Sabtu, 07 Juni 2014

Jika Mudah, Penuhilah


Tanpa disadari kita sering mengucapkan sesuatu yang dianggap sebagai janji oleh anak. Misalnya: "Nanti, kalau makanmu habis, kita main di taman." Atau "Mama beliin mainan ya kalau mau makan sayur." Kata-kata yang mudah saja terluncur dari mulut kita. Mudah dilontarkan tetapi biasanya selalu tertunda untuk diwujudkan.

Anak berpikir secara konkret. Ada tindakan, ada hasil yang diperoleh dari tindakan tersebut. Setelah makan sayur selesai maka anak sudah memastikan mainan akan digenggam di tangan. 

 Lalu muncul masalah saat anak menyelesaikan tugasnya dengan semangat, membayangkan akan mendapatkan apa yang telah dijanjikan mama atau papa. Ternyata mama atau papa menunda untuk memberikan apa yang seharusnya mereka dapatkan.

Satu kali menunda.

Dua kali menunda.

Ketiga kali menunda.

http://birthwithoutfearblog.com/wp-content/uploads/2011/11/5411
Anak mulai menagih secara langsung apa yang dijanjikan. Saat itu juga. Karena sudah dua kali, merasa dikecewakan oleh kita sebagai orang yang dengan mudah melontarkan janji agar anak segera melakukan apa yang kita inginkan.

"Ah, mama tukang bohong. Udah dua kali mama bilang mau kasih kakak mainan. Mana mainannya?"

 


Kita pasti akan terkejut. Sangat terkejut. Anak kita bisa mengingat dengan pasti berapa kali kita
menjanjikan. Maka dari itulah sebelum anak kita:

1. Melakukan aksi mogok
2. Tidak mendengarkan kita lagi





3. Tidak percaya kepada kita lagi
Sebaiknya kita mulai merubah kebiasaan untuk menunda. Jika kita bilang akan mengajaknya ke taman setelah dia menghabiskan makanannya maka segera setelah dia menyelesaikan tugasnya, kita juga harus mengajaknya ke taman sesuai dengan kesepakatan awal. Begitu pula jika kita menjanjikan mainan. Dengan begitu anak tahu seberapa serius kita dengan apa yang kita ucapkan.

Jika memang mudah maka penuhilah sesegera anak menyelesaikan tugasnya. Jika bukan pada kita lantas pada siapa anak harus percaya?

gambar 1:
http://www.ladcblog.org/wp-content/uploads/2010/10/morning-tantrum.jpg
gambar 2:
http://nourishnutritionaltherapy.ca/wp-content/uploads/image/temper%20tantrum.jpg
gambar 3:
http://www.babycenter.com.au/i/imagegallery/categories/toddler/social_emotional/social-development-14.jpg

Jangan Bilang Kasihan karena Terasa Menyakitkan!


25 Agustus 2013

Minggu pagi yang begitu cerah. Sebagai persiapan untuk perjalanan ke Jakarta, Gara pagi-pagi sudah bersiap mendapatkan pijatan rutin dari dukun bayi yang dari Gara lahir sudah merawatnya. Namun pagi itu Mbah Uti menemukan benjolan sebesar kelereng di ketiak kanan Gara.
"Ini kayak orang kecapean mba," simpul sementara Mbah Uti.
Aku belum panik karena aku berpikir jika 'sekel' itu dikompres air hangat maka akan menghilang dengan sendirinya. 
"Mba, ini tolong ditanyain ke bidan yang biasa imunisasi dedek sih. Takutnya bukan 'sekel' soalnya keras banget," saran mbah dukun bayi yang meninggalkan degup kencang di jantungku.
Setelah itu aku mulai browsing. Dan yang membuatku cukup tercengang adalah: 2 dari 1000 imunisasi
BCG akan terserang BCG-itis.
Tepat di umur 20 hari tanggal 17 Mei 2013 Gian disuntik BCG. Waktu itu aku memang sempat membatin ketika si bidan ragu-ragu dan jarum suntiknya lepas. *____*
  
27 Agustus 2013
Imuisasi DPT sekaligus aku bertanya tentang benjolan Gara ke bidan yang biasa mengimunisasi. Tak ada    jawaban yang memuaskan.
"Itu nanti sembuh sendiri kok mba," ujarnya mantap.
Aku menatapnya ragu.

30 Agustus 2013
Diantar oleh Mbah Uti, Akung, bulik Nani, bulik Tuti dan Pakde Pito; Aku dan Gara melakukan perjalanan menuju Jakarta.

28 September 2013
Atas rekomendasi tetangga, kami memeriksakan Gara ke dsa di RS. Islam Sukapura. Setelah melihat benjolan yang ada di ketiak Gara, dsa tersebut memvonis BCG-itis dan harus segera dioperasi. Dia memberikan surat rujukan ke dokter bedah anak.
Aku dan suami shock, orang tua mana yang bisa menerima dengan lapang dada anak bayi umur 5 bulan harus dioperasi tanpa jaminan bakteri BCG yang menyerang saluran limfanya bisa terangkat sempurna dengan operasi.
Untuk beberapa waktu kami harus menenangkan diri. Mencari solusi yang terbaik.
Ayah menghubungi dan berkonsultasi dengan pakde yang kebetulan juga dokter spesialis anak. Pakde menyarankan untuk minum obat TB selama 6 bulan tanpa putus. Jika tidak, memang operasi adalah pilihan keduanya.

Kami gamang. Anak umur 5 bulan harus minum obat TB karena BCG-itis. Penyakit yang disebabkan oleh salah posisi saat menyuntik yang berakibat masuknya bakteri BCG ke saluran limfa. Ketika limfa berperang melawan bakteri, munculah benjolan itu.

benjolan Gara semakin besar dan bertambah menjadi dua benjolan
Kekhawatiran kami bertambah ketika benjolan semakin membesar dan Gara selalu muntah saat minum ASI. Apapun yang masuk ke mulutnya selalu dimuntahkan. Perut kosong, badan panas, berat badan menurun dan Gara tampak begitu ringkih.

26 Oktober 2013
Kami memutuskan untuk mencari pendapat lain. Kami memeriksakan Gara ke dokter di sekitar harapan indah saja. Agar dekat dan bisa aku jangkau jika suami tidak bisa mengantarkan ke rumah sakit. Di RS. Citra Harapan, dokter menyarankan tes mantoux untuk memastikan.

30 Oktober 2013
Hasil tes mantoux positif dan Gara harus minum obat TB selama 6 bulan penuh tanpa putus. Pagi hari, sesaat setelah membuka mata, belum minum ASI, Gara harus minum obat berwarna oranye untuk membantu mematikan bakteri yang menyerang saluran limfanya.

obat yang diminum Gara tiap hari selama 6 bulan

Kami memantapkan tekad demi kesembuhan Gara. Dan di hari ke 5, benjolan atas sudah mulai memerah seperti bisul yang matang.
benjolan di hari ke 5 setelah minum obat TB
Selain itu Gara juga tidak muntah saat minum ASI dan MPASi yang harusnya di akhir 6 Bulan maju di awal 6 bulan juga sukses tanpa ada yang dimuntahkan.

6 November 2013 
Benjolan yang atas pecah dan jika kulit ditarik ada semacam lubang kosong bekas cairan yang keluar tanpa disadari saat setelah aku memandikan Gara. Aku baru sadar setelah melihat handuk yang berwarna putih keruh seperti cairan nanah.
setelah yang benjolan atas pacah dan kempes, benjolan bawah mulai memerah

1 Januari 2014
Benjolan bawah pecah tetapi lubang di kulit tidak begitu kentara karena pecah saat Gara beraktivitas. Noda seperti nanah tertinggal di bajunya.

26 April 2014
Hari terakhir Gara meminum obat. Luka yang tersisa di ketiaknya semacam keloid yang semakin hari semakin mengecil.

27 April 2014
Tepat satu tahun, dan  belum dinyatakan bebas sepenuhnya dari BCG-itis. Dokter menyarankan untuk melanjutkan pengobatan hingga 3 bulan ke depan tetapi aku dan suami sepakat untuk menyudahi obat sampai 6 bulan saja. Semoga sehat terus ya Nak....
Gara umur 1 tahun

Terima kasih untuk doa yang terucap dari saudara, sahabat dan teman. Kami berterima kasih untuk tidak mengatakan, "Kasihan ya," saat kami menceritakan kondisi Gara. Karena bagi kami, doa lebih menguatkan ketimbang rasa simpati yang terlontar dengan kata 'kasihan'. Jika nanti saudara, teman atau sahabat bertemu dengan bayi-bayi lain; kami berpesan untuk kalian melantunkan doa dan harapan bukan kata 'kasihan' karena kata itu begitu menyakitkan bila didengar saat kalian ada di posisi kami.




Jumat, 06 Juni 2014

Ruang Kerja Penulis Visual

Si Emak Sensi ternyata sangat visual. Saya sangat suka hal-hal yang memanjakan mata. Saat kehilangan ide, saya akan memilih googling gambar-gambar yang bisa menimbulkan reaksi visual untuk menimbulkan ide.

Sebagai pemanasan, saya mencoba memvisualisasikan rencana ruang kerja yang nantinya akan dibuat jika mulai membangun rumah.

1. Ruang kerja yang memiliki sudut tempel
           Sudut tempel dimaksudkan untuk menempel kertas sebagai catatan deadline, gambar tujuan wisata sebagai penyemangat, atau lukisan anak yang digunakan untuk berimajinasi.

http://www.lumbung.info/wp-content/uploads/2014/01/80.-Desain-Praktis-Ruang-Kerja-Minimalis.jpg
 2. Rak-rak untuk ruang kerja berkesan rapi, teratur, dan terorganisir
             Rak-rak sebagai tempat file-file atau kertas-kertas bahkan buku-buku bacaan akan sangat membantu saat saya membutuhkan data. Jika terletak dengan ruang kerja maka tidak perlu waktu lama berpindah tempat untuk mencari data-data yang diperlukan.
             Satu tambahan sederhana yang tidak boleh terlupa adalah label yang ditempel sebagai penanda apa saja file atau buku yang ada di dalam rak tersebut. Sehingga saya sebagai emak yang cepat sensi tidak akan kehilangan ide karena keburu badmood waktu tidak juga menemukan data-data yang dibutuhkan.



http://www.makponoo.com/wp-content/uploads/2014/05/desain-ruang-kerja-minimalis-di-rumah.jpg     

3. Ruang kerja yang dekat dengan alam

             Ruang kerja yang berjendela memungkinkan saya melihat ke luar rumah untuk berganti melihat tanaman. Saat mata mulai lelah, tanaman yang beraneka warna bisa digunakan untuk penyegaran sejenak dan melepaskan penat sembari melakukan peregangan. 10 atau 15 menit dirasa cukup, saya bisa kembali bekerja sesuai dengan deadline yang sedang dikejar.

http://simomot.files.wordpress.com/2013/12/gambar-ruang-kerja-1.jpg 
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design