Sabtu, 19 Agustus 2017

BERHENTILAH BERUSAHA MENJADI ORANG LAIN


Di SMANSAMenulis05 kami pernah mengudang Carolina Ratri, blogger sekaligus penulis buku yang tulisan di blognya www.carolinaratri.com fokus membantu para penulis pemula untuk berkembang. Mba yang akrab dipanggil Carra ini tidak hanya menulis di blog tetapi juga novel, flash fiction, sekaligus menggambar.

Nah ketika kami berdikusi ada pertanyaan seorang teman, sebut saja namanya Hepi: "Mba aku tuh suka nulis sastra tetapi sekarang banting stir jadi nulis artikel, gimana ya mba?" kira-kira begitu pertanyaannya. Dari fiksi kemudian menyebrang ke nonfiksi. Jawaban mba Carra begitu mengena padaku, "Lanjutkan saja keduanya, itu akan membuatmu lebih kaya."

Kaya? Menulis bisa membuat kaya. Tentu saja. Proses menulis sama dengan pekerjaan yang lain. Lakukan, pembaca senang, buku laris atau tulisan viral. Kaya di sini bisa saja kaya materi atau hati. Royalti atau jual putus akan menghasilkan pundi-pundi lalu pundi-pundi ini kamu gunakan untuk membiayai perjalananmu. Perjalanan yang ternyata memperkaya batinmu kemudian kamu tulis lagi. Nah begitu terus perputarannya.

Indah Hanaco adalah penulis produktif yang hingga saat ini sudah mengeluarkan 37 novel. Aku akrab dengannya dan sering bertukar pikiran tentang bagaimana menulis itu benar-benar bisa menyembuhkan dan memperkaya hati.

Setiap orang menjalani prosesnya masing-masing untuk akhirnya sampai pada sebuah kesadaran untuk menulis dan memperkaya diri. Tidak lagi fokus pada kaya materi tetapi hati yang kaya. Berproses dan melakukan perjalanan baik menjadi pembaca yang melahap buku apapun maupun pejalan yang mendokumentasikan juga menulis agar bisa membekukan momen.

Aku? Aku baru sampai pada tahap menulis untuk "berhenti berusaha menjadi orang lain". Sadar secara penuh bahwa saat ini aku adalah ibu rumah tangga penuh. Aku ingin kaya tetapi pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga penuh dan hanya mengandalkan uang bulanan dari suami tentu bisa dibilang hanya  cukup secara materi. Aku pada prosesnya mulai tahu, dari tulisan-tulisan yang aku buat di blogku, aku sedang berusaha memperkaya diriku sendiri. Berusaha jadi aku. Bukan penulis-penulis idolaku. Awalnya memang terinspirasi. Makanya sering aku tanya: tulisanku mirip kamu gak? Lega ketika Indah Hanaco bilang aku punya gayaku sendiri.





Ternyata aku bukanlah epigon. Seperti penjelasan Mas Bambang Trim di bukunya "The Art of Stimulating Idea" halaman 111. INSAFLAH UNTUK TIDAK MEMAKSAKAN DIRI MENJADI ORANG LAIN, tulis mas Bambang Trim. Aku ternyata hanya mengidolakan penulis-penulis senior nan produktif itu. Aku punya gaya menulis sendiri. Entah itu saat menulis cerpen, artikel, atau sekedar status di FB. Hahaha... Entah kenapa aku bahagia menemukan kenyataan ini. Kenyataan aku adalah aku.

epigon/epi·gon/ /├ępigon/ n orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya; peniru seniman atau pemikir besar (https://kbbi.web.id/epigon)
Pada tahap awal mungkin aku mencoba untuk fokus pada novel. Namun berusaha dengan keras sejak 2012, Ammabel tak kunjung usai. Novel itu bongkar pasang terus dan tak jua ada kata "tamat".

Aku ambil jalan lain. Cari ilmu lain sembari terus menulis. Tidak lagi memimpikan jadi ibu bekerja, bangun pagi, berdandan dan memakai setelan trendi kesukaanku. Aku berdamai. Aku adalah ibu rumah tangga penuh dengan jam kerja 24 jam dan daster warna-warni adalah yang ternyaman sepanjang hari. 

Dalam menulis pun aku berusaha menemukan gayaku sendiri. Tidak sekedar mengikuti tren yang sudah ada dan best seller. Aku menulis yang aku suka dan ada di sekitarku.

