Featured Slider

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 17 Membantu Menata Baju

Besok mamas Gian sudah punya jadwal untuk bertemu Uti dan jalan-jalan bersama. Mamas juga sudah tahu mau pulang kampung ke Pemalang.

Dia mulai membantu ibu menata pakaian, mainan, dan juga makanan yang akan dibawa.

Packing adalah hal yang pertama ibu ajarkan karena boleh dibilang mamas sangat sering pergi. Meskipun dekat, menata mainan dan juga barang-barang yang sebaiknya dibawa merupakan tanggungjawab mamas sendiri. Mamas sering mengamati dan melihat kemudian mempraktikkan sendiri dengan memasukkan ke dalam tas biru-kuning andalannya.

Selama 10 hari pengamatan, ibu masih belum bisa memastikan kecenderungan gaya belajar mamas Gian. Jadi ibu akan melanjutkan lagi hingga benar-benar menemukan gaya belajar mamas Gian.

#harike17
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 16 Jadi Asisten Ayah

Ayah kecelakaan. Pulang dengan celana sobek-sobek. Alhamdulillah luka-luka kecil di kaki kiri dan tangan kiri.

Mamas Gian menawarkan diri untuk membantu ayah. Mengambilkan minum, memijat, dan menolong membawakan sendok saat mau makan.

"Menjadi perawat ayah."

Belajar dengan melihat langsung ibu membersihkan luka, memijat kaki, dan membalurkan minyak but-but di luka ayah.

Mamas dengan sigap memberikan pertolongan.

"Aku mau beresin mainan dulu biar ayah gak kepleset. Nanti tambah berdarah kan."

Semoga ini terus berlanjut ya setelah ayah sembuh.

#harike16
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 15 Bermain dengan yang Kami Miliki

Hujan deras. Petir. Kami mulai mencari tempat yang ada rembesan air.

Setelah itu bermain tukang pijat karena mamas Gian mulai batuk pilek. Kegelian tapi berusaha tahan. Biar hangat.

"Terima kasih ayah sudah bekerja keras sehingga aku punya tempat tinggal yang nyaman."

Ibu mengajarkan kalimat itu karena akhir-akhir ini mamas agak sering mengeluh dengan apa-apa yang dia miliki. Bosan dengan mainan lah, temannya punya mainan baru, atau teman-teman sering berenang.

Ibu meminta mamas Gian mendengarkan suara hujan dan petir. ibu bercerita tentang mereka yang belum bisa punya tempat tinggal yang nyaman. Kehujanan, kedinginan, dan kebanjiran.

#harike15
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 14 Tanggung Jawab Diri Bukan tentang Gender

Beberapa minggu lalu kami mampir ke restoran makanan cepat saji. Kami memilih restoran itu karena mamas Gian rindu tempat mainnya. Ada hal yang mengejutkanku yaitu #budayabeberes yang sepertinya jadi kampanye baru. Ya demi kenyamanan bersama tentu saja. Kami secara tidak langsung diminta membereskan sisa makanan, meletakkan nampan di meja yang sudah disediakan dan meninggalkan meja dalam keadaan siap pakai lagi. Saat itu kami membereskan tanpa meminta bantuan anak-anak.

Lalu hari ini, hal yang mengejutkan adalah ternyata mamas Gian memperhatikan apa yang kami lakukan. Setelah selesai makan siang, mamas Gian membereskan piring dan juga gelas minum lalu mencuci semua perlengkapan makannya. Bersih dan tertata rapi kembali ke rak. Mamas juga mencuci beberapa panci serta wadah buah potong.


Tanggung jawab diri ternyata tidak berkaitan dengan gender dan juga gaya belajar. Anak-anak wajib diberikan contoh baik dari orangtua langsung maupun orang dewasa sekitarnya. Anak memang tidak akan pernah salah meniru. Mau gaya belajarnya visual, auditory, atau kinestetik: CHILDREN SEE, CHILDREN DO.

