Minggu, 01 Juni 2014

[Komentar Apik] Writing is Fighting, Panduan Konsekuensi Jadi Penulis




Judul       :  Writing is Fighting

Penulis    :  Ambhita Dhyaningrum, Aan Wulandari U, Dewi Rieka, Ferry Herlambang Zanzad, Indah Julianti 

Sibarani, Iwok Abqary, Nadiah Alwi, Nita Candra, Nunik  Utami Ambarsari, Retnadi Nur'aini, Rini Nurul 

Badariah, Tria Ayu K, Triani Retno A,Yokie Aditya, Yudhi  Herwibowo 

Genre      :  Non-Fiksi/ Inspirasional

Penerbit   :  HalamanMoeka Publishing

Tahun      :  Mei 2014

Halaman  :  153 halaman

Harga      :   Rp 45.000,-

Baca-Selesai: 22-27 Mei 2014

Judul buku ini membuat aku berpikir betapa susah dan berlikunya untuk menjadi seorang penulis. Namun bagi seorang Emak Sensi sepertiku, susah dan berliku adalah hal negatif yang aku gunakan sebagai pecut untuk lebih baik.
           
            Secara keseluruhan aku suka kutipan-kutipan yang ada di buku ini. Semua kutipan-kutipan itu serasa hidup dan membentuk pecut yang mengarah padaku.

Setiap penulis di buku ini, tulisannya aku deskripsikan untuk aku ambil pelajarannya.


·         Ambhita Dhyaningrum: Dari Pintu ke Pintu      
Kisah penolakan-penolakan yang dialami Ambhita sangat cocok diletakkan sebagai pembuka. Sebagai mana para penulis pemula yang selalu dan akan menghadapi penolakan. Ambhita ingin menegaskan bahwa penolakan adalah hal pertama dan utama untuk dipersiapkan.
Penolakan itu perih dan tidak semua orang mampu menerimanya. Penolakan akan terus menerus diterima oleh penulis baik dia senior maupun yang masih bau kencur. Siapkah kita?
Tenang saja, Ambhita memberikan beberapa tips yang bisa digunakan untuk menjernihkan pikiran untuk kembali berniat menjadi penulis jika kita benar-benar menginginkannya.

·         Retnadi Nur'aini: Mahasiswi Minder Menjadi Penulis Feature
Setelah penolakan, kita diajak mengenali diri kita. Penulis macam apakah kita?  Atau akan jadi penulis apa kita nantinya. Tergantung seberapa kuat kita bertahan untuk diproses oleh pengalaman-penglaman pahit.
Retnadi menggambarkan bagaimana dia berproses untuk menjadi penulis feature. Tidak peduli apakah kita pemalu, pemarah, atau orang yang minderan jika kita terus belajar dan berproses mewujudkan impian kita sebagai penulis maka tak ada yang sia-sia. Meskipun dikejar deadline yang laksana anjing galak, narasumber yag meminta kita melakukan riset lebih dalam, bahkan job desk tambahan sebagai pengarah gaya dadakan yang melelahkan; semua itu akan berakhir manis di akhir. Trust me, it really works.

·         Aan Wulandari U: Euforia yang Membuat Kecewa
Emak... Ternyata kebahagiaan yang terlalu meluap bisa menutup sisi-sisi logika saat kita membutuhkannya. Aan mendeskripsikan bagaimana perjuangannya menerbitkan novel yang diiringi rasa bahagia yang membuncah membuat dia tidak memperhitungkan sepanjang apa perjalanan naskah ketika telah diterima oleh penerbit. Panjaaang bahkan sangat panjaaang. Dari pengalamannya menunggu sejak Januari 2007 naskah diterima hingga Januari 2008 naskah itu benar-benar terbit dan masih membuatnya speechless, Aan berbagi bahwa kita harus tetap bisa mengontrol emosi untuk tidak larut dalam euforia lalu lepas kendali. Kita harus tetap mengendalikan harapan sehingga di saat semua tidak sesuai dengan keinginan, masih ada sisi-sisi logika yang terbuka untuk kembali berjuang dan dapat hasil maksimal.

·         Nita Candra: Menulis: Sebuah Perjalanan
Keluar dari zona nyaman genre anak, Nita menguji diri di naskah antologi lalu memacu adrenalin dengan menulis flash fiction, dan menjawab undangan semesta saat menulis novel roman remaja. Nita menikmati perjalanannya sebagai penulis tanpa kehilangan momen untuk menikmati setiap proses menulisnya. Hingga saat Nita ingin bersantai dari petualangannya dia tetap berlatih menulis dan bereksperimen dengan blog. Blog ‘memaksa’ Nita rajin menulis dan mengeluarkan ide. Nita membuat kita belajar bahwa bagaimanapun jauhnya perjalanan kita sebagai penulis, intinya adalah bagaimana kita memelihara konsistensi kita untuk menulis dan menulis lagi apapun bentuknya.

·         Indah Julianti Sibarani: Keripik Pedas
Keripik pedas itu meskipun pedas membuat kita ketagihan. Ya jika diumpamakan keripik pedas itu adalah kritik dan komentar nyelekit bagi naskah kita,rasanya pasti sakit di awal tetapi saat kita sudah terbiasa dengan kalimatnya maka tanpa disadari kita akan mencari orang yang mau memberikan kritik atau komentar pedas itu. Tentu saja untuk membuat naskah kita menjadi lebih baik. Namun Indah mengingatkan para penulis muda untuk pantang menyerah saat menerima kritik yang menjatuhkan mental dan sebagai tambahan untuk para pengkritik, Indah berharap kritik yang diberikan jangan hanya menjatuhkan mental tetapi juga bisa bermanfaat bagi para penulis pemula. Biar sama-sama enak, baca dulu karya penulis itu sebelum mengkritik. Tak akan jatuh miskin mendadak hanya karena memberi sedikit pujian dan saran untuk penulis. 

·         Triani Retno A: Writer’s Block: Datang Tak Diundang, Pulang Harus Diusir
Tegalah untuk mengusir writer’s block karena jika kita adalah orang yang membiayai kebutuhan sehari-hari dari menulis maka kita harus lebih sadis. Kalau gak dapur kita tidak akan mengepul. Selain tega, Triani juga menyarankan untuk mencari orang yang bisa membuat kita tersentil, tersindir sekaligus tersemangati saat mengalami kemandegan dalam menulis.

·         Yokie Aditya: Berperan Pembunuh
Yokie sukses membuat aku berperan sebagai pembunuh. Bahwa riset itu membuat kita seolah jadi pembunuh. Bertingkah, berpikir dan bertindak layaknya pembunuh sesungguhnya. Kenali dan dalami karakter sehingga kita bisa lebih membuatnya begitu nyata.

·         Dewi Rieka: Kala Emak Ribet Jadi Penulis
Emak ribet satu ini yang bisa membuatku mulai belajar menulis secara rutin. Dengan gayanya yang kocak dan emak banget menyadarkan aku tentang, kalau dia bisa kenapa aku gak? Emak-emak ya cari contohnya emak-emak juga. Hihihi... Aku juga mulai sedikit demi sedikit menghentikan alasan untuk tidak menulis. Makanya walaupun hanya status facebook, yang penting nulis. Peace Mak ;)

·         Yudhi Herwibowo: Saya Memutuskan Menulis Sejarah
Tertantang, kata yang akhirnya membuat Yudhi menulis sejarah. Yudhi bisa mengkombinasikan unsur cinta, drama, thriller dalam menulis sejarah. Kalau aku tertantang untuk menulis horor dan sampai sekarang belum juga berhasil menaklukan layaknya Yudhi menaklukan diri untuk menulis sejarah. Salut untuk itu.

·         Nunik Utami Ambarsari: Revisi Tak Kunjung Henti
Pekerjaan bisa datang tanpa terduga tetapi menerima tanpa menanyakan secara detil bisa berakibat pada revisi yang tak kunjung henti. Nunik memberi tahu jika kita harus meminta penerbit mengirimkan SPK (Surat Perintah Kerja) yang mencantumkan honor yang dibayar, deadline dan berapa biaya yang akan dibayar jika kita terlambat menyetor naskah sesaat setelah kita menyetujui untuk membuat naskah yang diminta penerbit. Jadi saat revisi tanpa henti menghantui, SPK membuat kita bisa tegas untuk tidak berputar-putar dalam merevisi. Waktu yang terbuang masih bisa sedikit terhibur dengan honor yang dibayar sesuai SPK.

·         Iwok Abqary: Jangan Asal Pilih Penerbit
Setiap penulis pasti memiliki batu sandungannya masing-masing. Namun terlalu bernafsu mengirimkan naskah tanpa mengetahui rekam jejak peberbit yang dituju akan berujung pada penyesalan tanpa akhir.
Ternyata sebagai penulis pemula, tidak ada salahnya kita bergabung dengan komunitas penulisan kemudian mulai ‘mencuri’ ilmu dari para penulis senior. Hal tersebut akan menghindarkan kita pada penantian panjang karena bertemu penerbit PHP. Iwok menyebutkan jika berteman dengan penulis lain atau bergabung dalam komunitas penulisan maka kita akan dibagi catatan-catatan tentang penerbit mana yang recommended.
Dan yang selalu dan selalu tidak boleh terlupa adalah doa.
“Banyak-banyak berdoa untuk kelancaran naskah kita, termasuk kerjasama yang akan dijalin dengan mereka.” (halaman 152)

·         Nadiah Alwi: Self Publisher: Nekat Tapi Nikmat
Semuanya dilakukan sendiri mulai dari proses editing, desain kaver, mencetak, launching hingga promosi. Jika kita siap waktu, tenaga dan pikiran maka menerbitkan novel atau buku secara mandiri bisa dicoba. Sudah yakin? Silakan coba!

·         Rini Nurul Badariah: Menjadi Penulis yang Berprofesi Editor
Ternyata bagi seorang penulis penyerempet deadline seperti aku bisa juga berpikir ulang setelah membaca penjelasan Rini.
“…dalam dua hari yang terlihat ‘lengang’ pun, segala sesuatu mungkin terjadi. Komputer batuk-batuk (yang ini amit-amit), jaringan internet ambruk, listrik mati, hujan petir yang membuat was-was menyalakan netbook, dan banyak lagi.” (halaman 173)
Dari seorang editor aku belajar bahwa menunda-nunda perlu dihindari. Menurut Rini tenggat dapat berubah menjadi monster yang menhantui, menyulitkan mata terpejam, dan tentu saja membahayakan reputasi seandainya dicoba untuk tidak ditepati.

·         Ferry Herlambang Zanzad: Berlari dari Otak Kanan ke Otak Kiri
·         Catatan Ferry yang telah menerbitkan 30-an buku IT lalu novelnya terbit di tahun 2010.
“Mungkin anda memiliki kebiasaan yang berbeda. Tidak masalah, anda bisa memodifikasi sendiri, menyatukan dua hal yang berbeda dengan cara termudah sesuai karakter diri anda. Latar belakang, pengalaman, cara berpikir anda tentu saja berbeda dengan saya. Tetapi setidaknya, dorongan besar bisa mempermudah hal susah menjadi mungkin.” (halaman 185)
Jika Ferry bisa, apakah kita juga bisa? Ya hanya kita saja yang bisa menjawab.

·         Tria Ayu K: Menang!
“Hingga kini, saya masih mengikuti berbagai lomba menulis. Kadang menang, kadang kandas. Semuanya menyisakan kenangan, senang, lucu, maupun sedih. Ya, tak selamanya kemenangan terasa manis. Kadang kita justru berdarah-darah ketika mengecap sesuatu yang sangat kita idam-idamkan. Tapi itulah hidup.” (halaman 205)
Tria mengingatkan kita jika kemenangan atau kekalahan yang kita peroleh tak lagi penting. Proses adalah yang paling krusial untuk dimaknai.

8 komentar:

  1. komennya lengkap ik..aku blom bacaaa...*tutup muka..makasih ya dear..awas lhoo kalau blognya jarang diisi lagii *blog police beraksi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. opo kuwi, penulisnya malah belum baca ^_^
      Wah kok pake blog police juga, kabuuurrrrrr ^_*

      Hapus
  2. wuaaah ... review yg lengkap banget. makasih banyak ya mba ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas Iwok, senang bisa baca curhatan para penulis senior. ^_^

      Hapus
  3. wiii, detil dan diulas satu persatu ^^ semoga bermanfaat ya mb. makasih banyak ^^

    BalasHapus
  4. Ulasan yang lengkap. Sedikit berbagi, semoga memberikan manfaat. Matursuwun, mbak Phalupi.

    BalasHapus
  5. Terima kasih banyak, Mbak. Senang jika cerita sederhana saya bermanfaat:)

    BalasHapus
  6. Makasih banyak, Mbak. Yang ta baca langsung komen di tulisanku xixixi

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design