Featured Slider

Serba-Serbi Status Whatsapp tentang Romantisme dalam Pernikahan



Pernikahan bisa berakhir kapan saja dan sebabnya bisa apa saja, pernikahan memang lebih mudah diselenggarakan dan pastinya lebih menantang saat mempertahankan.

Tentu dalam  era yang serba diukur dengan viral, kita harus siap mendapatkan nyinyiran ketika mengumbar romantisme di media sosial. Meskipun begitu, semua selalu bisa kembali lagi ke yang menjalani, ketika ungkapan di media sosial dimaksud untuk membangkitkan romantisme yang mati suri, kenapa harus peduli apa kata orang. Sulit memang tetapi bukan berarti tidak ada jalan. Menahan diri untuk tidak mengumbar sama sulitnya dengan berhenti membandingkan.

Dalam menjalani pernikahan, setiap pasangan memiliki cara berbeda untuk membangun romantisme. Kadang-kadang menjadi sulit ketika istri atau suami terlalu membanding-bandingkan dengan kehidupan pernikahan saudara atau teman.

"Selalu ingat Tuhan dalam setiap langkah saat membina rumah tangga maka jalan selalu terbuka."

Menikah melengkapi separuh agama. Mencintai karena Allah. Tuhan lagi, Tuhan selalu, kembali ke Tuhan.

Romantisme tidak melulu berurusan dengan ranjang, mesra bisa saja didapat saat pasangan sama-sama mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar selalu diberikan jalan untuk mengingat bahwa kehidupan di dunia ini fana. Akhirat sajalah yang akan menjadi akhirnya.

Godaan demi godaan datang silih berganti. Baik itu dari suami maupun istri. Perjuangan untuk terus bersama setelah badai terlewati. 

Tinggal mengubah sudut pandang. Semua yang dijalani semata untuk meraih cinta Illahi.


                          
Seseorang yang namanya tertulis di buku hijauku, yuk sehidup sesurga kaya romantisme buku Fahd

Awal dari kelekatan antara suami istri bisa jadi hanya dari hal-hal sepele yang tampak tidak menggoda. Walaupun demikian, perhatian tetaplah perhatian. Aksi nyata jauh lebih nikmat ketimbang bualan kata-kata.

Nasi goreng, mie instan plus telur, atau satu gelas susu hangat berdua sebagai pengantar tidur. 



Tentu saja tidak perlu sesuatu yang mewah nan berharga selangit. Sekedar dapat perhatian penuh tanpa diduakan dengan ponsel saja sudah bahagia. Sebentar bisa ngobrol ketika anak-anak sibuk bermain juga membuat dada berbunga.



 
Tentu setiap orang punya recehnya masing-masing, hanya terkadang perlu diingatkan untuk bisa melihat dengan mata dan hati terbuka

Bila ternyata romantisme sudah dilengkapi dengan kehadiran anak-anak maka nikmati saja. Berikan pemandangan yang membuat anak-anak tahu apa itu cinta. 



Nah ini,  aku ambil pelajarannya dari cerita teman-teman yang mampir. Betapa saling memahami satu sama lain baik dari kekurangan maupun kelebihan. 

Suatu malam yang cerah, aku ketemu teman. Kami ngobrol ngalor ngidul hingga pada satu titik dia memandang kosong sambil menahan sesak, "Andai aku tidak terlalu bangga pada pernikahanku yang baik-baik saja, pastilah hari ini kita akan double date ya."

Ada apa nih? Ternyata oh ternyata, suami temanku ini diambil oleh teman kerjanya. Si teman yang sudah dianggap adik sendiri ini jatuh cinta dengan suami karena setiap hari disuguhi betapa sempurnanya si suami itu. Begitu bertemu dia memutuskan untuk mengambil jalan pintas, menyerahkan banyak uang pada mbah dukun, dan mendapatkan cinta si suami.



"Ketika pacaran semua tampak baik-baik saja kenapa ketika menikah yang tampak kekurangannya terus."

Kita sering diingatkan untuk menghargai apa yang kita miliki, mau seburuk apapun itu. Kenapa? Karena mungkin saja apa yang buruk bagi kita ternyata itulah yang terbaik. Kita hanya belum sadar, belum bisa melihat dengan hati dan pikiran yang jernih.

"Suamimu walaupun sering keluar kota, kan kamunya diajak. Tahu dia ngapain aja. Lha aku, ikut gak dikasih uang belanja tambahan juga gak."

Jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita maka sebaiknya bicarakan dengan suami bukan mengumbar aib rumah tangga ke semua kolega. Bisa saja sampai ke telinga mantan yang masih sayang lalu dimanfaatkan untuk merebut kembali.

Bersyukur dan terus bersyukur. Tidak adalah manusia yang sempurna tetapi jika kita meminta pada Tuhan untuk selalu dibuka jalan keluar, semoga romantisme dan juga kemesraan akan menghiasi pernikahan kita.

(588)

Serba-Serbi Status Whatsapp tentang Komunikasi dalam Pernikahan





Aku pribadi masih meneliti tentang apa yang membuat pasangan atau dua orang bisa gagal berkomunikasi. Padahal boleh dibilang komunikasi adalah hal yang mudah dilakukan. Tinggal menyampaikan apa yang ingin orang lain pahami dari aku. Namun sejauh ini, ada tiga hal yang paling mendasar yang aku temukan. *bisa terus bertambah seiring berjalannya penelitian

"Hal paling penting dalam komunikasi adalah mendengarkan apa yang tidak dikatakan." (Peter F. Drucker)
1. Belum sadar sepenuhnya apa yang ingin disampaikan atau didapatkan saat berkomunikasi 

Ngobrol hanya digunakan sebagai ajang basa-basi bukan untuk menggali dan menemukan makna dari setiap kata yang keluar. Padahal jika dilakukan dengan sadar maka dalam setiap obrolan yang terjadi, kita bisa menemukan ide-ide bagus untuk ditulis atau mungkin jawaban dari pertanyaan yang sedang kita cari.

Nah ketika menikah, dua orang asing bersatu lalu berusaha mengeksplorasi sepanjang hidup, maka mau tidak mau harus belajar komunikasi produktif. Dimana dua orang membicarakan solusi dan menemukan yang terbaik agar sama-sama menerima solusi dengan baik serta benar.

Jika tidak segera sadar maka kehidupan pernikahan hanya akan diisi dengan pertengkaran juga percekcokan tiada akhir.

Apabila belum memiliki momongan maka sebaiknya mulailah membuka diri bersama pasangan agar bisa saling memahami dan mengisi baik itu kelemahan maupun kelebihan. Bila telah memiliki anak pasangan bisa jadi tim yang baik dan anak pun akan bisa mencontoh pola komunikasi produktif yang dipraktikkan kedua orangtua mereka.





Merasa sungkan atau malu saat membicarakan masalah keuangan. Padahal dalam berumah tangga semua pemasukan atau pengeluaran sebaiknya diketahui baik suami maupun istri. Hidup bersama tetapi tidak tahu satu sama lain lantas untuk apa?

Hal-hal yang tidak dikomunikasikan bisa jadi bom yang sewaktu-waktu meledak dan menghancurkan hubungan pernikahan. Sudah tidak perlu lagi gengsi karena toh sudah sehidup yang kalau bisa semati. Pemasukan dari suami, tiap rupiah yang dibelanjakan, dan juga recehan dalam tabungan sebaiknya sama-sama tahu. 


Suami tidak heran kalau istri cantik karena tahu uang dari amplop mana yang digunakan. Istri juga tidak merengut ketika suami pulang dari gym karena paham ada tunjangan dari kantor agar suami senantiasa sehat serta bugar.


2. Hanya fokus pada-kata bukan intonasi suara bahkan bahasa tubuh





Gagalnya komunikasi sering disebabkan karena kurang jelinya pasangan membaca bahasa tubuh. Mulut bilang, “Gak papa.” Terus muka berubah jadi lipatan baju yang belum disetrika, terus apakah gak papa itu kejujuran? Di sinilah kepekaan masing-masing pasangan diuji. Istri sama halnya dengan suami, perlu waktu yang pas agar pembicaraan bisa berjalan dengan terbuka. Oleh karena itu, saling memahami waktu ideal masing-masing untuk berkomunikasi adalah jalan keluar agar komunikasi menghasilkan solusi bukan petisi.

3. Hanya berusaha mendengar tanpa mau memastikan apakah yang kesimpulan dalam pikiran sudah sesuai

Setiap kepala memiliki isi yang bila berhubungan dengan orang lain biasanya cenderung menyimpulkan sesuai dengan milik sendiri. 

“Aku kira kamu suka makanan yang aku buat. Kamu tidak pernah komplain.”
“Ya kamunya aja yang gak pernah nanya pendapatku apakah aku suka apa gak.”

Perdebatan  setelah makan malam dengan sajian ikan goreng yang hampir gosong. Istri sengaja memancing pendapat suami dan suami makan dengan nikmat karena bersyukur istrinya bisa memasak untuknya. Tidak peduli dengan gosongnya ikan yang terpenting adalah semangat istri untuk menyajikan makanan di meja makan mereka. 

Tidak akan terjadi perdebatan jika suami memberitahu istri betapa dia bersyukur bukan hanya menampakkan lahapnya saja. Ya terkadang istri butuh penegasan dengan kata dan suami juga butuh ditanya.







Komunikasi juga berkembang sejalan dengan kemauan seseorang untuk bertumbuh. Apabila seseorang sadar posisinya sebagai istri lalu melihat suami dengan jelas baik itu kekurangan maupun kelebihan maka akan selalu menemukan solusi dari setiap tantangan yang muncul.

Selalu mengedepankan komunikasi dua arah meski situasi begitu buruk, penuh kemarahan juga teriakan.

                


   

"Siapapun suami atau istri kita, dia adalah yang sesuai dengan kita. Kita hanya perlu buka hati terus dan terus."

 (606)

Jurnal Ibu Pembelajar, Kembali ke Fitrah Anak


Judul       :  Jurnal Ibu Pembelajar (Sebuah Kumpulan Catatan Praktek Membersamai Ananda untuk
                  Menyemai dan Membumikan Pendidikan Berbasis Fitrah dalam Keseharian)

Penulis    :  Farda Semanggi dan Tim Kontributor

Penerbit   :  Sinar Gamedia

Tahun      :  2018

Halaman  :  211

"... menganggap tugas mendidik anak-anaknya selesai ketika menyekolahkan anak-anaknya, apalagi di sekolah mahal dengan kurikulum ganda."  (halaman 12)

Kutipan di atas cukup membuatku tertegun. Pendidikan anak ini sudah lama menjadi pemikiran yang tak kunjung jadi nyata. Sesegera mungkin menyekolahkan anak, berpikir bahwa anak akan kekurangan perhatian jika adik sudah lahir dan teman-teman bisa jadi obat sepi ketika aku, ibunya sibuk dengan bayi yang baru lahir.

Pada saat anak sudah nyaman dengan guru dan teman-temannya, keadaan mengharuskan kami pindah dan si sulung dipaksa untuk berpindah dari lingkungan yang sudah nyaman baginya ke lingkungan baru.

Ada semacam guncangan yang belum siap dia terima. Aku ibunya malah sibuk meyakinkan diri kalau dengan sekolah baru dia akan dapat teman yang lain. Ya aku baru menyadari setelahnya bahwa sebelum menikmati, aku harus menemani dia melalui masa sulit penyesuaian dengan memperkenalkan padanya bahwa perubahan itu pasti. Bukan langsung memaksa dia masuk ke sekolah baru dengan menekan rasa rindu pada sekolah yang terdahulu.

Ya ya ya, aku terlalu ingin lepas tanggung jawab ketika sudah menyekolahkan anak. Memaksa si sulung memahami tanpa mencoba menyelami apa yang sebenarnya di alami dan lalui.

Si sulung mulai bosan, tidak nyaman, dan akhirnya mogok sekolah. Aku pada akhirnya menerima saja sambil pelan-pelan mengevaluasi apa yang salah pada diriku.

Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah membuatku berpikir: aku kan dulu pernah mengajar, kenapa tidak mempraktikkan dengan anak sendiri?

Aku memikirkan banyak rencana-rencana sempurna agar bisa digunakan di rumah, bermain bersama anak-anak.

"... tidak berapa lama kemudian sering berubah menjadi frustrasi karena apa yang dibayangkan indah dan disusun mewah itu kemudian tidak berjalan mulus bahkan cenderung stagnan." (halaman 16)

Hah! Tidak mudah ternyata mewujudkan rencana-rencana sempurna itu. Aku berujung pada kekesalan karena menunda dan menunda lagi. Anak bosan, ibu tantrum, ayah bingung.