#harike14
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 13 Nilai Keluarga dan Harga Diri Anak

Nah pada waktu mengamati gaya belajar anak, ibu menemukan hal-hal kecil yang ternyata berkaitan dengan anak secara keseluruhan. 

Nilai keluarga dan harga diri anak. Nilai keluarga ternyata hal kecil dan paling dasar untuk akhirnya anak menemukan nilainya.

Setiap keluarga memiliki nilai yang mereka terapkan dalam rumah masing-masing. Berawal dari hanya suami istri lalu anak pertama kemudian anak kedua dan seterusnya. Nilai setiap keluarga berbeda tidak bisa disamakan apalagi dipaksakan. 

Nilai yang ingin kami tanamkan pada anak-anak adalah bagaimana bisa menerima diri kemudian baru bermanfaat bagi orang lain. Anak juga mampu mengelola emosi dan menerima tantangan dengan lapang dada. Anak menjadi pribadi yang takut Tuhan dalam artian yakin apapun dan dimanapun Tuhan mengawasi dan siap membantu. Saling menyayangi dan berbagi.

Memahami gaya belajar adalah bagian orangtua membantu anak menemukan diri untuk kemudian menjadi pribadi yang memiliki nilai, kompetensi, dan mencintai diri sendiri. 

***

Kegiatan:
Membiasakan Tidur Siang

Tujuan:
1. Anak mulai memiliki jadwal tetap untuk istirahat
2. Ibu mengenalkan sebab akibat
3. Anak tahu kapan harus main
4. Melatih kebiasaan
5. Ibu ikut memiliki prioritas harian
6. Anak mulai mengelola emosi

Deskripsi:
Pukul 11.00-12.00 WIB Gian memiliki waktu untuk menonton youtube dengan alarm standby
Ketika alarm berbunyi, mamas menyerahkan ponsel kepada ibu dan mulai menyantap makanan yang disiapkan sebagai makan siang. Setelah selesai duduk sebentar menikmati kartun kesukaan barulah sekiranya ibu selesai menyiapkan Geni, mamas minum kemudian pipis. Bersiap tidur siang.

Review:
Ibu amati ketika mamas memiliki waktu untuk tidur siang maka dia jauh lebih siap waktu ada tantangan yang datang. Pembicaraan berat seperti: kenapa tidak boleh teriak, tidak pukul, sayang dedek; bisa lebih mudah dipahami dan diaplikasikan. 

Mamas cenderung bisa mengelola emosinya. Mamas mampu bercerita dengan baik ketika adik berlaku kasar dan berteriak. Mamas tidak langsung balas berteriak atau tantrum saat adik memaksa meminta mainan yang sedang dimainkan mamas.

Istirahat bagi mamas adalah jeda bagi ibu sehingga saat berinteraksi lagi sama-sama dalam keadaan yang tenang dan siap.


ibu secara tulus meminta maaf karena sering terburu-buru merespon.
Ibu bereaksi berlebihan ketika mamas Gian tanpa sengaja membenturkan bis mainannya ke bibir adeknya sampai berdarah. Mamas menangis karena dia merasa bersalah tetapi dia juga tidak sengaja.
👦"Makanya ibu jangan marah-marah terus dong. Aku kan juga jadi jahat."
👩"Ibu minta maaf ya nak."
👦"Ibu kalau udah minta maaf, jangan diulangi dong."
👩"Insya Allah ya nak. Mamas bantu ibu juga ya. Kalau ibu marah mamas Gian ingatin."
👦"Iya aku ingetin ibu. Aku kan sayang ibu."
👩"Terima kasih. Boleh minta peluk?"
Semua berakhir dengan pelukan.

Menangis ini memang tantangan di keluarga kami. Ibu akan marah ketika mamas menangis padahal sudah diingatkan untuk ngomong aja apa yang diinginkan tanpa perlu menangis. Kemudian beberapa menit kemudian sebuah artikel menjelaskan bahwa tangisan adalah cara anak meluapkan emosi untuk kemudian menemukan solusi. Datang di saat yang tepat. Saat ibu mengambil jeda untuk sadar utuh dan penuh dalam membersamai anak-anak.


Tunggu ya Ibu! Aku pasti siap menyayangi diriku dan dedek.

Memenuhi kebutuhan anak secara penuh membuat ibu lebih menikmati waktu mengamati gaya belajar anak. Ibu membiarkan anak mengeksplor apa saja dan mengingatkan dengan cara yang baik juga lembut. Nilai keluarga mulai ditanamkan dan harga diri anak mulai dibentuk.

Mamas Gian hari ini membelikan adiknya jasuke lalu membantu melepaskan celana saat adiknya kesusahan karena buru-buru mau pipis, dan membantu ibu memandikan adiknya. 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah tahu waktu, main hp ya main hp terus saatnya tidur ya tidur
2. Suka menjelaskan dengan wara-wiri mengeringkan badan
3. Fokus mandi baru bantu adiknya mandi
4. Bercerita apa yang sedang dilakukan saat ayah pulang kerja
5. Mulai berkurang screen time dan main di luar lebih sering

(593)

#harike13
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 12 Pahami Anakmu Bukan Anak Tetanggamu

Prioritas berubah. AKU MULAI MENERIMA RASA MARAH. Pelan tapi pasti aku sadar dimana aku berada. Tidak perlu nyinyir dengan anak orang karena aku tidak tahu, pertempuran macam apa yang sedang mereka hadapi.

Belum bisa menghargai diri sendiri membuat ibu berkompetisi dalam membesarkan anak

Bagaimana ibu bisa mendidik anak dengan rasa aman sementara dulu dia dididik juga menggunakan perbandingan dengan anak orang? Tentu akan jadi kompetisi tidak sehat yang tak berkesudahan jika ibu tidak segera sadar dan mulai fokus ke diri sendiri, KE ANAK SENDIRI bukan anak tetangga.

Prioritas tentu tentang proses. Tentang menikmati peran sebagai ibu. Tidak melulu ego, cemburu, dan marah. Tuhan kasih amanah suami dan anak-anak juga tidak asal. KESUKSESAN IBU adalah ketika dia IKHLAS ANAKnya MANDIRI. Banggakah ibu ketika anaknya mandiri tetapi masih cengeng sesekali? Ikhlaskah ibu ketika anaknya belum bisa mengkancing baju sendiri? Tetapkah ibu mencintai anaknya saat sudah mulai protes dan mendebat?

Pada saat anak mulai bertumbuh, jika prioritas ibu memang anaknya maka ibu akan fokus dengan kelebihan dan kekurangan anaknya. Bukan melihat kelebihan anak orang dan selalu fokus ke kekurangan anak sendiri. 
Mendidik Seadanya Berharap Hasilnya Luar Biasa, Sadarkah Aku?

Mendidik dengan hati di zaman ini merupakan tantangan sendiri. Tempat mengekspos apa yang dimiliki begitu banyak. Godaan-godaan untuk memberi tahu ke dunia luar betapa hebat dan tanpa celanya anak kita begitu tinggi. Namun begitu prioritas ditetapkan maka ada banyak jalan yang terbuka agar kita tetap fokus pada anak kita bukan anak orang lain. 

👰"Anakku udah bisa baca lho padahal umurnya baru 3 tahun."
👱"Anakku udah bisa baca dan renang tuh."
👰"Oh kalau anakku bisa baca, renang, dan ngomong tiga bahasa asing."
👩"Aku masih bingung gimana cara lepas popok sekali pake nih. Ada ide gak?"
👰👱👯 "😏😏😏."

***





#harike12
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 11 Adakah yang Salah dengan Bermain?

 
"Anak memiliki hak untuk bermain. Melakukan sesuatu untuk bersenang-senang."
Lantas kenapa dilarang? BELUM TUNTAS dengan DIRI SENDIRI. Aku sadar membersamai anak-anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa ada banyak catatan-catatan kelam yang sudah dikubur di bagian paling dalam ingatan, harus dibuka kembali. Percayalah, saat seperti itu mau ditunda selama apapun, akan datang lagi. Siap atau tidak.

TUNTAS BERAWAL dari MENERIMA. Menerima diri sendiri meski tertatih. Ini bukan demi anak-anak tetapi demi diriku sendiri. Lho kok begitu? Semakin aku memaksa memberikan waktu bermain demi kepentingan anak-anak, aku merasa semakin marah. Marah karena dulu aku tidak memiliki cukup masa untuk menikmati masa main suka-suka. Tiba-tiba yang ada di ingatan aku adalah luka-luka dilecehkan juga di-bully di Sekolah Dasar. Setelah segala macam proses naik turun membangun kesadaran bahwa aku sudah menjadi ibu maka tangga yang sedang aku tapaki saat ini adalah menerima. TIDAK APA-APA MEMBIARKAN ANAK BERMAIN SEPUASNYA. Aku hanya perlu mengawasi jika memang ada yang membahayakan.

Tentu tidak ada yang salah dengan bermain. Main adalah hak anak yang ada di undang-undang perlindungan anak. ORANGTUA yang PERLU MENGUBAH CARA PANDANG. 

Membiarkan anak bermain berarti memenuhi haknya dan juga pada akhirnya membuat aku merasa berguna sebagai ibunya. Penerimaan inilah yang akan menumbuhkan hubungan kasih sayang anatara ibu dan anak. TAK PERLU BURU-BURU APALAGI MEMAKSA. Latih terus dan terus. Tumbuh bersama.

***

Kegiatan:
Mengamati Siput

Alat dan Bahan:
Kamera hp
Siput

Tujuan:
1. Ibu mengamati anak
2. Anak mengamati bagian-bagian tubuh siput
3. Anak tahu cara berjalan siput
4. Ibu bertanya untuk mengamati lebih lanjut
5. Anak tahu kenapa siput berjalan lambat

Deskripsi:
Pagi yang basah dan dingin tetapi itu tidak menghalangi mamas Gian untuk duduk di taman yang sudah bersih. Ibu menunggu tukang jamu sambil perlahan menghirup udara segar.

👩"Mamas sedang apa?"
👦"Main game di hp ayah."
👩"Coba lihat mas, ada siput."
👦"Ibu, itu lihat yang di bawah. Siputnya matanya satu. Ada yang kecil juga. Tuh ada juga yang mau masuk ke rumah."
👩"Mamas mau pegang rumahnya?"
👦"Gak ah takut. Nanti gigit."
👩"Coba difoto pakai hp ayah. Apakah jadi lebih besar di layar hp?"
👦"Gak kok bu. Sama aja. Siput jalannya lambat tapi bisa menang lawan kelinci."
👩"Setiap ciptaan Tuhan itu punya kekuatan dan kekurangan mas."
👦"Iya aku tahu. Siput punya temen yang baik, yang bantu dia terus."
👩"Mamas punya siapa yang bantu?"
👦"Ayah, ibu, dedek. Temen-temen aku juga kalau mereka lagi gak jahat."

 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah mulai berkomitmen. Boleh main hp sebentar saat ayah bersiap ke kantor
2. Mulai bisa mengerti kosakata berat seperti kekuatan, kekurangan
3. Mulai bisa bercerita dengan runut
4. Emosi masih naik turun tetapi bisa diajak bernegosiasi
5. Mulai menggunakan jari untuk mengetahui alfabet, angka, dan gambaran kata yang ingin dia ketahui atau jelaskan

(448)

#harike11
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional