Kamis, 22 Juni 2017

Tidak Hanya Niat, Butuh ASUS E202 untuk Makin Kreatif dan Produktif di Mana Saja


Lagi mengejar deadline cerpen yang mau dikirim ke majalah. Niat dan semua amunisi sudah siap. Mulai mengetik.
Ini aib tetapi ada bocah songong yang tidak punya empati memaksaku bergulat lagi. Bermain drama lagi dengan anak perempuan itu. Anak perempuan manis yang tatanan rambutnya berganti-ganti. Rambutnya menambah daya tariknya. Dia kelas 3 SD. Camkan. Masih pakai baju putih rok merah. Pintar walaupun selalu ranking dua. Panggil saja dia Bunga seperti di koran-koran kalau cerita tentang pemerkosaan. Gak kok gak sampai separah itu tapi sekali lagi, kejadian ini dialami anak perempuan kelas 3 SD.
            ####
Ada anak laki-laki pindahan dari kalimantan. Rio seharusnya sudah kelas 6. Ceritanya sering terlibat perkelahian jadi ya gak naik kelas. Begitu pindah dia sekelas dengan Bunga. 
####
"Bung, bung, bung."
"Bung, bung, emang rebung apa?
Tawa menggelegar dari kursi deretan belakang. 
Bunga tetap fokus dengan tulisan di papan hitam yang sedang ditulisi soal sebagai tugas dari pak Slamet.
Dengan cepat Rio punya geng, Deni si anak tukang becak berbadan tinggi langsing dan Cekre yang emang pendek tetapi sok gagah. Rio berbadan tinggi dan berisi. Begitu mengintimidasi kami yang memang sesuai dengan kelas.
Hari naas itu emang diawali dari kelas kosong karena pak Selamet harus rapat. Kelas begitu riuh. Hanya segelintir anak yang rajin menyalin tugas lalu mengerjakannya. 
Rio melemparkan penghapus ke kepala Bunga. Meninggalkan debu putih sisa kapur tulis. Bunga diam.
"Heh, dipanggil kok gak nengok sih!"
Hidup Bunga sudah rumit, dia tidak mau ada masalah lagi. Bunga ingin sekolah tetap menjadi tempat favoritnya untuk melarikan diri. Beli kojek, bakar opak angin, dan es teh bungkusan. 
Anak-anak segera keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi. Seingat Bunga dia hanya terlambat sekedipan mata ketika kerahnya ditarik dengan kuat ke pojok kelas memunggungi sapu. Dia berdiri dan Rio duduk berganti menarik rambut kepangnya. Deni dan Cekre menarik Didi yang sekuat tenaga berontak.
"Cium! Cium!"
Bunga panik dan berusaha lari tetapi perih di kulit kepalanya mengurangi kekuatannya.
Deni dan Cekre mendorong tubuh Didi ke tubuh Bunga. Rio menahan Bunga untuk bergerak. 
"Cium Di, kalau gak aku pukul kamu."
Didi memiringkan kepalanya, begitu dia gak bisa bergerak dan ciuman itu mendarat di bahu Bunga. Deni dan Cekre lengah karena misi berhasil.
"Maaf ya Bunga," sesal Didi sambil membalik badan dan menghambur keluar.
Bunga kaku. Harga dirinya terluka. Saat itu juga ada karakter lain yang bangun. Sosok brutal yang tidak mengenal penolakan.
"Seneng kan? Seneng!"
Bunga mematung. Dia tahu dia bukan dirinya lagi. Dia punya lubang besar yang menganga.
####
"Kamu tuh cantik, ada lesung pipinya kalau senyum."
Buat apa cantik kalau hanya menarik masalah lebih banyak. 
Bunga terbiasa mendengar riuhnya piring pecah diselingi tangisan saat pagi menjelang. Kursi-kursi kosong saat sarapan dilengkapi pemandangan muka bengkak Mamahnya.
Beginikah jadi wanita? Hanya sarana pelampiasan?
Bagaimana Bunga bisa menceritakan apa yang dialami? Sementara keadaan Mamah lebih buruk dari tragedi.
Makian, tendangan, bahkan paksaan saat berhubungan.
"Tidak akan ada pernikahan apalagi anak perempuan di hidupku." 
#### 
"Puzzlenya udah lengkap kan mba?" Mas Adjie tidak pernah memaksa Nonik mengingat Bunga. Anak perempuan kelas 3 SD itu. Mas Adjie menunggu Nonik siap. Makanya Nonik berterima kasih pada anak songong yang gak punya empati itu karena akhirnya dia buka semua luka dan melengkapi setiap kepingan-kepingan yang berhamburan.
Sesi-sesi terapi yang melelahkan, serangkaian tes psikologi, dan mood swing datang menyiksa di saat yang tak terduga. Bahagia sesaat lalu menangis sesenggukan tanpa alasan yang jelas.
"Nonik mimpi Bunga lagi mas Adjie. Dia minta tolong."
"Dadanya masih sesak? Ada serangan manik?" mas Adjie bertanya dengan nada halus.
"Iya mas."
"Mba masih lampiaskan ke anak-anak?"
"Pisau sama anak-anak sudah diamankan mas."
"Res tahu?"
"Tahu makanya dia langsung buat janji buat hari ini."
"Oke, kalau mimpinya berlanjut apa mba tahu yang harus dilakukan?"
"Iya mas, ingat wajah anak-anak dan Res," Nonik menjawab masih dengan posisi mencengkram bajunya.
"Lalu?" Mas Adjie dengan perlahan mengurai jari-jari Nonik.
"Anak-anak adalah obat, Res adalah nyaman jadi Nonik harus berani dan bantu Bunga. Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, terima kasih atas keberanian yang Kau berikan."
Nonik adalah wanita kuat. Dia berusaha terus dan terus untuk bisa menjalani kehidupan normal. Meski sering dia menyerah pada segenggam obat tidur tetapi begitu sadar dan melihat Res serta dua anak laki-lakinya, dia kembali ke tekadnya. Tekad untuk sembuh.
####
Hei bocah songong yang gak punya empati, kamu memang gak tahu masa lalu tiap orang. Namun ketika ada peringatan belajarlah membuka mata hatimu, bagi sedikit belas kasihmu meski kamu tak kenal orang itu.
Jika kamu memang suka baca, resapilah dan gunakan pengalaman penulis. Jangan contoh penulis sastra kelas tinggi yang meremehkan penulis novel romantis recehan yang terbit dari wattpad. Bagaimanapun untuk ada di posisi itu pasti ada usahanya. Jangan meremehkan orang lain hanya karena usahamu lebih berdarah-darah karena kamu tak akan pernah lihat luka dalam apa yang dia sembunyikan.

Tinggal sedikit lagi. Aku mau kasih kutipan yang cetar terus judul dan...

Diiip, diiip, diiip...

Listrik mati dan laptop ASUS N43S yang harus selalu nyolok itu meninggalkan layar hitam. Belum disimpan. 

Tuing, tuing, tuing. 

Aku galau. Sungguh tidak mudah mengumpulkan segenap tenaga dan juga niat. Sebagai ibu rumah tangga, aku harus memastikan anak-anak dalam posisi aman untuk akhirnya bisa fokus menulis. Niat akhirnya bulat dan anak-anak sudah siap, lha kok laptop yang jadi alat tempur malah gak mendukung.


Laptop ASUS N43S ini memang sudah aku miliki sejak 2011. Kami berjuang bersama dan sudah menghasilkan 3 buku antologi dan cukup stok cerpen. Laptop ini juga yang belakangan jadi andalan untuk memiliki waktu yang berkualitas saat menonton bersama anak-anak. Meskipun ya harus sabar ketika listrik mati.

Suamiku geleng-geleng kepala. Terus bagaimana? Niatmu sudah bulat lho? Katanya ingin mengejar kembali impian menjadi penulis. Kan sayang kalau nanti niat tak didukung dengan perlengkapan perang yang mumpuni. Laptop seperti sepatu bagi pemain sepakbola. 

Aku mulai cari-cari info. Harus ASUS lagi karena sudah terbukti dalam enam tahun terakhir tidak pernah ngambek. Hanya baterai, itu juga karena salahku yang sering kelamaan nge-charge. Lupa mencabut adapter.

Tidak Hanya Niat, Butuh ASUS E202 untuk Makin Kreatif dan Produktif di Mana Saja

Kenapa harus ASUS E202?
1. Ukuran yang compact

Notebook berukuran 12 inci yang notabene lebih kecil dari kertas A4, pastinya membuat kita jadi semangat membawa si ASUS E202 ini ke mana saja tanpa khawatir akan sakit punggung malah bisa saja membuat lupa kalau ada laptop di dalam tas jinjing kita. 
Produktif? Tentu lahhh, kita bisa kerja di mana pun berada. Mau ngerjain deadline cerpen di bis, mengetik paragraf pertama sambil makan di restoran favorit, atau harus segera selesaikan presentasi saat terjebak di KRL.