Terima kasih buat teman-teman di SMANSAMenulis05 yang sudah menemani perjalanan menulisku dari bulan April 2017 hingga kini. Kalian yang menjadi pengingat bahwa menulis adalah yang membuat aku tetap jadi diriku.  Kalian yang menjadi penyemangat agar aku bisa berguna baik bagi diriku sendiri maupun orang lain dengan menulis. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Lomba Yuk! Momen Dirgahahayu 72 yang Bikin Merasa Merdeka


"Ibu, nanti kalau mamas ikut lomba malah kalah."

Itulah jawaban yang anak sulungku berikan ketika aku tanya mau ikut lomba apa. 

Baiklah tak perlu mendesak. Biarkan nantinya dia yang memutuskan. Aku juga tak punya ingatan spesial tentang lomba kecuali kemah sebelum Upacara Bendera memperingati Hut RI. Tujuh belasan. Bukan seperti anak lain yang semangat, aku lebih sering tidur banyak seusai kemah. Sungguh terlalu memang. Makanya ketika Raisa membukam nyinyiran yang bilang kenapa pilih Hamish yang blasteran dengan bertanya: kamu emang udah ngapain? Aku merasa malu juga. Apa ya yang sudah aku lakukan untuk Indonesiaku? Piknik dan menjelajah daerah, belum. Aarrrgh...

Balik ke lomba. Akhirnya suatu pagi di tanggal 13 Agustus 2017 itu Mamas jalan sama dedek dan juga ayahnya untuk beli susu. Lewatlah depan lapangan RT kan pas balik dari warung. Lha kok rame anak-anak kumpul. Tertariklah dia. Akhirnya mau ikut lomba. Makan kerupuk, pindahin bendera, dan membawa kelereng. Adiknya ikutan main waktu mamasnya lomba. Waktu berkualitas juga buat aku dan suami menemani anak-anak.

"Gak apa-apa kan Yah kalau gak menang."
"Gak papa mamas yang penting mamas senang."

What a perfect day. Senang karena setelah lomba dia dapat donat coklat plus susu yang dikira hadiah. Ditambah kerupuk yang harus dihabiskan karena keburu waktu habis.

Lomba kerupuk, posisinya belum pas jadi kurang tinggi. Mamasnya belum bisa kira-kira jadi dia bete dan cuma pura-pura gigit kayak dinosaurus yang mau makan mangsa tapi ogah-ogahan. Suaranya aja. Herrr, auk auk auk. Asli ngakak lihatin ekspresinya tetapi harus tahan biar mamas gak tambah senewen. Udah mau ikut aja udah bagus. Memang hanya itu tujuan kami. Mamas mau mencoba.

Lomba pindahin bendera. Dipilih yang setara umurnya sama mamas. Menang dia. Malah kesannya larinya malas-malasan gitu. Dia hepi karena bisa menang. Senyum-senyum.

"Ibu nunggu lomba apa lagi?"
"Nanti lomba bendera lagi tapi sama kakak."
"Ah gak mau nanti aku kalah."

Mamas sudah bisa ukur kemampuan dirinya. Perlu sedikit motivasi agar mau mencoba apapun hasilnya. Begitu diadu lagi dengan yang umur 6, kalah dia. Ya gimana memang umurnya 4 sampai 6. Namanya juga untuk senang-senang.

"Ah mamas kalah Yah."
"Gak papa yang penting mamas mau coba."

#################################################

Pawai di tanggal 17 Agustus 2017, Bekasi Barat. Pejuang muterin THB balik lagi ke rumah RT masin-masing.

Entah kenapa waktu di Bekasi kok melow. Pawai begitu meriah. Sampai gak fokus foto-foto saking terkesimanya. Semuanya total. Sepeda hias, ondel-ondel, bahkan sepeda yang dihias jadi burung garuda. Hanya sempat foto ini aja yang lain dinikmati oleh mata dan jiwa.

Jalanan macet. Biasanya orang-orang akan perang klakson dan heboh. Kali ini fokus lihat pawai sambil nyanyi Indonesia Raya dan bawa-bawa bendera kecil. Begitu semarak. 

Inilah Indonesia. Katanya banyak yang gak suka dengan budaya sendiri tetapi nyatanya semua anak-anak muda berperan dalam mengisi peringatan 72 tahun Indonesia merdeka dan sangat antusias. Mereka mengkoordinir acara lomba, pawai, dan juga membuat kostum yang "Indonesia banget". Iya nyesel gak potret detil karena rempong bawa-bawa Geni yang lagi ngemil mendoan.

Inilah Indonesia. Sejauh apapun pergi tetap merasa yang dipijak adalah rumah. Indonesia. Ah mewek deh. Sudahlah kalau dilanjutkan nanti heboh. Pokoknya JAYA TERUS INDONESIA. MERDEKA!!!


Rabu, 16 Agustus 2017

Kapstok Gantungan Kunci untuk Si Pelupa

Nempel di deket colokan biar sekalian dicharger yak
"Mah lihat kunci ayah gak?"

Carinya muter-muter ternyata di deket jaket. Padahal harusnya setengah jam lalu udah berangkat. Baiklah.

"Mamas, kunci ibu tadi mana?"

Bolak-balik cari di kamar. Lho kok udah nyantol di motor. 

Pernah ngalami? Atau malah sering. Lupa bisa dialami siapa saja. Baik muda atau tua. Terkadang kita harus berhenti sejenak untuk mereka ulang dimana pemberhentian terakhir, mungkin itulah tempat tertinggalnya kunci.

Sudah terpikirkan untuk membeli gantungan kunci. Apa daya belum ada waktu buat jalan dan toko online belum ada yang ngena.

Begitu ada teman posting di IG, aku langsung japri Ita atau lengkapnya Nurulita Septiana.




kapstok gantungan kunci ini dibandrol Rp120.000 belum termasuk ongkir dari Jogja ke tempat tujuan. Custom ya teman, bisa dibuat sesuai kebutuhan kalian. Bisnis kapstok gantungan kunci ini murni sampingan. Hanya dikerjakan sabtu minggu ketika suami Ita libur. Nah begitu kita memasukkan order, harus sabar menunggu. Bahan yang digunakan kayu jati Belanda. Selain untuk mencantolkan kunci-kunci agar tidak tercecer dan susah dicari, bisa juga digunakan sebagai bagian dari dekorasi rumah. Meski kelihatannya sempit ternyata bisa diletakkan pot dari gelas untuk bunga atau tanaman, kamera, dua sampai tiga hp, dan radio juga. Pokoknya sesuai permintaan maunya gimana. 



Waktu pas ketemu di reuni memang aku sudah sempat bilang kalau mau pesan gantungan kunci. Baru japri Ita lagi setelah lihat postingan teman-teman dan juga efek lupa yang kian menjengkelkan. Sampai kepikiran modifikasi hp biar bisa dikasih kunci. Iya maksudnya biar bisa ditelepon kalau lagi menghilang. Hahaha, dan karena belum mungkin jadinya order kapstok gantungan kunci multifungsi ini.

Bentar-bentar, ini sering lupa jangan-jangan sudah pikun ya? Lho bukannya kemarin baru ulang tahun ke tigapuluh? Ish malah ditegasin. Biar bisa memaklumi kalau umur segitu boleh sering lupa. Gak lah. Lupa kan bisa macam-macam penyebabnya. Stres, kurang asupan otak, atau malah sudah terserang pikun. Ya semoga setelah ini tidak ada lagi gegeran pagi-pagi nyari kunci yak. Aamiin.
Selasa, 15 Agustus 2017

Semangka Busuk dan Kepercayaan

Sudah sampai berliur membayangkan segarnya semangka di musim panas
Di musim panas semangka jadi idola. Air yang melimpah, daging buah yang kres-kres, dan manis yang menjadikan sensasi dinginnya tambah mengigit lidah. Tidak akan berhenti hingga piring saji menyisakan kulit. 

Sangat cocok dikonsumsi saat siang dan sinar matahari mengeringkan kerongkongan antara jam 12 hingga jam 1 siang. 

Nah ceritanya aku sudah punya tukang sayur langganan. Aku sering memesan semangka dan juga pisang. Hari itu memang panas sangat garang. Keluar sebentar saja, kepalaku rasanya seperti tersengat dan mataku langsung perih. 

"Gak papa ibu, kan ini memang musim panas. Kita makan semangka aja yuk."
"Iya mamas tapi pakde belum datang. Kan kemarin baru pesan sama pakde semangkanya."
"Oh jadi tunggu dulu," simpulnya dengan senyum.

