Kamis, 29 Mei 2014

The Liebster Award : Cara Unik untuk Saling Mengenal

Baru tanggal 26 Mei 2014 saya bergabung di KEB, paginya saya sudah mendapatkan tongkat estafet untuk melanjutkan The Liebster Award. Sungguh satu kehormatan untuk saya. Sebagai anggota baru saya mulai mencoba tahu apa itu The Liebster Award?

 
The Liebster Award adalah ajang silaturahmi bagi para blogger agar bisa saling mengenal untuk lebih dekat dan menjalin persahabatan. Saya belum mengenal banyak orang di grup tetapi sambutan hangat yang diberikan membuat saya merasa yakin akan mendapatkan teman sekaligus sahabat baru. Terima kasih kepada Mak Suma Atika Wati untuk colekan lembutnya dan memperkenalkan saya pada event ini.




Apa yang harus saya lakukan dengan event ini?

Post award ke blog anda
Sampaikan terimakasih pada blogger yang mengenalkan The Liebster Award ini pada Anda dan jangan lupa backlink ke blognya.
Share 11 hal tentang diri Anda.
Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada Anda.
Pilih 11 blogger lainnya dan berikan pertanyaan yang anda inginkan mereka jawab.





 

11 hal tentang diri saya yang akan saya bagi adalah:
  1. Nama lengkap saya adalah Phalupi Apik Herowati dan lebih suka dipanggil Apik daripada Phalupi. Lahir di Pemalang, kuliah dan bekerja di Semarang lalu sekarang tinggal bersama suami dan anak laki-laki saya di Jakarta.
  2. Gian Segara Abhipraya adalah nama anak laki-laki saya. Lautan Anugerah dan Harapan saya sematkan sebagai nama karena dia memang anugerah terindah yang hadir dalam hidup saya.
  3. Tahun 2010-2013 saya sempat mengajar di TK. Dan itu adalah pengalaman luar biasa yang merubah sudut pandang saya terhadap anak-anak.
  4. Saya sangat suka aroma buku baru. Satu bulan kemudian baru saya baca buku-buku itu kecuali buku itu adalah karya penulis-penulis kesukaan saya.
  5. Saya sangat suka acara reality show yang mengungkap sisi psikologis seseorang karena itu membuat saya belajar karakter diri sendiri.
  6. Saya bercita-cita jadi penulis dan baru sekarang mulai merintis dengan menulis blog. Semoga bisa konsisten.
  7. Ingin sekali melanjutkan S2 dan mengambil jurusan Psikologi meskipun S1 saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
  8. Bermimpi memiliki Sekolah untuk Anak Usia Dini.
  9. Memotivasi diri dengan memanfaatkan rasa iri untuk lebih baik dan berkembang.
  10. Suka menonton film, makan enak dan mencoba memasak makanan yang disukai.
  11. Suka menulis kisah sehari-hari yang ada di sekitar.
Baiklah, sudah cukup berbagi tentang diri saya. Sekarang giliran menjawab pertanyaan dari Mak Suma Atika Wati yang sudah mencolek lembut saya.
 
1. Apa yang membuat anda bangga menjadi seorang blogger?
    Saya bangga menjadi blogger karena pengalaman yang saya bagi bisa bermanfaat untuk orang lain
meskipun mereka adalah silent reader.
 
2. Sejak kapan nge-blog?
    10 April 2014
 
3. Apa yang ada ingin raih dalam waktu dekat ini?
    Memenangkan lomba menulis atau ada satu kary yang go public.
 
4. Pernah menang dalam lomba menulis? Lomba apa yang paling berkesan?
    Belum pernah, hehehe....
 
5. Siapa penulis favorite anda dan apa alasannya?
    Indah Hanaco karena konsisten, Iwok Abqary karena ceritanya selalu sederhana dan mengena,
    Dyah Rinni karena setelah kata tamat kita bisa mendapatkan banyak ilmu.
 
6. Siapakah orang paling inspiratif bagi anda? Yang menjadi motivasi anda?
    Suami, teman berdebat dan berdiskusi. Dari perdebatan atau diskusi itulah dia memotivasi.
    Saya selalu bisa mengambil sesuatu.
 
7. Tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi anda? Kenapa?
     TK dimana dulu saya mengajar, karena disana saya mendapat banyak pengalaman baru yang sulit
     dilupakan. Bagaimana dunia nyata berjalan.
 