Selain laptop yang hanya 1,25 kg, charger ASUS E202 juga tidak lebih besar dari kartu kredit. Ya sekitar 53 mm saja. Tentu semakin memudahkan kita membawa dan menggunakan ASUS E202 di berbagai tempat.

2. Senjata dalam ASUS E202
Notebook ini memang istimewa karena hadir dengan Dual Core Intel Celeron Processor, Windows 10 dan juga DOS. Apa artinya? Kita akan menggunakan notebook yang mampu mengolah data dengan cepat, memiliki browser yang ketika menemukan halaman menarik bisa langsung di-edit dan diberi catatan langsung pada halaman tersebut, serta multitasking. Kegiatan kreatif yang kita lakukan tentu akan lebih cepat selesai kan?
                  
3. Baterai yang tahan lama

Notebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam.

8 jam? Pastinya tidak perlu cemas akan kesulitan menyelesaikan pekerjaan saat berada di daerah yang tidak ada pasokan listrik atau waktu  kamu ada di perjalanan dan lupa bawa charger. 


4. ASUS E202 memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu. Kenapa hemat? Karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0.


5. Touchpad yang besar dan one piece chiclet keyboard

Fitur ini cocok buat yang ngaku sering typo karena jarak antar keyboard sempit. 1.66 mm cukup untuk mengucapkan selamat tinggal kepada typo.
Nyaman dengan responsifnya touchpad dan ketahanan hingga 10 juta kali pengetikan akan membuat kita dengan semangat mengeksekusi ide-ide kreatif yang sliweran tanpa sempat melamun.


6. Kualitas audio terbaik ASUS E202 dual speaker disempurnakan dengan ASUS splendid dengan sistem vivid

Teknologi ASUS SonicMaster dan speaker yang menghadap depan membuat kita dimanjakan dengan suara jernih saat mendengarkan lagu atau menonton film. Suara dalam dan bersih walaupun kita memaksimalkan volume.


Bagiku laptop bukan hanya alat perang tetapi juga sarana mendapatkan waktu bersama anak-anak.  ASUS splendid dengan sistem vivid pada ASUS E202 menyesuaikan akurasi warna secara otomatis dengan display setting optimal untuk semua gambar yang ada sehingga tampilan yang memesona bisa dinikmati. Baik saat melihat video atau film, notebook ASUS E202 menghasilkan warna yang sempurna bagi mata kita.



7. Fanless terobosan yang aku tunggu

Kenapa? Saat beraktivitas di luar ruangan dan tidak ada meja maka aku sering memangku laptop ketika bekerja. Nah memangku laptop kan lama-lama panas tuh karena udara panas yang dihasilkan kipas laptop jadi selain tidak bising, teknologi fanless ini juga mengurangi efek panas dari laptop. Tidak bising? Iya jadi kita tidak takut membangunkan anak-anak saat harus lembur hingga dini hari. Aku bisa produktif memanfaatkan waktu yang ada.



9. Notebook yang hadir dengan versi Windows 10 dan DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge

Pilihan warna yang memikat meskipun aku berharap ASUS E202 dark blue yang akan menemaniku berkreativitas dan produktif menghasilkan karya.

Ssttt... Teknologi Wi-Fi terbaru 802.11ac yang memiliki kecepatan hampir 3 kali lipat dari 802.11n; membuat browsing, download, dan streaming video jadi lebih hemat waktu. Sudah ngeces belum? Eh iya setiap ASUS E202 dilengkapi 16G ASUS WebStorage gratis selama 1 tahun.



Semoga semua informasi yang aku berikan di artikel ini membuka wawasan bagi yang juga sedang mencari notebook.

NB: gambar dan data-data diambil dari www.asus.com dan www.uniekkaswarganti.com


Tulisan ini adalah salah satu ikhtiarku untuk mendapatkan ASUS E202. Tulisan ini aku ikutkan dalam:

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com
Sabtu, 03 Juni 2017

Impian Perempuan, Betapa Hasil Tak Pernah Mengkhianati Usaha!

Bahagia bisa punya buku lagi 
Rasanya masih seperti mimpi saat mba Deka Amalia bilang buku "Impian Perempuan" akan segera naik cetak. Masih belum begitu yakin saat buku itu sudah di tangan. Begitu segel dibuka dan aroma buku baru menguar barulah senyum mengembang. Aku punya satu buku lagi meskipun antologi.

Buku ini sebenarnya lanjutan proyek 101 Perempuan Berkisah. Begitu buku 101 Perempuan Berkisah terbit, mba Deka memberikan kesempatan untuk menulis lagi dan diterbitkan lagi. 

launching buku 101 Perempuan Berkisah (18 November 2013), GianGaraGembul umurnya baru 6 bulan lebih

Namun karena satu dan lain hal, proyek ini tertunda. 

Cerpen yang aku kirimkan untuk buku ini berjudul "Teror". Begitu aku kirim dan dibaca PJ Mba Risma L Jundi ternyata tidak ada revisi. 

Kisah yang terinspirasi dari seorang ibu yang tega membunuh ketiga anaknya. Terlintas begitu saja untuk membuat kisahnya dalam bentuk cerpen.

Saat itu memang semangat menulisku sedang meroket. Banyak draft dan catatan yang berisi ide-ide. Begitu GianGaraGembul divonis BCGitis disitulah aku mulai kehilangan fokus.


Terkadang ingin kembali menulis tetapi lebih sering berkutat dengan membaca dan konsentrasi untuk kesembuhan GianGaraGembul.

Aku lupakan proyek itu. Tidak banyak berharap akan ada kelanjutan. Mungkin karena saat itu menulis juga bukan hal yang jadi prioritas dan kebiasaanku lagi. Menulis hanya dilakukan saat pikiran benar-benar ruwet. Lagipula tidak ada deadline yang harus aku selesaikan.

Jeda dari 2013 hingga 2017.

Sampai sekarang rasanya masih mengejutkan ^_^
\
Buku "Impian Perempuan" adalah bukti bagi diriku sendiri. Betapa aku harus yakin dengan kemampuan dan usahaku. Bahwa akan ada hasil  dari setiap proses yang dijalani. 

Aku suka menulis. Ada beberapa teman dekat yang bilang aku berbakat. Punya suami yang selalu mendukung langkah apapun yang aku tempuh untuk mengaktualisasikan diri. Kurang apa coba? Ya kurang ajar tentu saja jika dengan semua kemudahan yang ada, aku hanya berpangku tangan dan kalah oleh rasa malas.

Makasih buat mba Deka Amalia dan tim yang membuat impianku bertambah besar. Semoga dari buku antologi menjadi buku sendiri. Aamiin...
Jumat, 02 Juni 2017

#NulisRandom2017, Jangan Lupa Bersenang-senang!

Apa sih yang susah di bulan ramadan? Tak ada, semua jalan seolah dibuka. Tinggal niat yang perlu kita perkuat agar bisa mengendalikan diri dan memperoleh hasil yang maksimal. 

Nah berhubung bulan ramadan tahun ini berniat  menulis selama satu bulan penuh maka ikutlah aku #NulisRandom2017. Tantangan yang diadakan oleh NulisBuku.com ini bertujuan untuk bersenang-senang. Tidak ada aturan hanya nulis dan nulis. Boleh telat dong? Boleh lah, mau dirapel juga gak masalah. Disebutkan bahwa tujuan #NulisRandom2017 adalah mengelabui otak supaya kebiasaan menulis ini menjadi kebiasaan rutin yang harus dilakukan seperti halnya menggosok gigi tiap pagi.

Aku suka sekali saat admin mengingatkan untuk tetap bersenang-senang dalam menulis. Tulis apa saja.

Dan benar saja, aku menulis apa saja yang ada di kepala. Mungkin nantinya akan jadi semacam catatan apalah-apalah tetapi aku menikmati prosesnya. 



Beginilah seharusnya yang aku lakukan. Menulis lalu menikmati dan akhirnya bisa menjadi kebiasaan. Masih terlalu awal jika aku bilang aku pasti bisa menyelesaikan tantangan ini. Namun jika menilik kesenangan yang tercipta aku yakin ini akan jadi kebiasaan. Aamiin...

Pokoknya lakukan dengan senang hati dan semesta akan mendukung.
Kamis, 01 Juni 2017

Ramadan, Siapkah Aku Menyambut Berkah?



Berganti kebiasaan yang sudah dilakukan selama 11 bulan, apakah mudah? Rasanya kok mustahil.

Tentu bukan perkara mudah tetapi tidak mustahil juga. Begitu ramadan datang, banyak yang berbondong-bondong memenuhi masjid atau mushola. Padahal biasanya di rumah saja cukup.
Semua sibuk menyiapkan menu buka dan sahur.
Tadarus.
Menyiapkan makanan buat buka dan sahur lalu dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

"Ah gak mesti setahun sekali mba. Ini mumpung ketemu aja."
"Gak setiap hari inih. Bagi-bagi rezeki."

Lalu bagaimana kalau setiap bulan adalah ramadan? Apakah akan tetap semangat?
Terus kalau setiap hari harus berbagi rezeki? Kamu mau?

Kita memang memerlukan momen untuk akhirnya bisa berubah. Butuh alasan untuk akhirnya bersemangat. Dan memang harus mengembalikan pada niat untuk benar-benar ikhlas apapun kondisinya.

Aku selalu bilang pada diriku jika ramadan itu hanya awal. Bukan hasil. Apalagi pembuktian. Semua yang terjadi adalah proses. Proses untuk terus dan terus dilakukan bagaimanapun hasilnya.

Bagaimana sabar? Tidak lekas marah saat anak-anak menumpahkan apa saja di lantai. Meskipun akan sangat nyaman jika berteriak-teriak meminta mereka membereskan semua kekacauan.

Apa itu ikhlas? Merelakan dengan segenap hati semua kata-kata sindiran atau keadaan yang tidak sesuai dengan diri sendiri. Meskipun sangat nikmat bisa membuat orang lain yang menyakiti tampak begitu kesusahan.

Kenapa harus berbagi? Meskipun hanya pengalaman tetapi bermanfaat bagi orang lain adalah tantangan bagi diri sendiri yang terbiasa menegakkan dagu tanda menggenggam sukses.

Siapa yang harus ditemui? Orang-orang yang mempunyai utang pada kamu. ya sekedar mengingatkan jika tidak ingin bertemu Tuhan sebagai pencuri. Tentu saja ini mengingatkan pada diri untuk segera membayar apa-apa yang masih jadi tanggungan agar berkah selalu datang menghampiri.

Ketika jawaban-jawaban itu terjalin dan menjadikan aku pribadi yang lebih baik maka disitulah berkah sesungguhnya.

Memulai dari diri sendiri tentu saja yang paling mungkin. Berubah jadi lebih lembut bukan hanya saat ramadan tetapi tidak salah juga jika mengawalinya sekarang. Toh bulan baik. Belum tentu tahun depan ketemu lagi dan bisa berpuasa. Siap tidak siap jika kita tidak berdamai dan memulai lantas kapan lagi?
Rabu, 31 Mei 2017

Happy Birthday, Phalupi Apik Herowati

Hope you enjoy your 30th birthday!

"Selamat ulang tahun, moga sehat."
Diselingi batuk.
"Baru didoain sehat, Mah."
Aku masih telungkup. Mengumpulkan kembali kesadaran.
"Jadi istri yang baik, ibu yang baik. Aku mau bangunin kok kayaknya capek banget."

Momen bertambahnya umur, berkurangnya jatah waktu. Seharusnya bagaimana? Sudah tiga puluh tahun lagi. Dirayakan? Pesta meriah? Ganti kepala lho, dari 2 ke 3. Ealah wes tuwo kok mikir ulang tahun mak! 

Berdamai. Aku ingin sekali terus bisa berdamai dengan diriku sendiri. Memperbaiki diri agar masa kini yang sedang dijalani akan jauh lebih mudah dan berkah.

Begini, beberapa grup yang aku ikuti sedang membahas inner child. Bagaimana seorang ibu harus berdamai dengan masa lalunya, masa kecilnya, atau masa labilnya agar saat mendidik anak ibu adalah ibu. Bukan seorang anak perempuan yang terperangkap dalam tubuh ibu.  

Nah saat inilah waktunya merenung. Memikirkan benar-benar setidaknya untuk satu tahun ke depan apa yang akan aku lakukan bagi diriku sendiri yang berdampak bagi keluargaku.

30 tahun. Bukan lagi saat untuk baper. 
30 tahun. Sudah punya rencana dan target yang tepat agar kualitas hidup jadi lebih baik.
30 tahun. Ibu 2 anak laki-laki. 
30 tahun. Novel dengan nama sendiri belum juga terwujud.
30 tahun. Lebih banyak baca lagi.

Selasa, 30 Mei 2017

Puasa dan Menulis, Semangat Yuk!

Membuat komitmen untuk menulis selama sebulan saat puasa, rasanya seperti jalan bolak-balik di atas hamparan kerikil.
Gak dijalani kok gak ada kegiatan, dijalani seluruh badan sakit. Hahaha...

Mau kondisi sehat atau sakit, kan tinggal ambil gawai atau log in di laptop. Yakini aja kalau udah pegang langsung dikerjakan. Menunda memang sangat menggiurkan. Ah nanti aja bisa kok. Sekali aja diikutin, udah deh bubar semua itu rencana.

Begitu sahur selesai, fokus pada komitmen awal. Menulislah. Buka buku jika ada referensi yang ditandai di sana. Search di google misalnya butuh tambahan informasi. Menulislah dengan semangat berbagi. Apapun. Meski itu absurd atau gak nyambung sama sekali, akan ada proses. Jalani dulu, kamu akan mengerti nanti.

Terus kalau malas gimana? Siapa sih yang gak pernah malas? Ya mau sampai kapan malasnya? Kuatkan hati, pasang ikat kepala. Mulailah.

Eh laperrr banget gimana? Kan pusing kepalanya. Ya sekarang tulis aja sedapetnya. Besok menulisnya abis makan sahur aja ya kan penuh tuh tangkinya.

Begitu bulan ramadan, puasa, orang-orang berlomba berbuat dan berbagi kebaikan. Masa iya kamu mau diem aja, males-malesan gak produktif gitu.

Semangat yuk! Menulislah dan berbagi!
Senin, 29 Mei 2017

Seks bagi Ibu, Kewajiban atau Hiburan?

Tadi pagi, sungguh aku terpaku. Lipatan-lipatan itu kenapa begitu mengintimidasi? Aku aja geli, bagaimana dengan pasanganku?
Lipatan itu sungguh tak mengundang.

"Ibu, aku lapar!"
"Mak, dedek tumpahin air tuh."
Rasanya ingin menjambak rambutku sendiri, aku rindu suamiku. Sejenak menepi dari segala keriuhan ini.
"Lah tinggal pake lingerie aja kok. Jalan bak model di depannya.
Dengan lipatan itu? Serius?

Aku dengan segala masa lalu di belakang, berpikiran bahwa wanita itu melayani. Tidak untuk berinisiatif. Terima enak. Gak enak ya terima.

Meyakini mitos: jangan sampai ASI tumpah ke vagina atau penis.
Apakah vaginaku kecipratan ASI dan seolah ada label 'hiper' dijidatku?

Lalu aku bertemu kamu. Dengan segala keterbukaan. Kamu tidak pernah mempermalukan jika aku meminta duluan, jika aku berimajinasi aneh-aneh. Jika aku berinisiatif tentang 'our delicious scene'
"Kalian wanita, terlalu banyak pikiran. Selalu menghakimi duluan. Padahal bercinta itu dua orang. Akan indah kalau saling. Kami pria, jika diajak bicara pasti mendengarkan. Jadi bicara saja. Tak usah ambil keputusan sepihak."

Tubuhmu bukanlah ukuran apakah kau menarik untuk diajak bercinta.
Tidaklah salah untuk berinisiatif mengajak suami bercinta. Dia suamimu bukan orang asing yang kamu comot di pinggir jalan.
Dan saat bercinta, endorfin lalu dopamin membuat hari buruk berakhir.

Seks bagi ibu-ibu seharusnya bisa dijadikan sumber pemahaman untuk menghargai diri sendiri, komunikasi dengan pasangan, dan juga tambahan hiburan di warni-warni kehidupan pernikahannya.


Memahami diri sendiri itu bukan sekedar tahu makanan favorit, golongan darah, atau ukuran sepatu. Namun harus memahami kenapa suasana hatimu berubah cepat dan tahu bagaimana. Percaya diri dengan foto diri sendiri meskipun ada sudut kecil di hatimu yang berteriak, "Ih jangan pasang fotomu sendiri sih. Jelek banget."

Biarkan orang lain melabelimu macam-macam tapi jangan kamu yang menstempel dirimu sendiri.

Jika memang bercinta adalah hadiah yang kamu inginkan untuk menutup harimu yang chaos, dress up and do the sexy bitchy dancing in front of him!  Persetan dengan lemak-lemak yang menggelambir. Kamu berhak jika kamu menginginkannya.

Lagi puasa kok bahasannya begini sih? Hahaha... Ya siapa yang larang, asal sesuai dengan aturan. Udah suci sebelum adzan subuh. Sah-sah aja.

Selamat berpuasa ya. Nikmati puasanya biar selalu ada berkah di tiap harinya. Aamiin..
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design