Featured Slider

Mulailah Memahami Kebetulan, 3 Cara Memulai Komunikasi dengan Suami

Bagiku yang masih belum berdamai dengan KDRT, pernikahan adalah keajaiban. Ajaib karena aku yang begitu enggan dan memiliki niat menunda pernikahan selama yang aku mampu, ternyata menikah di umur 24 tahun.

"Kok bisa?"
"Tiba-tiba aku dengan ikhlas melepaskan. Entah kenapa aku sok pede. Sejauh apapun calon pacarku itu pergi, dia akan kembali padaku."

Asyeekkk...

Iya, dia kembali. Melalui segala drama, meyakini kalau kami berjodoh, dan memantapkan hati untuk menikah. Pernikahan dengan minim pengetahuan dan juga luka-luka masa lalu yang ada padaku.

Juli 2011 hingga kini Februari 2018, menuju tahun ketujuh. Bagaimana perjalanan komunikasi kami?

"Ah udah nikah inih, ngapain ngomong. Paling suami udah tahu apa yang aku mau."
"Ngapain ngobrol? Kan sudah bersama hampir tujuh tahun. Masa iya gak paham juga?"

Eeetdah! Situ nikah sama Edward Cullen? *ketahuan banget ya bo umurnya😀

Semenjak menikah dan punya dua anak dengan jarak dekat. Entah kenapa, meluangkan waktu ngobrol berdua jauh lebih sulit dibanding waktu pacaran dulu. Ya iyalah, prioritas bergeser. Dari hanya kami berdua, sekarang ditambah dua anak plus pekerjaan atau deadline. 

Ngeles sih ini sebenarnya. Aku itu tipe wanita pada umumnya yang suka kode-kodean, berharap suami tahu, dan bermimpi dia jadi seperti Edward Cullen yang bisa baca pikiran. 😉😜

Hasilnya? Aku sering pusing, sakit punggung, dan jadi sering ngambek gak jelas.

Hingga suatu malam *pasang suara latar ala film romantis, aku diminta (lagi ikutan kuliah di Institut Ibu Profesional) menulis surat cinta dan diberikan pada suami. 

W.O.W. 

Aku memutar kembali kenangan saat dia berjanji membimbingku menuju kehidupan yang lebih baik. Aku mengingat betapa pria inilah yang membuatku yakin, kalau ini adalah pelabuhan terakhirku. Pria yang berhasil membuatku merasa nyaman akan diriku sendiri yang masih belum berdamai dengan masa lalu.

Surat cinta yang membuka mata

"Menikah tanpa didasari ilmu relasi dan hanya didasari oleh nafsu dan mengikuti tren saja itu mengerikan." (Geary Maverick)


Penyesuaian demi penyesuaian kembali ditargetkan. Kami memulai dari awal lagi untuk membangun komunikasi positif di mana berbicara dengan lembut dan kepala dingin menjadi prioritas. Bukan siapa yang menang atau kalah. 

Aku mulai membedah kenangan-kenangan yang bisa aku gunakan sebagai acuan perbaikan. Bapak dan Ibuku bukanlah sosok sempurna untuk dijadikan panutan dalam membina hubungan tetapi setidaknya banyak pelajaran-pelajaran yang bisa aku gunakan sebagai tambahan kekuatan. 

Susah memang bertanya lebih dahulu. Lebih mudah langsung ngambek atau marah. Padahal apa sih yang mau disembunyikan dari suami? Lha pembalut aja kadang suami beli. 

Aku lantas menyadari bahwa untuk terus mempertahankan biduk rumah tangga ini, aku harus mengubah kebiasaan burukku. Berhenti bersikap seolah bisa telepati padahal hanya menghasilkan asumsi-asumsi. Tentu saja asumsi bukanlah komunikasi yang asli. 

Tidak menyempatkan diri untuk berkomunikasi adalah sinyal bahaya yang harus segera ditindaklanjuti. 

"Besok ulang tahun suami kasih kado apa ya?"
"Ya masak aja makanan kesukaan dia."
"Ih jaim dong. Kan malu kalau jadi ketahuan gak bisa masak."

Terus hubungan macam apa yang ingin dicapai berdua? Artis sama penggemar? Atau foto model sama wartawan gosip?

Tentu saja ingin memiliki hubungan yang harmonis dan romantis.

Kejadian tak terduga datang saat niat sudah dibulatkan. Aku berniat memperbaiki komunikasi dengan suami. Komunikasi merupakan modal mengarungi rumah tangga, sangat mahal hingga tak terbeli. Suami istri harus memiliki tekad kuat dari dalam diri. Tulus dan ikhlas.

Maaf ya suamiku, baru bisa mengulas sekarang. Ya berpegang pada ungkapan: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Kebetulan-kebetulan pun terjadi. Kadang bikin kesal kadang malah ngakak. Aku menyebutnya kebetulan. Kebetulan yang membuka percakapan lalu komunikasi dan menghasilkan pemahaman.
"Kebetulan adalah cara Tuhan yang tetap anonim." (Albert Einstein)
Terus bagaimana caranya memulai komunikasi yang baik dan benar agar pernikahan bisa memberikan kenyamanan, kebahagiaan, dan menggenapkan agama satu sama lain.

