Featured Slider

Komunikasi Produktif, Hari 12 Hebat Bukan Berarti Tidak Pernah Gagal


Hari ini merasa gagal banget komunikasi dengan kesayangan-kesayangan. Badan rasanya lelah padahal cukup tidur dan habis mendengarkan IG Live mas Adjie tentang overthinking. 

Apakah aku tidak boleh gagal? Boleh dong ya. Siapa yang mengharuskan untuk jadi hebat gak boleh gagal?

Hebat yang bagaimana sih? Hebat yang membuat seseorang sadar dan menerima utuh juga penuh dirinya sendiri. Kemudian bisa menerima jika segala ketidakpastian itu akan semakin menyakiti bila ditambah ekspektasi tinggi.

Begitu aku berhenti sejenak dan melihat diriku sendiri, oh di sanalah aku harus kembali.

Dalam komunikasi produktif ternyata tidak melulu berhubungan dengan orang lain melainkan diri sendiri juga. Eh kok baru sadar setelah hari kedua belas. Ya gak papa mungkin harus salah dulu untuk tahu apa yang benar.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Pilihan kata, bagaimana bisa berkomunikasi yang produktif bila kosakata terbatas. Terus jadi tambah rumit untuk menyampaikan pesan dengan jelas jika aku tidak punya kosakatanya.

Waktu yang tepat juga akan sulit ditemukan bila aku belum selesai dengan diriku sendiri. Kok bisa? Ya iyalah maunya orang lain aja yang mengalah, akunya ya ogah lah.

Mengendalikan emosi, bagaimana bisa mengendalikan kalau menerima siapa diri aku saja kadang masih terbata-bata. Masih sering nanya ke orang, aku tuh gimana sih?

Observasi, apa yang mau diobservasi kalau rutinitas saja gak punya.

Bingkai referensi dan pengalaman yang seharusnya membimbing menuju nalar yang lebih panjang malah berhenti pada rasa sakit serta masa lalu.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Aku istri macam apa sih? Bolak-balik suami menegaskan kalau baik kekurangan maupun kelebihan aku akan diterima dengan ikhlas.

Aku ibu macam apa ya? DuoG menerima juga segala kasih sayang juga kegalakan.

Jadi kenapa aku masih saja merasa minder untuk bisa menerima diriku sendiri?

Pada titik berhenti kali ini aku menemukan jika gagal adalah asahan pisau agar pisau kembali tajam dan maksimal digunakan. Selain itu saat berhenti aku juga menyadari kalau menerima ketidakpastian dalam hidup itu jauh lebih masuk akal daripada terus menggenggam ekspektasi.

Besok aku akan coba lagi berkomunikasi dengan diri sendiri saat gigi gemeletuk menahan marah. Berterima kasih pada diri untuk tetap kembali sadar jika anak itu punya hak untuk disayangi bukan sekedar pelampiasan emosi.

πŸ‘¨πŸ‘¦πŸ‘Ά "Peluuuk, Ibu!"
πŸ‘©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


#hari12
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 11 Lepaskan Kesempurnaan

You can't be perfect but can be better!

Ada satu pemandangan yang lupa aku ceritakan. Ini kejadian yang sudah lama tetapi komunikasi aku dengan kesayangan-kesayangan mengingatkan aku pada pagi yang penuh pembelajaran. 

Tentang pemandangan seorang ayah yang menggendong putrinya naik motor sendirian. Tentang ingatanku saat hamil Geni dan suamiku menyusul dengan membawa serta mamas Gian. Naik motor laki yang susah kalau anaknya tiba-tiba tertidur. Si ayah itu juga berkali-kali berhenti untuk memastikan posisi gendongannya benar. Berjalan perlahan agar anak perempuan dalam gendongannya tidak terbangun. Suamiku juga bolak-balik ditegur karena mamas Gian tidur. Ya mau bagaimana, jadwal dokter yang mengharuskan aku berangkat lebih dulu. Kemudian mamas Gian minta menyusul ibu. Ketika melihat ayah itu, aku ingin sekali turun dan membantu. Ingin mendengar cerita dibalik kenapa dia sendiri yang menggendong anaknya. Apakah karena istrinya harus ke dokter lebih dulu? Sayangnya aku sudah ada tugas hari itu.  

Terlepas dari semua kekurangan yang semua orangtua di dunia ini miliki, kita pasti mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak. Re-framing sosok bapak yang jadi hantu masa lalu aku. Benar-benar ingin melepaskan kesempurnaan dan menjadi orangtua yang lebih baik lagi.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘¨"Aku kan sudah meminta kamu terlalu banyak. Setidaknya aku bisa kasih sesuatu yang jadi passion kamu."
Saat yang tepat karena memang lagi butuh ngobrol masalah kerjaan, passion, dan juga impian.
πŸ‘¨"Tapi ya sabar sampai tahun depan kalau memang masih mau kuliah psikologi."
πŸ‘©"Jalani dulu saja. Takutnya di tengah jalan galau pindah haluan lagi."
πŸ‘¨"Ya semoga pas gak galau, semuanya udah siap. Ya waktu, tenaga, dan modalnya. Lagian kalau kamu mau kuliah lagi kan bisa mendidik anak-anak jadi lebih baik. Mempersiapkan anak-anak jadi pribadi yang lebih baik. Gak hanya terlunta-lunta di rumah saja."
πŸ‘©"Ya selama ini aku memang merasa berat sekali untuk sekedar berada di rumah. Berurusan seharian hanya dengan anak-anak. Terus ketika kamu menawarkan kuliah lagi entah kenapa rasanya jauh lebih baik."

Melepaskan kesempurnaan kemudian berkomunikasi dengan pasangan secara produktif serta pada akhirnya menyamakan tujuan: menjadi orangtua yang baik dan benar. Butuh menggunakan nalar memang karena bila emosi menguasai komunikasi akan berakhir dengan pertengkaran tak berkesudahan. Maunya dimengerti tetapi ogah mengerti. Nah komunikasi produktif inilah yang dulu gagal aku dapatkan dari kedua orangtuaku, karena itulah aku tidak mau anakku juga berakhir menduga-duga dan salah asumsi padaku dan suamiku. Bila anak-anakku melihat kami bisa berkomunikasi secara produktif maka mereka akan mencontoh juga nantinya.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
Melepaskan kesempurnaan juga termasuk mampu menyaring suara-suara dari luar kemudian menyesuaikan dengan visi dan misi keluarga sendiri.
πŸ‘¦"Ibu, yayi kok marah-marah terus. Aku gak suka yayi."
πŸ‘©"Nak, justru itu karena yayi sayang makanya yayi mengingatkan mamas. Memang mamas mau didiemin aja sama yayi?"
πŸ‘¦"Gak mau. Terus kenapa aku harus makan pakai tangan kanan. Yayi ingetin aku terus. Aku bosen."
πŸ‘© "Tangan kiri, kalau nanti mamas sudah bisa, akan dipake buat cebok mamas. Tangan buat cebok terus dipake buat ambil makanan, kira-kira gimana?"
πŸ‘¦"Jorok ibu."
πŸ‘©"Sip! Mamas pintar sudah tahu tangan kanan buat makan tangan kiri buat cebok."
πŸ‘¦"Tapi kalau udah cuci tangan gimana ibu?"
πŸ‘© "Contoh Nabi Muhammad nak, beliau kalau makan pakai tangan kanan."
πŸ‘¦"Sholat juga."
πŸ‘© "Iya dong."

Komunikasi produktif hari ini diawali dengan mengendalikan emosi terus intonasi yang bersahabat juga bahasa tubuh berupa belaian rambut saat anak merajuk. 

Si ayah itu dan suamiku mungkin memiliki kesamaan, akan menjelaskan dengan pilihan kata yang paling mudah dipahami anak-anak jika istri mereka kebetulan lagi kumat gesreknya. Sementara kalau istrinya waras selalu mendukung apapun yang istrinya tanamkan pada anak-anak.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘©"Adek berenangnya  besok ya. Sudah malam, dedek mau apa dulu?"
πŸ‘Ά"Bobok."
πŸ‘©"Uwi-uwinya mau dibawa?" *pelampung bentuk mobil polisi
πŸ‘Ά"Iya bawa."