Di setiap niat, Tuhan buka jalan. Di tengah kemelut, Allah beri aku rezeki buku ini. Buku yang berisi kegiatan-kegiatan anak-anak bersama ibu dalam 24 jam 7 hari. Buku yang juga memberikan penjelasan bahwa anak-anak semenjak lahir membawa fitrah karunia Illahi berupa keimanan, belajar dan bernalar, bakat dan kepemimpinan, seksualitas dan cinta, estetika dan bahasa, individualitas dan sosialitas, juga jasmani. Tugasku dan suami adalah menanam, merawat, hingga fitrah itu tumbuh dengan baik. Bukan malah mematikannya sebelum tumbuh.

Lalu bagaimana caranya agar bisa membersamai anak? Sebenarnya di halaman 184-185 Mba Farda Semanggi sudah menjelaskan tipsnya tetapi kalau dibeberkan semua kalian jadi gak penasaran kan ya. Hihihi...

Sebagai gantinya, aku punya 5 cara sebelum memutuskan membersamai anak agar bisa total dan bahagia bersama ala Emak Sensi. Cara ini aku temukan setelah membaca buku Jurnal Ibu Pembelajar.

1. Berdamai

Pastilah sebelum bisa total, aku harus berdamai dulu dengan inner child, masa lalu, juga masa depan. Saat ini, kini, dan sekarang adalah yang perlu dilihat. Terus menerus berusaha sadar apa yang saat ini sedang dialami. 

Berdamai dengan menyadari bahwa apa yang dulu dialami saat aku masih jadi seorang anak tidak akan terjadi pada dua anakku saat ini. Berdamai dan terus berdamai bahwa apa yang aku miliki, alami, dan hadapi saat ini adalah yang pas untukku.

2. Manajemen waktu

Waktu harus tetap dikelola dengan baik. Setiap keluarga punya waktu emasnya masing-masing. Perlu pembicaraan agar waktu ayah, ibu, dan anak-anak bisa selaras sehingga mencapai kebahagiaan baik untuk diri sendiri maupun bersama-sama. Tidak boleh ada yang merasa berkorban atau dikorbankan. Semua baiknya seiring dan sejalan.

3. Gunakan komoditi yang ada

Aku berpikir apabila mau membahagiakan anak ya harus beli mainan atau sekolah yang mahal. Ternyata salah besar.

"Ibu, aku suka kalau ibu gak marah."
"Ayah, aku suka kalau ayah jawab aku. Bukan hanya bilang gak papa."

Lalu suatu pagi, aku menyiapkan pewarna makanan dan sabun ketika anak-anak bermain air sebelum akhirnya mandi. Taraaa... Mereka tertawa bahagia dan berterima kasih karena bisa bereksplorasi dengan mencampur warna juga mengaduk sabun seolah membuat milkshake. Yoyoy, pewarna makanan dan sabun tentu saja barang murah yang selalu ada di setiap rumah. Kalau pun beli tak perlu sampai jual ginjal kan? Apa saja yang ada di rumah bisa jadi pembelajaran, tidak harus melanglang buana ke negeri seberang. Pemikiran seperti ini harus terus ditanamkan bila tidak ingin stres atau depresi saat membersamai anak.

Anak-anak tanpa aku sadari begitu ingin memiliki kelekatan denganku. Mereka tahu bahwa ayah dan ibu adalah sumber cinta, perhatian, juga panutan. Aku sendiri yang terkadang kehilangan kesadaran terus berharap mereka tidak melulu menempel dan bergantung.

4. Membaca

Tidak mudah puas dengan ilmu yang dimiliki dan terus menerus menambah masukan-masukan sehingga dalam membersamai anak juga akan semakin kreatif dan kaya.

Libatkan semua yang ada di lingkaran. Benar-benar gunakan waktu dengan baik saat membaca lalu terapkan sesegera mungkin. Pada diri sendiri dulu sebagai uji coba terus pada anak-anak apabila sudah cocok dengan tahapan perkembangan fitrahnya.

Ketika lingkungan rumah memungkinkan untuk diatur seperti perpustakaan mini bagi seluruh anggota keluarga itu jauh lebih baik. Atur buku-buku yang layak dibaca anak di tempat yang terjangkau oleh mereka dan buku-buku untuk para orangtua terpisah dengan milik anak-anak.

5. Evaluasi

Setiap sebelum mulai dan juga setelah berkegiatan bersama. Evaluasi agar tidak mengulangi bahan-bahan yang sama atau teknik yang tidak berhasil saat bersama anak.


Catatan setelah membaca:
  • Buku Jurnal Ibu Pembelajar ini layak dibaca bagi yang merasa berhenti di tengah jalan seperti diriku. Kegiatan-kegiatan sederhana yang ada di dalamnya begitu mengundangku untuk ber-oh ria. Ya karena bisa dilakukan serta mudah karena sebenarnya semua ada di sekeliling saja. Hanya perlu sadar lalu mulai beraksi layaknya super hero yang sudah berdamai dengan diri sendiri dan siap membantu siapa saja yang butuh teman agar bisa jadi lebih baik lagi.
  • Meskipun judulnya Jurnal Ibu Pembelajar tetapi lebih bagus jika ayah juga ikut membaca agar satu frekuensi dengan ibu. 
  • Ingin membaca dan lebih tahu tentang fitrah anak dan pendidikan berbasis fitrah.

Aku ingat dulu bapak sering marah sambil bilang, “Disekolahin bukannya tambah pintar malah tambah goblog.” 

Aku juga sempat menggunakan kalimat itu kalau si sulung melakukan kesalahan kecil dan aku marah.

Setelah menelusuri buku ini dan melihat interaksiku kembali dengan anak-anak, aku jadi tahu kenapa Tuhan kasih aku pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Ternyata aku diberi kesempatan untuk menjadi ibu yang lebih baik dengan mulai berkomunikasi dua arah dengan anak-anakku. 

Sekarang aku paham, sekolah hanya salah satu tempat untuk belajar bukan tujuan utama seorang anak berada. Yang utama justru tidak padamnya semangat belajar dan bernalar anak itu sendiri. Jadi tugas utama orangtua bukan menyekolahkan anaknya melainkan mendidik dengan sepenuh hati dan menumbuhkan fitrah anak yang sudah tertanam sejak mereka lahir ke dunia. 

Aku diminta memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah melalui serangkaian peristiwa yang pada ujungnya menguatkan cinta pada Yang Maha Pencipta lagi Maha Penyayang. 

Fitrah-fitrah yang ditanamkan adalah bukti nyata betapa Tuhan cinta kita dan ingin kembali ke sisi dan tempat yang seharusnya kita berada yaitu surga.

Ya Allah mewek 😭.

(1.107)

Terima Kasih Diriku untuk Terus Menulis

Beberapa waktu lalu aku sempat berpikir untuk mengedit tulisan-tulisan lama dan melihat sejauh mana perkembangan kemampuan menulis aku. Selain itu, aku ingin mengingat kembali kenapa aku menulis dan apakah sudah maksimal perjuangan aku untuk mengatasi rasa malas.

Aku mulai menulis blog 10 April 2014, total tulisan baru 234. Dalam empat tahun jika aku konsisten dengan seminggu tiga kali posting tulisan blog maka seharusnya ada 576 tulisan. 

"Konsistensi itu mahal."

Penyataan suami membuatku spontan menganggukkan kepala. Ya memang tidak mudah. Aku sudah mencoba dari yang berhadiah hingga yang suka-suka, ya segitu aja hasilnya. Aku merasa tidak juga maksimal seperti yang aku targetkan.

Begitu sulit karena ketika sangat bosan, malas, dan tidak ingin melakukan apa-apa; aku harus berdamai dan kembali menulis meski hanya satu kata.

antara senang, terharu, dan malu
Untuk itu, aku berusaha sebaik mungkin tahun ini. Aku mengikuti #ODOPfor99days, masuk ke WA Group, dan akhirnya bisa juara 1. Meskipun jumlah tulisan 22 postingan selama bulan Januari hingga April 2018, aku bangga. Aku juga berterima kasih kepada diriku sendiri.


#ODOPfor99days adalah sebuah komunitas di bawah naungan Ibu Profesional untuk para wanita yang ingin berkomitmen berlatih menulis secara rutin dan konsisten. Awalnya aku berpikir harus One Day One Post sesuai dengan namanya. Namun sesi kali ini berubah syarat. Minimal 1 minggu 1 tulisan dan konsisten selama Januari hingga April. Tentang Ibu Profesional itu akan aku ceritakan mungkin di postingan berikutnya kalau gak lupa 😁.

Tahun lalu aku gagal. Awalnya bisa satu minggu hingga 5 tulisan lalu semakin hari semakin berkurang dan tidak tertib administrasi atau setoran formulir mingguan. Pas bulan Januari 2018 juga pasang target tinggi tetapi pada minggu kedua aku menyadari kalau terlalu ngoyo akan sama lagi seperti tahun lalu yang berhenti di tengah jalan. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk seminggu sekali saja, kalau bisa lebih ya syukur tetapi kalau gak ya sudah cukup satu saja.