1. Mulailah menertawakan kekonyolan bersama

Kebetulan-kebetulan yang terjadi di dapur, menggiring kami pada komunikasi-komunikasi yang jarang terjadi jika kami sedang bergantian mendampingi anak-anak.

Kebetulan kami sama-sama suka meletakkan wajan yang masih berisi minyak di atas tabung gas

Ketika kami masak bersama lalu salah satu dari kami menumpahkan minyak yang ada di wajan tersebut maka momen itulah yang kami gunakan untuk memulai komunikasi.

"Aku tadi mbatin, kayaknya miring paling bentar lagi jatuh," ungkap si istri mengawali.

Kami saling pandang dan akhirnya tertawa bersama. Oh indahnya...



Hal-hal remeh untuk ditertawakan bersama sangat penting demi terjaganya kestabilan emosi. Buat siapa? Kami berdua utamanya, anak-anak selanjutnya.

"Ngapain sih difoto segala? Keburu kepleset lah."
"Lumayan bisa buat satu postingan di blog."

Senyum-senyum berdua lagi. Bisa saja kebetulan semacam itu menjadi amukan. Namun seiring bertambah dewasanya sebuah hubungan, tiada yang lebih menyenangkan dari menertawakan kebetulan.

2. Mulailah untuk terbuka

"Ibu cantik ya mas kalau lagi senyum."

Pada dasarnya suami bukanlah seseorang yang pelit akan pujian tetapi kebetulan aku terkadang berubah menjadi istri yang susah untuk dibuat bahagia. Semua maunya sempurna.

"Halah bilang aja minta jatah sarapan!"

Kok sewot? Kan memang sudah kebiasaan sarapan. Ada apa?

Hari ini terbawa perasaan sebel tidak bisa jalan-jalan di akhir pekan kemarin, menyiapkan sarapan sambil ngambek. Kemarahan menyebabkan konsentrasi berkurang, dua gelas menjadi korban. Pecah berkeping-keping karena tidak berhati-hati.

Ya sudahlah, gelas suvenir kok. 

Seharusnya bagaimana? Jawab saja jujur apa adanya ketika suami bertanya. Bukankah aku adalah istrinya yang sudah dewasa, bisa berbicara dengan logika bukan emosi semata.

Terbuka. Terbuka. Terbuka. 

Mungkinkah istri lupa bila suami akan menemani di saat paling buruk sekalipun? Ataukah tidak yakin jika suami sanggup menerima bagian terkelam si istri?

Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Justru keterbukaan membuat komunikasi lancar dan munculnya solusi atau jalan tengah bagi dua keinginan meski bertolak belakang. 

Ngambek terus kebetulan pecahin gelas. Eh suami tanggap terus nanya, ya jawab aja. Perlu dicamkan baik-baik, suami bukan cenayang. Bagaimana suami bisa tahu kalau gak ngomong?

"Kenapa Mah, kok gelasnya pecah?"
"Mamah sebel sama Papah. Udah diingetin kalau ada janji piknik, ini malah ambil lemburan."
"Iya, Papah itu lupa bilang Mamah kalau uang lemburan udah keluar dan kita bisa liburan tanpa macet karena cutinya dapat hari biasa. Gak perlu ngambek lagi ya. Packing aja yuk!"

Yeiiiy... See the magic of communication!


3. Mulailah berkompromi

Kebetulan aku sama suami kalau masak atau bikin minuman terburu-buru pastilah ada saja salahnya.

masakan kesekian yang berakhir dalam kekacauan

Ada tamu, suami inisiatif bikin kopi dan istri goreng pempek. Tanpa bertanya suami memasukkan kaldu jamur yang dikira gula. 

"Sayang, ini sih apa? Kok aku cicipin rasanya aneh," tanya suami sambil melihat toples dengan sendok takar warna merah.
"Ya kamu masukin kaldu jamur," jawab istri sedatar mungkin menghindari pertikaian.

Di lain waktu giliran istri yang lupa menambahkan garam pada masakannya sehingga hambar mewarnai makan malam.

Kompromi. Tidak ada pasangan yang sempurna. Adanya pasangan yang saling melengkapi. Saling mengurangi tuntutan. Berusaha saling mengisi.

****

"Komunikasi ialah sebuah tahapan yang mana dua individu maupun lebih membuat dan melaksanakan pergantian informasi satu dengan yang lain, yang pada pokoknya akan muncul saling pengertian yang bersifat mendalam." (Rogers & D. Lawrence Kincaid)

Kebetulan-kebetulan yang terjadi mungkin jadi semacam penghancur keakuan antara suami dengan istri. Tidak ada yang kalah atau menang dalam komunikasi karena komunikasi kompromi bukan kompetisi.

Selamat mengarungi bab baru. Ingat kepekaan dan empati butuh usaha keras dan proses komunikasi. Semoga Tuhan buka hati dan pikiran suami dan istri untuk terus saling mengasihi dan menyayangi. Demi pernikahan yang menentramkan dan membahagiakan.


