lainnya. Lalu tidak ada yang nge-like atau nge-share, bagaimanapun juga Anda tetap memeriksa setiap menit atau jam.
  4. Jika Anda menatap pengikut Twitter Anda dan berkurang dan itu mengganggu Anda
( Ciri-ciri ini dikutip dari overcomingsocialanxiety.com. Selengkapnya dibaca di artikel ini )

Social media anxiety disorder (SMAD) adalah gangguan kecemasan akibat kecanduan sosial media. Kecanduan? Ya seharian hanya menatap smartphone dan bergantian mengecek akun-akun sosial media yang dimiliki.

Lalu apa yang terjadi:
  • Jika status-status yang muncul di timeline Facebook Anda berisi kebahagiaan maka Anda malah akan lebih depresi, tidak bersyukur dan terancam OCD ( Obsessive Compulsive Disorder).
  • Jika foto-foto selfi Anda di instagram atau twitter Anda tidak di-like atau di-share maka Anda akan merasa sedih berlebihan.
  • Kehidupan pribadi terganggu.
  • Kesehatan fisik dan mental berkurang.
Agar tidak terserang SMAD, apa yang harus kita lakukan?

- Buat jadwal yang pasti kapan kita bersosialisasi di dunia maya.
- Tentukan juga berapa lama kita fokus untuk twitter, facebook, path, instagram
- Sadari jika kita memiliki kehidupan di dunia nyata
- Selalu belajar bagaimana menempatkan diri secara wajar baik di dunia maya maupun dunia nyata agar kita tidak salah bertindak.
-Selalu belajar memahami diri sendiri. Kita harus tahu siapa diri kita sehingga saat hal-hal buruk terjadi, kita bisa segera menyadari dan mengatasinya.

Pada akhirnya, untuk menghindari gangguan atau penyakit apapun, kita harus peka. Peka terhadap diri sendiri dan juga orang di sekitar kita. Barangkali bukan kita yang terkena tetapi anak, suami, atau teman-teman. Jika kita tahu, maka kita akan bisa memberi pengertian agar mereka bisa cepat ditangani dan disembuhkan.

Minggu, 12 April 2015

Gagal Posting Lagi

Bagi blogger pemula seperti aku, gagal posting sering dihadapi. Mulai dari bingung hendak menulis apa, kurangnya komitmen hingga rasa malas yang berwujud writer's block.

Perlahan tetapi pasti, aku terus berusaha dan belajar. Aku menemukan tujuh cara agar tidak gagal posting lagi.

1. Blogger tamu
Terjun di dunia blogging, masuk komunitas, dan mengenal beberapa blogger senior yang tulisannya cetar membahana. Apabila kita mengenal beliau dengan baik, bisalah diminta untuk menjadi blogger tamu di blog kita. Usahakan blogger yang kita undang punya tema yang sama sehingga secara tidak langsung kita bisa belajar bagaimana cara menulis tema tersebut menjadi lebih menarik.

Bagaimana cara meminta beliau menjadi blogger tamu di blog kita?
  • Kirim email, inbox FB, atau janjian ketemuan
  • Jika sudah menjawab ya, diskusikan artikel apa yang ingin ditulis
  • Setelah itu sepakati kompensasi yang menguntungkan  kedua belah pihak

Nah bila semua sudah disepakati maka akan ada postingan di blog kita sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Tidak ada gagal posting lagi. Tinggal kita bagi deh di media sosial agar menarik pengunjung ke blog kita.

diambil dari sini
2. Terjemahkan artikel dari blog luar negeri
Saat tidak punya bahan tulisan maka kita bisa mencari artikel berbahasa Inggris atau bahasa asing lain yang kita kuasai lalu terjemahkan. Seperti artikel di hipwee.com ini.  Artikel berjudul 10 cara agar tetap fokus dan produktif saat bekerja di rumah diadaptasi oleh Nabila Inaya dari halaman Lifehack.org. Bukan copy paste ya teman.

Ini ada dua keuntungan, satu kita jadi punya postingan lalu kedua kita bisa mengasah kemampuan bahasa Inggris kita. Buat yang punya hobi copas, bisa beralih dengan cara ini ya. Jangan lupa nge-link ke halaman aslinya lho.
diambil dari www.hipwee.com
3. Membaca dan membaca lagi
Pasti sudah banyak yang membahas pentingnya membaca. Buat yang masih malas, coba baca lima menit saja sumber-sumber yang kita temui saat googling. Buat catatan-catatan kecil saat kita menemukan ide atau kata kunci ketika sedang membaca. Blogwalking juga bisa jadi alternatif saat malas membuka buku cetak ya teman *berasa masih jadi mahasiswa.