Menghadiahi diri dengan senyum entah kenapa suasana hati jadi lebih baik

Ya terkadang diri ini sibuk memberi semangat orang lain dan lupa untuk berterima kasih pada diri sendiri.

Cara setiap orang lolos dari masa-masa berat memang berbeda. Ada yang makan, main, dan aku dari dulu lebih suka menulis sama gambar aslinya. Terus karena gambar gak gitu berhasil ya sudah fokus ke menulis saja. Berusaha mengalirkan rasa dan berbagi.

Katanya wanita dalam sehari sebaiknya menggunakan 20.000 kata agar tetap waras. Bagi yang agak sulit cerewet maka menulis adalah jalan lain yang juga bisa dipilih.

Aku teringat zaman sekolah dulu. Kalau malas belajar dan ujian sudah di depan mata maka akan ledek-ledekan dengan Mamah.
"Catatannya dibakar aja terus airnya diminum biar langsung hafal."

Setelah menulis curhatan yang panjang, jika tidak mau diketahui banyak orang sebaiknya dibakar saja tetapi gak perlu dimasukkan ke air dan diminum. Airnya cukup buat padamkan api saja. Jangan sampai asyik bakar-bakaran lupa matiin jadi kebakaran.

Mengalirkan rasa. Aku sering lupa kalau menulis bisa membantu untuk mengetahui apa rasa yang sebenarnya aku alami dan bagaimana bereaksi dengan baik dan benar.

Semakin sering menulis, semakin banyak pula ide-ide atau pikiran keluar dan tidak penuh sesak di kepala yang membuat leher sakit dan pusing pala berbie.
"Terima kasih ya diriku sudah berusaha konsisten menulis. I love me myself."


Beberapa teman yang aku tahu suka menulis tetapi tergerus macam-macam alasan
Anakku yang pertama memang kesukaannya menulis dan membaca sudah kelihatan. Aku mau memelihara itu dan lagi lagi aku mau berterima kasih pada diriku yang terus menulis. Baik untuk tetap sadar dan waras juga memberikan contoh pada anak bahwa menulis itu sesuatu yang menyenangkan untuk dijadikan hobi maupun profesi.


Suka menulis berarti dilakukan dengan rela hati dan perasaan riang sehingga mampu memberikan semangat menjalani hidup yang lebih bermanfaat terutama bagi diri sendiri terlebih dahulu.


(607)

7 Alasan Wajib Nonton Vlog Ria SW


Saat ini Ria Sukma Wijaya atau Ria SW a.k.a Alien Ia' adalah salah satu vlogger kesukaan aku. Aku menemukan dengan tidak sengaja waktu cari referensi makanan pedas.

Terus langsung gak berpaling dan nungguin setiap jumat videonya tayang. 

Minggu kemarin doi baru OPEN PO buku "Off the Record", alhamdulillah dapat. Ya ada untungnya juga punya akun di toko buku online itu. Selain sugesti didahulukan karena langganan, harga juga lebih murah. Hahaha...



Postingan kali ini berisi alasan pribadi aku selalu nonton vlog Ria SW. Apa saja? Yuk ikuti tulisanku!

Catatan: semua gambar diambil dengan cara screenshoot dari video Ria SW di youtube, instagram ria sukmawijaya dan di-edit via photogrid oleh phalupiahero.

1. Aku sering menemukan pelajaran tersembunyi tentang semangat dan penggugah pikiran untuk hidup lebih bermanfaat

Ria SW ini adalah fans GD (salah satu personil Big Bang). Bukan hanya karena paras yang rupawan melainkan karena kerja keras dan disiplin untuk mewujudkan impian. Sementara Ria sendiri adalah seorang produser dan youtuber yang juga pekerja keras, total, dan suka dengan apa yang dikerjakan.


GREAT THINGS NEVER CAME FROM COMFORT ZONE
Yups, kutipan itu ada di kaos Ria (video Mukbang Masakan Sunda). Habis nonton bukan hanya dapat referensi tetapi juga semangat untuk melakukan hal-hal yang sudah direncanakan tetapi terkendala malas. Jangan pernah bermimpi jadi youtuber kondang kalau begadang meng-edit aja gak mau.

2. Aku merasa Ria sangat menikmati yang apapun yang dia makan

"Bersyukur dengan semua nikmat yang diberikan Tuhan maka Dia akan menambahkan nikmat-Nya."

