Selasa, 22 Agustus 2017

MELANGITKAN IMPIAN DENGAN TULISAN

"Kau tak pernah terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau memimpikan mimpi yang baru." C.S. Lewis
Baru mulai serius menulis di usia 30 tahun. Kenapa? Kok akhirnya memilih balik lagi ke menulis? Butuh kegiatan cin. Kegiatan yang bisa bikin otak berfungsi dengan baik. Terus 20.000 kata keluar dalam sehari. Terakhir tetapi yang utama adalah bisa disambi-sambi. Ya namanya juga sudah punya dua bayi, harus bisa berbagi kan.

Impianku saat ini adalah bisa kemping bareng suami dan anak-anak, bisa motret, dan selesaikan novel. Gak ada pesan sponsor kecuali tulisan ini aku gunakan sebagai doa agar semesta mendukung dan bisa sampai ke langit.

"Putuskan apa yang kau inginkan, dan berusahalah menjadikannya kenyataan. Jangan sampai kau lupa hidup karena terlalu sibuk bermimpi." Peter O'Conners
Aku pernah tidak percaya bahwa ketika impian ditulis maka meskipun tidak simsalabim terwujud, ada pintu yang terbuka menuju impian itu.

Aku kemarin menulis tentang cita-cita jadi psikolog.

BILA JALAN MEMUTAR ITU BEGITU JAUH

Entah kenapa setelah itu beberapa buku yang dulu ingin aku baca, tentang psikologi, sedang diskon gede di salah satu toko buku online. Dan ya aku anggap ini adalah tanda terbukanya pintu menuju impianku. Belum, acc memang sudah turun dari suami tetapi aku belum siap untuk kembali ke bangku kuliah lagi.

Dengan menulis aku berharap impian-impianku akan menemukan jalannya untuk terwujud. Woi, siap gak dengan perih dan juga usaha yang harus dibayar?

Iya ini juga lagi persiapan kok.

1. Mulai cari modal buat jalan-jalan bareng

Aku ingin anak-anak belajar dari sekitarnya tentang apa itu hidup. Kenapa kita hadir di dunia ini. Anak-anak juga harus tahu apa impiannya sejak dini agar apa yang mereka lakukan mengarah ke tujuan bukan ke hasil yang hampa dan sia-sia.

Modal ini perlahan tetapi pasti akan mampir. Semoga aku bisa bijak dalam mengambil semua peluang.

2. Mulai nulis biar siap ketika harus maraton pas selesaikan novel

Berawal dari artikel-artikel 500 kata bulan ini semoga bulan depan meningkat ke 800 kata. Pelan-pelan naik agar tidak ngos-ngosan di tengah perjalanan.

3. Novel adalah awal agar kamera bisa dibeli

Ada deal dengan suami kalau novel tentang Ammabel selesai aku bisa beli kamera inceranku.

Kali ini aku ingin mengalahkan diriku sendiri dan mulai bergerak. Kali ini aku harus taruh impian itu di jidat agar selalu ingat tujuannku. Impianku. Bismillah.

Senin, 21 Agustus 2017

Parenting Talkshow Bersama Lego Membangun Anak Indonesia yang kreatif

Sabtu, 19 Agustus 2017 di Area Food Society Mall Kota Kasablanka
Anakku yang pertama Mamas GianGaraGembul lagi suka-sukanya main lego. Ya brick-brick berasal dari Denmark yang cara mainnya dibongkar pasang. Dulu zaman emak kecil mah mampu belinya lego kw. Sekarang alhamdulillah bisa nyicil beli yang asli biar bisa buat lungsuran ke adik-adiknya. Hihihi, tetep ya.

Begitu melihat lego, mamas langsung eksplor ^_^

Talkshow ini memang rangkaian dari BUILDING ARCHIPELEGO yang juga dilaksanakan sebagai acara yang memeriahkan HUT RI ke 72. Membangun negeri juga membangun generasi yang kreatif dan membanggakan. Bagaimana anak-anak menuangkan semua ide kreatif mereka hanya dengan 72 bricks. Keren! Terus yang tak kalah menakjubkan adalah GIANT MOSAIC 3D GARUDA yang disusun dari 3500 bricks. 

Acara yang dipandu oleh CJ (Christina Jennifer) ini menghadirkan Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(k) MPH lalu Sissy Prescillia Sungkar, dan Gunawan Tunas (Lego Education Program). Artikel ini berisi rangkuman dari ketiga pembicara tersebut.


Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan. Siapa sih yang tidak suka bermain? Semua anak suka bahkan terkadang orang dewasa pun meluangkan waktu untuk bermain sebagai cara melepaskan diri dari beban berat pekerjaan atau rutinitas. 

Bermain adalah hak asasi anak. Anak yang kurang bermain maka ada kemungkinan dia tidak akan pernah dewasa. Meluangkan waktu untuk bermain di usia produktif itu wajar tetapi jika sampai berangkat kerja terlambat karena malamnya begadang main bola di hp tentu saja itu tanda ada yang tidak beres.

Ketika bermain otak anak akan terstimulasi. Tentu saja variasi permainan yang digunakan untuk menstimulasi harus disesuaikan dengan umur dan perkembangannya. Tidak lupa perhatikan nutrisi.

Kenapa sih harus disesuaikan dengan umur dan juga tahap perkembangannya? Memberikan mainan sembarangan bisa berakibat fatal. Menelan bricks kecil-kecil lalu tersedak atau bricks tersebut tertinggal di kerongkongan tentu saja membuat kita menyesal. Sekali lagi, mainan-mainan HARUS DISESUAIKAN DENGAN UMUR. Anak berumur 1 tahun yang masih ada di masa oral tentu harus diberikan mainan-mainan berukuran cukup besar hingga saat masuk ke dalam mulut tidak dengan mudah tertelan. Anak umur 3-6 tahun tentu saja harus diberikan mainan yang bisa mengasah perkembangan motorik baik halus maupun kasar. Kreativitas adalah tujuan selanjutnya. Bagaimana anak-anak pada akhirnya bisa sampai pada tahap ide-ide yang mungkin bagi kita masuk akal. Bermain ketika kita memasukkan unsur matematikanya maka anak akan tanpa disadari belajar matematika.

Hindari kalimat: JANGAN MAIN TERUS, BELAJAR!
Memutus kesenangan anak bisa membuat mereka membenci belajar itu sendiri.

Optimalkan juga bonding. Usahakan untuk menemani anak bermain.
"Mamas buat apa? Oh semangka. Warnanya apa saja?"
"Hijau, putih, merah. Terus bijinya hitam lho ibu."
Luangkanlah waktumu walau hanya bertanya satu atau dua hal. Biarkan dia bercerita tentang kreasi yang sedang dia buat dan berikan apresiasi atas usaha dan juga kerja kerasnya. Disadari atau tidak selain kedekatan, kepercayaan juga akan menguat.

Anak-anak milenials katanya tidak bisa lepas dari gadget. Tentu saja jika kita mau mengusahakan yang terbaik, disiplin dengan waktu yang diperbolehkan bermain gadget misal kesepakatannya satu jam ya konsistenlah. Pasti hasilnya tidak akan mengecewakan.

Aku tergelitik dengan pernyataan Sissy yang bilang, "Masa ibunya pergi bawa-bawa tas make up segede gambreng bawa lego buat anak-anaknya aja repot."
Sissy memang menularkan kesukaan lego kepada anak-anaknya. Semenjak hamil dan merasa tidak bisa melakukan banyak hal, lego adalah pelarian baginya.
Lego memang dibuat bagi anak 1,5 tahun hingga mahasiswa. Ada semacam tujuan pembelajaran di setiap edisi yang dikeluarkan.

"Pemadam kebakaran siap menyelamatkan," ujar mamas.

Bermain mikro drama dan memanfaatkan mobil pemadam yang sudah dibuat bersama ayah tentu saja merangsang kreativitas. Mamas GianGaraGembul mulai merancang bagaimana kebakaran terjadi dan malah membakar semua mobil hingga mobil hancur. Harap jangan sampai meleng ya mak, bisa-bisa bagian-bagian lego yang kecil itu nyasar ke tenggorokan Dedek DulDenGeni.



Duplo didesain untuk anak umur 1,5 hingga 3 tahun. Plastik yang digunakan aman artinya tidak ada bau yang bisa membahayakan kesehatan, didesain dengan ujung lengkung jadi anak tidak akan tergores, presisi di setiap brick terjamin. Lego zaman dulu jika dipasang ke lego keluaran terbaru pasti pas. Itulah kenapa setiap membeli lego ada nilai lebih. Mahal itu relatif tetapi apakah pasti awet? Itu yang harus kita pikirkan sebelum membeli mainan anak.

Berusaha memberikan yang terbaik, sesuai dengan umur, dan menstimulasi anak agar otak berkembang maksimal di usia emasnya adalah kewajiban orang tua. Pilihlah dengan bijaksana agar tidak kecewa. Anak pintar pastilah membahagiakan tetapi anak kreatif adalah keberhasilan orangtua.


Minggu, 20 Agustus 2017

Good Bye Girl, Welcome Woman!

"Titik balik dalam proses tumbuh dewasa adalah ketika Anda menemukan inti kekuatan di dalam diri Anda yang bertahan dari semua yang membuat Anda terluka." Max Lerner
Tentu tidak akan ada yang tahu kapan waktu begitu baik dan memberikan pembelajaran dengan cara halus nan santun. Bukan dengan tamparan keras yang hanya berujung luka dan penyesalan. Sebenarnya sudah berulang kali tetapi aku saja yang kurang jeli dan belum ada hati untuk sekedar menepi lalu merenungi diri.

"Udah kalau mau ikut ibu diem. Gak usah kebanyakan ngomong."
Anak laki-laki yang memang lagi cerewet-cerewetnya itu diem. Klakep. Tidak hendak membantah anak perempuan bertinggi tak sampai 150 meter yang dipanggilnya IBU. 

"Ibu jangan marah-marah dong," protesnya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
"Kalau gak mau ibu marah ya dengerin, nurut!" bantah anak perempuan yang dipanggil IBU itu sewot.
TAK MAU KALAH.

"Kenapa aku yang dimarahi? Kan dedek yang tumpahin air?"
"Ya kamu kan udah ibu mintain tolong taruh gelasnya. Mejanya tinggi kan dedek gak sampe," menjawab dengan amarah yang meledak dan berteriak.

Ibu oh ibu. Kurang mainkah kau saat kecil? Tak bahagiakah masa kecilmu hingga kini kau menolak untuk sekedar berbicara dari hati ke hati dengan anakmu. Melepas ego barang sejenak. 

Perjalanan berat sedang ditempuh seorang anak perempuan demi sebuah kesadaran penuh bahwa dia sudah dipanggil ibu. Dulu dia tidak dekat dengan ibunya. Dia hanya tahu jika seorang ibu adalah anak perempuan yang menikah lantas menggaji pembantu untuk mengurus rumah termasuk penghuni di dalamnya ketika bekerja. Lalu pada saat dia menikah maka dia tidak tahu konsekuensi apa saja ketika dia jadi ibu dan tidak bekerja. Sepenuhnya di rumah.

Oh anak perempuan ini sepertinya tidak bahagia. Dia tidak bisa melakukan apa saja yang dia mau karena ada dua buntut yang mengikutinya ke mana saja dia melangkah. Dia juga tidak bisa sekedar merawat diri di salon seperti yang biasanya di lakukan sebulan sekali. Jangankan ke salon hanya untuk mandi saja terkadang harus menunggu dua buntut itu tidur. Buru-buru. Tak pernah sempat menikmati segar dan dinginnya air yang sudah dibiarkan semalaman. 

Hingga dua buntut mulai mandiri. Bisa makan sendiri, lalu mengambil minum sendiri, dan berusaha memakai baju mereka sendiri. Anak perempuan ini merasa masih saja kurang leluasa bergerak. Masih saja melihat masa lalu yang tidak bahagia. Masa lalu di mana masa anak-anaknya direnggut paksa tak cukup kasih sayang dan hanya nelangsa. 

"Dulu aku tak bahagia. Bagaimana aku bisa memberikan kebahagiaan itu pada anak-anakku. Sekeras apapun aku berusaha menjadi ibu yang baik, rasanya selalu berakhir pada teriakan, marah, dan juga tidak terima."

Meskipun begitu, suami anak perempuan ini tidak pernah menyerah. Dia berusaha sebaik mungkin tidak menekan dan menuntut. Dia biarkan anak perempuan ini belajar. Jatuh dan bangun. Ya suamiku, aku tak pernah bisa berhenti bersyukur karena kamu membiarkan aku melalui proses "trial & error" ini. 

A Gentleman's Dignity, drama korea yang tanpa sengaja aku tonton episode terakhirnya pas lagi cari kartun buat sulung.
"Adolescents never become mature. They just get older. However, adolescents who have gotten older know. How to go a different way and how to shine a different color. Thanks to these women, we were given the opportunity to be gentlemen instead of just ordinary men. That's why we're able to say, "Good bye, boys."


Rasanya kalimat itu menyentilku. Kapan kamu akan dewasa? Pria-pria itu belajar dari wanita dan kamu belajar dari anakmu. Dua orang anak lelaki.

"Kalau aku mati, ibu gak punya anak lagi?"

Apakah menunggu anakmu mati di tanganmu sendiri? Woiii... Sadar! Malah mewek. 

Tuhan untuk masa lalu yang begitu kelam, apakah boleh aku lepaskan? Aku sungguh lelah menyalahkan apa yang terjadi di masa lalu. Aku sungguh sesak dan ingin semua berlalu. Namun kenapa semua masih saja menghantuiku?

"Ikhlaskanlah! Semua yang terjadi memang untuk menguatkanmu agar hari ini kamu bisa jadi yang terbaik."

Aku melihat tanganku, masih ada.
Aku meraba telingaku, lengkap.
Aku memijit kakiku, tidak ada yang aneh.
Aku memencet hidungku, ah masih ada napas.

Berbekal dua buntut yang selalu membuka pintu maaf untuk semua kemarahan yang aku lontarkan. Aku berkomitmen pada diriku sendiri untuk mengucapkan selamat tinggal pada anak perempuan itu dan selamat datang pada wanita yang berjuang untuk jadi dirinya sendiri hari ini.
Sabtu, 19 Agustus 2017

BERHENTILAH BERUSAHA MENJADI ORANG LAIN


Di SMANSAMenulis05 kami pernah mengudang Carolina Ratri, blogger sekaligus penulis buku yang tulisan di blognya www.carolinaratri.com fokus membantu para penulis pemula untuk berkembang. Mba yang akrab dipanggil Carra ini tidak hanya menulis di blog tetapi juga novel, flash fiction, sekaligus menggambar.

Nah ketika kami berdikusi ada pertanyaan seorang teman, sebut saja namanya Hepi: "Mba aku tuh suka nulis sastra tetapi sekarang banting stir jadi nulis artikel, gimana ya mba?" kira-kira begitu pertanyaannya. Dari fiksi kemudian menyebrang ke nonfiksi. Jawaban mba Carra begitu mengena padaku, "Lanjutkan saja keduanya, itu akan membuatmu lebih kaya."

Kaya? Menulis bisa membuat kaya. Tentu saja. Proses menulis sama dengan pekerjaan yang lain. Lakukan, pembaca senang, buku laris atau tulisan viral. Kaya di sini bisa saja kaya materi atau hati. Royalti atau jual putus akan menghasilkan pundi-pundi lalu pundi-pundi ini kamu gunakan untuk membiayai perjalananmu. Perjalanan yang ternyata memperkaya batinmu kemudian kamu tulis lagi. Nah begitu terus perputarannya.

Indah Hanaco adalah penulis produktif yang hingga saat ini sudah mengeluarkan 37 novel. Aku akrab dengannya dan sering bertukar pikiran tentang bagaimana menulis itu benar-benar bisa menyembuhkan dan memperkaya hati.

Setiap orang menjalani prosesnya masing-masing untuk akhirnya sampai pada sebuah kesadaran untuk menulis dan memperkaya diri. Tidak lagi fokus pada kaya materi tetapi hati yang kaya. Berproses dan melakukan perjalanan baik menjadi pembaca yang melahap buku apapun maupun pejalan yang mendokumentasikan juga menulis agar bisa membekukan momen.

Aku? Aku baru sampai pada tahap menulis untuk "berhenti berusaha menjadi orang lain". Sadar secara penuh bahwa saat ini aku adalah ibu rumah tangga penuh. Aku ingin kaya tetapi pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga penuh dan hanya mengandalkan uang bulanan dari suami tentu bisa dibilang hanya  cukup secara materi. Aku pada prosesnya mulai tahu, dari tulisan-tulisan yang aku buat di blogku, aku sedang berusaha memperkaya diriku sendiri. Berusaha jadi aku. Bukan penulis-penulis idolaku. Awalnya memang terinspirasi. Makanya sering aku tanya: tulisanku mirip kamu gak? Lega ketika Indah Hanaco bilang aku punya gayaku sendiri.





Ternyata aku bukanlah epigon. Seperti penjelasan Mas Bambang Trim di bukunya "The Art of Stimulating Idea" halaman 111. INSAFLAH UNTUK TIDAK MEMAKSAKAN DIRI MENJADI ORANG LAIN, tulis mas Bambang Trim. Aku ternyata hanya mengidolakan penulis-penulis senior nan produktif itu. Aku punya gaya menulis sendiri. Entah itu saat menulis cerpen, artikel, atau sekedar status di FB. Hahaha... Entah kenapa aku bahagia menemukan kenyataan ini. Kenyataan aku adalah aku.

epigon/epi·gon/ /├ępigon/ n orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya; peniru seniman atau pemikir besar (https://kbbi.web.id/epigon)
Pada tahap awal mungkin aku mencoba untuk fokus pada novel. Namun berusaha dengan keras sejak 2012, Ammabel tak kunjung usai. Novel itu bongkar pasang terus dan tak jua ada kata "tamat".

Aku ambil jalan lain. Cari ilmu lain sembari terus menulis. Tidak lagi memimpikan jadi ibu bekerja, bangun pagi, berdandan dan memakai setelan trendi kesukaanku. Aku berdamai. Aku adalah ibu rumah tangga penuh dengan jam kerja 24 jam dan daster warna-warni adalah yang ternyaman sepanjang hari. 

Dalam menulis pun aku berusaha menemukan gayaku sendiri. Tidak sekedar mengikuti tren yang sudah ada dan best seller. Aku menulis yang aku suka dan ada di sekitarku.

Terima kasih buat teman-teman di SMANSAMenulis05 yang sudah menemani perjalanan menulisku dari bulan April 2017 hingga kini. Kalian yang menjadi pengingat bahwa menulis adalah yang membuat aku tetap jadi diriku.  Kalian yang menjadi penyemangat agar aku bisa berguna baik bagi diriku sendiri maupun orang lain dengan menulis. 

Jumat, 18 Agustus 2017

Hai There! Are You Happy Now?

Ini cerita mini fiksi ya jadi kalau ada kesamaan kisah mohon dimaklumi karena murni gabungan curhatan dan imajinasi. 


Pagi bersinar, menghadirkan cahaya yang begitu menusuk. Ingatan akan kamu sungguh tak mau enyah meskipun sudah aku paksa. Kamu yang bayangan punggungnya pun tidak bisa aku miliki. Aku terduduk di sudut ranjang. Sejenak memandang kursi yang jadi saksi betapa aku merindukanmu. Sudah satu musim berlalu dan kenangan itu entah kenapa tak jua beranjak pergi malah semakin menghantui. Dengan bodohnya aku di sini. Kamar yang sama tanpa kamu. Hanya aku dan rangkaian malam panas yang berputar kembali.

Aroma kopi sudah tak lagi menyakiti. Aku berdamai ketika aroma manis nan menggoda itu menguar, ada nyaman meski sekejap. Membuatku kembali ke rutinitas pagi. Kembali bernostalgila. Gila karena cintaku padamu.

Mengenang malam itu. Hujan tetapi aku merasakan begitu hangat meski yang aku peluk adalah jaket anti airmu yang kuyup. Setelah menghabiskan malam nan romantis meski hanya kongkow di warung penyetan murah meriah. Romantis karena pipiku tak berhenti memerah. Adrenalin rush. Seperti rasa ingin memiliki tetapi tak mungkin diikuti. Hujan pun mengamini. Memberikan kesempatan untukku mengumpulkan keberanian. Memeluk erat karena aku tahu waktuku terbatas, merengkuh calon pacarku. 

Duhai calon pacar yang tidak akan pernah naik tingkat jadi calon suami. Sampai saat ini aku mengutuki waktu. Kenapa selalu salah! Cinta dan juga nyaman membuatku serakah. Kenapa aku harus memilih? Memilih untuk menjauh. 

Hai there! Are you happy now?

Apakah kau sudah menikah? Bagaimana istrimu memperlakukanmu? Hebatkah dia di ranjang? Sukakah dia memasak? Lalu bagaimana dengan kejutan? Pernahkah dia memberimu kejutan? Membawamu ke hotel dengan dekorasi ulang tahun dan juga kado buku-buku kesukaanmu? Aku di sini menyesali diri dengan sepiring spageti bumbu bali.

Oh shit, all those questions are killing me softly. Dadaku sesak. Bukankah harusnya aku yang ada di sana dengan kamu bertelanjang dada di atasku sambil berbisik, "I miss you."

Lintang. Iya namanya pasti Lintang jika anakmu perempuan. Ya ampun ini mengerikan. Kenapa kita harus berbagi hingga begitu jauh. Tentang impian dan juga masa depan. Sementara aku hanya bisa ada di masa lalu. Mungkin kamu ingat sesekali atau malah tidak sama sekali.

Aarrrgh...

#####

Satu musim berlalu. Aku lelaki bodoh yang hanya bisa mengutuki waktu untuk keberanian yang tak pernah muncul. Ya seharusnya aku berjuang, toh kalian masih pacaran bukan terikat pernikahan.

Tentu saja aku masih ingat bagaimana pelukan itu membuktikan bahwa kau memilihku. Aku lelaki yang bisa membuatmu bahagia bukan dia. Cheesy, ya whatever. Namun kenyataannya begitu menyakitkan. Aku sadar aku masih kurang membuktikan bahwa aku layak untuk ada di pelaminan bersamamu. Bukan sekedar hubungan putus nyambung seperti yang dia berikan. Ya saat itu aku bukanlah pria matang yang kau tunggu. Aku masih saja kekanakan dan berlalu saat masalah-masalah menjadi rumit.

Hai there! Are you happy now?

Apakah kalian akhirnya menikah? Gila, aku tidak ingin kau ada di atas tubuh pria itu dengan napas memburu seperti  malam itu. 

"Persetan dengan norma. Kau adalah milikku. Malam ini."

Hanya aku yang boleh mereguk manismu bukan pria itu. Akulah yang tahu apa impianmu, ke mana saja kau akan pergi, dan bagaimana wajahmu berubah seperti kepiting rebus setiap aku menatapmu bukan karena nafsu. Manismu memang menggiurkan tetapi rasa nyaman itulah yang memabukkan. Aku adalah aku saat bersamamu.

Apakah akhirnya kau berpisah dengannya? Membahagiakan dirimu sendiri dengan meraih semua impian yang tidak diketahui pria itu. Hanya aku katamu. Iya yang tahu rancangan masa depanmu.

Tunggu! Agenda kerjaku, ada rangkaian dua belas angka. Apakah masih sama? Mari hentikan kegilaan ini dengan melakukan kegilaan lain.

Seharusnya aku berjuang. Mendapatkanmu. Bukan hanya di sini meratapi kegagalan diri.
Aaarghhh...
Kamis, 17 Agustus 2017

Lomba Yuk! Momen Dirgahahayu 72 yang Bikin Merasa Merdeka


"Ibu, nanti kalau mamas ikut lomba malah kalah."

Itulah jawaban yang anak sulungku berikan ketika aku tanya mau ikut lomba apa. 

Baiklah tak perlu mendesak. Biarkan nantinya dia yang memutuskan. Aku juga tak punya ingatan spesial tentang lomba kecuali kemah sebelum Upacara Bendera memperingati Hut RI. Tujuh belasan. Bukan seperti anak lain yang semangat, aku lebih sering tidur banyak seusai kemah. Sungguh terlalu memang. Makanya ketika Raisa membukam nyinyiran yang bilang kenapa pilih Hamish yang blasteran dengan bertanya: kamu emang udah ngapain? Aku merasa malu juga. Apa ya yang sudah aku lakukan untuk Indonesiaku? Piknik dan menjelajah daerah, belum. Aarrrgh...

Balik ke lomba. Akhirnya suatu pagi di tanggal 13 Agustus 2017 itu Mamas jalan sama dedek dan juga ayahnya untuk beli susu. Lewatlah depan lapangan RT kan pas balik dari warung. Lha kok rame anak-anak kumpul. Tertariklah dia. Akhirnya mau ikut lomba. Makan kerupuk, pindahin bendera, dan membawa kelereng. Adiknya ikutan main waktu mamasnya lomba. Waktu berkualitas juga buat aku dan suami menemani anak-anak.

"Gak apa-apa kan Yah kalau gak menang."
"Gak papa mamas yang penting mamas senang."

What a perfect day. Senang karena setelah lomba dia dapat donat coklat plus susu yang dikira hadiah. Ditambah kerupuk yang harus dihabiskan karena keburu waktu habis.

Lomba kerupuk, posisinya belum pas jadi kurang tinggi. Mamasnya belum bisa kira-kira jadi dia bete dan cuma pura-pura gigit kayak dinosaurus yang mau makan mangsa tapi ogah-ogahan. Suaranya aja. Herrr, auk auk auk. Asli ngakak lihatin ekspresinya tetapi harus tahan biar mamas gak tambah senewen. Udah mau ikut aja udah bagus. Memang hanya itu tujuan kami. Mamas mau mencoba.

Lomba pindahin bendera. Dipilih yang setara umurnya sama mamas. Menang dia. Malah kesannya larinya malas-malasan gitu. Dia hepi karena bisa menang. Senyum-senyum.

"Ibu nunggu lomba apa lagi?"
"Nanti lomba bendera lagi tapi sama kakak."
"Ah gak mau nanti aku kalah."

Mamas sudah bisa ukur kemampuan dirinya. Perlu sedikit motivasi agar mau mencoba apapun hasilnya. Begitu diadu lagi dengan yang umur 6, kalah dia. Ya gimana memang umurnya 4 sampai 6. Namanya juga untuk senang-senang.

"Ah mamas kalah Yah."
"Gak papa yang penting mamas mau coba."

#################################################

Pawai di tanggal 17 Agustus 2017, Bekasi Barat. Pejuang muterin THB balik lagi ke rumah RT masin-masing.

Entah kenapa waktu di Bekasi kok melow. Pawai begitu meriah. Sampai gak fokus foto-foto saking terkesimanya. Semuanya total. Sepeda hias, ondel-ondel, bahkan sepeda yang dihias jadi burung garuda. Hanya sempat foto ini aja yang lain dinikmati oleh mata dan jiwa.

Jalanan macet. Biasanya orang-orang akan perang klakson dan heboh. Kali ini fokus lihat pawai sambil nyanyi Indonesia Raya dan bawa-bawa bendera kecil. Begitu semarak. 

Inilah Indonesia. Katanya banyak yang gak suka dengan budaya sendiri tetapi nyatanya semua anak-anak muda berperan dalam mengisi peringatan 72 tahun Indonesia merdeka dan sangat antusias. Mereka mengkoordinir acara lomba, pawai, dan juga membuat kostum yang "Indonesia banget". Iya nyesel gak potret detil karena rempong bawa-bawa Geni yang lagi ngemil mendoan.

Inilah Indonesia. Sejauh apapun pergi tetap merasa yang dipijak adalah rumah. Indonesia. Ah mewek deh. Sudahlah kalau dilanjutkan nanti heboh. Pokoknya JAYA TERUS INDONESIA. MERDEKA!!!


Rabu, 16 Agustus 2017

Kapstok Gantungan Kunci untuk Si Pelupa

Nempel di deket colokan biar sekalian dicharger yak
"Mah lihat kunci ayah gak?"

Carinya muter-muter ternyata di deket jaket. Padahal harusnya setengah jam lalu udah berangkat. Baiklah.

"Mamas, kunci ibu tadi mana?"

Bolak-balik cari di kamar. Lho kok udah nyantol di motor. 

Pernah ngalami? Atau malah sering. Lupa bisa dialami siapa saja. Baik muda atau tua. Terkadang kita harus berhenti sejenak untuk mereka ulang dimana pemberhentian terakhir, mungkin itulah tempat tertinggalnya kunci.

Sudah terpikirkan untuk membeli gantungan kunci. Apa daya belum ada waktu buat jalan dan toko online belum ada yang ngena.

Begitu ada teman posting di IG, aku langsung japri Ita atau lengkapnya Nurulita Septiana.




kapstok gantungan kunci ini dibandrol Rp120.000 belum termasuk ongkir dari Jogja ke tempat tujuan. Custom ya teman, bisa dibuat sesuai kebutuhan kalian. Bisnis kapstok gantungan kunci ini murni sampingan. Hanya dikerjakan sabtu minggu ketika suami Ita libur. Nah begitu kita memasukkan order, harus sabar menunggu. Bahan yang digunakan kayu jati Belanda. Selain untuk mencantolkan kunci-kunci agar tidak tercecer dan susah dicari, bisa juga digunakan sebagai bagian dari dekorasi rumah. Meski kelihatannya sempit ternyata bisa diletakkan pot dari gelas untuk bunga atau tanaman, kamera, dua sampai tiga hp, dan radio juga. Pokoknya sesuai permintaan maunya gimana. 



Waktu pas ketemu di reuni memang aku sudah sempat bilang kalau mau pesan gantungan kunci. Baru japri Ita lagi setelah lihat postingan teman-teman dan juga efek lupa yang kian menjengkelkan. Sampai kepikiran modifikasi hp biar bisa dikasih kunci. Iya maksudnya biar bisa ditelepon kalau lagi menghilang. Hahaha, dan karena belum mungkin jadinya order kapstok gantungan kunci multifungsi ini.

Bentar-bentar, ini sering lupa jangan-jangan sudah pikun ya? Lho bukannya kemarin baru ulang tahun ke tigapuluh? Ish malah ditegasin. Biar bisa memaklumi kalau umur segitu boleh sering lupa. Gak lah. Lupa kan bisa macam-macam penyebabnya. Stres, kurang asupan otak, atau malah sudah terserang pikun. Ya semoga setelah ini tidak ada lagi gegeran pagi-pagi nyari kunci yak. Aamiin.
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design