Itu semangka pas lagi ditunggu-tunggu, gak minta dipotong sekalian eh malah busuk. Orangnya udah keburu jualan lagi.

Musnah sudah semua harapan. Dia bilang semangkanya itu selalu juara. Manis dan segar. Namun hari itu semua kepercayaan itu hancur. Memang aku selalu saja lupa. Lupa untuk tidak cepat percaya. Kecewa lagi hanya perkara semangka.

Ini masalah semangka busuk lho ya, kok jadi panjang urusannya. Iya soalnya kalau gak ditulis bakalan lupa lagi.

"Percaya pada manusia adalah kebodohan. Bodoh karena kamu  tahu itu akan berujung kecewa." (phalupiahero)
Jelas saja kecewa. Buat orang-orang pemuja kesempurnaan maka pastilah akan sakit hati ketika kepercayaan yang diberikan ternyata hancur hanya karena tidak teliti memilih semangka. Itu tukang sayur ya, mungkin bangun jam satu dini hari untuk memburu dagangan yang kasih keuntungan lebih. Demi kiriman ke kampung lebih banyak dari bulan kemarin meski hanya seratus ribu. 

Konyol ternyata setelah ditulis. Aku kehilangan mood seharian setelah merasa tertipu. Padahal hal-hal seperti ini pastilah datang silih berganti. Orang-orang datang dan pergi. Berbekal kepercayaan kita, mereka bisa melakukan hal jahat atau malah membuat kita merasa diperhatikan.

Harus bagaimana?
Kepercayaan memang harus kita perjuangkan. Ora mak pedundug simsalabim, orang percaya. Hipnotis pun butuh waktu.

"Ah kita memang gak boleh percaya ama orang dek, percaya ya sama Tuhan. Percaya sama orang bisa masuk syirik lho."

Yawlaaa urusan semangka busuk aja bisa sampe bahas syirik ya cintaku. Artinya kita memang harus bersikap biasa saja. "Shit happens but you can flush it anyway."

Berapa kali semangka busuk itu mampir hingga akhirnya kamu tahu bagaimana cara membedakan semangka kualitas bagus dengan yang mudah busuk? Pelajaran apa yang kamu petik ketika semangka busuk itu mampir? BELAJAR DARI PENGALAMAN.

4 KALI. Semangka sebaiknya langsung dibelah oleh penjual. Semangka yang mudah busuk memiliki guratan putih di antara sela-sela daging buahnya yang merah. Busuk ketika kulit luar bonyok. Akan tidak enak dimakan lagi saat ada bau menyengat ketika semangka itu dibelah.

4 KALI. Mencoba untuk percaya kalau besok jauh lebih baik. Biarkan dia menjelekkan tukang sayur lain. Fokus saja kalau memang kamu sreg. Tidak perlu banyak nawar. Rezeki tidak akan pernah berkurang atau tertukar. 

Semangka busuk hanya contoh saja bagaimana kepercayaan bisa dibangun. Tidak perlu terlalu serius hingga harus mengomel bahkan memboikot agar tukang sayur itu tidak perlu lewat lagi di depan rumah. Halooo! 

"Iya pakde minta maaf, besok diganti ya. Kasihan udah nunggu padahal ya. Besok ya besok pasti pakde ganti yang bagus."

See, menunda marah itu juga bagian dari memelihara hubungan dan juga kepercayaan. Stay cool and get your refreshing sweet watermelon tomorrow!
Senin, 14 Agustus 2017

GARA, GENI, KARTUN, DAN PEMBELAJARAN


Rainbow Ruby adalah kartun yang tayang di RTV. Jam dan harinya berubah-ubah. Kartun ini sangat membantu ibu menjelaskan kepada anak tentang berbagai macam profesi. Gambar yang aku ambil adalah ketika Ruby menjadi dokter gigi. Ternyata kartun ini digunakan UNESCO membantu anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan. 

Umur 4 tahun, anakku sudah bisa memilih kartun apa yang akan dia tonton saat sarapan lalu menjelang tidur siang hingga waktunya membaca buku sembari menunggu kantuk benar-benar sukses mengalahkan mata.

Anak-anak memang tidak dapat dipisahkan dari tontonan. Ada waktu di mana mereka lelah bermain pasir, air, ataupun bersepeda keliling kompleks. Namanya juga anak-anak ada yang cepat bosan.

Jadwal kartun anak-anak dari pagi hingga malam memang beragam. Aku tidaklah membatasi, mereka boleh nonton apa saja. Kok gitu? Emang gak takut mereka jadi kecanduan terus kurang gerak dan malah seharian duduk aja di depan tv?

Ini studi kasus anakku ya jadi bisa dipakai atau hanya masukan saja saat memutuskan harus mengambil cara yang bagaimana untuk membentuk rutinitas anak.

Bangun tidur. Mandi. Sarapan. Nonton kartun. Jam kartun selesai maka secara otomatis Gara akan mengeluarkan mainan yang sedang dia sukai. Main bersama adiknya. Adiknya ikut pola Gara kalau tidak begitu mengantuk. Geni memang masih tidur tiga kali dalam sehari dan hanya dua jam di setiap sesinya. *tidur apa les gitar mak pake sesi segala

Balik ke kartun. Pada saat semua judul kartun telah Gara tonton, sekarang dia hanya fokus saat Hi5, Shaun the sheep, Rainbow Ruby, dan Tayo. Ketika kartun lainnya tayang dia akan ambil mainan dan menata semua balok untuk dia rancang. Bila rancangan sudah selesai maka dia akan mulai menggunting kertas lalu membuat perlengkapan pesta. Topi dan juga baju.

Jadi tidak ada masalah membiarkan dia menonton semua kartun. Apapun kartunnya yang penting aku dampingi untuk memberikan penjelasan atau masukan yang diperlukan. 

"Terus yang nemenin aku siapa?" ujar Gara ketika aku pamit untuk memasak makan siang.

Dia akan dengan senang hati mengikuti dan berusaha ambil peran membantu ibu.

"Dipetik bu? Biar bersih? Biar kumannya mati?"

Ada masa di mana Gara terlalu cerewet lalu memberikan kejutan saat bisa mengganti channel yang ada kartun.

"Satu sama sembilan bu nomornya. Yang melengkung ke bawah kan."
"Ya nak, sembilan itu yang melengkungnya ke bawah."

Dia tahu angka yang menurutku hanya sambil lalu saja aku ajarkan. Ah nak, kamu memang sponge penyerap yang luar biasa. 

Hi5 saat ini jadi favorit Geni. Dia akan bergoyang mengikuti alunan musik dan juga tarian yang sedang Hi5 peragakan. Motorik kasar secara tidak langsung ikut dilatih dan motorik halus juga berkembang. Tampak ketika Geni mulai memegang gelas sendiri dan mengontrol masuknya air ke mulut.

Anak-anak belajar dari sekitar. Tidak usah terlalu parno dengan apa yang dia tonton asal kita mendampingi dan selalu memberikan jawaban atas semua penasaran yang mereka rasakan. Mereka kadang tumbuh jadi lebih pintar, kuat, dan mandiri hanya ketika kita merasa sedang berkedip. Maka dari itulah dampingi secara utuh dan penuh agar kita tidak melewatkan sedetik saja perubahan mereka.
"Ibu, lelahmu akan terbayar hanya dengan senyum dan pelukan hangat dariku.    Ibu, nilaimu akan selalu 100 jadi tak perlulah kau merasa rendah diri.        Temani aku hingga masanya berganti dan akulah yang akan menemanimu.          Bersabarlah karena itu hanya sekedipan mata saja." 
Kartun ada masanya begitu pula kebersamaan kita bersama anak-anak. Sungguh indah bila kita bisa bersama mereka untuk tumbuh, belajar, dan beranjak dewasa. 
Minggu, 13 Agustus 2017

[Komentar Apik] The Passionate Marriage, Membuat Kenangan Indah demi Melalui Masa Lalu yang Sulit

Novel ke 34

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Grasindo

Tahun      :   Maret 2017

Halaman  :  242

"Wow, sebentar!" Philip mengangkat kedua tangannya ke udara. "Sepertinya kita akan menghabiskan waktu lumayan panjang untuk membahas soal 'level' ini." Dia menoleh ke kiri dan memanggil Sigit yang sedang membersihkan peralatan masak. "Mas, aku harus membajak Mbak Mila sebentar. Tolong jangan marah, ya?" (halaman 13)
Bagaimana Philip mengatur strategi untuk mendapatkan cinta Gwen?

Sungguh ini adalah novel yang sangat manis. Lebih dewasa dan juga matang. Indah Hanaco benar-benar berhasil membuat jantung berdegup saat adegan malam pertama tercipta. Bacaan yang tepat bagi pasangan dengan label "just married".

1. Kamu akan meleleh dengan perhatian yang Philip berikan untuk Gwen

Pasangan yang baru menikah akan melalui masa-masa penyesuaian. Diawali dengan hal-hal yang manis seperti bulan madu, eksplor tentang kekurangan dan kelebihan, ataupun menjelajah saat malam tiba, berdua, di ranjang. Nah Philip dan Gwen juga saling mengenal karena tidak melalui masa pacaran melainkan langsung menikah.

"Beratku lima puluh kilogram. Kau mungkin akan mengalami patah tulang kalau terus memangku dan memelukku begini." (halaman 84)

Ketika pasangan sedang meraba-raba apa itu cinta, apakah benar mereka saling cinta, dan mulai membuka diri. Pasangan harus benar-benar membuka semua indera. Tidak memasukkan ego. Hanya empati ya cukup berusaha merasakan apa yang sedang dihadapi oleh pasangannya.

"Andai mereka bisa bertukar tempat, Philip pun takkan sudi membongkar rahasia sekelam itu. Ini bukan soal kepercayaan, melainkan tentang menjauhkan orang yang dicintai dari hal-hal menjijikkan yang tak bisa diubah. Keadaan takkan membaik hanya karena Gwen menceritakan rahasianya pada Philip. Memangnya apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki masa lalu istrinya?" (halaman 137)


2. Bagaimana seseorang berpikir positif setelah badai memporak-porandakan hidup

Hidup Gwen Camelia tidaklah mudah. Dia berumur 22 tahun saat memutuskan menerima tawaran Philip Renard untuk menikah. Itupun setelah Philip menyelamatkannya dari tragedi yang diciptakan Ben.

Tidak ada ayah dan ibu, harus merawat si kembar dan memutuskan untuk menunda kuliah demi dua adiknya. Belum lagi kakak tirinya, Elvi kakaknya yang jalang yang hanya pantas diceburkan ke neraka untuk semua penindasan yang dia lakukan kepada Gwen.

"... Pada akhirnya Gwen tidak mau lagi berandai-andai. Dia menjalani apa yang memang digariskan, tidak menginginkan segala hal yang mustahil terjangkau. Gwen menolak untuk makin jauh terperangkap pada ketidakbahagiaan." (halaman 159)

Menikah, membawa masa lalu masing-masing, pastilah tidak akan berhasil jika pasangan hanya berkutat pada masa yang tidak bisa diubah itu. Masih cemas ketika mantan sang suami menghubungi. Kalang kabut ketika istri curhat tentang mantan yang masih belum move on. 

Gwen dan Philip benar-benar berjuang melangkah ke depan, menyongsong kehidupan baru mereka. Berusaha membuat kenangan-kenangan baru untuk menggantikan kenangan-kenangan perih yang terjadi di masa lalu.


3. Gangguan ada di mana saja dan kitalah yang harus mengambil sikap 

"Aku tahu ceritanya," balas Rafe kalem. "Tapi nggak perlu cemas. Suamimu ini kebal godaan, Gwen. Aku ada di kantornya saat Sondra pingsan. Kami membawanya ke klinik. Aku juga ada di sana waktu gadis itu membawakan makanan untuk Philip. Suamimu bahkannggak mau menyentuh makanan itu dan malah memberikannya ke satpam. Aku juga ada waktu Philip memanggil Sondra minggu lalu. Dia memarahi gadis itu karena sudah menemuimu dan mengoceh tak keruan. Bahkan aku sampai merasa iba pada Sondra karena Philip begitu galak. Gadis itu, sudah cintanya ditolak mentah-mentah, masih dimarahi pula. Setelahnya, masih dilarang dekat-dekat ruangan Philip. Dia..."
(halaman 234)

Sebenarnya novel ini adalah cubitan bagiku. Bahwa ada banyak laki-laki di luar sana yang setia seperti halnya Philip. Namun aku sebagai wanita tidak cukup berani untuk percaya. Yakin bahwa ada laki-laki yang mampu bertanggung jawab akan istri dan menghalau semua godaan yang ada. Ya membaca memang menyelamatkan.


4. Katarsis

"Sejak kapan ada samsak di belakang rumah kita?"
"Sejak tadi pagi. Aku biasa memukuli benda itu saat sedang punya masalah. Itu caraku melepaskan emosi. Supaya nggak ada orang di sekitarku yang matanya lebam," gurau Gwen. "Sejak pindah ke sini, aku belum pernah lagi meninju benda itu."
"Itu cara yang cerdas untuk menyalurkan emosi. Sungguh, aku lebih suka kau memukuli benda itu ketimbang menjadi sasaran. Meski aku mencintaimu, aku sangat menyayangi mata dan wajahku."
(halaman 139)

Pernikahan: dua karakter, dua sifat, dan dua latar belakang. Pernikahan adalah perjalanan. Harus ada yang dipersiapkan, langsung dijalani saja, atau berbekal seadanya. 

Ketika perjalanan menjadi sangat berat dan penuh badai, tidak ada salahnya untuk menepi. Melakukan hal-hal yang bisa membuat pasangan bahagia. Jika perlu waktu menyendiri, keluar rumah, atau sekedar mengubah penataan ruangan. Setelah siap maka bisa kembali mengarungi perjalanan yang bernama pernikahan.

5. Menikah tak melulu soal punya anak

"Gwen bukannya tidak menginginkan itu, tapi prioritasnya saat ini menyelesaikan pendidikannya. Seharusnya Gwen sedang bersiap untuk menjadi sarjana. Namun karena harus menunda kuliah dan sempat cuti, dia masih menjadi mahasiswi semester tiga. Perempuan itu sudah bersepakat dengan suaminya untuk menunda dulu masalah bayi hingga Gwen menjadi sarjana." (halaman 163)

Philip memberikan kebebasan sepenuhnya pada Gwen untuk merampungkan pendidikannya. Sungguh ini terjadi di dunia nyata. Suami dengan kesadaran penuh memberikan istri hak sepenuhnya untuk mengenyam pendidikan yang diimpikannya. Setelah menikah, istri bisa dengan bahagia belajar untuk mengaktualisasikan diri dan juga bekal mendidik anak-anaknya. Suami paham bahwa pendidikan dan ilmu inilah yang nantinya akan menjaga mereka.

Buat yang mau menikah, tambahlah pengetahuan! Paling tidak bekali diri dengan pengetahuan tentang konsekuensi apa yang akan dihadapi setelah kata "sah" diamini. Jika tidak mau, kenali lah pasangan! Pastikan agar tidak membeli kucing dalam karung yang berujung pada penyesalan. 

Meskipun Philip ada di dunia nyata tetapi kisahnya terbatas di novel dan berakhir bahagia. Intinya tidak ada yang sempurna. Kita harus punya seribu satu cara bahkan lebih untuk melalui perjalanan kita sendiri.

Buat yang sedang dalam perjalanan bernama pernikahan, novel ini bisa menjadi pengingat bagaimana awal-awal pernikahan yang manis. Perjalanan masih terus berlanjut dan semoga selalu menemukan bahagia di setiap haltenya.

Makasih buat Indah Hanaco yang sudah menuliskan kisah Philip-Gwen dengan dinamika yang nyata dan penuh pembelajaran.
Sabtu, 12 Agustus 2017

Potong Sayap, Pernikahan dan Pernak-Perniknya

Apa sih yang kamu harapkan dari ikatan pernikahan? Tampak laku, mewujudkan keinginan orangtua, atau memang cita-citamu adalah menikah.

Dulu aku berpikir akan menikah di usia kepala tiga. Malah awalnya sempat berpikir tidak akan menikah. Wew! Pernikahan itu hal mustahil bagiku yang semasa kecil jadi saksi sekaligus korban KDRT. Belum lagi pelecehan yang membuatku menggambarkan pernikahan adalah "potong sayap" bagi seorang wanita. Kasur, dapur, sumur. Begitu sulit untuk wanita bisa berkembang tanpa intimidasi. Wanita itu ya tugasnya melayani suami baik di kasur, merawat dan menjaga jika sakit, serta siap mengalah jika ternyata suami adalah tulang punggung bagi keluarga mertua.


Tidak, aku tidak hendak menakut-nakuti. Kamu pasti punya pandangan sendiri tentang pernikahan. Bagaimana setelah ijab qabul lalu memamerkan buku nikah dan juga cincin setelah itu pesta meriah digelar, tentu itulah bayangan pernikahan yang ideal. Setelah pesta usai, pasangan berbulan madu dan menikmati masa berdua hingga bosan baru punya anak. Bukan yang setelah menikah, di bulan berikutnya istri sudah hamil dan belum cukup mereguk kenikmatan sebagai pengantin baru. Ish, ada lagi yang setelah menikah malah menambang di dasar laut. What a perfect life. Tentu saja  kita cenderung menggambarkan sesuatu yang indah jika memang masa lalu kita indah. Tidak ada tuh pikiran aneh-aneh yang hinggap seputar harus berhenti bekerja, kehilangan waktu untuk diri sendiri, dan berhenti bermimpi untuk sekedar mengaktualisasikan diri.

Tulisan ini sekedar memberikan gambaran nyata tentang kasus-kasus yang terjadi setelah pernikahan.

"Semenjak menikah aku berhenti bekerja mba. Suami ingin cepat punya anak sebelum dia pensiun."

"Aku jadi kaya mesin produksi bayi tahu mba. Setiap tahun melahirkan. Ini aku lagi hamil anak keenam. Lihat badanku mba! Gopret. Aku aja males banget ngaca sekarang."

"Suamiku selingkuh. Katanya aku kurang seksi."

Dan percaya atau tidak ada banyak kasus "potong sayap" seperti ini. Boro-boro beli tas kesayangan, mau keluar sama teman-teman dekat aja susah. Bagaimana pernikahan bukanlah komitmen untuk saling membahagiakan melainkan untuk saling mengalah. Semacam perlombaan yang salah satunya harus terus-terusan menang dan pihak lainnya bertubi-tubi menelan kekalahan. Mau terbang sayapnya tinggal satu, mau jalan kikuk karena biasa terbang, dan akhirnya membiasakan diri terseok-seok dengan satu sayap plus kucuran darah.

Tidak hanya dari sisi istri, banyak juga kok cerita-cerita miris para pria setelah menikah. Ada yang jual ginjal untuk kebutuhan sosialita istrinya, diremehkan mertua karena gaji tidak ada setengah acan dari istri, dan akhirnya terlibat kasus korupsi atau tindakan perampokan.

Komunikasi untuk menuju kata saling. Menikah adalah dua orang. Tujuannya saling membahagiakan baik jiwa maupun raga. Anak, harta, dan kekuasaan adalah amanah. Harus membangun pondasi yang kuat berdua barulah mulai berjuang lebih keras agar pantas diberikan amanah.

Bila ternyata istri belum bisa jadi ibu rumah tangga penuh maka tidak perlulah menuntutnya untuk segera menyesuaikan diri; kursus memasak, belajar pijat bayi, atau les tari perut biar seksi. Apalagi merasa tertekan dengan gajinya yang tinggi lantas membuat lingkungan penindasan saat pulang ke rumah mertuanya. 

Begitu pula istri sebaiknya mulai menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan secepat yang kamu bisa. Tidak perlu memaksa suami, tahu batasan, dan mulailah untuk membuka diri.

Ngobrol, tukar pendapat, atau curhat. Kan sama istri atau suami sendiri. Sah di mata agama dan hukum. Kenapa harus malu atau sungkan seperti dengan orang lain. Bayangkanlah dia itu sahabat jika perlu membicarakan hal-hal yang sensitif agar tidak ada lagi rahasia ataupun kebohongan. Lakukan kejahatan bersama bila kehidupan terasa membosankan. Suami istri sampai mati. Badai kemiskinan, ujian kekayaan, dan surga keluarga sakinah sungguh akan dinikmati bila berdua. 

"Recipe for a happy marriage: My Wife and I always hold  hands. If I let go, She shops." (Red Skelton)
Tentang bagaimana pasangan akhirnya tahu, mengerti, lantas memahami bukanlah hal yang rumit. Hanya asumsi yang perlu mereka kalahkan lalu ego dan ke-akuan.Kembali lagi pada tujuan pernikahan itu sendiri. 

Maka dari itu untuk yang belum terjerumus pada "pernikahan yang salah", sebaiknya lihatlah tujuanmu menikah. Semoga bukan karena ingin terlihat laku, menyenangkan orangtua, atau sekedar ingin tahu rasanya menikah. Jadikan pernikahanmu ladang pahala dan juga bekal untuk kembali pada yang hakiki. Tuhan.


Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design