Umur dua tahun sudah mampu diajak kompromi. Melepaskan kesempurnaan dengan menikmati perkembangan tanpa ada tuntutan-tuntutan harus begini, harus begitu. Penting untuk mengatakan apa yang aku mau anak lakukan. Aku beri deskripsi sesuai yang dedek Geni tahu.

#hari11
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 10 Terus Membuka Jalan

Ketika berkomunikasi, haruskah selalu dekat? Bagaimana dengan yang long distance marriage, terus yang anaknya masuk pesantren, belum lagi kalau anaknya lebih lengket ke asisten rumah tangga.
Terus membuka jalan, untuk berkomunikasi meski terkadang disertai pertengkaran juga tangis penyesalan. Dari semua kesalahan semoga Tuhan berikan pemahaman.
🎁🎁🎁
Ada yang pernah bilang padaku kalau menikah itu seperti membuka kotak kado. Ada yang aku inginkan, ada yang sesuai kebutuhan, banyak juga yang tidak sesuai keinginan. Begitu game level 1 dimulai, aku sering melihat kembali ke masa-masa awal pernikahanku. Ada masa dimana aku dan suami hanya tinggal di satu atap tetapi jiwa kami terpisah. Larut dalam imajinasi sendiri. Ada banyak luka yang belum terselesaikan bagiku.

Setelah sempat long distance marriage, aku dan suami mulai lagi dari awal. Benar-benar seperti dua orang asing. Aku tak hendak mengenalnya lebih jauh, banyak hal yang aku simpan sendiri. Apa-apa yang aku rasa lama-lama menutup semua jalan masuk bagi suamiku untuk lebih mengenalku.

Alhamdulillah semua jalan kembali terbuka sekarang. Aku mulai menuntaskan masalah satu persatu agar tidur dalam keadaan plong. Bangun tidur dengan segar. Komunikasi kembali kami tingkatkan. Mulai dari memberi kabar agar saling tahu posisi, mengurangi buruk sangka, dan berusaha untuk produktif saat ada di rumah. Tidak lagi diam-diam, mulai bertanya agar jawaban panjang dan ada unsur mengungkapkan perasaan, serta memaknai pertengkaran sebagai pembelajaran. 

πŸ‘©"Aku akan mulai mengungkapkan yang aku rasa. Aku juga akan mengurangi baper. Kalau sudah ya sudah, gak akan ungkit-ungkit."
πŸ‘¨"Pelan-pelan aja gak usah ngoyo. Kurangi dulu aja pikiran yang gak terlalu penting."
πŸ‘©"Oh kirain mau minta gak usah mikir."
πŸ‘¨ "Susahlah. Apalagi wanita, apa saja dijadiin pikiran, beban. Makanya aku tuh suka dan dukung kalau kamu nulis. Setidaknya ada yang berkurang lah yang ruwet di pikiran."
πŸ‘©"Kok kamu ngerti banget sih Bi."
πŸ‘¨"Ya lumayan lah dari 2005."

Weh lama juga yak. Udah 13 tahun. Coba kalau kami sama-sama tidak bertumbuh dan terus membuka jalan komunikasi? Aku akan menyerah pada dia yang masih aja susah taruh piring kotor ke tempat cuci, suami juga akan ogah karena aku terus menerus mengungkit hal-hal yang telah berlalu. Clear and clarify tidak akan dilakukan. 
πŸ‘©"Gak paham ya udah."
πŸ‘¨"Tinggal ngomong lagi apa susahnya sih."

Ya karena waktu itu aku belum paham bagaimana sih komunikasi yang produktif itu. Ternyata harus mengerti dulu kalau kami berasal dari lingkungan, cara didik, juga pengalaman yang berbeda. 
Nah sekarang begitu paham ya usaha untuk setiap hari praktik. Gak gampang jengkel kalau suami bawa pulang sate ayam doang tanpa sop daging karena instruksi kurang lengkap.
πŸ‘¨"Emang adek bilang kalau minta beli sop?"
πŸ‘©"Gak sih, adek pikir Bi inisiatif karena kan sate disitu ada sop dagingnya juga."
πŸ‘¨"Maaf ya adek gak bilang jadi ayah ya belinya sesuai pesanan."
Tidak lagi jengkel karena sudah tahu harus tanggung jawab jika tidak memberikan instruksi yang jelas.