Pesan ini yang aku tanamkan ke diriku. Makanya kalau lagi malas makan, selalu menonton atau menunggu sampai lapar banget jadi gak ada makanan sisa.

Ada orang yang memang suka makan lalu ada sebagian lagi, termasuk aku yang makan hanya sekedar memenuhi kebutuhan agar tidak mati kelaparan. Setelah nonton Ria, aku jadi lebih bersyukur dengan makanan yang ada atau bisa aku makan hari ini. Menikmati artinya bersyukur. Bersyukur jadinya bertambahlah nikmat.

Makanan seperti berubah begitu nikmat ketika Ria SW yang makan.


Abis nonton ini, aku minta dibeliin kerang saus padang.

3. Kualitas gambar dan suara yang oke

Totalitas membuat seseorang berusaha sebaik mungkin dalam menghasilkan karya atau produk. Selain itu pengalaman juga memiliki andil besar dan juga rasa sayang kepada subscriber yang telah memberikan kepercayaan untuk terus mengikuti channel Ria SW.

Gambar kinclong dan suara jernih lalu narasi yang menggoda menjadi poin-poin penting yang aku pelajari dari Ria SW. Sekarang ketika aku menonton video dan kualitasnya tidak sesuai tetapi aku butuh informasinya ya terpaksa fast forward.

kerang hijau saus padang


4. Pertanyaan yang menimbulkan penasaran

Selalu nanya: kenapa, kenapa, kenapa?

"Kenapa hayo warna kepiting berubah setelah dimasak?"

Tanpa lama-lama aku cari deh di google. Ternyata karena kepiting memiliki pigmen bernama astaxanthin yang berubah atau bereaksi jika terkena panas atau air mendidih. 

Pertanyaan dan rasa penasaran terpuaskan. 😊

Tidak cuma sekedar menonton, aku juga belajar banyak dari setiap kata yang belum aku pahami  atau pertanyaan-pertanyaan remeh yang langsung aku cari jawabannya biar gak terbawa mimpi.

5. Editingnya oke

Selalu menerbitkan air liur 😋
Penambahan efek-efek baik lagu atau pun gambar terasa selalu pas. Tidak menyakiti mata dan juga telinga. Terkadang ada video-video yang asal comot dan juga tidak di-edit dengan sepenuh hati. Suara masih kresek, gambar tambahannya blur parah, dan hanya ingin numpang tenar dengan menggunakan click bait.

"Ya iyalah, Ria SW kan pro."

Aku pernah diceramahi masalah pro dan amatir ini. Kalau dari arti katanya pro berarti sumber penghasilannya memang dari vlog sementara amatir ya suka-suka dia aja gak dijadikan mata pencaharian. Nah, belum tentu juga yang pro itu selalu lebih jago dan amatir pasti kualitasnya so so. Balik lagi ke kualitas orangnya. Banyak kok yang mengawali vlog dari emang suka lalu dapat bonus penghasilan dari youtube dan terus meng-upgrade kualitasnya. Lagi pula, pro yang kualitasnya biasa-biasa aja juga gak terhitung.

Pro disini artinya bersungguh-sungguh, total, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik karena dia juga menyukai apa yang dia lakukan. Bukan semata untuk mendapatkan penghasilan.

Setiap pekerjaan yang kita lakukan tentu memiliki konsekuensi, jika memang dilakukan dengan baik dan total, uang atau materi adalah bonus. Bila sudah memutuskan untuk terjun ke youtube maka buatlah yang terbaik dan bermanfaat.

6. Surganya para pecinta makanan pedas

Seblak Jeletet Murni level 5
Bagi para pecinta makanan pedas, Ria SW adalah panutan selain Bara di channel Tanboy Kun. Ria memang dari kecil sudah suka pedas.

Kebanyakan makanan yang ada di vlog dia adalah makanan pedas. Selalu saja pengen langsung nyoba kalau Ria udah bilang, "Ini enak kok. Masih bisa dimakan tapi kalau yang gak kuat pedas biasa beli yang level setengah atau gak usah kasih sama sekali."

Cabe ternyata banyak juga kok manfaatnya. Sensasi terbakar yang disebut pedas saat makan makanan yang mengandung cabe, bisa membantu metabolisme tubuh dan potassium yang terkandung dalam cabe bisa mengurangi resiko penyakit jantung.

7. Bonus referensi minuman

Memang kan minum disarankan 30 menit sebelum dan setelah makan agar proses pencernaan makanan bisa berjalan dengan baik. Mau minum apa saja juga terserah yang penting diatur agar tidak mengganggu.

Kalau abis makan pedes, minum susu.

Minuman seperti infused water

Kalau abis makan gorengan atau yang krispi sebaiknya minum good mood. Ini siih aku aja yang menyimpulkan. Hihihi...


Menemukan seseorang yang bisa dijadikan panutan juga termasuk rezeki bagiku. Merepotkan boleh, bergantung jangan. Manusia memang selalu butuh manusia lain itulah kenapa ada keluarga tetapi untuk bergantung, selalu kembali pada Tuhan Sang Maha Segala.
Terima kasih Ria SW untuk semua pelajaran yang mungkin tanpa kamu sadari berdampak bagi semua subscriber. Terus semangat ya. Hwiting!

(900)

Tidak Ada yang Tidak Mungkin, Rainbow Warrior Si Kapal Pembawa Misi




"Aku ingin ajak anak-anak jalan sebelum akhirnya mereka sibuk dengan rutinitas mereka masing-masing-masing."
Aku punya mimpi bisa jalan bareng anak-anak dan suami *kalau pas libur atau cuti. Gak perlu jauh, karena momen-momen dan kenangan lah yang ujungnya menjadi tujuan utama.

Berangkat dari tidak punya cukup waktu membuat kenangan-kenangan indah, aku mau anak-anakku punya momen setidaknya seminggu sekali bersama kedua orangtuanya. Mereka punya waktu berkualitas dengan ibu atau ayahnya sebagai momen merayakan hari Gian atau hari Geni.
Tentu saja kepikiran kalau nanti mereka sudah sekolah dan punya teman-teman, waktu untuk bisa berkumpul dengan formasi lengkap tentu bisa jadi sulit.



Ah begitulah hidup, kadang semesta begitu mendukung. Suamiku mengirimkan link berisi pendaftaran untuk ikut tur masuk ke kapal Rainbow Warrior.

Kami mendaftarkan diri secara online dengan pertanyaan: daftar satu, anak-anak gimana?


Ya urus nanti aja, ambil kesempatan aja.  Jangan sampai disia-siakan begitu saja. Rainbow Warrior berlabuh di Tanjung Priok. Formasi lengkap kita semua mengunjungi kapal yang bertugas menyelamatkan paus. Hahaha… Aku tahunya cuma itu doang. Padahal Rainbow Warrior punya Greenpeace ini tidak hanya menyelamatkan hewan, tahun ini doi kampanye “Energi Bersih untuk Udara Bersih”. Ini juga aku tahu pas sampai di lokasi.
“Nasib ya nak dapat emak kurang info.”


Begitu sampai ternyata anak-anak bisa masuk, barcode yang di-email di-scan, dan dikasih stempel di tangan. Terus yang kehabisan tiket online bisa daftar on the spot eh bonus masker pula. 



Setelah registrasi kita masuk ke pintu dan semua tas masuk  cek  x-ray terus air minum kemasan sekali pakai harus dititipkan agar ketika habis tidak dibuang ke laut. Hanya botol minuman yang boleh masuk. Gak sempat foto karena terlalu sibuk melihat sekeliling dan jawabin pertanyaan GianGaraGembul.

Antrian begitu panjang karena kita harus bergantian untuk masuk ke kapal. Namun panitia menyediakan  pameran foto dan juga kids’ zone agar bisa menunggu dengan nyaman.


Pada saat akhirnya kita bisa masuk ke kapal, sudah siang dan waktu terbatas jadi tidak bisa benar-benar dapat detil-detil dan eksplorasi semua tetapi bagiku semua pengalaman ini jauh lebih dari cukup. Geni walaupun awalnya sempat rewel karena panas dan terlalu lama menunggu akhirnya suka karena bisa melihat kapal besar. Sementara mamas GianGaraGembul asyik mengeksplorasi ruang kemudi.


Semoga tahun depan bisa ketemu lagi dan terus-menerus berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Piknik, semakin mengenali Indonesia, dan ikut membantu menjaga alam. Berawal dari mimpi, jalan terbuka, lantas fokus untuk mewujudkan.

Hari ini anak-anak belajar tentang kapal, sampah, dan tenaga matahari. Belajar bahwa mahal itu bukan apa-apa jika kita bisa ikut membantu menjaga bumi.

See you again Rainbow Warrior