8. Lagu yang menjadi soundtrack hidup anda saat ini apa?
    Happy-nya Pharrell Williams
 
9. Pegawai atau wirausaha, mana yang lebih baik? Alasannya?
    Wirausaha agar bisa mengatur waktu bekerja sendiri dan tidak harus meminta izin untuk libur.
 
10. Lebih baik mengarahkan anak menjadi apa yang orang tua inginkan (tentu saja demi kebaikan si anak juga), atau membiarkan dia meraih apa yang dia inginkan?
Membiarkan anak meraih apa yang dia inginkan karena pada akhirnya dia sendiri yang akan menjalani keputusannya bukan orang tua.
 
11. Apa perbedaan setelah dan sebelum menjadi anggota KEB?
      Saya lebih termotivasi untuk ngeblog dan membaca agar bisa menulis lebih banyak di blog.

Setelah menjawab, giliran saya melanjutkan tongkat estafet ini ke 11 emak lain. Dan mereka adalah:
Pertanyaan yang ingin saya tahu jawabannya dari emak-emak sekalian yaitu:
  1. Arti KEB bagi emak blogger?
  2. Memilih jadi penulis atau blogger, kenapa?
  3. Apa kelebihan jadi ibu rumah tangga?
  4. Binatang apa yang paling ditakuti, kenapa?
  5. Berapa jam sehari dihabiskan untuk ngeblog?
  6. Jika jadi guru TK, apa yang akan dilakukan untuk memperkenalkan diri?
  7. Pengalaman seru apa yang didapat saat kopdar sesama blogger?
  8. Seandainya jadi srikandi blogger tahun depan, apa yang akan dilakukan?
  9. Kalau boleh memilih pekerjaan, pekerjaan apa yang dipilih dan kenapa?
  10. Foto apa yang sering digunakan sebagai background laptop?
  11. Lebih suka ngeblog lewat laptop, smartphone, atau komputer jadul?
Terima Kasih, semoga berkenan melanjutkan tongkat estafet dari saya ^_^
Minggu, 18 Mei 2014

[Komentar Apik] Tak Sempurna Tetapi Bahagia

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/10/1380600046607958447.jpg
Judul       :  I’m (Not) Perfect — Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia
 
Penulis    :  Dian Kristiani

Genre      :  Non-Fiksi/ Inspirasional
 
Penerbit   :  Gramedia Pustaka Utama
 
Tahun      :   2013
 
Halaman  :  153 halaman
 
Harga      :   Rp 38.000,-

Baca-Selesai: 28-29 April 2014



              Dunia ibu rumah tangga adalah dunia kejam, lebih kejam dari ibu kota bahkan ibu tiri sekalipun. Sebagai ibu baru, aku paham betul bagaimana pandangan sadis para ibu senior yang menjejaliku banyak pemahaman bahwa aku ibu jahat yang tega membiarkan anaknya kelaparan demi enam bulan ASI esklusif. Aku ibu yang super duper pelit karena tidak mau membelikan bubur instant termahal untuk mengenyangkan perut anaknya. Para ibu senior merasa lebih tahu kalau anak harus diberi tambahan makanan kalau sudah berumur tiga bulan. ASI saja tidak cukup mengenyangkan.

“... Kupikir aku tak perlu membebaninya dengan tambahan-tambahan ‘ilmu’ atau ‘informasi’ yang aku sendiri nggak tahu pasti.” (halaman 99)

Kutipan itulah yang membuatku berpikir untuk mempercayai instingku sebagai seorang ibu. Sebanyak apapun pengalaman mereka mengurus anak, yang tahu pasti kondisi anakku ya aku ibunya. Asal aku mencukupkan pengetahuanku akan masalah-masalah yang mungkin terjadi, aku tak perlu melakukan semua yang disarankan para senior itu.Mungkin kasusnya sama-sama batuk pilek tetapi belum tentu obat yang mereka minumkan ke anak mereka cocok dengan tubuh anakku.

Buku I’m (Not) Perfect — Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia yang ditulis mba Dian Kristiani ini sangat membantu disaat keadaan di lingkungan kontrakanku berubah menjadi ladang pembantaian karakter.

“Bergunjing di belakangku, membuatku nelangsa. Ternyata pertemanan kami palsu.” (halaman 101)

Itulah kenapa sekarang aku begitu memahami betapa stres dan tertekannya para wanita yang terbiasa kerja dari jam 9 pagi  sampai jam 5 sore lalu mereka harus berjuang menghadapi gunjingan dan tekanan dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam. Mereka dikritik untuk ketidakmampuan mereka mengurus rumah tangga karena mereka terbiasa duduk dibalik komputer. Mereka dibedakan dari ibu rumah tangga yang sejak awal bekerja sebagai ibu rumah tangga. Mereka dihakimi hanya karena kurang sabar dan telaten. Maaf aku salah, harusnya aku menggunakan kata ‘aku’ pada kalimat dibedakan dan dihakimi. Pastinya ibu bekerja di luar sana lebih beruntung dari emak sensi ini dalam hal menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan jabatan barunya sebagai ibu rumah tangga.

            Aku tahu aku adalah istri yang jauh dari senpurna. Terkadang rumah masih berantakan laksana kapal diterjang badai saat suami pulang dengan lelah dari kantor atau cucian baju untuk dipakai Senin masih menumpuk kotor hingga Selasa. Namun aku selalu berusaha untuk belajar dan terus belajar. Dan yang berhak menilai aku sabar, telaten ataupun baik sebagai istri dan ibu adalah suami serta anakku nantinya kalau dia sudah bisa ngomong dan protes. Bukan tetangga yang hanya melihat dari luar dan sekilas saja.

Kata-kata terakhir dari buku ini yang membuatku membatin, “Aku banget!”  sambil tersenyum lebar adalah:

“Jadi, kenapa pusing dengan penilaian orang lain terhadap kita? Cuek aja deh, as long as we are happy!” (halaman 141)
 
 
 
Jumat, 02 Mei 2014

Menundalah Terus!

http://bisnisomar.com/wp-content/uploads/2014/04/MENUNDA.jpg
Ada banyak kata yang terangkai di angan-angan dan ingin segera dituliskan.

"Nanti saja."

"Sebentar lagi."

"Temani anakmu bermain."

"Memasak dulu, sebentar lagi Suami pulang."

"Catat saja di hape."

"Ah nanti juga muncul lagi, tenang aja."

"Ayo sudah tanggal satu, katanya mau mulai nulis."

"Ah besok juga masih sempat."

"Baru hari senin."

Akhirnya tidak ada satu katapun yang terekam. Semua hilang dan musnah begitu saja. Bagaimana dengan ide-ide yang ajaib dan luar binasa itu? Aaarrrggghhh, kepulan asap kemarahan menandakan tak satupun ide dapat didokumentasikan dengan baik.

Anehnya semua terus berulang dan berulang karena aku berpikiran pada akhirnya aku akan menyelesaikannya tepat waktu atau sesuai deadline. Padahal ada deadline yang terselesaikan di dunia nyataku. Aku hanya berkhayal jika aku bisa menyelesaikannya.

Ketika aku punya rancangan apa saja kegiatan yang akan aku lakukan hari ini, tiba-tiba muncul banyak alasan sehingga semua yang sudah aku rencanakan menguap tanpa ada yang berhasil dilakukan. Itu membuatku marah dan tidak nyenyak tidur. Cepat marah dan berenergi negatif.

Namun pada waktu aku hanya memasukkan jawaban menunda pada setiap ide yang muncul di benakku, entah kenapa aku jadi punya energi untuk melakukannya. Membiarkan semua kata yang sesak di otak keluar. Kata-kata yang selalu mengganggu dan membuatku tak bisa tidur nyenyak saat dia tidak dituliskan.

“Menundalah terus!”.  Itulah perintah yang akhirnya muncul di kepalaku setelah aku membaca beberapa bab buku ‘Never Say Later’ yang ditulis Monica Ramirez Basco, PH.D. Semakin ingin aku ikuti perintah itu, entah kenapa aku membuka laptop dan mulai menuliskan kata-kata yang muncul. Mengalir dan tanpa terasa telah jadi satu halaman penuh. Tanpa jeda, tanpa gangguan, tanpa alasan apapun yang bisa membuatku menunda.

Aku memang sedang melakukan terapi. Terapi menulis agar kebiasaan menundaku yang parah bisa sedikit berkurang. Terapi menulis aku gunakan juga untuk mengurangi kata-kata yang berjejalan di otak. Kata-kata yang tidak membiarkan aku tidur nyenyak jika belum dituliskan atau diketikkan.

 “Untuk mencuci baju kita pasti menemukan pemicu yang membuat kita akhirnya menyalakan mesin cuci. Ya kalau gak karena sudah tidak ada baju bersih yang dipakai berarti semua baju telah menumpuk di atas mesin cuci sehingga mau tak mau kita mencuci. Lalu kalau menulis, apa yang bisa jadi pemicu?”

Berarti aku harus menemukan sebenar-benar pemicu atau alasan yang kuat untuk bisa konsisten menulis.

Kalau begitu, menundalah terus!! Menerapkan ‘Hari Kebalikan’ ala Spongebob. Menunda artinya melakukan semua yang ada di daftar kegiatan. Melakukan kegiatan artinya menunda.

Entah sampai kapan trik ini akan konsisten, yang jelas aku tak akan berhenti berusaha untuk membentuk kebiasaan menulisku. Doakan aku berhasil. Aminnnn!

Asma Nadia

Maaf harus mengatakan seperti ini, tetapi jika kamu selalu gagal menyelesaikan tulisan, buat saya sederhana saja. Kamu tidak seingin itu menjadi penulis. Semua kendala yang kamu bisa utarakan, jangan dikira tak dialami penulis lain, jika mereka bisa mengatasinya, kenapa kamu tidak? #noexcuse!

 

Happy Birthday Baby G


Tepat jam dua belas malam. Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Televisi masih menyala dengan riangnya menyiarkan siapa yang harus angkat koper dari ajang pencarian bakat nyanyi malam itu. Aku meraba kasur, basah. Tumben sekali ya mungkin karena terlalu nyenyak tertidur. Aku memutuskan untuk menggunakan pembalut sekali pakai karena aku ingin tidur nyenyak. Hari ini sudah cukup melelahkan karena menemani anak-anak didikku outbond di Salatiga.

Masih lekat dalam ingatan, 27 April 2013 tepat jam tiga pagi semua otot perut terasa sangat kencang. Semua posisi tidur salah. Rasanya ingin menangis karena aku hanya ingin tidur. Aku lelah sekali. Hanya bisa tidur 10 menit mungkin kurang dari itu. Menelpon ayah Hari sesaat setelah menemukan darah di pembalutku saat buang air kecil.

“Adek masih bisa siapin baju-baju buat dimasukkan ke tas. Biar kalo aunty Wise datang tinggal berangkat aja ke rumah sakit.”

Aku tahu ayah Hari sangat cemas. Namun aku sangat ingin tidur saat itu, otot perut yang belakangan aku tahu sebagai kontraksi membuatku frustrasi karena aku terjaga terus padahal aku sangat lelah. Kami bertengkar, aku menuntup telepon dan berusaha untuk tidur. Gagal.

Semua tepat pada waktunya, Ayah sedang dalam perjalanan di kereta menuju Semarang. Ternyata kehamilan yang baru berumur 37 minggu yang seharusnya cek besok sore telah siap untuk proses persalinan. Dari kereta, Ayah membuat para suster bersiap karena aku bersama Aunty Wise sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.

Jam setengah lima pagi kami sampai di RS. Bunda. Tempat yang biasa aku kunjungi untuk mengecek kesehatan dan perkembangan janinku. Dokter Putri adalah dokter kandungan yang selama ini memeriksa kesehatan dan perkembangan janinku.

Dan betapa semua memang dirancang tepat pada waktunya karena meski ojek yang ditumpangi Ayah ditilang tetapi Ayah bisa menemani kita berjuang.

“Pak, bayinya berhenti dibukaan delapan. Ada dua pilihan, kita kasih pemacu atau kalau ditunggu tidak ada pergerakan lagi kita harus lakukan operasi cesar.”

Dan ketika suntikan pemacu itu diberikan, aku sungguh mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lagi berurusan dengan obat itu di lain waktu.

10.17 WIB pada tanggal 27 April 2013, Gian Segara Abhipraya lahir dengan sempurna meskipun sempat divakum karena berhenti lagi saat rambutnya sudah terlihat.

Hari ini 27 April 2014, Gian Segara Abhipraya masih dengan pipi pao yang merah merekah dan langkah-langkah kecil diselingi tawa semangat kala jatuh telah berumur satu tahun.

Satu tahun teryata begitu cepat berlalu Nak. Semoga sehat selalu dan bahagia mengiringi. Ibu dan Ayah selalu berharap Gian bahagia jadi anak Ibu dan Ayah.
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design