Aku tuh gak bisa bohong kalau udah menatap mata suamiku. Ya memang disitulah jalan untuk komunikasi produktif. Terbuka dan jujur.
πŸ‘©"Aku lelah banget hari ini. Anak-anak jadi korban omelan aku."
πŸ‘¨"Oke kita jadwalin terapi ya. Biar semua kembali sadar dan waras."
🎁🎁🎁
Komunikasi produktif, kejarlah aku! πŸ˜‚πŸ˜‰

Anak-anak akan tetap membuka komunikasi karena segalak apapun orangtua, mereka tetap yakin orangtualah tempat ternyaman untuk kembali.

πŸ‘¦" Ibu aku kadang jahat suka marahin aku tapi kadang baik juga. Aku sayang ibu."
Jawaban jujur dari mamas Gian ketika ditanya tentang ibunya.
Dari jawaban itulah aku merenung. Memang setelah ngomel atau bentak, sebisa mungkin aku jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi kemudian meminta maaf. 
Seburuk apapun keadaan hari itu, sebisa mungkin aku jelaskan. Hanya sejenak menutup akses agar tidak kebablasan marahnya.

Fokus ke masa depan, membahas kesalahan di masa lalu sebagai pembelajaran.
πŸ‘¦"Dulu aku dimarahin ibu kalau pipis di celana. Terus aku sudah lima tahun, aku sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi ya bu? Kenapa sih?"
πŸ‘©"Ya karena mamas belajar terus. Berlatih sampai bisa. Terus kalau udah enam tahun, bisa bobok sendiri?"
πŸ‘¦"Iyalah kan aku hebat."

Jelas dalam memberikan pujian mempengaruhi mamas Gian dalam menentukan target bagi dirinya.
πŸ‘©"Ya mamas hebat sudah bisa pipis dan mandi sendiri."
πŸ‘¦"Entar kalau aku udah enam, aku boleh buka lego yang enam ya bu. Eh kalau aku udah bisa bobok sendiri.

Terus menerus membuka jalan komunikasi tentu akan menghasilkan. Keep the good work and pray hard.
🎁🎁🎁
πŸ‘Ά"Sayang ibu."
Justru dari Genilah aku belajar intonasi dan bahasa tubuh yang jujur nan tulus.

Tiba-tiba anak aku yang berumur 2 tahun 6 bulan ini begitu cepat menyerap kosakata-kosakata di sekitarnya. Aku merasa tiba-tiba karena kadang aku tidak tahu darimana dia dengar. Ya walaupun sebagian dia serap dari aku, suamiku, dan mamas. Mungkin sebagian lagi dari kartun-kartun yang dia tonton.

Observasi sebagai cara untuk meredam emosi dan memahami lebih jauh.
πŸ‘Ά"Aku capek ibu."
πŸ‘©"Kenapa bisa capek?"
πŸ‘Ά"Main terus."
πŸ‘©"Bagaimana kalau kita beresin biar dedek bisa bobok?"
πŸ‘Ά"Biar sakit kena mainan. Ayo ibu ayo beresin."
Dengan cepat bisa memutuskan. Modal telinga, sedikit kesabaran, dan ketulusan.
🎁🎁🎁
Hari ke sepuluh dan masih terus membuka jalan untuk komunikasi yang produktif.

Mengejar ketinggalan. Menikmati hari ini. Menurunkan kecemasan akan hari esok.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 9 Tanpa Ego Bisa Lho!

Ketika kehilangan semangat untuk sekedar bangun dari tempat tidur, mager, dan hanya melayangkan angan tanpa eksekusi. 

Ego menguasai, bermalas-malasan. Suami berangkat dengan perut kosong, anak-anak harus menunggu lama sekedar ingin makan roti oles selai coklat, kepala pening karena kebanyakan tidur.

Komunikasi produktif memang seperti jembatan yang menghubungkan satu ego dengan satu jiwa tulus untuk sekedar mengetuk.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¨"Kalau sudah menyadari tinggal atur strategi agar berubah."
πŸ‘©"Apa kamu gak nyesel punya istri macam aku?"
πŸ‘¨"Kita sama-sama berjuang ya. Gak perlu kebanyakan pikiran yang gak penting. Fokus dan tuntaskan."

Suamiku tahu pasti apa mimpiku. Dia tidak pernah memaksa aku untuk ini dan itu. Akulah yang kadang-kadang kehilangan diriku sendiri. Berusaha selalu menguatkan diri agar tuntas.

πŸ‘¨"Makan pedes boleh tapi gak usah nyiksa diri ya."
πŸ‘©"Iya tapi jadi cemen. Level dua aja udah nyerah."
πŸ‘¨"Gak papa yang penting gak sakit perut kan kamunya?"
πŸ‘© "Aku buat foto aja. Cicip sedikit terus bagi ke mba Dini."
πŸ‘¨"Kalau gak bisa gak usah dipaksa."
Bahan komunikasi kami, seblak level 2 πŸ˜‰
Aku yang suasana hatinya naik turun tetap berusaha menemukan waktu yang pas agar mampu berkomunikasi dua arah dengan suami. Sama-sama memastikan bahwa kami baik-baik saja di sela-sela kerjaan masing-masing merupakan komunikasi yang kami usahakan untuk tetap sadar dan waras.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¦"Ah bikinan ibu jelek."
Protes mamas Gian saat aku membuat mobil perang dari lego.
πŸ‘© 😈 agak bertanduk tapi masih diem dan fokus biar egonya gak menang. Setelah marahnya mereda baru mulai ajak komunikasi.
πŸ‘© "Mamas mau coba bikin? Pasti bisa."
πŸ‘¦"Aku nunggu ayah aja ah. Biar bikinnya bagus."
Di satu sisi senang karena mamas paham siapa yang lebih mampu. Ya memang aku sebagai ibunya belum cukup mampu kalau urusan merakit lego. Sadar diri lah tetapi aku ingin menunjukkan pada mamas artinya usaha dan ketekunan akan membawa hasil suatu saat nanti.
πŸ‘©"Apakah mamas belum mau mencoba seperti yang ibu lakukan?"
πŸ‘¦"Aku udah coba tapi copot-copot terus. Gak tahu salah dimana."
Hihihi, aslinya pengen nyeletuk kalau kualitas kadang dipengaruhi harga. Namun observasi dan penerimaan emosi  cukup sampai di sini hari ini.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘Ά"Ahhh ibu payah."
Ternyata kata itu masih saja melekat hingga hari ini. Meskipun nadanya lebih ke becanda daripada kritikan. 
πŸ‘©"Dedek Geni hebat, dedek Geni hebat, dedek Geni memang hebat. Anaknya ibu Apik." (🎢🎡nada happy birthday)
Pengalihan untuk aku karena memang Geni tidak bermaksud untuk mengkritik ibunya.
πŸ‘©"Dedek kita main air yuk. Tuang di ember."
πŸ‘Ά"Air mancur ibu, bagus ya ibu."
Kemudian aku bisa menikmati mata berbinar Geni saat mengeksplor air dengan menuang ke ember yang sudah dibolongi sehingga bisa menyerupai air mancur.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
Bila mengikuti ego pastilah aku akan berkomunikasi dengan gaya memerintah dan melarang ini itu. Namun aku sadar itu akan merusak komitmenku untuk menjadi orangtua yang sadar.

Tanpa ego, asal aku mau mengambil jeda agar bisa sejenak hening mengembalikan lagi kesadaranku untuk hadir utuh bersama kesayangan-kesayangku, ternyata bisa lho.πŸ˜‰

Ya kembali ke niat. Tidak ada orangtua yang sempurna tetapi tidak akan benar jika hanya mengikuti ego tanpa menyertakan kesadaran juga kewarasan. 

#hari9
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 8 Komitmen Menjaga Amanah

Katanya sayang sama anak-anak tetapi gampang marah saat mereka melakukan kesalahan kecil.

Katanya anak-anak adalah amanah kenapa tangan begitu ringan untuk mencubit, menampar, bahkan menghabisi nyawa mereka. 

Cerita-cerita sedih nan miris seputar hubungan orangtua dan anak membuat aku dan suami mengkaji ulang bagaimana pola asuh yang kami terapkan.

Komunikasi produktif yang sedang kami pelajari, membuat kami akhirnya berkomitmen untuk kembali pada kesadaran menjaga amanah. Bertanggung jawab atas titipan dan terus menerus belajar agar lebih berusaha membuktikan pada anak-anak kalau kami bersungguh-sungguh sayang mereka.

Memang butuh satu kampung untuk membesarkan anak tetapi berawal dari tim orangtua yang kompak
πŸ™…πŸ™πŸ™…πŸ™
Aku mulai paham kalau memberikan waktu istirahat sejenak setelah suami pulang kerja adalah bentuk kesadaran demi komunikasi yang lebih produktif.
Tidak lagi terus menerus menuntut suami 'tahu diri' melainkan sama-sama tahu waktu yang tepat. 

Selain itu, memastikan kontak mata dan bahasa tubuh yang tepat jauh lebih mudah jika sama-sama dalam kondisi sadar utuh dan penuh.

πŸ‘¨"Besok kita bicarakan ya gimana enaknya. Cari jalan tengah yang tepat."
πŸ‘©"Iya harus sesuai biar anak tetap punya waktu di luar tetapi juga gak ketinggalan masa kemajuan teknologi."
πŸ‘¨"Tetap main di luar dan hp maksudnya." 
πŸ‘« Sepakat πŸ‘«

Kejutan hari ini adalah duoG anteng dan mengikuti acara ulang tahun sepupu mereka. Iya sepertinya setelah aku melepaskan diri untuk tidak terlalu mengontrol mereka dan mulai berkomunikasi dengan tenang juga sadar, mereka santai serta menikmati.

πŸ‘© "Nak, ibu fotoin kakak Iqbal dulu ya."
πŸ‘¦πŸ‘Ά "Iya ibu."
πŸ‘© " Duduk ikutin acara. Oke."
πŸ‘¦πŸ‘Ά "Oke."


Setelah selesai acara, mamas membantu memasukkan kado ke kardus besar dan dedek menikmati donat.

πŸ‘© "Terima kasih mamas sudah mau membantu. Hebat!"
πŸ‘¦ "Iya aku kan udah 5 ya bu. Hebat!"
πŸ‘©"Dedek juga hebat bisa habis donatnya."
Meskipun cemot-cemot aku mampu mengolah emosi kemudian berpikir baju bisa dicuci tetapi otak yang tidak rusak akibat bentakan akan sulit diperbaiki. Iya aku sempat menarik napas panjang dan membiarkan diriku menerima apa yang telah terjadi.
πŸ‘Ά "Hebat ya ibu. Aku hebat."
πŸ‘‹πŸ‘‹tosssπŸ‘‹πŸ‘‹
Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Bukan hanya demi anak tetapi demi diri sendiri yang sadar dan bertanggung jawab.

#hari8
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 7 Belajar Menerima Perubahan

Mendampingi masa tumbuh kembang anak terkadang mirip rollercoaster, perut mual tetapi tidak bisa segera turun. Mau tidak mau ya harus dituntaskan hingga waktunya selesai.

Oleh karena itu, orangtua harus siap memberikan waktu dan kesabaran ketika anak-anak mulai tantrum. Saat keinginan tidak langsung terwujud, ketika ada perubahan rencana, dan ketika  dana di tengah bulan harus dihemat agar bisa bertahan hingga gaji bulan berikutnya.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ
Setiap akhir pekan tiba, kami berusaha untuk pergi jalan-jalan agar ada suasana dan hawa baru yang dirasakan.
πŸ‘¨ "Ayo kita jalan ke tempat yang ada ikannya dan makanan yang kamu pengen."
Hari sabtu aku bilang ke suami kalau pengen makan konro bakar. 
πŸ‘© "Komunikasi kita yang bisa menemukan jalan tengah begini rasanya menyenangkan ya."
πŸ‘¨ "Kita akan lewat mana nanti. Kayaknya lewat belakang aja, biar aku juga hapal jalan."
πŸ‘© "Wakakakka... Terus kamu nanya ke aku gitu. Tahu sendiri aku gak bisa baca peta."
πŸ‘¨ "Ya akan kamu tetap ada titik-titik yang familiar. Kalau nyasar juga gak akan jauh."
πŸ‘© "Baiklah."

Dan benar, kami sempat nyasar dong saudara-saudara, πŸ˜…πŸ˜…. Tidak jauh memang karena aku cukup tahu kalau lurus terus akan sampai di Tambun. Untung perginya sama suami yak. Kalau sama ojol dan dapat yang gak terimaan pasti udah dari A sampai Z tuh diceramahin.

πŸ‘¨ "Ya gak papa, nyasar kan malah jadi tambah tahu. Kalau nyampe-nyampe aja mah gak ada serunya."
πŸ‘© "Iya mungkin ini yang salah aku masukkan ke pikiran aku. Terlalu takut untuk nyasar. Makanya gak berani-berani hapalin jalan."
πŸ‘¨ "Proses lah sayang, apa-apa itu gak langsung bisa."
πŸ‘© πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Permasalahan komunikasi produktif kami semakin lama aku menyadari adalah bagaimana aku masih sulit untuk menerima perubahan. Maunya terus menerus di zona nyaman. Sudah mau clear and clarify tapi takut bukan saat yang tepat. 

Sudah siap untuk ngobrol tetapi belum siap terima hasilnya. Seolah aku siap ya suami harus siap. Menuntut orang lain. 

"Harusnya kamu tuh yang ikutan terapi."
"Aku udah melakukan banyak hal. Kamu kapan?"

Kamu, kamu, dan kamu. 

Mau berubah tetapi belum sepenuhnya menerima diri sendiri. Tentu saja yang muncul tuntutan dan tuntutan yang lain.

Belajar menerima perubahan memang masih aku latih untuk akhirnya menjadi refleks sejalan dengan poin komunikasi siap menerima apapun hasil komunikasi. Jika memang belum siap mengeluarkan semua dalam satu waktu maka ambil jeda. Takutnya ketika semua keluar kemudian meledak justru memunculkan sakit-sakit yang meluaskan masalah. Komunikasi mandeg. Tidak produktif. Maka aku akan berusaha mengambil jeda agar tidak meledak dan komunikasi tetap produktif.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

Piknik, tak perlu jauh atau mahal tetapi pelajaran apa yang bisa diambil pada perjalanan itu.

πŸ‘¦ "Ayah, ibu, aku mau makan pizza."
πŸ‘¨ "Ibumu ayah ajak ke sini untuk makan konro."
πŸ‘© Baru dengar begitu, suasana hati sudah berubah jadi jelek.
πŸ‘¨ "Ya paling dia mau es krim. Beliin saja nanti kamu masih  bisa makan yang lain.
πŸ‘¦ "Iya es krim coklat aku mau."

Suami sangat membantu dalam berdamai atau menemukan jalan tengah agar semua anggota keluarga dapat mengendalikan emosi dengan baik dan semua dapat keinginan sesuai dengan porsi.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ
πŸ‘Ά "Ibu cis."
Anak kedua sudah mulai minta jatah foto ketika aku mengangkat kamera. Itulah saat paling dekat antara kami berdua. Senyum-senyum yang disimpan sungguh mengurai ketegangan.

Pada akhirnya dalam satu forum keluarga semua saling mengisi. Seimbang. Tidak ada yang lebih dari yang lain. Belajar menerima perubahan. Tidak melulu hari-hari diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Justru jika selalu menyenangkan maka akan terasa hambar. Begitu-begitu saja. Namun ketika ada turunan tajam yang bikin mual, adrenalin membuat hidup kami menjadi lebih berwarna dan menyenangkan.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 6 Waktu Berkualitas Mengurangi Gadget

Komunikasi produktif hari ini jauh lebih berkualitas karena kami berkunjung ke rumah nenek di Pondok Gede.

Waktu berkualitas karena kami mengurangi waktu untuk memegang gadget dan anak-anak fokus main bersama saudara-saudara sepupu.
πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Ban motor sempat bocor kena paku

Pengalaman menarik didapatkan saat perjalanan menuju ke rumah nenek. Ban motor tiba-tiba kempes. Alhamdulillah kami berhenti di depan bengkel sepeda yang juga bisa menambal ban motor.

Aku pikir akan lama nih, tetapi ternyata proses tambal ban bisa selesai kurang dari lima belas menit. 

πŸ‘¨ "Sudah mau selesai kok Mah. Kabari aja tukang pijatnya."
Ibu memang sudah membuat janji untuk pijat hari ini karena anak-anak mulai agak rewel. Ya karena duoG sedang semangat meloncat-loncat di kasur.
πŸ‘© "Sudah kok Yah. Gak papa tetap ditunggu."

Cieee yang sudah mulai bisa santai, gak gampang cemberutan. Biasanya kalau ada apa-apa yang tidak sesuai dengan keinginan, aku memang langsung cemberut tetapi sekarang karena sudah mulai belajar konsisten berprasangka baik dengan keadaan, semua jauh terasa lebih enteng. Clear and clarify tidak dilakukan dengan menegangkan otot melainkan lebih menerima dengan ikhlas. Ban bocor jadi bisa angkat kamera jadi kamera yang sudah digembol bisa dipakai. Tidak sekedar dibawa sana-sini tetapi juga bermanfaat.
πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Selesai dipijat, kami langsung menuju rumah nenek. Di rumah nenek sinyal di hp ibu memang kurang bersahabat jadi ibu jadi lebih punya waktu untuk ngobrol dan juga membantu aktivitas yang dilakukan nenek dan juga para bude.

πŸ‘¦ "Ibu, bude sedang bikin apa?"
πŸ‘― "Mau bikin donat mas. Mamas mau?"
πŸ‘¦ "Kok begitu, dibanting-banting."
πŸ‘― "Iya biar cepet kalis."
πŸ‘© "Biar nanti kalau dimakan gak keras mas."
πŸ‘― "Mamas mau kan?"
πŸ‘¦ "Aku sukanya yang coklat."
πŸ‘© "Oke nanti kalau donat coklatnya sudah siap, ibu sama bude panggil mamas."
Belum jawab iya sudah kabur main lagi.


Gak pakai lama, begitu selesai langsung comot
Mamas Gian memang tertarik dengan dunia masak. Ya masih naik turun tetapi sebisa mungkin aku menuntaskan apa yang dia ingin tahu. Terus menerus mencoba fokus saat berkomunikasi jadi lama-lama mamas akan tahu cara komunikasi produktif tanpa perlu menangis atau tantrum.
πŸ’–πŸ’–πŸ’–

πŸ‘Ά "Ah mamas payah."
Ups dari mana ini bayi bisa ngomong payah. 
πŸ‘§"Nak, mamas itu sama seperti dedek hebat."
πŸ‘Ά "Hebat ya."
πŸ‘§ "Iya kan dedek udah bisa pipis di toilet. Hebat." 
πŸ‘Ά " Pipis situ ya. Hebat." 
πŸ‘§ "Iya pipis di toilet hebat. Mamas juga hebat bantu dedek lepas celana."
πŸ‘Ά "Mamas hebat!"

Pelan-pelan aku telusuri, ternyata kartun yang kemarin dia tonton, mengulang-ulang kata payah sehingga itu masuk ke daftar kosakata yang menurut Geni boleh digunakan kapan saja dan ke siapa saja.
πŸ’–πŸ’–πŸ’–
Yuk aku harus memelihara semangat jangan karena di rumah nenek saja nih yang mengurangi main hp tetapi di rumah sendiri juga dong. Jangan sampai nantinya nyesel karena anak-anak lebih dididik tv juga tontonan di y*tube.✊πŸ’ͺ✊πŸ’ͺ

#hari6
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional