Featured Slider

Satu Permintaan Hujan


Itu adalah hari pertama Hujan turun ke bumi. Sama sekali tanpa persiapan dan petuah-petuah dari pendahulunya. Ya tentu saja yang ada adalah cerita-cerita bahagia bagaimana manusia begitu menyukai pendahulunya. Nyaris tidak ada air mata, teriakan, bahkan penyesalan.
Hari pertama yang seharusnya dipenuhi suka cita ternyata kenyataannya berbeda. Hujan dikagetkan dengan reaksi para ombrophobia. Ada yang bersembunyi di balik pintu, menjerit ketakutan, bahkan pingsan di tengah jalan.
Kenapa sangat berbeda dengan cerita teman-temannya. Apa yang salah?
Gerimis berkata meskipun kehadirannya tidak diharapkan tetapi ibu-ibu masih sempat mengangkat jemurannya.
“Ah untung masih gerimis.”
Hanya gumanan itu yang terucap. Tidak sampai teriakan-teriakan yang menggema.
Si Deras bilang, anak-anak sangat suka dengan kehadirannya. Meskipun kedinginan, mereka selalu saja menari menemaninya bertugas.
Terus Salju juga selalu menyombongkan diri kalau anak-anak akan membuat berbagai macam boneka lucu, mobil-mobilan, dan juga rumah-rumahan ketika dia turun.
Apalagi Meteor. Dia dengan gayanya yang angkuh memastikan kalau manusia sangat menunggu kehadirannya.
“Ah Hujan macam apa aku ini? Kenapa aku hanya bisa membuat manusia tersiksa?”
Hujan datang bergerombol, ditemani petir, serta angin. Cerita-cerita yang mengiringi tugasnya adalah yang berakhir sedih. Tentu saja tidak mudah. Hujan terus menguatkan diri untuk tetap hadir meski cacian dan makian terus saja menyakiti rintiknya.
Hujan turun atas perintah Sang Pencipta. Hujan berusaha tidak mengeluh meski ternyata kehadirannya tak pernah didamba. Hujan perlahan tahu kalau dia berbeda. Kehadirannya selalu dijadikan kambing hitam. Cucian tidak kering, perut yang selalu lapar, dan menguatnya niat manusia ketika melihat kesempatan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Petrichor,  bau khas Hujan. Aroma yang hanya bisa ditemui saat Hujan menjalankan tugas. Teman baik yang mengingatkan bahwa Hujan tentu saja memiliki kelebihan.
Petrichor bilang Hujan menyeruakkan aroma rindu manusia pada: sepanci mie panas, seriuh obrolan saat makan dan hangatnya kebersamaan. Hujan bisa mengumpulkan manusia di meja makan. Bapak, Emak, dan Deema. Keluarga.
“Apa itu keluarga?” tanya Hujan penasaran.
“Mereka adalah manusia yang tidak boleh dipisahkan.”
“Oh aku suka keluarga. Mereka membuatku merasa lebih baik. Aku jadi merasa berguna.”
Mulai saat itu ketika bertugas, Hujan memperhatikan keluarga. Ada Bapak, Emak, dan Deema.
Mereka adalah manusia yang tidak pernah menyalahkan Hujan. Bapak dengan sabar memakai jas ketika Hujan datang. Tetap bekerja meski Hujan membawa air yang sangat banyak.
“Iya, tolong siapkan saja sandal jepit ya Mak. Sepatunya sudah Bapak masukkan tas.”
Emak suka mengajari Deema yang sedang belajar berjalan untuk membuat permintaan kala Hujan turun. Emak membimbing Deema ke teras lalu mendudukkannya di pangkuan.
“Deema, hujan adalah saat paling baik untuk mengajukan keinginan pada Tuhan. Hujan itu berkah.”
Tuhan memberikan keistimewaan pada manusia. Permintaan yang dikabulkan itulah yang membuat hujan bertanya-tanya. Apakah Hujan juga bisa minta dan dikabulkan?
“Emaaak… Deema Mak! Deema!”
Kepanikan memenuhi ruang tamu yang hanya diwarnai tikar plastik bergambar Masha & the bear.
Emak bangun dari tidur lelapnya. Spontan membelai springbed yang sudah memberikan efek pegal ketika bangun. Deema tadi tidur bersama Emak disana. Hawa sejuk yang datang bersama Gerimis membuai mereka berdua pada awalnya.
Namun Hujan yang bertugas bersama petir membuat Deema terjaga. Dengan kecepatan yang mengagumkan Deema turun dari springbed. Sengaja tanpa ranjang agar Deema bisa terhindar dari kecelakaan ketika turun atau tidur sendiri.
“Deema mengambang di empang Mak! Deema udah gak bisa diselamatkan lagi waktu pak RT temukan dia.”
Tubuh Emak oleng dan dengan sigap bu RT menahan hingga tak menghantam lantai.
Hujan sangat ingat momen ini. Momen ketika dia berharap bisa meminta satu dan dikabulkan Tuhan. Hujan minta Tuhan menyelamatkan Deema.
Hujan meminta Angin mengerahkan semua kekuatan agar bisa mendorong tubuh Deema masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Hujan juga memohon Petir marah agar kilatannya mengurungkan niat Deema keluar. Bahkan Hujan mengiba pada Geledek supaya gelegarnya sanggup mengubah keadaan.
Tidak. Deema malah semakin antusias. Deema tidak lagi peduli yang terpenting yaitu mendapatkan apa yang dia suka. Bermain bersama Hujan.
“Oh Deema, aku bukan Deras. Aku Hujan Badai. Aku tidak pantas mendapatkan kasih sayangmu. Tidak-tidak, aku tidak ingin bermain bersamamu. Aku berbahaya,”
Deema terlalu bahagia, seharusnya Hujan suka. Pada akhirnya ada yang menyukainya, mau menari bersamanya, dan begitu bersemangat menemaninya bertugas.
Bapak melihat tubuh mungil tetapi sudah kaku Deema. Bapak tersenyum.
“Pasti kamu terlalu asik menikmati hujan ya Nak. Sekarang kamu sudah kembali kepada Sang Pencipta. Sampaikan dulu salam Bapak dan Emak ya. Nanti kalau sudah waktunya kita bisa berkumpul lagi.”
Bayangan Deema mengangguk. Anggukan yang sudah tidak dapat dilihat Bapak. Emak memeluk punggung Bapak yang duduk. Sekuat tenaga menahan tangisnya. Setelah tangis dan jeritan mengumandangkan nama Deema usai.
****
“Hujan Badai. Ya aku adalah hujan badai yang merusak. Aku hanya bisa meninggalkan kesedihan, kemarahan, bahkan keputusasaan bagi manusia. Sekarang satu keluarga yang tersisa. Mereka yang suka padaku, yang tidak mengutuk ketika aku datang, dan yang percaya padaku telah kehilangan anak kesayangan mereka. Kenapa Tuhan? Apakah aku tidak bisa punya satu permintaan yang dikabulkan?”
“Jauh di dasar hatimu, kamu sudah punya satu permintaan. Ya itulah yang dikabulkan Tuhan.”
“Deema? Kamu tidak marah atau sedih? Aku membuatmu berpisah dengan mereka. Bapak dan Emak pasti akan ikut membenciku seperti manusia-manusia lain.”
“Bapak dan Emak akan bersedih, menyesal, dan juga marah. Namun itu hanya akan bertahan sebentar. Tentu saja sebentar karena Deema itu hujan berawan. Arti nama yang mereka sematkan. Keinginan yang ingin Bapak dan Emak wujudkan. Mereka ingin Deema jadi hujan awan yang bermanfaat menghidupkan harapan.”
“Dan aku kembali tak bermanfaat.”
“Tentu saja kamu akan tetap bermanfaat. Itulah permintaan yang Tuhan kabulkan. Manusia akan belajar mengambil hikmah setelah kamu turun dan menyisakan semua kekacauan itu. Melihat betapa ada banyak hal yang bisa disyukuri meski dengan ditemani pemandangan puing-puing rumah. Karena kadang kebagiaan justru melenakan tetapi kesedihan malah menguatkan.
Hujan tersenyum. Deema mengedipkan mata lalu menyatu dengan Gerimis.
“Menari dalam badai. Manusia bisa. Manusia sanggup karena Tuhan mampukan. Terima kasih Tuhan karena telah mengabulkan satu permintaan Hujan. Hujan Badai bisa menyadarkan manusia akan kekuatan yang dimiliki. Dan tentu saja bisa kembali meyakini kuasa Illahi.”

(961)

Bertahan dalam Keheningan



Sudah lama aku rindu. Rindu untuk ngobrol dengan diriku sendiri. Ekspektasiku terlalu tinggi. Aku ingin menyenangkan semua orang yang aku kenal. Bahkan yang tidak terlalu dekat. Lantas aku kelelahan.

Semua orang bersuara menginginkan perhatian yang penuh dan utuh. Tidak ada lagi sisa ruang dan waktu bahkan untuk memejamkan mata.

Aku mulai bermimpi buruk. Terus dan terus. Hingga akhirnya enggan untuk tidur.

Oh diriku, aku tahu aku lelah. Aku tahu aku ingin jeda. Namun apa kata orang nantinya? Mereka akan menjauhiku. Mereka akan dengan mudahnya meninggalkan aku. Aku dalam sekejap menjadi aku yang tak berguna.

Apakah aku tidak berhak memiliki keheningan? Hanya sekejap.

"Perjalanan yang berat adalah kembali ke diriku."

Berat karena ternyata aku terbiasa dengan hingar bingar hinaan, komentar sinis, bahkan sindiran-sindiran kasar.

Diriku begitu remuk redam. Waktuku berhenti pada saat aku dilecehkan. Bagai seonggok daging busuk yang hanya pantas dibuang ke tempat sampah.

Semakin keras aku berusaha mengubah diriku, semakin aku terperosok jauh ke dalam jurang kenistaan.

Aku yang berjuang keras agar aroma menyengatku tidak menguar.

Aku melihat diriku begitu palsu. Begitu ingin dipuja hingga mau melakukan apa saja. Diriku yang tak sadar jika aku sebenarnya gila.

"Bukan waktu yang menyembuhkan tetapi keheningan."

Suatu malam yang dingin, setelah terjaga hampir tiga malam, aku melihat pantulan mata panda di dalam kaca. Dia menyuguhkan senyum sinis yang tidak biasa. Dia tidak terima, "Harusnya kau ambil saja pisau dan tusukkan di nadimu. Aku bosan menjadi bulan-bulananmu."

Mata itu mulai mengalirkan air mata. Lama-lama semakin deras saja. Aku berusaha meraih dan memeluknya. Hanya diam. Aku bertemu dengan jiwaku. Hening. Tak ada percakapan. Malam ini adalah malam paling menenangkan selama hampir tiga puluh tahun aku berjuang.

"Maafkan aku diriku."

Riasan itu bukan untuk menggoda tetapi agar aku sadar kalau aku juga berhak merawat diriku.

Senyum-senyum riang mulai mengembang.

Apakah aku sudah berhasil memaafkan diriku untuk penganiayaan yang selama ini aku lakukan?

"Hidup selalu menawarkan pilihan, aku adalah hasil dari pilihanku."

Aku sendiri yang memilih untuk terus berkubang dalam penyesalanku. Aku sendiri pulalah yang akhirnya sadar dan memilih untuk mulai berubah. Belajar dari pengalaman-pengalaman pahit, bersyukur tanpa syarat, dan menghamba dengan ikhlas.

"Pilihan itu bebas, konsekuensi tidak."

Sekali aku memilih maka suka tidak suka aku akan menjalani konsekuensi. Bertahan dalam keheningan yang menakutkan di awal, sungguh berat. Tidak ada jaminan pasti aku akan menyadari keutuhan diriku. Namun kebebasan memilih itu aku iringi dengan doa. Doa agar apa yang aku pilih menjadi jalan yang terbaik bagi diriku.

"Tidak apa-apa jika terluka, menangis, bahkan mengurung diri."

Setiap emosi yang datang bak tamu yang aku izinkan masuk. Akan pergi jika aku biarkan. Akan bertahan jika terus aku tolak.

Ketika aku menerima tamu-tamu itu dengan baik. Menikmati setiap pengalaman yang mereka berikan. Terus bertahan untuk tidak kehilangan diriku sendiri maka aku akan melihat diriku sendiri sebagai pribadi tanggung yang terus bertahan baik dalam keadaan baik maupun buruk.

"Baper itu hanya kata, bukan akhir dunia."

Meremehkan diri sama dengan minum racun. Pelan tapi pasti aku akan mati. Lalu? Ya kembali lah pada keneningan. Menepi. Mengolah segala rasa agar bisa memilih dengan kesadaran yang utuh dan penuh.

(505)

Rangkuman Perjalanan Matrikulasi batch 5 IIP Bekasi

Saat Emak Kuliah

Tantangan untuk bersikap dan berperilaku seperti gelas kosong yang siap diisi. Banyak gunung-gunung ego yang menjulang. 

Saat Emak Kuliah

Kebutuhan mendesak akan kewarasan, ilmu, juga berjalan beriringan dengan perubahan; membuat diri mulai berkaca lalu menerima.

Saat Emak Kuliah

Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Masa-masa emas perkembangan anak akan segera berlalu. Ketahanan tubuh akan berkurang kemudian menjadi renta. Lantas bagaimana pertanggungjawaban emak sebagai madrasah bagi anak-anaknya?

Saat Emak Kuliah

Akhirnya tiba juga waktu yang tepat. Emak sudah menyadari perannya bukan sebagai ibu rumah tangga pengangguran melainkan sama dengan ibu yang bekerja di ranah publik.

Saat Emak Kuliah

Berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti dan berkontribusi secara maksimal.

Saat Emak Kuliah

Setiap pencapaian yang didapat selalu mendapatkan apresiasi dan itu membuat hati menjadi nyaman dan senang.











Saat Emak Kuliah

Visi, misi dan juga mimpi mulai tertulis. Pelan tetapi pasti rencana-rencana mulai diwujudkan. Karena bila tidak berubah, emak tahu pasti akan menelan kekalahan.




***
Kelas-kelas online emak kenal sejak tahun 2013. Kelas-kelas yang awalnya diselenggarakan di grup rahasia facebook lalu berpindah ke Whatsapp dan Telegram.

Ilmu dengan mudah didapatkan atau diakses tetapi masih saja kemalasan menjadi penghambat utama. Belum lagi rasa paling pintar yang menjadikan ilmu sulit terserap.

Ketika emak akhirnya memutuskan kuliah di Institut Ibu Profesional, semua rasa jumawa dan juga sok pintar perlahan terkikis juga. Berganti dengan berusaha ikhlas juga tidak berburuk sangka.

Kuliah online memang paling masuk akal untuk emak yang masih memiliki 1 balita dan 1 batita. Tidak mungkin meninggalkan tanggung jawab mengurus anak, emak tetap butuh masukkan ilmu agar terus bertumbuh demi kesejahteraan bersama. 

Tugas-tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik meski bergelut dengan semua rasa yang ada. Menyerap energi positif dari peserta lain juga sebaliknya, emak memberikan energi percaya diri agar sama-sama saling belajar.

Hingga akhirnya lulus, hal yang paling dirindukan adalah suasana belajar yang hangat dan saling membantu.

Drama Pernikahan via Status Whatsapp



Sesederhana suami merespon status yang dibuat istrinya atau sebaliknya.

Ternyata setelah dirunut, seorang teman mengakui bahwa perhatian-perhatian kecil yang berujung pada senyum tersipu adalah bentuk komunikasi yang sering diremehkan para pasangan. 

"Halah sekedar komen atau like saja kok bikin baper."
"Lho justru dari perhatian remeh itulah komunikasi terbentuk sehingga saling memahami perasaan satu sama lain mulai terjalin."

Coba deh dipikir, karena sudah menikah lantas pasangan sama-sama bersikap 'kamu pasti paham apa mauku", pastilah percikan-percikan kesalahpahaman mulai menggigit. Apabila dibiarkan berkelanjutan maka drama-drama akan tercipta dan terpampang nyata.











Istri sering defensif dengan pujian-pujian suami padahal suami sangat suka ketulusannya diakui. 

"Ih pasti ada maunya deh."
"Lah ya gak masalah kalau maunya sama istri sendiri."

***

Drama-drama pernikahan sejatinya membuat masing-masing individu kembali pada pelajaran 'mengenal diri sendiri'. Kenapa begitu? Apa yang kamu suka bisa jadi apa yang tidak disukai oleh pasangan. Nah bagaimana menemukan jalan tengah hingga akhirnya sama-sama menerima adalah kembali pada keikhlasan diri. 

Kita bisa bilang kebahagiaan pernikahan adalah menerima diri lantas pasangan secara utuh dan penuh. Berdamai dengan mendengkur, tidak bisa bangun pagi, dan juga keahlian pasangan mengungkapkan perasaan.

Tentu saja akan ada masa berat, super berat bahkan tragedi. Namun ketika Tuhan buka jalan kita menuju pernikahan maka Tuhan buka juga jalan-jalan alternatif untuk kita menyelesaikan setiap drama-drama yang muncul.

Tidak melulu awal pernikahan adalah bulan madu. Ada banyak pasangan di luar sana yang mungkin menghadapi gelapnya gerhana bulan dalam pernikahannya. Langsung kerja keras melunasi hutang biaya pernikahan yang super mewah, tudingan yang masuk akal tentang married by accident, atau pertengkaran-pertengkaran diwarnai kekerasan akibat menikah karena terdesak umur. 

Maka dari itulah kesadaran masing-masing pasangan sesaat setelah menikah sangat dibutuhkan. Bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan pernikahan itu untuk dihadapi dengan kelegaan hati bukan sakit hati apalagi bikin sakit jiwa.

Apresiasi istri kepada suami dan sebaliknya, komunikasi yang dijaga, lantas ujian cinta yang mendewasakan semua.

Kejutan-kejutan dalam mengurangi rumah tangga belum tentu langsung dihadapi dengan pikiran terbuka, ada proses naik turun yang sejatinya mengubah suami istri baik menjadi dewasa atau membabi-buta.

Istri yang belum bisa mengungkapkan isi hati langsung, bertemu dengan suami yang selalu ingin berkomunikasi agar sama-sama menemukan jalan tengah. Saling. Tidak ada yang menang atau kalah.

Temukan alasan yang tepat untuk menikah lalu memperbaharui terus dan terus.

Cerita-cerita dalam kehidupan pernikahan tidak selalu indah. Banyak hal yang diceritakan pasangan mungkin saja rekayasa agar mereka tampak baik-baik saja juga sempurna. 

Pasangan yang menikah karena cinta perlu sadar bahwa setelah pesta meriah nan romantis itu perlu usaha yang tak kenal lelah untuk terus menjaga api cinta tetap menyala.

Tidak perlu rendah diri, hanya perlu memantas-mantas diri. 

Hanya karena kita sudah menikah terus kita menyerahkan kebahagiaan kita seolah itu tanggung jawab pasangan kita, SALAH BESAR! Kita tetap bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri.

Kalau ditanya nikah itu berat apa tidak? Kebanyakan pasangan akan jawab iya tetapi beratnya sebanding dengan kebahagiaan menemukan belahan jiwa yang memiliki visi, misi dan juga mimpi untuk diwujudkan bersama-sama. Impian-impian yang berubah menjadi life plan. Semua itu tentu saja dibicarakan sejak awal kalau pun tidak, biasanya setelah ada anak maka semua kehidupan pernikahan kembali ke titik awal. Nah, di waktu itulah pasangan bisa membicarakan visi, misi, dan mimpi bersama dengan anak.

Jadi ketika drama-drama menghampiri hadapi dengan nyaman hati. Selamat menempuh hidup yang sesungguhnya!

(537)

5 Kelakuan untuk Bertahan di Lingkungan Tidak Waras


Sebagai kontaktor atau keluarga yang sering berpindah kontrakan, kami mulai mengerti bagaimana membedakan berperilaku di lingkungan sekitar.  Lingkungan tidak waras membuat para penghuninya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia seperti bergunjing atau mengajak berantem.

Ibu sering baper tetapi mulai belajar berdamai saat anak-anaknya rebutan mainan dengan teman-temannya terus pulang sambil menangis.  Anak-anak terkontaminasi dengan kata-kata kasar yang digunakan teman-temannya. Belum lagi kalau ada yang membanding-bandingkan harta satu sama lain.

Butuh waktu hampir lima tahun jatuh bangun. Akhirnya kami bahu membahu agar bisa memahami dan teguh dengan prinsip yang dipegang. 

Ayah terus menerus memotivasi ibu dan anak-anak agar tidak hanyut di dalam lingkungan yang tidak waras. Sebagai kepala rumah tangga sekaligus yang paling logis diantara kami, tidak cepat terbawa emosi, dan juga yang paling bisa menghindari konflik.

Sementara ibu harus berjuang lebih keras jika berkaitan dengan emosi. Ingatkah ibu saat pertama datang ke Jakarta? Baru punya bayi dan begitu idealis dengan segala kesempurnaan yang dimiliki. Lalu lingkungan kontrakan dengan berbagai macam latar belakang membuat ibu muda ini kambuh gilanya. Konflik-konflik dari mulai sepele hingga besar tidak selalu tuntas selasai karena hanya berani ngomong bisik-bisik.

Harus memahami orang lain tanpa hak untuk dimengerti.  Peraturan yang tidak tertulis tetapi diterapkan bagi orang baru. Mulai dipengaruhi untuk membenci bahkan sebelum mengenal lebih jauh siapa orang tersebut.

Terus, terus bagaimana trik agar bisa bertahan ketika diberi rezeki tinggal di lingkungan yang tidak waras?

Kelakuan pertama: hindari jika bisa

Secara alamiah orang-orang curhat untuk mendapatkan pembenaran bukan benar-benar solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Wanita apalagi. Tidak suka ada wanita yang lain terlihat lebih cantik, kaya, atau mencolok dibanding dirinya *ini mah emak sensi kalau kalian sih yahud.

Pada saat sore hari dan sedang menyuapi anak di luar rumah atau mengawasi anak bermain  terus ada yang nyamperin buat menggunjingkan penghuni lain sebaiknya tidak menanggapi.

Pemecah kebekuan yang paling mujarab memang mengumbar aib baik itu aib sendiri atau orang lain. Berusahalah untuk tidak terpancing karena jika sudah kena bisa susah lepasnya.  Memang baik jika sebelum benar-benar terjun ke masyarakat, cari informasi yang objektif tentang tetangga kanan kiri. Biar tidak salah ambil sikap. 

Menghindari di sini lebih ke pembicaraan atau kegiatan yang kurang bermanfaat. Ngerumpi, ngajak berantem, apalagi sampai adu jambak.

Kelakuan kedua: berbicara yang baik kalau tidak bisa tutup mulut

Gerakan tutup mulut sekarang jauh lebih mudah dibandingkan dengan gerakan jaga jempol. 
Namun begitu, lingkungan nyata nan tidak waras merupakan tantangan tersendiri bagi para kontraktor macam kami. Lebih mudah untuk tidak menahan diri dan ikut terlibat dalam pergaulan yang merusak.

Butuh doa dan usaha yang kuat agar Tuhan bantu mengendalikan lidah untuk berbicara baik. 

Kelakuan ketiga:  jadilah hantu saat diperlukan

Nongol jika dibutuhkan saja, selebihnya di rumah atau melakukan kegiatan yang ada manfaatnya. 

“Ibu di rumah nomor 30 itu kok jarang kelihatan ya.”
“Ah sudah ada grup WA kenapa harus repot. Entar juga datang kalau memang dia mau.”

Manusia kan makhluk sosial jadi ujungnya tetap akan butuh orang lain. Butuh ya bukan bergantung. Bergantung  hanya sama Tuhan saja. 

Kelakuan  keempat: berbagilah kelebihan yang bermanfaat

“Tante kan bisa masak, ayo kita masak bareng.”
“Ibu kalau nanam apa saja selalu berhasil. Bagi tipsnya dong.”
“Ih ini yang bisa ajarin bikin kue ayo dong melipir ke POS RT. Biar ada yang buat isi-isi toples pas lebaran.”

Rasanya bermanfaat itu begitu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari menggunjingkan tetangga belakang rumah yang kalau karaoke suaranya cempreng abis. *upss

Di lingkungan paling tidak waras sekalipun, bisa terselip satu penghuni yang nantinya mengubah jadi lingkungan yang lebih baik.

Kelakuan kelima: mulai membaur dengan porsi secukupnya

Tidak terlalu dekat, tidak pula menjauhi. Secukupnya, seperlunya. Terkadang karena sudah terlalu dekat, hubungan justru sering minim komunikasi yang ada berharap orang lain yang mengerti.

Kenapa harus tetap membaur ketika kami tahu tinggal di tempat yang tidak waras? Tentu saja karena bagaimanapun juga kami tetap harus memuliakan tetangga.

***

Lingkungan yang menantang akan membuat kami tumbuh, mengasah toleransi, dan terus belajar ikhas. Bersyukur dan bersyukur dimana pun kami tinggal pada akhirnya membuat kami lebih menghargai apa yang kami miliki tidak melulu mengharapkan hidup seperti orang lain.

"Orang yang minim toleransi pasti sering hidup di lingkungan yang homogen sehingga gagap pluralisme." -Panji Pragiwaksono

(666) 

Sky World TMII, 5 Pelajaran bagi Orangtua dalam Mendidik Anak


Orang bilang mendidik anak tidak ada sekolahnya tetapi jangan sampai tidak ada ilmu sama sekali. Lantas menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan ke sekolah atau kepada orang lain. Terus bagaimana dengan para ibu yang dianugerahi kepercayaan untuk bekerja di ranah domestik atau bahasa kerennya "stay home mom"? Para ibu yang punya waktu lebih dari 24 jam sehari bersama dengan anak-anak di rumah.

“Aku mah gak sanggup, bisa gila aku kalau gak kerja di luar.”
“Sehari-hari ya urusannya itu-itu aja. Urus makanan mereka, mandiin, belum lagi kalau baru mulai toilet training. Bosan banget kalau gak pintar-pintar atur waktu.

Setiap orangtua memiliki gayanya masing-masing dalam mendidik anak. Namun akan jadi gila atau bosan bila tidak ada ilmu yang  bisa diaplikasikan untuk bertahan melalui hari-hari berat nan drama. Ya akan ada yang protes dan bilang, “Ah istriku lulusan pendidikan anak usia dini kok, masa iya gak bisa menangani anak-anak.”

Terkadang begitulah hidup, kenyataan tak semudah teori yang sudah dipelajari. Banyak improvisasi yang tak terduga atau tak terpikirkan justru bisa jadi jalan menyudahi drama gerakan tutup mulut.

Berawal dari kegalauan punya ilmu tetapi belum bisa menerapkan secara maksimal inilah, aku mulai mencatat pengalaman-pengalaman yang aku dapatkan selama mendampingi duoG. Pelajaran-pelajaran yang tersaji setiap hari berusaha aku dokumentasikan baik dalam catatan, foto, ataupun video. Supaya apa? Pada saat sedang terpuruk dan butuh motivasi, aku bisa dengan mudah mengingat kembali semangat-semangat yang terselip dalam setiap dokumentasi.

Pelajaran pertama: orangtua harus yakin dengan Tuhan sebelum meminta anak untuk percaya.


“Ibu, Tuhan itu apa?”

Siap atau tidak siap, pertanyaan itu akan muncul suatu saat nanti dari mulut anak-anak. Bagaimana aku bisa menjawab sedangkan aku sediri pun masih mencari? Ya orangtua bisa saja punya banyak alibi untuk mengalihkan pertanyaan itu atau berusaha menemukan bersama anak tetapi anak akan dengan mudah menemukan celah kurang yakinnya orangtua. Jika orangtua belum bisa memberikan kenyamanan akan Tuhannya kepada anak, anak akan mencari di luar hingga anak merasa terpuaskan rasa penasarannya.

Nah, inilah yang menjadi motivasi aku pribadi untuk menguatkan keyakinanku agar nantinya saat anak bertanya aku sudah siap.

Selain itu kenapa keyakinan  akan Tuhan ini aku letakkan pertama dan sedini mungkin akku mengenalkan Tuhan pada anak-anak karena aku sendiri parno dengan dunia luar yang sudah begitu ruwet. Tanpa bekal dari rumah, aku berpikir anak-anak akan tenggelam dengan cepat di lautan kesenangan yang menyesatkan.

Catatanku  saat belajar tentang meyakinkan diri akan adanya Tuhan adalah konsistensi memposisikan diri. Aku merasa memiliki tantangan tersendiri saat memposisikan rasa di tengah-tengah:  ekspektasi ada, ikhlas juga ada.

Ya Tuhan ada, Dia adalah pencipta kita, kepada Dialah kita kembali.

Setelah orangtua yakin akan Tuhannya maka anak-anak akan melihat dan mencontoh perilaku dan juga tidakan-tindakan orangtua. Apakah sudah sesuai dengan keyakinan atau malah melenceng jauh? Kembali lagi pada pilihan orangtua akan mendidik anak yang seperti apa. Anak yang yakin akan Tuhan atau yang seolah Tuhan hanya nama saja. 

Setelah memberikan contoh, orangtua biasanya berekspektasi tinggi anak akan segera paham dan mengaplikasikan. Nah disinilah tantangannya bagaimana terus memiliki ekspektasi yang masuk akal dan ikhlas saat anak ternyata punya jalannya sendiri untuk lebih paham.

Pelajaran kedua: berani menerima hal baru

Berada di zona nyaman sangatlah mengasyikkan. Tentu saja butuh tekad yang kuat dari orangtua untuk keluar.

Ketika anak-anak bertambah usia, bertambah juga keinginan masing-masing yang butuh pendampingan.  GianGaraGembul butuh ditemani piknik sementara DulDenGeni masih butuh ASI. Di sini muncul ide untuk sekalian mulai menyapih DulDenGeni yang sudah 27 bulan.

Ini adalah hal baru bagiku. Mau tidak mau aku harus adil sesuai porsi. Belajar lagi bagaimana adil tetapi sesuai dengan umur dan kebutuhan masing-masing anak.


Menemani piknik GianGaraGembul dengan total artinya menyerahkan kepercayaan pada suami untuk mengurus DulDenGeni. Ya sebentar-sebentar tentu saja kepikiran bagaimana DulDenGeni melalui harinya tetapi toh sudah dua tahun lebih, dia pasti bertahan. Padahal kalau mau tetap bertahan di zona nyaman sih bisa saja. Pulang dari piknik tinggal mengASIhi DulDenGeni lagi tetapi kan sayang usaha suami yang seharian berusaha memberikan pengertian kalau waktu ASI sudah cukup bagi DulDenGeni.


Aku ikutan tahu ada alat yang bisa bikin kita lihat matahari tanpa silau
Saat piknik, GianGaraGembul sangat menikmati waktu berduanya bersama aku. Kita banyak ngobrol dan saling tanya jawab seputar hal baru apa saja yang dia pelajari. Ternyata tidak hanya anak-anak yang belajar, aku sebagai ibunya juga ikut kecipratan ilmunya. Hihihi…


Pelajaran ketiga: belajar itu menyenangkan

"Mendidik anak di rumah sama dengan mendidik diri. Jadi kuatkan diri dulu agar anak juga merasakan auranya." (phalupiahero)
Sebagai anak yang tumbuh dengan cara belajar yang serius, caraku tentu saja tidak akan bisa diterapkan pada anak-anakku yang dunianya masih bermain. Bermain sambil belajar. Oleh karena itu, aku mulai belajar lagi bagaimana caranya agar anak-anak selain bermain juga bisa mendapatkan ilmu yang nantinya berguna bagi mereka.

Pada saat pinik ke Sky World di TMII, GianGaraGembul  belajar tentang planet-planet dengan cara melihat dan mendengar narasi di planetarium. Dia menyamakan seperti masuk bioskop tetapi filmnya tentang planet-planet.


Tidak perlu bentakan atau teriakan bahkan diharuskan untuk menghafal. Bila anak senang secara otomatis dia akan meminta penjelasan dan mengulang-ulang hingga dia paham.

Setelah ini GianGaraGembul membuat lagu tentang planet-planet tetapi aku lupa merekam jadinya gak bisa diulangi deh
Kuat di sini tentu saja menahan ego untuk menuntut anak menjadi sempurna seperti apa yang aku inginkan sebagai orangtua. Betul kan? Tantangan untuk menyesuaikan ekspektasi dan juga mengikhlaskan segala sesuatu sesuai porsinya.

“Sudah cukup Nak. Memang seginilah porsimu.”



Pelajaran keempat: memberikan kepercayaan penuh pada anak

"Tegas bukan keras. Sayang bukan lemah. Tuntas tidak setengah-setengah." (phalupiahero)
Menuntut anak sempurna seperti apa yang ada di kepala orangtua adalah kekonyolan. Tuntutan ini akan menjadi kekerasan, kadang berubah menjadi tidak konsisten, dan akhirnya setengah-setengah dalam mendidik anak-anak.

Anak-anak memiliki fitrah yang luar biasa. Tanpa disadari fitrah anak-anak (rasa ingin tahu, imaginasi kreatif, seni untuk menemukan, dan akhlak mulia) justru malah mati sebelum berkembang saat bersama dengan orangtua.

Rasa ingin tahu anak musnah oleh kalimat, “Sebentar ya, ayah kerja dulu.”

Imaginasi kreatif anak menghilang karena sanggahan,”Ibu sibuk. Kita bikin mobil-mobilannya nanti saja ya.”

“Ibu lihat, ada rumah semut.” Tanpa penjelasan si ibu menarik anaknya dari sarang semut api. Padahal bisa saja ibu menjelaskan apa itu rumah semut yang sudah ditemukan anaknya. Kenapa harus melihat dari jarak aman?

“Ayah, kasihan ya itu anaknya. Dia gak punya rumah.”

“Ah mereka hanya orang malas yang gak mau bekerja dan memilih untuk mengemis.”

Kepercayaan penuh pada anak layak diberikan karena Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang memberikan anak fitrah yang luar biasa. Oleh karena itu orangtua harus berjuang untuk mendidik agar fitrah anak tidak hilang. Dari kepercayaan inilah rasa percaya diri anak terbentuk. Tidak masalah dia mendapatkan kejutan-kejutan kesulitan, dari sanalah anak belajar untuk yakin pada diri sendiri dan menemukan solusi.

Jangan sampai anak tidak mau mencoba karena yang dia lihat hanya kesulitan karena tidak percaya diri untuk mencoba.

Pelajaran kelima: berterima kasih pada anak untuk setiap kemajuan kecil yang anak tunjukkan

Tiga kalimat sakti yang susah diucapkan orangtuaku adalah tolong, maaf, terima kasih. Alhamdulillah aku sempat bekerja sebagai guru anak usia dini yang membiasakan anak-anak dengan tiga kalimat sakti itu. Awalnya memang tidak mudah tetapi ketika anak-anak mulai terbiasa, rutinitas menjadi lebih menyenangkan.

“Terima kasih ya nak, sudah mau mendengarkan ibu.”

“Terima kasih sudah mau bantu ibu membereskan barang-barangmu sendiri.”

Berpose sebelum berangkat piknik setelah memberekan barang-barang dan menata di dalam bagasi.
Sangat menyenangkan melalui hari dengan kata terima kasih untuk hal-hal kecil yang membahagiakan

Butuh satu kampung untuk mendidik seorang anak. Bahu membahu bersama pasangan dan juga sesama orangtua dalam satu komunitas. Terus menerus konsisten belajar agar anak juga melihat orangtua sebagai teladan dalam mendapatkan ilmu dan mempraktikkannya. 

Alah bisa karena biasa, bukanlah orangtua bila tak mendidik
(1.176)

Baca, Pahami, Klik Bagi!

Ceritanya mau menulis tentang cara berdamai dengan "masa depan" tetapi setelah perubahan suasana hati yang signifikan jadi ganti haluan. Apaan? Curhat lah!

Semenjak berniat menulis secara runut, aku sekarang lagi banyak baca. Entah itu baca cepat atau baca mendalam hingga selesai satu buku.

Nah saking rajinnya sampai-sampai copas yang panjang mirip kereta juga dibaca. Lagi asyik baca ada pesan baru yang masuk, inti pesan itu sih sebenarnya agar lebih waspada menyikapi maraknya para penjahat yang mengincar anak-anak. Namun pilihan katanya tidak membangkitkan rasa hati-hati melainkan paranoid.

Sebagai seorang penyintas *korban KDRT dan pelecehan, ada semacam alarm yang aktif. Semua kejadian terulang dan memberikan serangan panik serta dada berdebar. Ada semacam tusukan-tusukan di area dada dan punggung.

"Siapa yang menulis? Apakah kamu menulisnya sendiri?" aku bertanya dengan berusaha menjaga tangan-tangan yang gemetar.
"Tidak aku hanya copas," ujarnya enteng.

Inginku mengumpat tetapi percuma, aku tahu dia adalah manusia bebal. Lagi pula, berbalas pesan marah tak akan menyelesaikan masalah.

"Apakah kamu membaca isi pesan yang kamu copas? Apakah kamu sudah memahami isinya? Dan apakah kamu memikirkan perasaan apa yang akan tercipta jika para penyintas membaca?"
"Kan aku hanya berbagi saja."
"Bukankah tidak masuk akal membagi sesuatu tanpa kamu pahami esensi beritanya?"


Di dunia yang saat ini bergantung pada jari-jari yang klik share atau yang lebih parah asal copas tanpa tahu apa yang dibagi, nasib para pembaca teliti sungguh memprihatinkan. Kami harus berjuang dengan keras untuk memberikan edukasi pada orang-orang yang jarinya tidak disekolahkan dengan baik lalu mendapat pandangan sinis. 

Jika kamu sendiri saja malas membaca copas sepanjang itu kenapa menyuruh orang lain untuk membacanya? Tolong lah untuk mulai membaca dengan pelan lalu dipahami baru setelah kamu yakin itu bermanfaat bagi orang lain barulah kamu bagi.

Niatnya memang berbagi makanya kamu harus benar-benar memastikan kalau berita yang kamu bagi itu berguna.

"Ah begitu aja dibikin ribet sih!"

Ya kalau kamu gak mau ribet ya gak usah berbagi artikel yang tidak kamu tulis sendiri, tidak kamu baca, bahkan tidak kamu pahami. Masih banyak cara lain untuk eksis di grup WA atau media sosial dengan cara yang baik.


Tulisan apabila kamu membaca dan memahaminya dengan baik, bisa memberikan efek luar biasa. Tulisan bisa mengubah sudut pandang seseorang, membuat orang sadar, atau mungkin jadi seseorang yang jahat. Belum lagi menambah keyakinan akan sesuatu yang menjadikannya fakta-fakta yang mungkin dia jadikan sumber informasi yang relevan dalam menyelesaikan masalah.

Terus bagaimana kalau tulisan yang kamu bagi adalah hoax?

orang bijaksana pasti berusaha membagi berita yang sudah dipastikan itu fakta
Selain itu, bukankah membahagiakan jika sesuatu yang kita bagi memberikan efek senyum-senyum simpul mengingat kenangan manis bukan justru membuat tangisan merana meledak. Butuh banyak masukan dan kenangan indah yang banyak untuk sekedar menghapus satu kenangan buruk.


"Semua orang bodoh bisa tahu. Masalahnya adalah bagaimana memahaminya."                - Albert Einstein-
Baca, pahami, klik bagi! Kalau kamu memang tidak ingin kebodohanmu menjadi rahasia umum maka benar-benar pahamilah sesuatu sebelum kamu bagi. Lebih bagus lagi masukkan empati pada setiap hal yang kamu bagi.

Berbagi kan agar dinikmati banyak orang maka jangan biarkan orang lain justru merasakan khawatir, gelisah, bahkan bersedih hati.

Mari pahami sebelum berbagi, mari berempati bukan menghakimi., dan mulai dari diri sendiri yang mau membaca dengan teliti.

(502)