(1,102)

Emak Beracun, 5 Tanda Emak Belum Berdamai dengan Inner Child yang Negatif

Kenapa perlu tahu masa kecil ibu? Toh yang penting sekarang dia sehat dan sayang kepada anak-anaknya. Tidak mungkin lah ibu termasuk orangtua beracun, semua tampak baik-baik saja.

Lalu kasus-kasus pembunuhan anak-anak oleh ibunya sendiri marak diberitakan. Caption-caption atau narasi-narasi sangat menyayat hati. Kok bisa? Alih-alih mencari tahu alasan dibalik tindakan, kita terkadang lebih mudah menghakimi

"Warga ikut emosi dan pukuli ibu yang bunuh anak kandungnya."
"Ibu bunuh anak sendiri karena tak dinafkahi."
"Hanya karena menghilangkan mainan, ibu tega bunuh anaknya sendiri."

Apa yang bisa dilihat? Seorang monster, penjahat, atau seseorang yang sebenarnya sangat butuh bantuan. Perhatikan dengan teliti dan tambahkan sedikit empati. Mungkin saja orang itu adalah diri kita sendiri.

Sebelum jadi seorang ibu, emak adalah seorang anak. Tidak tiba-tiba makpedundug jadi emak anak dua. Masa anak-anak inilah yang perlu digali agar bisa menyelamatkan diri sendiri dan selanjutnya mampu mendidik anak dengan baik dan benar.

Masa kecil seseorang atau inner child tentu saja mempengaruhi masa dewasanya seperti hubungan sebab akibat. Kenangan-kenangan baik dan buruk terekam lalu digunakan untuk mengambil keputusan. 

Ibu dengan masa kecil yang bahagia tentu saja memiliki cara didik yang berbeda dengan emak yang masa kecilnya dihantui trauma. Sosok anak kecil ini ada di setiap orang dewasa entah membawa perilaku baik atau buruk. 

Lantas bagaimana cara mengetahui ciri-ciri emak beracun yang belum bisa berdamai dengan inner child yang bermasalah. Ini dia lima tandanya.

1. Gampang marah untuk kesalahan yang sepele

"Ibu, Gian lapar."

Begitu emak menyiapkan makanan, si anak yang sudah tidak bisa menahan keinginan perutnya untuk segera diisi, mencuil pinggiran pie buah. Pie buah yang sudah emak tata dan siap potret. Saat hendak mengambil garam, emak melihat lalu langsung meledak. Nyanyian nada tinggi pun berkumandang di dapur disertai sabetan lap.

"Lihat gak sih ibunya lagi apa. Disuruh sabar aja gak bisa."

Napas tak beraturan, kepala langsung pening, dada sesak. Teringat bagaimana sabetan ikat pinggang saat ketahuan mandi di sungai bareng teman-teman.

"Disekolahin gak jadi pinter malah tambah goblok aja. Sini bapak tambahin kalau gak mau diem."

Ya si ibu kembali mengingat sabetan demi sabetan, sesaknya dada menahan tangis demi berhentinya siksaan, dan terus bertanya dalam hati apa yang salah dengan mandi di sungai. Semua temannya melakukan kenapa hanya dia yang berhak dapat sabetan?

Kini emak luapkan kemarahan itu pada anaknya. Salah siapa?



2. Tidak punya waktu bermain bersama anak-anak

Kesannya kok gak mungkin ya. Dalam 24 jam masa iya emak tidak punya waktu sekedar bermain bareng anaknya. 


Ini adalah lanjutan dari nomor satu. Emak tidak memiliki kenangan bahagia yang cukup kuat ketika bermain dengan orangtuanya. Ketika bermain bersama pasti ada saja yang salah dan berakhir dengan hukuman. Itulah kenapa daripada bermain dengan anak yang ujungnya membuat dada sesak atau punggung seperti terhimpit tembok maka lebih suka menghindar.

3. Sering melarang anak

Melarang tanpa alasan yang jelas dan mengada-ada. Hanya karena tidak ingin terlalu terlibat dalam kegiatan anak.

"Aku hanya kuat dua jam. Lebih dari itu, mereka seperti lebah berdengung dan tak berhenti bekerja. Ya pekerjaan mereka adalah membuat seluruh rumah penuh dengan mainan. Aku tidak suka melihat rumah berantakan. Rasanya seperti akan dapat omelan sepanjang hari dari ibuku."
"Gak usah main di kolam ya, ikan punya kuman yang bisa bikin kamu masuk rumah sakit dan diinfus."

Emak mendidik anak sesuai dengan pengalaman yang dia terima di masa lalu. Masa di mana emak jadi peniru ulung dari ayah atau ibunya. 

Ketika emak melarang, pasti ada satu potongan kisah yang masih disimpan. Entah itu larangan mandi di sungai, gak boleh main hujan-hujan, atau dilarang keluar walaupun hanya di teras rumah.



4. Sulit untuk memiliki jadwal yang konsisten

Terlalu perfeksionis. Perasaan terabaikan saat kecil membuat emak memaksakan diri untuk diakui. Emak ingin orang di sekitar memperhatikan. Pada akhirnya, standar yang digunakan adalah 'demi terlihat orang lain'. Emak akhirnya kebingungan karena tidak mungkin membuat semua orang senang. Pasti ada saja yang komentar tidak mengenakkan.

Begitu jadi ibu, semua semakin sulit karena emak ingin mengaplikasikan semua cara yang berhasil. BAGI ORANG LAIN. Bukan apa yang baik baik diri sendiri dan anak-anaknya. 

"Kok anakku kurus ya."
"Lho anakku gak suka makanan yang aku buat." 


Emak berjuang memenuhi standar orang lain dan berakhir dengan depresi yang tanpa sadar meracuni diri sendiri dan anak-anaknya.

5. Sukar berkomunikasi positif dengan anak 

Ketika anak tantrum karena ngotot mewujudkan apa yang diinginkan, emak malah ikutan marah karena anak sulit dikendalikan. Bukannya membiarkan anak tenang terlebih dahulu, emak langsung memukul berharap anak berhenti menangis. 

Tidak ada komunikasi dua arah. Emak dan anak-anak sama-sama mengambil jalan pintas agar keinginannya terwujud. Apakah ini akan berhasil? Tentu saja tidak. Emak menambah luka dengan menyakiti anak terus menimbulkan luka baru di jiwa suci anak-anak.

Pada dasarnya tidak ada emak yang ingin melukai anak-anaknya. Namun perih-perih yang dia bawa dari masa lalu membuat emak sulit mengambil sikap dan tindakan yang baik dan benar. Perlu  penerimaan dan bimbingan bagi emak untuk menjadi pribadi yang baik dan benar sebelum semuanya terlambat. Entah itu emak atau anak yang terlanjur jadi mayat.

Komunikasi positif jadi kunci untuk memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga atau penelantaran terhadap anak. 

Semakin cepat emak menyadari atau disadarkan maka semakin cepat pula penanganan yang bisa diterima.

***

Menerima masa lalu, belajar untuk berdamai dengan inner child yang negatif, dan kembali menuntut ilmu demi memperbaiki kualitas diri. Tentu emak harus punya pendukung. Diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. 

Kesadaran orang-orang terdekat juga perlu ditingkatkan agar tidak langsung menghakimi, ikut menghujat, atau malah main hakim sendiri. Apabila melihat tanda-tanda di atas maka kita perlu melaporkan kepada yang bisa membantu.

Saling bahu membahu menciptakan lingkungan yang ramah ibu anak, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan tumbuh bersama. Percayalah kita tidak akan terlihat sempurna dengan membuat orang lain tampak buruk.

Ibu, Mainanku Nyemplung Got

 
Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada Anda tapi apa yang Anda lakukan pada kejadian yang menimpa Anda -Aldous Huxley
Kamis siang setelah terburu-buru menjemput GianGaraGembul dari les robotics, kabar buruk datang dari guru mamas. Emak sudah membatin kok tumben banget pak guru nyamperin keluar pas emak lagi parkir motor.

"Ibu mainan Gian tadi nyemplung. Gak bisa diambil karena gotnya sempit. Tuh udah aku bilangin. Ibu gak marah."

Begitu penjelasan pak guru sampe pada titiknya, tangis mamas Gian malah tumpah ruah. Emak mengusap kepala sambil meminta mamas diam. Setelah tenang, emak minta mamas naik ke motor dan segera pulang sebelum terlalu panas. Itu pun mamas menyempatkan melihat got seolah masih berharap emak punya solusi untuk mengambil mobilan yang nyemplung. Gotnya sempit, sela-selanya gak bisa dimasukkan tangan. 

"Katanya ibu gak marah tadi, kok sekarang marah."
Reaksi ketakutan mamas saat emak bertanya kenapa mobilnya bisa jatuh.

"Ibu gak marah mamas, cuma nanya kenapa mobilnya bisa jatuh?" 
"Ya kan aku lagi main seluncuran. Mainnya di dalem tapi pas keluar ibu belum ada. Belum jemput."

Baiklah. Catet! Emak telat jemput jadinya mamas main di luar. 

Mainan itu baru dibeli, itu pun sebenarnya punya dedek Geni. Pengeluaran tak terduga karena dedek tarik kemasan kertas yang tergantung di rak display. Emak sedang konsentrasi mengambil uang tunai di ATM. Begitu berbalik kemasan sudah sobek dan tidak mungkin untuk digantung lagi. Akhirnya sebagai pelajaran tanggung jawab, dibelilah itu mobilan.

"Ibu, mobilnya buat aku aja ya. Dedek kan udah beli kacang."

Oke karena tidak ada mobil yang lain sementara dedek dialihkan dengan kacang. *ketahuan hobi ngemilnya 😂

Setelah mengantar mamas, emak beli satu lagi beda model berharap nanti ganti-gantian mainnya. 

Ternyata eh ternyata mobilnya masuk got. Begitu sampai di rumah, lihat adek Geni pegang mobil, laksana luka belum sembuh ditabur garam. Wes pokokmen ora karuan rasane.

Menghadapi anak tantrum adalah yang terberat selama 4 tahun jadi emak.


Nangis sambil guling-guling minta dibeliin mobil lagi. Emak yang berusaha bertahan akhirnya keceplosan juga.

"Udah, nangis aja terus. Nanti ibunya marah dipukulin deh."
"Gak mau dipukul ibu, sakit."
"Kepala ibu juga sakit dengerin mamas nangis."

Penjelasan berulang tentang bagaimana harus hati-hati menjaga mainan lalu harus sabar nunggu jatah beli mainan lagi. Malah membuat mamas semakin tak terkendali. Dia gak mau nunggu, terlalu lama kalau kumpulin uang lagi.

"Ayo ibu, nanti tokonya tutup. Buka lagi. Tutup lagi. Aku mau beli sekarang mobilnya. Ibu... ibu denger gak telinganya."

Fix. I shut my mouth up. Try to let my anger go. Away. Far away. Timeout for me.

Mamas menguap beberapa kali. Sempat melanjutkan nangis. Menunggu respon emak. Tidak ada respon ternyata. Naik ke kasur dan tiduran di samping dedek yang anteng ngenyot. 

Udah mulai pegangan baju, pelan-pelan emak ajak negosiasi.

"Mamas, boleh ya ibu pake uangnya buat beli baju piknik mamas."
"Emang mau piknik kemana bu?"

Terima kasih Tuhan, dia sudah mulai suka pergi-pergi 😉

"Tempatnya masih diomongin dulu sama ibu-ibu. Ibu apik sama ibu-ibu teman-teman mamas semua."
"Oh jadi belum tahu mau kemana tapi beli baju dulu. Nanti kalau udah tahu kita baru pergi.Bajunya beda?"
"Iya bajunya harus samaan sama temen-temen mamas."
"Ya udah, tapi nanti kalau udah ada uang lagi mamas beli hotwheel lagi ya?"
"Siap. Makasih ya mamas mau sabar menunggu."
"Iya udah mamas bobok dulu. Ngantuk!" pungkasnya sambil menutup mata.

Alhamdulillah ya Allah. Tantrum mamas udah reda.

Emak belajar bahwa ketika anak tantrum, emaklah yang sebaiknya mendapatkan timeout agar tidak kebablasan. Perlu dicatat lagi di buku emak kalau kehilangan pastilah tidak mudah. Tentu saja mamas ingin segera mengganti mobil yang nyemplung itu tetapi jika kali ini mamas bisa menghadapi walaupun dengan drama, esok pasti akan lebih mudah. Benar yang pertama selalu jadi yang tersulit. Namun semua pasti sebanding.

"Emang dipikirnya emak gak ikutan nyesel. Marah juga lah. Mobil baru beli, belum ada sehari, udah gak bisa buat mainan lagi. Kalau emak ngikutin emosi pasti mamas ujungnya tambah sakit. Mobil ilang, dipukulin juga."

Kehilangan itu berat tetapi menerima dengan ikhlas dan mengambil pelajarannya jauh lebih sulit.

Hari ini kita sama-sama belajar ya mas. Mamas belajar melepaskan dan menerima kehilangan. Emak belajar bagaimana cara komunikasi dengan mamas. Komunikasi dua arah. Mamas senang, emak menang. Menang bisa meredam emosi dan meyakinkan diri untuk lebih baik lagi.

Kepadakulah Aku Menyerah



Aku mulai belajar menulis dengan mengikuti kelas-kelas online dan berganti-ganti guru sejak 2013. Kabur tanpa menyerahkan tugas akhir atau hanya membaca teori-teori panjang, minus praktik.

Semua itu pada akhirnya tidak begitu signifikan mengubah kualitas dan kuantitas tulisanku. Tiga buku antologi, postingan blog yang timbul tenggelam, dan deretan curhat di status facebook.

Melelahkan ternyata!

Aku kembali pada masa-masa banyak ide di kepala, lupa, berakhir tanpa jejak. Capek karena pada akhirnya berusaha mengingat tema-tema cemerlang yang sudah berlalu.
Begitulah perjalanan menulis milikku, tak ada daftar nyata.

Penat! Aku seperti bermain sepakbola tanpa ada gawang sehingga hanya berputar-putar di lapangan luas.

Kenapa semua hal itu harus memiliki tujuan? Ini begitu sulit bagiku yang tak pernah memiliki tujuan yang jelas, mimpi yang pasti, atau impian yang diwujudkan.

Ah alasan! Bilang saja malas untuk sekedar duduk, menulis, lalu larut dalam apa-apa yang ada di kepala. Lebih suka membiarkan semua kegelisahan, amarah, bahkan solusi menjadi mubazir.

Menulis itu sulit. Tentu kembali ke rasa enggan yang selalu aku manjakan. Jika saja aku mau sedikit saja bersikap tegas kepada keinginan untuk tidak mengerjakan itu maka pada akhirnya aku akan terus mencoba dan berakhir bahagia. Cerita-cerita itu akan mengalir begitu saja, membuat beban-beban berat di pundakku terangkat, dan yang paling nyata adalah bagaimana hariku begitu berwarna tanpa merasa sia-sia.

Meskipun tidak seperti membalikkan telapak tangan, aku selalu berusaha untuk kembali merangkai kata. Mungkin karena aktivitas inilah yang selalu menyelamatkan aku dari kegilaan pikiran-pikiranku sendiri. Begitu dituliskan semua menghilang dengan tenang.

Semesta mendukung. Aku bertemu dengan guru-guru yang lagi-lagi mengingatkan aku tentang bermain dengan kata-kata dan menikmatinya.

Windy Ariestanty adalah guru menulisku di Linkers Academy Batch 3. Si kakak satu ini adalah orang kedua yang aku tempatkan di jajaran ‘harus ketemu lebih dari satu kali’ setelah mba Sasha (Marrysa Tunjung Sari). Itulah kenapa jika aku bertemu dengannya, selalu ada pelajaran baru yang bisa aku ambil.

Kak W adalah orang pertama yang aku dengarkan ceritanya dari awal sampai akhir. Entah kenapa aku yang termasuk dalam kategori bukan pendengar yang baik ini langsung mengangguk mengerti jalan cerita ‘Kembalinya Tas Koko’. Hari itu adalah pertemuan kedua kita.

Begitu santai di rumah, langsung ketik nama Kak W di kolom cari Youtube. Aku melihat dan mendengarkan beberapa video yang akhirnya membuatku menyerah.

Aku kembali menghadap laptop, memijat deretan alphabet, dan mengambil sikap tegas pada malasku.

Kata demi kata. Aku baca ulang, meneliti sebab akibat apakah sudah pas, dan menghapus kalimat yang ternyata tidak runut.

Aha ternyata menyenangkan. Aku menemukan kembali letupan-letupan bahagia layaknya selesai menuangkan rasa di buku catatan harianku.  Seperti saat kelas lima SD. Inilah ternyata alasan kenapa aku menulis. Aku ingin merasakan kebahagiaan saat bisa menuangkan isi kepala yang seperti tumpukan mainan duo G. Ya cukup banyak sehingga butuh waktu untuk merapikan. Menuliskan semua, memilih dan memilah, baru eksekusi yang paling mendesak.

“Saya kepengen apa yang ada di kepala saya itu bisa dipahami oleh orang lain. Cerita-cerita khayalan-khayalan di kepala saya tuh bisa dipahami dan dimengerti oleh orang lain dan ada orang yang bisa saya ajak ngobrolin hal itu.” Windy Ariestanty
Apa yang sebenarnya aku inginkan setelah menulis? Ternyata uang dan pengakuan orang lain. Iya sulit memang untuk jujur. Tidak mudah bagiku menampakkan diriku sendiri. Aku ingin terlihat sempurna di hadapan orang lain. 

Namun setelah lima tahun berjalan, aku tidak pernah bisa memaksa diriku bergerak atau mulai menulis karena uang atau pengakuan orang lain. Awalnya semangat tetapi lama kelamaan mulai menunda lagi. Berakhir menjadi onggokan draft. Tulisan itu seolah beban yang semakin hari semakin berat. Harus sempurna, tidak boleh dikerjakan seenaknya, dan pastinya sesuai dengan waktu yang disepakati. Menulis bukan lagi ajang bersenang-senang tetapi tuntutan. Paksaan pada diriku sendiri.

Urusan menulis ini adalah perjalananku dengan diriku sendiri. Menyerahkan sepenuhnya pada diri sendiri. Aku ingin menulis karena aku suka. Berlatih membuat waktu praktik bermain dengan kata-kata lagi.

Hari ini. Hadir utuh dan penuh, menerima, lalu menyerahkan diri ini kepadaku. Mari memperbaiki komunikasi dan bertumbuh lagi. Mari saling mengontrol ya diriku. Mencoba untuk mulai berpikir dengan benar.

Terima kasih ya Maha Pemberi Petunjuk selalu mengembalikanku ke jalan ini. Tak berhenti aku bersyukur untuk setiap pertemuan yang mengembalikanku ke jalan yang benar. Jalan menulis yang sedari awal aku inginkan agar bisa bersenang-senang.


Makasih Kak W. Dari kakak aku belajar bahwa menulis itu latihan, bukan bakat dan bukan pula bacot. Aku menulis dengan aku ingin menulis adalah hal berbeda. Menulis bukan yang penting niat tetapi yang penting melakukan. Kecup Kak W ^_^

Jahat jika Aku Meminta Kamu Sabar!

Menulis saat ini mulai membuat kepalaku berat. Ah karena aku akhirnya terlalu banyak berpikir lantas tidak ada satu kata pun yang keluar.

Lihat teman menang lomba blog, PENGEN!

Melirik  blog teman berisi sponsored post, MUPENG!

Menyaksikan video teman yang menang kompetisi, KAPAN YA AKU BISA?

Apa yang salah denganku? Semua orang bilang aku punya bakat menulis dan juga keberuntungan. Lantas kenapa tidak ada satu pun yang bisa menghasilkan dari tulisanku?

SABAR! SABAR! SABAR!

Sabar membuatku menunggu. Menunggu membuatku tidak melakukan apa-apa. Duduk melamun dan membayangkan masa depan yang indah. Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa.

"Mak, apa tujuanmu menulis? Apakah sudah kamu temukan?"

Pada awalnya aku sangat suka menulis. Aku menulis ya menulis saja. Tidak ada tujuan yang jelas. Lama kelamaan ide-ide yang muncul berlalu begitu saja karena aku pikir, "Itu bisa ditulis nanti atau besok atau mungkin lusa."

Kemudian ada yang bertanya, "Apa yang kamu inginkan setelah menulis?" Tentu saja perasaan lega karena apa yang aku pikirkan bisa tertuang dan aku baca lagi nanti. Semacam memori bahwa hal itu pernah terjadi.

Nah mungkin hanya sampai di situ saja. Kamu tidak perlu lagi susah payah membuat tujuan yang berkaitan dengan hadiah atau semacamnya lalu memikirkan strategi untuk mencapainya. Kenapa? Tujuan itu membuat kamu tertekan. Tidak ada bahagia yang tercipta. Lupakan!



Menulis saja untuk mengabadikan momen jika itu yang membuat kamu bahagia. Tidak perlu kesabaran. Lakukan karena itu memang yang kamu mau. 

Bila menulis sudah menghasilkan tekanan dan membuat kamu tidak menikmati hidup maka berhenti. Tidak perlu menulis lagi.

Toh pada akhirnya kamu tahu bahwa tidak akan ada satu pun makhluk yang bisa memaksa. Memaksa kamu untuk terus menulis kecuali dirimu sendiri.

Bila sabar ternyata tidak membawamu kemana-mana maka mulailah berkenalan dengan tekun. Tekun mungkin saja bisa mengenalkanmu pada keasyikan menulis atau tujuan yang lebih jelas. Tujuan yang membuatmu bertumbuh dari seseorang yang lekas menyerah menjadi pribadi yang berkeras hati dalam mencapai tujuan.

Jadi apakah kamu siap menemukan gawang untuk membuat gol?

*Makasih buat Teh Langit Amaravati untuk inspirasi kalimatnya hari ini 🙏😁

Bawaan Bayi Oh Bawaan Bayi

Eksim yang tak kunjung sembuh

Selama hamil anak pertama, eksim adalah bawaan bayi yang mengikuti emak. 

Bawaan bayi? Iya katanya bayi memiliki bawaan sendiri-sendiri ketika di dalam kandungan. Ada  ibu yang terus-terusan batuk hingga bayi lahir, ada yang jadi tidak doyan makanan tertentu padahal biasanya jadi kesukaan, atau penyakit aneh yang tak mempan diobati.

Mau diobati menggunakan berbagai macam obat, tidak bisa sembuh. Hanya mengurangi efek gatalnya saja. Nah eksim kering di kaki inilah yang jadi bawaan bayi Gara. Sembuh setelah lahir tetapi muncul lagi ketika hamil bayi Geni hingga sekarang belum juga sembuh.

Penyakit kulit yang identik dengan kulit kering dan menghitam ini memang sangat mengganggu. Berawal dari benjolan kecil berair yang sangat gatal lalu jika digaruk akan menyebar dan menghasilkan area ruam kemerahan semakin luas. Lama kelamaan ruam-ruam kemerahan tersebut mengering menjadi kulit kering, bersisik, lantas menghitam.

Kan kalau bawaan bayi bakalan sembuh sesudah bayi lahir mak? Nah setelah ditelusuri, alergi telur emaklah yang menjadi alasan kenapa eksim ini tak kunjung sembuh. Begitu makan telur lebih dari tiga kali seminggu maka gatal-gatal akan kembali datang.

Hamil secara alami membuat semua cadangan vitamin, mineral, dan zat-zat penting di tubuh emak berpindah ke bayi. Otomatis ketahanan tubuh emak juga berkurang, maka dari itu setelah melahirkan emak memiliki kondisi kesehatan tubuh yang paling rentan. Sedikit-sedikit sakit. 

Terus bagaimana dong mak? Oke emak coba simpulkan dari dua kehamilan emak ya. Namun harus diingat kalau semuanya kembali di kondisi badan kalian masing-masing. Sippp!

1. Persiapkan diri sebelum hamil

Kehamilan yang dipersiapkan tentu saja akan berdampak baik bagi ibu dan bayi. Selain lebih siap menerima serangan penyakit, ibu juga lebih kuat menghadapi "bawaan bayi" yang akan menemani  selama sembilan bulan.

Makanan sehat, vitamin dan kalsium tambahan apabila diperlukan, dan ketahui alergi-alergi yang dimiliki. 

Ya jangan seperti emak yang sudah tahu tidak boleh terlalu banyak telur, malah cuek makan banyak telur hanya gara-gara takut bayi ngeces kalau gak dituruti maunya. Hahaha...

"Kamu ibunya, kamu yang harus bisa kontrol anakmu!"

Itu pesan mbah Uti yang akhirnya emak turuti sekarang karena eksim kering tak kunjung sembuh juga.

Fisik dan mental harus dipersiapkan agar bawaan bayi bisa dihadapi tanpa alergi.

2. Perbaiki kondisi setelah melahirkan

"Nanti aja sih mak, kan masih menyusui."

Ini bukan bicara masalah diet buat menurunkan berat badan ya bu ibu. Pijat, detoks (mungkin ada yang waktu hamil minum obat), atau sekedar ke salon untuk memperbaiki mood.

Artinya kondisi mental dan tubuh dipulihkan sedemikian rupa agar bisa menghadapi perubahan setelah bayi lahir. Tidak hanya memperhatikan kondisi bayi tetapi juga diri sendiri karena emak bahagia membuat bayi bahagia juga.

Nah ngomong masalah perbaikan, emak akhirnya melakukan pijat syaraf dan juga rutin minum multivitamin untuk memperbaiki kondisi.

Alhamdulillah menemukan tukang pijat yang sesuai dengan kebutuhan.


Memperbaiki kondisi akan sangat membantu jika ibu harus kembali bekerja atau ada pertama yang juga membutuhkan perhatian. 

3. Pelajari jika ternyata bukan bawaan bayi maka segera obati

Bawaan bayi secara ajaib hilang atau sembuh setelah bayi lahir. Ada sebagian yang bilang kalau bawaan bayi itu mitos, ada juga yang bilang kalau bawaan bayi fakta.

Bila selama hamil, ibu sakit dan tidak sembuh padahal sudah minum obat apa saja maka itu adalah bawaan bayi. Dipertegas dengan sembuh setelah bayi lahir. Hilang tanpa jejak.

Nah untuk kasus emak, bawaan bayi berupa eksim ini ternyata berkelanjutan karena efek alergi makanan. Maka harus ada tidak lanjut jika tidak ingin menggaruk setiap kambuh.


Pada akhirnya, kita harus menerima alias ikhlas dengan rangkaian proses yang ada. Terlalu stres atau menyangkal keadaan malah akan membuat semua jadi lebih rumit. So enjoy ya mak!

Tragedi Sedotan Jus

perlu amukan untuk akhirnya emak tahu mamas sudah bisa sendiri

Jus adalah makanan pengganti baik untuk mamas maupun dedek. Jika gerakan tutup mulut dimulai, jus jadi penolong. Setidaknya pertolongan pertama pengganjal perut.

Setiap malam sepulang kerja, mamas meminta ikut beli jus bareng ayah. Ini semacam waktu berkualitas untuk mereka berdua. Ayah dan anak.

Pulang ke rumah mamas membagikan untuk siapa saja jus yang baru dibelinya. Ayah, ibu, dedek, dan mamas. Dengan semangat ibu membantu menusuk sedotan agar bisa segera diminum.

Aargggh... Mamas marah dan meledakkan tangis.

"Aku mau tusuk sendiri ibu, aku bisa!" tegasnya di sela-sela tangisan.

Ibu tertegun. Kenapa harus mengamuk? Bukankah bisa dibicarakan tanpa harus marah dan menangis?

"Soalnya ibu juga suka marah-marah."

Oh okelah kalau begitu. Ternyata ini adalah pembelajaran. Belajar dari tragedi sedotan jus. Sedotan jus yang menjadi bukti. Betapa mamas sudah bisa mandiri. Selain itu ibu juga belajar bagaimana mengendalikan diri. Tanpa harus marah ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.

Jatuh nyaman. Kenapa ibu tidak bisa dengan mudah membuat anaknya merasa nyaman. Begitu berbeda ketika melakukan pedekate pada ayah di kala pacaran dulu. Apa gerangan yang membuat ini jadi begitu sulit?

Mamas berusaha sebaik mungkin membuktikan apa yang dia bisa agar ibu senang. Namun ibu menuntut yang lain lagi, lagi, dan lagi.

Ibu, mamas adalah anak ibu. Bagaimana seharusnya kita berkomunikasi agar bisa saling mengerti? Tidak lagi salah mengerti.

Ketika menulis ini, ibu seperti memulai dialog dengan diri sendiri. Ibu seolah menjamah jiwa anak-anak yang tersembunyi.

Kekerasankah yang membuatmu begitu rapuh? Lantas dengan cara seperti itukah ibu akan mendidik mamas?

"Mba, kamu tuh punya anak yang luar biasa. Jangan sampe salah didik ya. Jangan ulangi kesalahan Mamah dan Papah. Ambil cara yang baik, bukan yang keras."


Tragedi sedotan jus hari ini membuat ibu menyadari ada hal-hal yang mesti diperbaiki, mungkin diawali dari hati. Mulai mendengar tanpa amarah, meminta dengan lembut, dan berkompromi meski lelah menyapa.