Lihat hasilnya saat kita dalam seminggu membaca beberapa buku atau sumber-sumber lain. Pasti banyak ide yang melompat-lompat tidak sabar untuk dieksekusi.

4. Lihat kembali catatan-catatan di notes ponsel
Sebagai ibu yang multitasking, kadang kalau lagi masak eh ada ide langsung catat di ponsel. Lagi nyuci, idenya nyelonong langsung diketik di notes hp.

Terus udah buka laptop, colokin modem, dan nyanding cemilan eh kok lupa mau menulis apa. Begitu melihat ponsel langsung deh mata bersinar kembali. Banyak ide-ide yang ternyata sudah duduk pasrah siap dieksekusi. Namun apabila tidak ada ponsel, bisa buku kecil dan pulpen atau tisu dan pena. Apapun yang ada di sekitar kita bisa digunakan untuk mendokumentasikan agar ide-ide mahal itu tidak terbuang percuma.
5. Melihat film favorit
Buat yang tidak suka menonton film horor jangan dipaksa menonton demi postingan unik. Bisa-bisa postingan tak dapat, parno yang menyerang.

Kalau stok film favorit sudah lima kali ditonton ya bisa lihat rekomendasi film baru yang lagi tayang di bioskop. Film bisa menstimulasi otak kita akan kenangan-kenangan. Lalu pada akhirnya membangkitkan selera menulis. Jika memang mentok, kita bisa menulis review film yang kita tonton itu. Dapat postingan lagi kan.

6. Ingatkan akan komitmen
Keterikatan kita pada blog kita memang tidak selalu kuat. Namun jika kita sudah memiliki komitmen sejak memutuskan untuk masuk di dunia blogging maka yang perlu dilakukan adalah mengingat kembali.

Tentang bagaimana komitmen bisa membuat kita terus menulis dan tidak gagal posting, bisa dibaca di sini.
 
7. Keluar dan ambilah beberapa foto
Menulis itu pekerjaan yang membosankan. Maka dari itulah kita perlu menyegarkan diri untuk bisa kembali menulis.

Saat udara sore berhembus, jangan sia-siakan dengan melototi draft tulisan yang akan kita posting. Sebaiknya kita keluar, hirup udara segar dan mengambil beberapa foto pemandangan yang tersaji sore itu.

Foto makanan untuk yang food blogger
Foto pemandangan buat travel blogger

Foto anak lagi main odong-odong buat mom blogger

Semoga setelah ini, aku dan nantinya para pembaca bisa konsisten mengisi blog sesuai jadwal yang ditetapkan. Tidak ada lagi gagal posting yang menghampiri kita. Semangat!
Sabtu, 11 April 2015

Depresi Pasca Persalinan, Pelan-Pelan Mematikan!

Melahirkan merupakan momen yang ditunggu. Perasaan campur aduk pasti dirasakan. Tidak sabar, bahagia, atau malah khawatir berlebihan. 

Banyak hal-hal yang dipersiapkan oleh calon ibu untuk menyambut kelahiran bayinya. Dari yang besar hingga pernik-pernik kecilnya. Hingga akhirnya lupa. Lupa untuk menyiapkan mental.

Mental? Emang perlu ya?

Jumat, 10 April 2015

Jumat Jelangkung

"Datang tak dijemput, pulang tak diantar."

Buat yang menderita gangguan mood atau bahasa kerennya mood swing pasti tidaklah asing. Ya mood jelek sudah seperti jelangkung yang nongol tiba-tiba dan pergi entah kapan.

Lha dimana-mana orang senang kan kalau jumat datang. Sampe ada slogan: thanks god it's friday. Ini mas Imam beda. Dia stres berat kalau Jumat tiba. Kenapa? *gayaanakdiiklanoreo

Mood jelek menyandera mas Imam saat dia tiba di rumah. Rumah dalam keadaan layaknya kapal usai dihantam badai. 

Mood berubah baik saat anak mas Imam yang berjumlah 3 laki-laki itu mulai membereskan mainannya. Saat tahu sang ayah pulang, mereka bergegas mengembalikan mainannya ke rak-rak kayu sesuai labelnya. Kakak tertua membantu adik bungsu untuk mengenali label dengan menunjuk gambar mobil-mobil. Sesuai dengan mobil kuning yang dipegangnya. Sementara kakak tengah sibuk di dekat rak balok-balok.

Baru beberapa detik mengulas senyum, mas Imam diserang mood jelek lagi. Istrinya menyambut dengan daster yang masih bau bawang putih. Begitu menusuk hidung. 

Namun, senyum kembali mengembang saat aroma udang saus tiram merebak. Mas Imam memang tidak terlalu suka bawang putih tetapi istrinya selalu bisa membuat air liurnya hendak menetes bila mencium udang segar dimasukkan saat bawang putih yang ditumis dengan bawang putih menguarkan aroma harum tak terbantahkan. Ditambah saus tiram yang menghasilkan rasa gurih saat bercampur kecap manis dan saus cabe. 

Mas Imam pasti menambahkan nasi lagi jika udang saus tiram masih tersaji di mangkok bergambar ayam jago. Mengusir semua mood jelek dengan makanan.

Jumat jelangkung yang selalu menyapanya perlahan tetapi pasti mulai sirna. Istrinya tercinta selalu punya masakan di hari Jumat untuk dimakan bersama seluruh keluarga kecilnya. Masakan yang menerbitkan air liur. Menggaduhkan perut dengan orkes keroncong. Udang sahs tiram, tumis kanggung dan mendoan panas yang baru diangkat dari penggorengan.

Jumat jelangkung berakhir dengan riuhnya meja makan. Riuh denting sendok beradu dengan sendok. Riuh dengan celoteh curhat bagaimana mereka melalui hari Jumat ini. 

Nah bagaimana Jumatmu akan berlalu kawan? Silahkan pilih sendiri.

Finally, Thanks God It's Friday 😁
Kamis, 09 April 2015

Komitmen adalah Mantra Ajaib

Awalnya aku pikir bakalan mudah, hanya dengan suka. Ya aku suka menulis. Titik. Semua akan lancar, aku akan bisa menghasilkan satu novel dalam satu bulan. Lalu secara konsisten menulis blog. Ternyata eh ternyata, tidak cukup hanya 'suka'.

 

Menurut pengalaman pribadiku, suka hanya menjebakku pada penundaan tanpa batas. Memang menunda tidak hanya disebabkan oleh diri kita. Namun tidaklah bijak menyalahkan orang lain untuk apa yang tidak bisa aku selesaikan sendiri. 
  
Lantas apa yang dibutuhkan jika suka menulis saja tidak cukup? Komitmen, ya mantra ajaib yang harus dilafalkan saat kita merasa malas adalah komitmen.

(komitmen/ko·mit·men/ n perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak)


Perjanjian? Tentu saja dengan diri sendiri.

Keterikatan? Dengan menulis apa saja. Ide-ide yang bersliweran, gosip-gosip persaingan antar tetangga, atau pikiran-pikiran paling absurd sekalipun.

Seperti halnya pernikahan, kita terikat pada janji sehidup semati. Apapun yang terjadi kita akan mempertahankan pernikahan kita. Kecuali ada kasus-kasus KDRT atau kasus yang bisa dijadikan pengecualian. Di luar pengecualian, kita pasti akan melakukan apa saja untuk terus bersama pasangan kita.


Menulis. Tentu tidak semua orang suka menulis. Namun jika terdesak, tidak ada pilihan lain maka meskipun tidak suka pasti akan dilakukan. Contohnya skripsi, walaupun tidak suka menulis tetapi seorang mahasiswa harus menyelesaikan skripsi itu bila mau lulus.


Semua memang tentang diri sendiri. Bagaimana akhirnya aku benar-benar berkomitmen pada diriku sendiri. Untuk memaksimalkan potensi diri. Berawal dari rasa suka, ada banyak buku diary yang terisi. Alangkah lebih baiknya rasa suka ini bisa menghasilkan. Baik itu karya pengembangan diri dan pada akhirnya bisa lebih memahami diri sendiri.

Saat rasa malas menyapa, layaknya mantra aku merapal janjiku. Komitmenku untuk terus menulis. Satu demi satu kata. Tidak mudah dan cepat pasti. Namun suka menjadikan proses berkomitmen ini jadi lebih menantang.


