Senin, 09 Oktober 2017

Nasi Ruwet ala Ayah Hari

Pastikan ada stok mie jika ingin membuat menu ini

Di dalam rumah tangga kami, tidak ada peraturan kalau suami dilarang masuk dapur. Istri menyiapakan semua, suami datang kalau sudah siap semua. Oh so yesterday. Model begitu mah zaman nenekku. Kalau keluarga sekarang, semua lebih fleksibel. Siapa saja boleh ke dapur lalu menyiapkan makanan. Bahkan akhir-akhir ini mamas sudah mulai terlibat untuk membantu. Memotong sayur. Sesi persiapan memasak memang yang paling lama jadi akan lebih cepat jika dieksekusi bersama. Tahap memasaknya bisa dilakukan sendiri sama suami.

Suamiku suka jika bisa membantu menyiapkan makanan jika libur atau aku harus keluar karena ada acara. Nasi goreng adalah masakan andalan. Nasi goreng yang dibuat suami lebih ke nasi goreng manis karena tambahan kecap. Anak-anak suka. Memang dasarnya anak-anak lebih suka makanan yang dimasak sendiri. Emaknya aja yang gak insaf-insaf. Beli di luaran mulu.

Lalu nasi ruwet, nasi goreng plus mie goreng. Nasi ruwet dengan porsi besar bisa dimakan 2 orang dewasa, 2 batita. Ada tambahan sayur dan daging sapi cincang jadi mantap. 



Gambarnya gak lengkap soalnya disambi ngawasin mamas pegang pisau


Bahan
2 centong nasi sisa semalam
2 bungkus mie goreng, masak lalu sisihkan
1 butir telur ayam
1 ikat sawi
2 wortel iris bentuk korek api
5 bawang merah
3 bawang putih
daging sapi cincang seadanya
garam secukupnya
merica secukupnya
kecap manis secukupnya
saus tiram secukupnya
minyak untuk menumis

Cara masak

1. Panaskan minyak, setelah panas masukkan bawang putih aduk sebentar baru masukkan bawang merah. Tunggu hingga wangi.

2. Ketika aroma harum tercium masukkan wortel dan daging cincang, aduk-aduk hingga layu. Perhatikan tingkat kematangan, jika suka sensasi wortel yang masih kriuk-kriuk maka masukkan daging tidak lama setelah wortel layu. Namun kalau suka yang matang ya bisa tunggu hingga dua menit sebelum memasukkan daging. 

3. Setelah tingkat kematangan cukup, sisihkan di pinggiran wajan dan goreng telur orak-arik.

4. Telur siap masukkan nasi. Kecap manis dan saus tiram, garam, dan merica secukupnya. Mengolah nasi inilah yang paling berat soalnya harus benar-benar diaduk biar tidak ada yang menggumpal dan kurang meresap bumbu. 

5. Jika nasi sudah sempurna masukkan mie goreng.

6. Terakhir sawi dan bumbu-bumbu pelengkap.

7. Tes rasa dan tambahkan bumbu yang kurang sesuai dengan hasil icip-icip.

8. Jika tidak ada yang kurang, matikan kompor dan sajikan.

Acara memasak bersama ini bisa menimbulkan ikatan khusus antara suami dengan istri dan orangtua dengan anak-anak. Bagaimana membangun rasa percaya bahwa anak-anak juga ikut berperan, menambah rasa percaya diri pada anak-anak. Kepuasan juga bertambah. Rasa bisa membantu dan bermanfaat. Biasanya anak-anak jadi lebih lahap makan setelah ikut terlibat dalam proses memasak makanan. 

Selamat mencoba ya.
Sabtu, 07 Oktober 2017

Anak Sabtu Minggu, Dekatkan Anak ke Ayah atau Kamu Menyesal!


Kewajiban mencari nafkah bagi keluarga membuat banyak ayah di luaran sana menjadi ayah sabtu minggu. Bisa dekat dan memiliki waktu yang berkualitas ketika akhir pekan. Jalan-jalan, seharian bermain, atau menemani anak-anak tidur siang. 

Peran ibu sangatlah penting untuk mendekat anak-anak kepada ayah. Komunikasi harus terjalin sehingga ayah mau, siap, dan akhirnya mampu memiliki kedekatan yang cukup dengan anak-anak. Meskipun waktu efektif hanya sabtu minggu, tidak akan menyesal ayah bisa dekat dengan anak-anak.

"Sebel lho, kalau ayahnya sudah di rumah pasti ibunya gak laku."

Meminimalisir kecemburuan ketika anak-anak lebih menempel pada ayahnya itu penting. Selain berbagi peran, anak-anak bisa melihat dan merasakan keharmonisan hubungan ayah dan ibunya.

Ibu bisa bergabung ketika anak-anak dan ayah sedang bermain bersama. Perhatikan trik yang ayah gunakan untuk mengambil hati anak-anak. Cari tahu kenapa anak-anak begitu nyaman dengan ayah mereka.

"Kalau nangis kok yang dipanggil ayahnya sih."

Waktu yang kurang terkadang menjebak para ayah untuk berlaku permisif, mengabulkan semua permintaan anak-anak. Itulah kenapa ibu jadi sosok jahat yang seolah melarang semua hal untuk dilakukan. 

Ayah dan ibu perlu membicarakan apa saja peraturan yang harus diterapkan. Jam tidur, waktu main, atau screen time (ponsel, tv, laptop) perlu diatur bersama agar tidak jadi alasan anak-anak untuk melakukan kecurangan. Ayah tahu semua jadwal lalu ibu wajib mengingatkan.

"Aku mau bantu ayah cuci motor."

Meskipun pada akhirnya berujung main air saja, begitulah cara anak-anak mencari perhatian ayah. Terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan ayah. Mumpung ayah ada di rumah. Kan gak tiap hari? 

"Pengen gak sih tiap hari bisa nemenin anak?" pertanyaan kepo ibu ketika ayah mulai cuek dan fokus ke ponsel, anaknya udah entah kabur ke mana.

Ibu dan ayah berbeda. Kalau ibu menghabiskan akhir pekan dengan melakukan hal-hal di luar urusan anak-anak sementara ayah ingin fokus bermain bersama anak. Terkadang ibu terkejut dengan fakta-fakta yang ditemukan oleh ayah. Pura-pura cuek tetapi tahu pasti bagaimana menangani anak-anak saat mereka jadi monster kecil yang menguras emosi ibu. Hanya dua hari, sabtu dan minggu daripada tidak sama sekali.

"Ayah, lebih asyik diajak main."

Apakah faktor kelelahan ibu? Mungkin saja. Apakah faktor kebosanan setelah seharian hanya ibu, ibu, dan ibu lagi? 

Niat adalah yang utama. Ayah menganggap anak-anak adalah vitamin. Tidak peduli seberapa lelah pulang bekerja, meluangkan waktu untuk sekedar membacakan cerita akan jadi kebahagiaan tersendiri. Baik ibu, anak-anak, maupun ayah sendiri. 

"Ayah adalah pahlawanku."

Kejutan-kejutan tak terduga seperti pulang membawa martabak coklat kesukaan, DVD film kartun terbaru yang sedang jadi idola anak-anak, atau sekedar pulang lebih awal dari biasanya akan membuat hati anak-anak gembira. Perhatian kecil tetapi mengena adalah yang utama. Hal kecil bisa jadi besar ketika itu sesuai dengan apa yang diharapkan anak-anak. Mau tahu dan berusaha memenuhi harapan membuat ayah jadi pahlawan. 

Kenapa anak-anak perlu dekat dengan ayah?

1. Identitas

Bagi anak laki-laki, ayah adalah contoh. Bagaimana ayah bersikap, itulah yang nantinya dijadikan teladan. Berbahaya jika anak laki-laki tidak dekat atau kehilangan sosok ayah karena dia akan kebingungan menentukan jati diri. 

Bagi anak perempuan ayah adalah sumber rasa nyaman dan aman. Bila kebutuhan itu terpenuhi maka anak perempuan akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak bertindak macam anak caper yang kurang kasih sayang. Berbahaya apabila anak perempuan tidak terpenuhi sosok ayah di masa kecilnya maka dia akan mencari perhatian di luar lalu bisa terjebak ke pergaulan yang salah.

2. Nilai hidup dan cinta

Anak-anak belajar tentang nilai hidup (berbagi, melindungi keluarga, bertanggung jawab) dan juga cinta (perhatian, persahabatan, kasih sayang tulus) dari ayah karena ibu cenderung rumit memaknai semua itu. Sementara ayah lebih sederhana dan logis.

Nah jika anak-anak tidak mendapatkan itu semua dari ayahnya maka mereka akan rapuh dan sulit mendapatkan hubungan yang sehat nantinya. Baik dengan lingkungan maupun pasangan. 

Waktu yang berkualitas perlu diusahakan dengan maksimal agar hubungan ayah dan anak-anak bisa terjalin dengan harmonis dan selaras. Ada harga yang harus dibayar. Letakkan ponsel, hadirlah utuh dan penuh, nikmati kebersamaan dengan anak-anak yang akan cepat berlalu.

Jumat, 06 Oktober 2017

Tulisan Zaman Baheula Plus Editannya

TENTANG SAYA
 [TR1] Saya hobi menulis sejak kelas 5 SD. Cerpen atau puisi yang saya tulis dibaca oleh teman-teman dekat. Entah mereka objektif atau hanya menyenangkan hati, mereka bilang menyukai karya-karya saya. Hobi itu terus berlanjut sampai di SMA. Saya sempat menjadi ghost writer yang mengerjakan hampir 20 cerpen untuk teman-teman sekelas yang menginginkan nilai bagus di mata pelajaran bahasa Indonesia. Saya mulai berhenti saat masuk kuliah. Kenapa saya berhenti karena alasan-alasan seperti:
2.      Menemukan banyak hal baru
3.      Menemukan teman-teman yang lebih suka membaca daripada menulis
4.      Menyesuaikan dengan orang-orang yang tidak menyukai 'bakat menulisku'
5.      Tidak punya ide
6.      Menyesuaikan dengan lingkungan bahasa yang baru (bahasa Inggris)
7.      Menulis dengan bahasa Indonesia jadi lebih susah (saya kuliah di jurusan bahasa Inggris) 
8.      Lebih suka beli-beli buku lalu tergeletak dan tak selesai dibaca
9.      Sibuk kuliah
10.  Sibuk mengejar dosen
11.  Sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah
12.  Kalau ditulis mungkin daftarnya lebih dari seratus yang intinya saya mulai meninggalkan hobi saya, berselingkuh dengan kesenangan yang lain.
[TR2] Sudah sejak lama saya berpikir untuk menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan. Namun selalu saja ada alasan-alasan yang seharusnya bisa saya singkirkan dengan mudah. Ya saya mengakui jika saya seorang melankolis yang melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan sehingga ide-ide tulisan hanya berakhir sebagai ide yang tak terselesaikan. Selain itu, saya suka sekali menunda dan menunggu waktu yang sempurna untuk mulai menulis. Waktu sempurna untuk saya tentunya.
“Nanti sajalah kalo sudah sampai di kos, ada di depan laptop, secangkir teh dan cemilan. Sungguh waktu yang pas untuk menulis.”
            Dan ternyata tidak pernah ada waktu yang sempurna untuk menulis. Setelah sampai di kos, saya akan langsung merebahkan diri dan mulai merajut mimpi hingga pagi hari.
“Besok sajalah, hari ini terlalu letih.”
            Dari satu penundaan ke penundaan yang lain. Dari satu rancangan waktu sempurna ke rancangan waktu sempurnya yang lain. Sungguh, akhirnya saya tak jua memulai.
Saat saya bertemu dengan seorang pria yang luar biasa berpengetahuan dan memulai semua kisah kami. Merasakan kembali euforia cinta. Dan endorfin itu menuntun saya kembali bercinta dengan tulisan. Note yang menggambarkan perasaan disertai tanggal, saya tulis untuk kemudian saya jadikan novel. Ya novel perjalanan kisah kami. Namun itu semua lenyap tak berbekas setelah beberapa bulan yang lalu laptop saya koma. Menangis, meratap dan penyesalan yang berkepanjangan. Saya memikirkan masa-masa keemasan ide dan tulisan yang hilang bersama mati surinya laptop. Mulai saat itu saya jadi apatis, skeptis dan kering kerontang. Saya tidak bisa menulis karena semua ide saya telah ikut mati suri bersama laptop. Saya tidak lagi punya penyemangat untuk menulis.
Juli 2011 saya menikah dengan pria luar biasa tersebut dan mulailah dengung-dengung: "Kapan mulai nulis lagi dek?" Ya dia tahu apa yang saya suka. Dia tahu apa yang bisa buat saya bertahan dari badai stres. Namun saya masih dengan berjuta alasan dan dia juga tanpa menyerah mendengung-dengungkan: "Ayolah, kapan mulai nulis?"
“Mas, adek boleh ikut pelatihan menulis ya?” tanyaku ragu
“Ikut aja dek, mungkin dari sana adek bisa mulai semangat nulis lagi.”
Ada dua pelatihan menulis yang saya ikuti tetapi belum juga mulai menulis.
 “Apa gunanya punya banyak ide cerita dan sering ikut pelatihan tetapi tidak ditulis. Percuma! Yang harus adek lakukan cuma menulis. Mulailah menulis.” ujar suami saya tegas.
            Mei 2012, saya resmi menyelesaikan kontrak kerja saya. Fokus mengurus anak. Mulailah hari-hari dengan waktu luang yang tak terbatas. Ya, anak saya masih bayi jadi lebih banyak tidur, kalau anak sedang tidur lantas saya bingung hendak melakukan aktivitas apa. Mulai dengan membaca novel-novel yang sudah dibeli tetapi belum selesai dibaca. Mulai membuka diri dengan bersosialisasi dengan teman-teman lama. Mulai update di facebook dan mengikuti kelas-kelas online.
“Sekarang mas aja yang kasih kamu dateline![TR3] 
“Kok gitu?”
“Ya biar adek mulai menulis. Satu bulan satu cerpen. gampang kan? Hanya dua halaman saja. Ok, deal ya!”
“Terus dari mana mulainya?”
“Ya mulai aja dari apa yang adek rasakan. Perasaan yang ingin adek ungkapkan. Hal-hal yang tidak bisa dibicarakan secara langsung. Misalnya adek lagi sebel sama mas tapi gak bisa ngomong langsung ya adek bisa tulis aja. Dari tulisan itu mas kan bisa lebih tahu apa yang sedang ade rasakan. Gimana? Mudah kan?”
“Ya, tapi gimana kalau harus stand by jagain anak? Ya sich kerjaannya cuma lihatin dia tidur tapi kalo ditinggal dia pasti nangis, minta ditungguin.”
“Mas tahu itu makanya mas beliin adek handphone Blackberry. Adek bisa tetap menulis dimana aja terus bisa dipindah di laptop atau mau langsung kirim juga bisa. Mas sudah daftarin paket yang full service jadi semua sempurna. Mas harap adek bisa mulai nulis tanpa harus mikir-mikir yang gak perlu.” ujar suami disertai senyum penuh pengertian
Entah mengapa saat itu saya merasa tertantang, ingin segera menulis. Mungkin lebih pada alasan, apa lagi yang akan saya lakukan? Saya sudah tidak bekerja, yang artinya saya tidak punya lagi aktivitas pasti dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Suami saya yang memang penuh pengertian telah membukakan jalan. Tinggal saya saja yang mulai menulis. Tidak perlu banyak alasan dan penundaan. Baiklah saya harus mulai menulis. Dimulai dari apa yang saya rasakan tetapi belum dapat diungkapkan secara langsung.
            Setelah mulai menulis, perlahan-lahan saya memahami. Hal yang harus saya lakukan untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan adalah bertindak. Menyingkirkan semua asumsi-asumsi, waktu yang sempurna, dan penundaan. Intinya adalah bertindak. Action!  Jika tidak bertindak maka saya tidak dapat memujudkan apa yang saya impikan dan saya juga tidak dapat apapun yang saya inginkan. Hari ini 6 Juni 2013 melalui perjuangan yang melelahkan dan emosional serta terapi aura yang tiada henti, saya mengakui kalau saya seorang pemalas dan pemberi banyak  untuk menunda dan memulai menulis. Dan mulai hari ini, saya akan terus berjuang untuk tidak malas dan menunda. Jika ada ide saya akan berusaha untuk langsung menulis.





 [TR1]Dari sini sampai halaman terakhir tidak termasuk fiksi, Mbak. Ini tulisan nonfiksi true story. Biasanya masuk ke tulisan inspiratif.
Banyak buku yang berisi tulisan semacam ini, antara lain seri Chicken Soup (Gramedia Pustaka Utama) dan A Cup of Tea (Stiletto Book).

Tulisan seperti ini nyata, true story. Akan kita bahas di Materi III (tanggal 12 Juni).

Cerpen, puisi, novel, novelet  termasuk tulisan fiksi. 




 [TR2]Dalam menulis cerpen, hindari penulisan seperti ini. Paparkan, ceritakan, bukan poin per poin.

Dalam kisah inspiratif (nonfiksi) pun sebaiknya dihindari. Penyampaian poin-poin begini membuat tulisan terlihat lebih kaku, kurang menyentuh ke hati. J



 [TR3]Deadline, Mbak. Bukan dateline J

###

Akhir-akhir ini sering diminta untuk memberikan masukan untuk tulisan beberapa teman. Nah jadi ingat guru pertama menulis onlineku adalah Triani Retno. Seorang editor dan juga penulis. Kalau melihat satu folder yang berisi latihan, malu tetapi tetap bersyukur karena dari Mba Triani lah aku belajar tertib. Tidak menulis dengan singkatan-singkatan alay, mempelajari EYD, dan yang pasti terus menulis apapun keadaannya.

Kamis, 05 Oktober 2017

Ada Apa dengan Sikap Defensif?

Tidak ada kehidupan yang mulus bagi seseorang dengan luka, amarah, dendam di masa lalu. Keputusan demi keputusan yang diambil layaknya efek domino, berkaitan dan tampak salah semua. Cobaan-cobaan tak henti datang. Bersamaan. Tanpa jeda.

Memang seseorang tidak pernah tahu dia ada di titik terendah hingga akhirnya dia melalui semua itu.

Lalu apa yang terjadi ketika semua ternyata berlalu berganti pelangi indah? Ah, akan ada lagi masa di mana datang si penyindir ulung nan defensif untuk menguji. Dia juga hadir sebagai pengingat bahwa dewasa adalah proses bukan hasil.
Penyindir ini menunjukkan betapa, seseorang bukanlah siapa-siapa. Hanya onggokan luka, amarah, dan dendam. Penyindir begitu yakin seseorang bukanlah apa-apa dibanding dia. Namun seseorang ternyata tersenyum penuh empati. 


Ada apa dengan sikap defensif?

Merasa terancam, terdesak, dan tidak ada jalan keluar. Lalu mulai mengeluarkan 1001 alasan untuk membenarkan asumsi yang ada di pikirannya. Pernah ketemu? Sering. Terus? Ya senyumin aja. Toh kalau otak dia normal lagi pastilah malu sendiri. 

Pengalaman yang ditulis akan menguarkan aroma pembelajaran yang kuat. Itulah kenapa setelah seseorang aktif menulis, dia akan paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Seseorang sangat terlihat dari apa yang ditulisnya. Apalagi sekarang, zaman media sosial meraja. Kita bisa dengan mudah mengidentifikasi seseorang dari status, foto, dan rangkaian stories yang setiap hari muncul di IG. Kalau mau teliti, kita bisa berbagi pengalaman agar sama-sama tidak terjebak pada keserakahan.

Seseorang yang cerdas secara bahasa dan emosional, akan berpikir panjang sebelum membuat keputusan apalagi menyangkut tulisan di media sosial. Jangan sampai ketemu sosok cerdas bijaksana yang sangat mampu menulis. Kenapa? Kamu akan dibuatkan tulisan yang menyentuh, ingin bergerak, atau malah bisa jadi ingin bunuh diri. Bisakah? Bisa banget. Kekuatan tulisan terlalu besar untuk diremehkan. 

Nah kembali ke sikap defensif yang negatif, seorang serakah tak punya fokus. Rata-rata dari sanalah sikap defensif muncul. Penyindir mau apa saja yang dia inginkan terwujud, bagaimanapun caranya. Tak punya fokus artinya apa yang terlihat bagus dimiliki orang lain harus didapatkan juga. Syereeem.

Masa yang paling sulit adalah ketika seseorang harus diam, menyusun strategi, dan menyerang balik. Sulit karena seseorang harus memilih apakah benar untuk menyerang balik atau justru mengalihkan amarah pada sesuatu yang lebih positif. Bagi seseorang ini bukan lagi masalah kecil. Ada jiwa sepi nan kering yang butuh bantuan. Jiwa si penyindir.

Keren? Tidak sekeren itu. Seseorang juga harus berdarah-darah untuk sampai pada tahap itu. Tentu saja tidak semua orang sanggup. Butuh hati yang sangat besar nan kuat.


Ada apa dengan sikap defensif?

Kecewa ketika apa yang diinginkan ternyata tidak bisa diwujudkan. Si penyindir terlalu sibuk memberikan alasan pada diri sendiri hingga akhirnya lupa untuk melakukan aksi. Si penyindir terlalu repot dengan orang lain lalu lupa dirinya. Lupa kalau yang seharusnya berubah dan mewujudkan impian itu adalah dirinya bukan orang lain. Oh Tuhan. Apa masuk akal menerapkan target tinggi terus berharap orang lain yang mewujudkannya?

Aku ingat sekali peristiwa ini. Mamas masih berusaha untuk buang air besar di kloset. Dia asyik main hingga menahan hasratnya. Aku saat itu sedang menyiapkan makan siang. Mamas datang dengan mata memelas dan air mata.

"Ibu, ee di celana!"

Aku murka, sangat marah. Aku menjambak rambut mamas sambil menyeret tubuh kecilnya ke kamar mandi. Dengan kasar melepas celana yang sudah lepet dengan tahi dan basah karena pipis. 

Waktu itu yang terbayang adalah rasa malu. Malu pada orang tetangga yang bisa mengurus anak. Malu karena aku yang katanya sarjana pendidikan bahasa Inggris  ternyata tidak becus mengajari anak sekedar berak di kloset. Kalah dengan yang lulusan SMA. Aku sangat defensif dan merasa dengan berbuat kasar dan memerintah sambil berteriak akan membuat mamas lebih cepat mengerti. Aku sangat defensif dan membenarkan kekerasan yang aku lakukan pada anakku. Terlalu defensif untuk mengakui itu adalah balasan. Balasan pada masa lalu yang penuh luka, amarah, dan dendam.

Bagi si penyindir, inilah yang terjadi. Mekanisme perlindungan agar tidak lagi merasakan rasa sakit yaitu menyakiti orang lain terlebih dahulu. Sadar atau tidak sadar. Menambah daftar kesalahan. 

Meskipun begitu, seseorang dengan luka dan berhasil melalui masa sulit, akan datang membantu di saat yang tepat. Tentu saja jika akhirnya si penyindir mau memaafkan dirinya sendiri. Tidak lagi bersikap defensif, mau menyelam hingga ke dasar dirinya. Ya itulah bagian tersulit dari keseluruhan eksistensi, MEMAAFKAN DIRI SENDIRI.

Jadi kalau kalian menemukan teman yang status di media sosialnya baik-baik saja, semua seolah tampak sempurna, atau terlihat sangat bahagia maka kalian perlu mendekat. Ingat, siapkan mental! Jangan sampai justru kalianlah yang terpental karena sikap defensif yang menendang.
Rabu, 04 Oktober 2017

Mbuh Ah, Seandainya Jadi Ibu Ada Buku Manualnya


Sayangnya gak ada. Aku harus trial & eror. Belajar sana sini. Baca banyak referensi. Kejedot mitos atau malah hanya percaya insting.

Ya ibu, aku bukanlah ibu yang disiapkan untuk menjadi ibu. Aku ibu yang didik untuk bekerja menghasilkan uang lalu bisa hidup layak dengan uang itu. Lantas ketika ternyata ijazah itu hanya teronggok karena aku jadi ibu rumah tangga, aku frustasi. 

Bagaimana tidak frustasi? Tidak ada satu mata kuliah pun yang membahas bagaimana toilet training itu berjalan dan bagaimana harus menghadapi sikap anak yang tantrum ketika adiknya lahir. Padahal semenjak menjadi ibu, itulah pekerjaan yang setiap hari aku hadapi.

Ya seandainya melahirkan anak dilengkapi buku manual seperti membeli motor atau kulkas dua pintu. 


Seandainya oh seandainya buku manual itu ada pastinya aku akan lebih siap menghadapi tantrum, panas tinggi, dan juga perubahan hormon seusai melahirkan.Sayangnya yang aku pelajari adalah grammar, phonetics, dan juga English for Young Learner. 

Bisa dibayangkan lah bagaimana paniknya ketika suami dinas luar kota dan dua anak rewel. Satu panas, satunya menolak tidur karena menunggu ayahnya pulang. Berasa pengen ngumpet aja di bawah pohon ciplukan.

"Nanti kalau udah jadi ibu kamu harus bangun pagi."

Ternyata ini berlaku buat ibu yang gak punya asisten, malas bikin stok makanan (ayam ungkep siap goreng, kering tempe, buah siap potong), dan susah untuk bikin rutinitas 😅

Sarapan selalu berlalu tanpa kesan.

Suami tidak pernah komplain ketika istri bangun siang, tidak ada sarapan, dan anak-anak baru bangun ketika ayahnya sudah berangkat tanpa sempat sarapan bersama. Begitu si ayah pulang kerja, kadang anak sudah lelah.

Begitu anak kedua lahir, semua berubah. Mamas sekolah agar punya kegiatan dan itu artinya rutinitas. Bangun pagi, sarapan, antar sekolah. Nah di saat inilah ibu susah bangun pagi berubah.Ibu yang tidak bisa memasak berusaha menyiapkan menu sederhana atau harus keluar untuk membeli sarapan.

Catatan: ibu harus bangun pagi, punya menu sederhana untuk sarapan, dan pastikan si bayi tidur nyenyak dalam rentang waktu yang cukup lama ketika mengantar atau menjemput mamas. 

"Ih gak bersyukur. Kan udah dikasih anugerah."


GianGaraGembul sangat aktif di usia 4 tahun 5 bulannya dan DulDenGeni begitu ekspresif saat 1 tahun 7 bulan ini. Ya mungkin aku kurang bersyukur jadinya yang ada hanya keruwetan demi keruwetan. Padahal kalau mau dilihat sisi positifnya tentu ada saja kan.

Tentu saja, menjadi ibu adalah anugerah yang tak bisa dijelaskan secara rinci dengan kata-kata. Aku hanya bisa bersyukur dan bersyukur. Maka dari itu saat ini, aku berusaha mencatat apa saja perjalanan yang sedang dilalui agar bisa jadi semacam diary yang akan jadi pengingat betapa lebay dan kurang bersyukurnya aku.

Anak bisa ngomong katanya cerewet.
Anak nangis katanya rewel.
Anak minta ini itu katanya gak tahu diri.

Iya, aku ibunya yang gak tahu diri. Selalu saja melihat sisi negatif ketika anak-anak bertumbuh.

"Mamas hati-hati. Gak boleh guling-guling."

Perkembangan motorik kasar pada anak usia 4 tahun adalah yang paling pesat. Tidak jarang anak sering mengalami kecelakaan ketika meloncat, berguling, atau berlari. Tentu saja sangat susah jika kita tidak berkomunikasi dengan baik. Inilah masa anak paling aktif dengan perkembangan motorik paling pesat.

Ibu tidak boleh marah ketika anak kekeuh meminta melepaskan atau memasang kancing baju sendiri. Tunggulah, dia sedang membuktikan pada dirinya sendiri kalau dia bisa dan mampu. Sabarlah karena sabar ibu menentukan bagaimana rasa percaya diri anak tumbuh. Tidak perlu sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Catatan: ibu harus banyak membaca karena dalam setiap pergantian umur ada tugas perkembangan anak yang harus diperhatikan. Kurangnya membaca membuat ibu menuntut anak secara berlebihan atau melabeli anak "bodoh" atau "lambat".

"Anak kok dititipin sih!"

Ada momen ketika ibu harus jemput, dedek masih tidur. Waktu sudah diperhitungkan dengan baik eh meleset. Adik bangun, terguling, dan nangis kejer. Merasa bersalah? Banget.

Namun setelah 4 tahun 5 bulan jadi ibunya mamas GianGaraGembul ditambah  1 tahun 7 bulan jadi ibunya dedek DulDenGeni, aku tentu saja belajar bahwa keserakahan tidak akan menghasilkan apa-apa. Aku bukan manusia yang bisa membelah jadi dua. Satu untuk mengantar mamas, satu untuk menyusui dedek. Aku mulai tahu diri. Ada batasan yang harus aku pahami. 

Maka dari itu aku mulai berusaha percaya dengan daycare sehingga ketika ada kegiatan yang mengharuskan mamas didampingi tetapi tidak memungkinkan Geni ikut ya menitipkan Geni adalah solusi paling masuk akal.

Catatan: insting seorang ibu tidak akan pernah salah. Harus legowo ketika kita menitipkan anak baik di daycare atau ada asisten di rumah. Selalu dan selalu bangun komunikasi yang positif agar semua transparan dan menenangkan.

Belajar menjadi ibu tentu saja seumur hidup. Buatlah catatan sehingga nantinya bisa menjadi panduan ketika kita mendidik anak perempuan atau menantu (kok udah bahas menantu sih). 

Selamat menempuh perjalanan baru sebagai ibu, semoga jadi pengalaman baru ya seru. ^_^
Selasa, 03 Oktober 2017

Rasa Bangga Itu Bernama Bergerak

Tentu tidak mudah untuk seseorang: menikah, punya anak, tanpa pengalaman merawat bayi tetapi harus menerima ketika bayi lahir.

Aku pernah ada di posisi itu. Aku merasa diremehkan saat menjadi ibu baru. Seandainya, ya seandainya saat itu aku belajar dengan cepat dan bersyukur maka semua akan jadi lebih mudah. Namun bagaimana pun juga aku tetap saja bersyukur telah melewati semua masa penyesuaian "ibu baru" itu dengan penuh pengalaman.

1. Anakku selalu memberikan "pembelajaran"

Aku sungguh tertatih. Jam tidur tak karuan, bentuk badan yang tak lagi aduhai, dan penyesuaian yang tanpa henti. Betapa keras aku mendidik si sulung. Tak pernah dia lolos tanpa cubitan saat toilet training dimulai. Aku macam guru yang memberikan hukuman fisik ketika murid tak becus mengaplikasikan ilmu. Aku sadar banyak bekas luka batin yang aku goreskan meskipun pada akhirnya si sulung selalu menyunggingkan senyum maaf.

Selalu dan selalu memaafkan. Itulah yang terjadi. Si sulung sangat gigih untuk memberi tahu aku ibunya, bahwa tidak perlu takut dengan apa yang orang lain pikirkan. Aku adalah ibunya jadi akulah yang harus menerima dia apa adanya tanpa syarat. Bukan orang lain.

Si sulunglah yang akhirnya memberikan rasa bangga padaku atas keinginanku bergerak. Bergerak dari masa lalu menuju masa kini. Biarlah masa lalu ada pada tempatnya yang terpenting adalah hari ini aku berusaha jadi ibu terbaik baginya bukan karena orang lain.

2. Anakku selalu membanggakanku

"Aku sayang ibu," ujar si sulung sembari memberi ciuman di pipi kiri.
Setiap kali aku bicara dengan lemah lembut dan penuh pengertian padanya maka dia akan dengan manja menciumku. Begitu tulus.

"Ibuku ada di rumah. Nemenin aku. Kadang kerja tapi aku boleh ikut."
Aku sampai kehilangan kata-kata ketika si sulung bercerita pada teman sekolahnya kemarin.

Apa lagi yang aku tunggu? Tidak ada. Aku harus segera bergerak dan memaafkan diriku. Diriku yang kasar, cepat marah, dan ringan tangan. Begerak untuk jadi ibu yang lebih bisa mengontrol diri sendiri.

3. Anakku selalu berusaha dengan gigih meski kadang dia bilang gak bisa

Sepatu roda itu adalah milikku ketika masih pacaran. Aku belum lancar hingga si sulung memintaku mengajarinya. Mau tidak mau aku pede padahal belum lancar. Aku tidak mau mematahkan semangatnya. Aku contohkan bagaimana cara berdiri, berjalan, dan mengayun sepatu roda agar begerak lebih cepat. Entah kekuatan dari mana, aku bisa lancar.

Aku pastikan semua kencang dan pas di kakinya. Awalnya dia bilang tidak bisa tetapi dia mau berusaha. Jatuh bangun, dia pede tidak mau dipegang, dan dia berjalan meski sebentar. Dia senang bukan kepalang. Aku juga senang bisa menjadi saksi perjuanganmu.



Anak memang kadang kaya batu sandungan yang membuat mimpi seolah meremang tetapi jika aku terus bergerak setelah tersandung tentu saja ceritanya akan berbeda. Tidak akan pernah mudah untuk berdamai tetapi hidup akan terus berjalan. Masa iya kita hanya seperti seonggok rutinitas tanpa jiwa bahagia yang nyata. Bangga sekali ibumu ini nak, ibu adalah bagian dari semua perjalananmu saat ini. Ibu ingin jadi pribadi yang sama semangatnya denganmu. Explore, trial, eror, and learn. Tentu, tentu saja ibu tahu apapun itu, kamu akan tetap bangga karena aku adalah ibumu. Ibu Apik kesayanganmu.
Senin, 02 Oktober 2017

Kamu Tukang Baca? Gak Nyesel Deh Tahu 5 Penjual Buku Online Ini

Buku bacaan sudah seperti makanan bagi penulis. Tanpa disadari dan dengan sendirinya, penulis akan mencari buku bacaan yang cocok untuk bekalnya menyelesaikan tulisan atau hanya sebagai pengalih keruwetan saat butuh jeda.

Nah, Emak Sensi punya 5 penjual online langganan nih. Siapa aja mereka, yuk intip!

1. Fenti Novelas Garden

"Mba Feeen, buku mba Indah Hanaco sudah ready stok belum ya. Plus tanda tangan," pinta penggemar lebay.

Aku mengenal Fenti Novelas Garden memang dari penulis kesayangan, Indah Hanaco. Buku-buku historical romance adalah yang sering bikin khilaf. Buat aku, buku-buku Indah Hanaco lah yang paling bikin khilaf. Hahaha...

Harga bersaing, bisa minta pertimbangan atau review (alhamdulillah rekomendasinya belum pernah mengecewakan), dan kadang bisa minta tenggat juga kalau akhir bulan. Hihihi... Makasih ya mba Fenti, sudah sering direpotkan. Semoga laris terus lapaknya. Aamiin.



2. T Sandi Situmorang

Buku-buku jadul adalah ciri khas dari lapak bang Sandi. Kondisinya pun dengan jelas dicantumkan pada gambar buku yang ditawarkan. Banyak buku lawas tentang belajar menulis dengan kondisi baik yang bisa aku dapatkan dari bang Sandi. Sebagai bocoran, bang Sandi ini juga langganan para penulis senior yang berburu buku-buku lawas jadi harus sering berkunjung ke FB si abang biar gak ketinggalan buku inceran.

Emang di Jakarta gak ada ya Mak sampai jauh-jauh ke Binjai? Hahaha, mbuh ya ndilalah kok nemu buku inceran seringnya di lapak bang Sandi. Meskipun begitu emak gak khawatir karena bang Sandi selalu memilihkan jasa pengiriman yang paling murah sesuai dengan kemauan kita. Terus kita juga bisa minta untuk dikirim sekalian banyak atau mau nyicil.

Sekarang ini yang lagi laris manis di lapak si abang adalah buku cerita anak-anak: hardcover, harga miring, tema beragam. Jangan khawatir, kalau beruntung bisa menemukan buku yang diinginkan pas Jumat murah, lagi obral, atau dapat diskon karena udah langganan.



3. BukaBuku.com

Gak tahu BukaBuku.com? Lah gak gaul amat.

Toko buku online ini mengharuskan kita mendaftar jadi anggota karena nantinya semua transaksi akan bisa dipantau melalui dashboard dan dikirim via email. Susah? Gak lah tinggal email dan password aja kok terus nanti isi data buat pengiriman saat kita melakukan pembelian.

Emak suka toko buku ini karena diskon untuk buku-buku referensi akademik sungguh menggiurkan. Bulan lalu emak sampai kalap beli buku psikologi karya penulis luar yang diskon hingga 40%. Ada juga PO penulis best seller dengan bonus yang tak kalah menggiurkan.



4. BukuKita.com

Sama seperti BukaBuku.com, BukuKita.com juga men haruskan kita melakukan pendaftaran. Di sini  yang menarik adalah fresh stok. Buku best seller yang biasanya habis di pasaran, ada sini. Seperti buku Marie Kondo yang kemarin happening terus agak susah didapatkan, emak nemu di sini dengan harga yang oke.



5. TokoCie

Suka buku bacaan berbahasa Inggris? TokoCie adalah solusi yang tepat. Harga bersahabat untuk ukuran buku impor.

Setelah diintip, mumpung awal bulan bisa deh agak royal dikit belanja buku. Ya kalau emang stok bacaan udah abis lho ya. Jangan sampe hanya numpuk dan masih awet berselimutkan segel setelah dibeli. Padahal belinya pake sembunyi-sembunyi dari suami *eh. Itu pasti mak lah, kalian kan baik ^_^

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design