1. Komitmen pada diri sendiri lebih susah
2. Mengalahkan diri sendiri butuh trik yang sempurna
3. Trik itu hanya kita yang bisa menemukan
4. Mungkin butuh seumur hidup untuk mengenali diri kita sendiri
5. Komitmen akan terpenuhi jika kita terus menerus mempelajari diri kita
6. Orang lain kadang jadi pemantik
7. Lebih bisa bertahan jika kita sendiri bisa jadi pemantik bagi diri sendiri
8. Good luck for me, myself. Hwiting!
Jumat, 03 April 2015

Penulis Galau: Blog atau Novel?

Sebenarnya, sejak SD aku telah mulai menulis. Menulis cerpen-cerpen berdasarkan pengalamanku sehari-hari. Namun cerpen itu tidak pernah aku kirimkan ke media. Hanya dibaca teman-teman sekelas saja. Begitu SMP, aku terus menulis. Tetap teman-teman sekelas yang jadi target pembaca. Masuk SMA ada beberapa karya yang dipajang di mading sekolah. Selalu dapat nilai bagus saat mata pelajaran bahasa Indonesia. Sering diminta teman-teman untuk menuliskan cerpen saat mereka susah menuangkan ide.

Semua perjalanan menulis itu berhenti saat memasuki bangku kuliah. Tidak ada karya lagi.

Aku, sebagai ibu rumah tangga mulai menulis lagi di tahun 2012. Hingga hari ini baru menghasilkan 2 buku antologi: 101 perempuan berkisah bersama komunitas Women's Script dan Inspirasi Untaian Nama Bayi bersama IIDN Semarang.

Lalu 10 Juni 2014 mulai ngeblog. Belum aktif dan mengoptimalkan blog yang ada. Namun tekad ada untuk menjadikan blog lebih bermanfaat.

Semenjak memutuskan untuk menjadi penulis, muncul kegalauan baru. Galau saat harus fokus. Apakah konsisten menulis cerpen lalu novel ataukah tiap hari posting blog.

Beruntungnya kegalauan itu tidak berlangsung lama. Saat blogwalking, aku menemukan artikel dari mba Dewi Rieka, penulis 'Anak Kos Dodol' yang baru-baru ini filmnya launching: mau jago nulis, ya ngeblog. Mba Dedew, panggilan akrab Dewi Rieka penulis yang juga konsisten ngeblog menuturkan jika ngeblog secara rutin juga melatih kita untuk menulis novel. Artikel selengkapnya di sini.

Catatan
Saat mencoba rutin menulis di blog seminggu penuh, aku belajar:

1. Menulis di blog untuk mengusir writer's block.
Malas adalah kata kunci saat writer's block. Dengan rutin dan jadwal yang jelas maka writer's block akan menjauh. Apabila sudah lancar menulis artikel pendek maka tidak akan susah lagi untuk memulai 5 halaman untuk cerpen. Lalu kemudian 5 halaman per hari saat memutuskan menulis novel.

2. Blog untuk ide-ide tulisan singkat yang muncul begitu saja.
Saat mandi, mencuci atau kegiatan lain lalu muncul ide kita bisa nge-draft dulu. Setelah itu bisa tulisan singkat. Namun membuat tulisan singkat antara 300 hingga 1000 kata bukan perkara mudah. Kita kadang butuh referensi-referensi yang harus dibaca dulu.
Nah ujung-ujungnya kita akan terbiasa membaca dulu sebelum akhirnya menulis. Saat sudah terbiasa, kita akan mudah melakukan riset untuk menulis cerpen dan selanjutnya novel.

Kerinduan Menulis Itu Akhirnya Menyapa




diambil dari sini

Beberapa hari tidak menulis, ada rasa rindu yang menyeruak. Sungguh tak mudah untuk terus menghadirkan rasa rindu itu. Lebih sulit lagi saat rindu menyapa, banyak hal yang menjadi penghalang untuk langsung menjawab dan duduk manis menghadap laptop.

"Hari ini target 5 halaman, ah nunggu si Gembul bobok ganteng."

"Jam 9 malam, Gembul belum bobok dan aku mulai mengantuk."

Aku rindu, tiba-tiba sangat rindu. Belum bisa menyalakan laptop aku menyambar ponsel pintarku. Mulai mengetik. Kata demi kata. Apa saja yang muncul, apa saja yang terlintas.

Hari ini rindu menulis datang padaku
Setelah sekian lama aku nantikan 
Kenapa ya akhirnya dia datang padaku?
Karena akhirnya aku berusaha sekuat tenaga

Untuk memulai 
Dan berusaha lagi
Memperbaiki komitmen
Komitmen demi komitmen
Satu dilanggar
Satu dipatuhi

Entah kenapa dadaku berdetam saat menulis
Cerita-cerita pendek yang mati suri ku bangunkan
Dengan tekad kuat 
Ku racik dan ku sajikan dalam balutan aroma pena permen
Berharap mampu menggugah selera pembaca

Semoga saat esok rindu itu menyapa, lagi
Meski dengan pena dan secarik tisu
Akan ku sambut panggilan hati untuk mengisi
Lembar kosong agar terisi

Catatan:
1. Segera menulis dengan alat apapun, ada pena dan tisu pun jadi

2. Segera menulis agar ide tidak hilang

Selasa, 31 Maret 2015

Bapak

Bunyi berderit dari angkot yang aku tumpangi tidaklah mengganggu. Lalu menyusul bau bensin menyeruak, begitu menusuk. Bukan itu, sungguh. Bukan itu yang membuat perutku gaduh. Hingga tanpa sadar menelan ludah.

Aroma cilok panas bersatu dengan saus botolan murah, yang entah benar atau tidak, dibuat dari campuran cabe dan tomat busuk. Lalu bumbu kacang yang digerus kasar. Menjadikan gurih begitu menggelitik lidah dan menyisakan kecanduan. Terakhir, tidak boleh tertinggal adalah kecap. Manis sebagai tameng terakhir saat lidah diserang pedas dan gurih yang dominan.

Cilok itu ada digenggaman anak kecil dengan rambut kusut. Anak perempuan di pangkuan seorang ibu yang mukanya gosong. Akibat terlalu sering terpapar langsung panas matahari. Duduk risih. Tepat di depanku.

Uap-uap lembut mulai muncul di plastik putih transparan. Aku menatap bungkusan itu, tanpa sadar hingga melotot.

Uap-uap panas menghamburkan aroma. Begitu menggelitik hidung hingga aku berulang kali menelan ludah.

Kapan terakhir kali aku merasakan makanan sedap? Semua makanan mahal dan mengaku sehat itu sungguh enak tetapi hanya menjadikan perut kenyang. Setelah itu? Hampa.

"Neng, udah sampe Pulogadung nih. Bangun!" Supir angkot 28 menggoyang dengan keras tubuhku.

Aku membuka mata dan berusaha mengingat semua rasa yang menyelinap di indera pengecapku. Terus mengingat agar rasa cilok itu menempel terus. Panas, pedas, dan gurih.

Aku bangkit, mengulas senyum tanda meminta maaf. Satu lembar lima ribuan ditambah dua lembar seribuan membuat pak supir sumringah. Tidak banyak yang dengan ikhlas memberinya tarif sesuai kenaikan BBM.

Aku menyapu semua arah. Mencari gerobak-gerobak yang mungkin menjajakan cilok. Jajanan murah meriah dari campuran tepung kanji dan tepung terigu. Dibentuk bulat-bulat agar di dalamnya bisa diisi potongan daging. Daging yang minimalis. Akan tetapi minimalis itulah yang mampu mengobati kerinduan.

Dulu, akulah yang bertugas menyiapkan panci dan merebus air. Jika air sudah mendidih cilok-cilok dimasukkan. Bapakku akan mengaduk sesekali. Dari tubuhnya selalu memancarkan wangi manis. Entah bumbu rahasia apa yang dimasukkan. Serupa minyak wijen yang aromanya tidak tertahankan. Jika Bapak ada di sampingku maka udara di sekitar pun melembut dan jadi menyenangkan. Itulah kenapa aku tak pernah bosan makan cilok. Aromanya selalu mengingatkanku akan Bapak. Bapak yang lembut dan menyenangkan.

Antrian sudah terlihat ketika aku memasuki tempat parkir. Pelayan-pelayan mengangguk hormat. Aku duduk di kursi dekat kasir.

"Ciloknya dimakan dulu sana!" perintah tegas ibu kasir.
"Aku shift malam kan?" tanyaku sambil memasukkan cilok.

Begitu masuk mulut rasanya seperti meleleh. Air mata tanpa sadar meleleh.

"Kamu tadi ke makam Bapakmu?"
Anggukan cukup untuk menjawab. Aku meyeka air mata dan mengusap ingus yang juga ikut keluar.

"Bersyukur saja, kamu masih bisa hidup. Selamat dari kebakaran itu. Pasti ada hikmahnya," ibu kasir yang tak lain budeku memberi tisu. Membiarkan aku menangis sepuasnya.

Aku menatap foto 5R Bapak yang terpajang dekat jam dinding. Itu saja yang tersisa dari kebakaran dahsyat akibat ledakan gas. Semua kejayaan pengusaha cilok musnah bersama pemiliknya.

"Terus hidup dan berjuang ya Nak, selalu ingat kalau Bapak sayang kamu."

Entah kenapa aku mengangguk. Foto itu tersenyum padaku. Berbahagia akan keputusan yang aku buat hari itu. Keputusan untuk merintis lagi usaha cilok yang dulu Bapak bangun. Bukan untuk menyenangkan Bapak. Namun agar kenangan yang aku miliki bersama bapak terus ada dan membuatku terus hidup nyaman di dalamnya.
Jumat, 27 Maret 2015

Belajar Dari Masa Sulit Penulis lain

Setelah menikah, memiliki anak, dan menjadi ibu rumah tangga. Otomatis banyak hal yang berubah. Perubahan ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Ibu rumah tangga penuh. 1x24 jam di rumah dengan pekerjaan rumah tangga yang tak pernah berakhir.

Menjadi ibu rumah tangga penuh, tanpa asisten, dan tanpa penghasilan sendiri. Aku hanya tahan 1 tahun 6 bulan. Sungguh, berat sekali rasanya. Aku merindukan semua masa 'lakukan tanpa berpikir 3x". Mau spa tinggal spa, mau beli buku tinggal beli buku, dan mau workshop tinggal berangkat aja.

Lalu mengurus anak yang sedang bertumbuh  menjadi tantangan tersendiri. Kita harus benar-benar mengenali diri untuk bisa mengontrol emosi. Naik turunnya kita amati. Lose power syndrome bisa menghampiri. Keadaan dimana kita ingin  masa selalu kembali ke masa kejayaan. Masa dimana kita tidak tergantung gaji suami untuk sekedar membeli kosmetik, buku bestseller bulan ini, atau sepatu idaman. Apabila belum mampu mengontrol emosi bisa berakhir dengan kekerasan. Ibu perlu waspada apabila mulai memukul anak. Lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Menulis sebagai katarsis. Catatan-catatan kecil mulai ditorehkan. Lalu cring...cring...cring... Kenapa tidak kembali lagi menulis untuk mengusir rasa galau? Sedikit demi sedikit belajar lagi. Belajar untuk menjadi penulis.

Triani Retno adalah guru menulis cerpen online pertamaku, dia banyak mengajariku tentang bagaimana revisi naskah, mengemas ide, dan banyak hal dasar lain tentang menulis.

track changes agar aku tahu mana yang harus direvisi
Namun sayangnya, banyak alasan-alasan yang membuatku berhenti. Tidak lagi menulis. Kelas demi kelas aku ikuti tetapi belum ada hasil yang maksimal. Sejauh ini baru dua buku antologi yang baru terbit. Belum ada novel atau karya yang tembus ke media cetak nasional Indonesia.

Triani Retno selain penulis, editor juga blogger. Blognya berisi tentang buku-bukunya, tips menulis, dan serba-serbi kepenulisan. Seorang ibu dan full time writer. Sejak 2006 sudah menerbitkan 29 buku (fiksi dan non fiksi). Di salah satu postingan blognya, mengisahkan bagaimana menulis saat kondisi ekonomi sedang tidak mendukung. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Entah kenapa tulisan itu begitu mengilhami. Aku seorang ibu yang ingin jadi penulis. Ibu galau yang tiba-tiba berpikir, masa transisi saat lose power syndrome lalu apabila suami yang jadi tulang punggung keluarga ditimpa musibah; apa yang akan terjadi denganku?

Aku harus mulai merintis karirku. Dari apa yang aku bisa. Dari apa yang aku suka. Menulis. Mulai sekarang. Setahap demi setahap.  Syukur jika nantinya bisa dijadikan periuk tambahan. Namun saat ini, aku ingin banyak belajar. Belajar konsisten, belajar fokus, dan belajar mengenali polaku sendiri.

diunduh dari sini
diunduh dari sini


Belajarlah dari luka orang lain, maka harusnya kita bisa lebih kaya. Mereka berbagi agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.

Ibu rumah tangga boleh jadi penulis. Ibu rumah tangga boleh melakukan apa yang bisa membuat dirinya bahagia. Siapa yang menentukan? Ya diri kita sendiri. Bukan orang lain apalagi para pemeras emosi. SEMANGAT! Hwiting!
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design