Featured Slider

Komunikasi Produktif, Hari 15 Ketika Ibu dan Anak Tumbang

Musim peralihan dari kemarau ke hujan membuat cuaca tak menentu. Panas terik di siang hari kemudian dingin menggigil di malam hari. 
Akhirnya ibu dan anak tumbang. Ibu sakit kepala, mamas panas dan batuk kering, dedek juga demam.

Malam sempat agak panik karena mamas suhu badannya naik begitu pula dedek. Begadangan deh.

Paginya dengan mata sakit juga kepala cenut-cenut, tetap sounding kalau ibu harus kerja untuk melihat tempat yang akan dipake untuk workshop fotografi.

πŸ‘¨"Emang masih mau pergi? Anak-anak masih panas gitu?"
πŸ‘©"Ya lihat nanti aja."

Aku memilih untuk tidak melakukan kontak mata dengan suami takutnya malah akunya jadi nyolot. Ya soalnya udah janjian. Kan gak enak kalau batalin walaupun sebenarnya gak masalah juga. Siapa juga yang siap sakit. Pasti tak terduga.
πŸš—πŸš—πŸš—
Selesai sarapan, anak-anak minum obat dan mulai main di kasur. Batuk mulai tak terkendali dan mamas Gian tahu oxy dan imbos adalah obat paling bisa diandalkan.
πŸ‘¦"Ibu, kita beli oxy sama imbos biar aku gak batuk-batuk terus."
πŸ‘©"Oke setelah itu istirahat ya jadi pas ikut ibu kerja gak ngantuk."
πŸ‘¦"Iya ibu."

Negosiasi ala mamas Gian
Berhasil, setelah mengungkapkan kebutuhan ibu yang juga berhasil menjaga emosi saat sounding, meskipun kepala nyut-nyutan.
πŸ‘©"Mamas di tempat kerja ibu nanti gak boleh main. Main kalau kita pergi sama ayah ."
πŸ‘¦"Iya ibu. Aku tidur dulu biar sembuh. Biar bisa ikut ibu kerja."

Nah tantangan komunikasi produktif saat ibu dan anak sakit adalah bagaimana tetap memberikan perhatian proporsional padahal anak ingin perhatian lebih. Apalagi kalau Geni (2tahun6bulan) sakit yang artinya lebih menuntut perhatian.

Alhamdulillah sudah selesai meeting, mamas sudah dipesenin makanan dan es krim, giliran dedek Geni yang nangis kejer waktu ditinggal bayar pesanan. Padahal gak ada seratus meter jaraknya.
πŸ‘Ά"Mau sama ibu." 😒😒
πŸ‘©"Oke berhenti nangis kalau gitu."
Tegas sesuai yang aku mau. Begitu Geni diam, aku gendong terus bayar ke kasir.
Berat tetapi jauh lebih pusing dengar Geni nangis.

Komunikasi produktif itu bukan hal yang ribet selama niat terus diluruskan. Meskipun tumbang. Gagal coba lagi, coba lagi gagal. πŸ˜‚ Selama ada kemauan disitu ada jalan *quotesidu πŸ˜…

#hari15
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 14 Minim Empati Menambah Luka Hati

Apa hubungannya komunikasi produktif sama empati coba? Dalam setiap hubungan manusia pastilah ada peran emosi di dalamnya. Ketika emosi dikedepankan maka empati atau rasa ada di posisi orang lain akan berkurang. Begitu nalar lebih dominan, fakta-fakta tak terduga mencuat.
πŸ‘¨"Kalau udah niat sedekah ya gak usah diungkit lagi salahnya. Ikhlas saja mau kasih berapa. Dia bersikap seperti itu mungkin karena tekanan dari mana saja yang kita gak tahu."
πŸ‘©"Aku sebisa mungkin gak ketemu dia dulu lah. Aku tinggal aja uangnya di dekat penanak nasi."
Ceritanya lagi sebel sama ART yang masuk kerja seenaknya. Terus anak-anak sakit dan koyo yang baru diambil 1 lembar hilang. Kemudian jadi merenung, ini aku baru dikasih situasi begini saja jadi heboh. Mana ART jadi ikut imbasnya lagi. Biasanya gak papa dia datang seenaknya, terus jadi sebel dan berniat memotong gaji. Akhirnya suami mengingatkan.
Komunikasi produktif berupa clear and clarify berjalan semestinya.

Setelah itu berbagi cerita dengan teman-teman lain yang memiliki nasib sama juga menambah kesadaran. Kalau dipotong gaji yang gak seberapa padahal bisa niat sedekah, berkahnya bisa jadi tidak dinikmati. 

Ketemu teman-teman, ada pelajaran yang bisa dibagi.
Pada akhirnya aku paham bahwa silaturahim itu seperti ajang cuci hati. Bertemu dengan teman-teman dan juga saudara kemudian kerja bersama agar hati perlahan tapi pasti mau memahami orang lain juga ikhlas.


πŸ‘¦"Ibu mobil dedek jatuh terus hilang."
πŸ‘Ά 😒😒😒
πŸ‘¦"Nanti sama-sama kumpulin uang biar bisa beli lagi ya dek."
πŸ‘Ά"Iya mamas."
Apa-apa yang ada di genggaman itu gak akan selamanya. Tunggu waktu untuk berganti dengan yang lain.
πŸ‘©"Untung mobilannya yang jatuh bukan dedeknya."

Minim empati berawal dari kurangnya komunikasi kemudian berujung pada luka hati. Orang itu tidak bisa 100% sempurna. Makanya terus menerus mengasah komunikasi produktif berimbas pada  empati. 

#hari14
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 13 Kami Sayang Ibu

Komunikasi produktif kami hari ini seputar membantu ibu mencari tempat untuk parade rumbel IP Bekasi.
πŸ‘¨"Susah susah gampang kalau akses pendingin gitu."
πŸ‘©"Iya Yah, makanya semua cari tempat biar punya banyak pilihan."
πŸ‘¦"Ayah, ibu cari tempat buat lomba masak? Lomba masak itu apa Yah?"
πŸ‘¨"Masak sama-sama terus yang paling enak menang dapat hadiah."
πŸ‘Ά"Kita pergi ya Yah."
πŸ‘©"Iya kita makan di warung ya nak."
Suami baru pulang kerja langsung diminta menemani survei tempat. Alhamdulillah karena sudah komunikasi dari kemarin tentang parade yang akan diselenggarakan bulan November, suami paham dan ikut membantu. Suami juga memberikan wacana beberapa alternatif yang mungkin bisa dijadikan tempat. Meskipun belum menemukan yang pas, diskusi kami justru bisa digunakan sebagai ajang komunikasi produktif.  Clear and clarify, eye contact, intonation and body language, right time semua masuk hari ini.
Di sela lelahnya suamiku menyempatkan diri menemani, anak-anak juga masih gak enak badan tapi suami mengizinkan kami makan di luar sambil survei, aku merasa sangat disayang oleh mereka.
πŸ’«πŸ’«πŸ’«
Bukan menyuruh tetapi meminta tolong
Cara anak-anak berkomunikasi memang berbeda dengan orang dewasa, ada unsur menyenangkan di dalamnya.
"Yuk kita lomba beresin mainan. Nanti yang bantu ibu bisa dapat susu coklat dingin."
Mamas Gian dan Geni semangat membereskan lego-lego yang tadi mereka mainkan.
Bukan mengontrol emosi melainkan mampu menerima dan sadar akan emosi yang sedang dirasakan saat itu.
πŸ‘¦"Ibu aku capek kalau beresin terus."
πŸ‘Ά"Capek ibu capek."
πŸ‘©"Gak papa nak, ibu juga bantuin. Santai saja. Beresinnya sambil nyanyi yuk."
πŸ‘Ά"Kapal ibu, mau kapal."

🎡Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut🎡Makin lama makin jelas bentuk rupanya🎡Itulah kapal api yag sedang berlayar🎡Asapnya yang putih mengepul di udara🎡

Ketika komunikasi berjalan produktif, aku begitu menikmati peran sebagai ibu. Ya memang untuk jadi ibu hebat tidak perlu sempurna melainkan terus berproses dari kesalahan menuju perbaikan.

#hari13
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 12 Hebat Bukan Berarti Tidak Pernah Gagal


Hari ini merasa gagal banget komunikasi dengan kesayangan-kesayangan. Badan rasanya lelah padahal cukup tidur dan habis mendengarkan IG Live mas Adjie tentang overthinking. 

Apakah aku tidak boleh gagal? Boleh dong ya. Siapa yang mengharuskan untuk jadi hebat gak boleh gagal?

Hebat yang bagaimana sih? Hebat yang membuat seseorang sadar dan menerima utuh juga penuh dirinya sendiri. Kemudian bisa menerima jika segala ketidakpastian itu akan semakin menyakiti bila ditambah ekspektasi tinggi.

Begitu aku berhenti sejenak dan melihat diriku sendiri, oh di sanalah aku harus kembali.

Dalam komunikasi produktif ternyata tidak melulu berhubungan dengan orang lain melainkan diri sendiri juga. Eh kok baru sadar setelah hari kedua belas. Ya gak papa mungkin harus salah dulu untuk tahu apa yang benar.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Pilihan kata, bagaimana bisa berkomunikasi yang produktif bila kosakata terbatas. Terus jadi tambah rumit untuk menyampaikan pesan dengan jelas jika aku tidak punya kosakatanya.

Waktu yang tepat juga akan sulit ditemukan bila aku belum selesai dengan diriku sendiri. Kok bisa? Ya iyalah maunya orang lain aja yang mengalah, akunya ya ogah lah.

Mengendalikan emosi, bagaimana bisa mengendalikan kalau menerima siapa diri aku saja kadang masih terbata-bata. Masih sering nanya ke orang, aku tuh gimana sih?

Observasi, apa yang mau diobservasi kalau rutinitas saja gak punya.

Bingkai referensi dan pengalaman yang seharusnya membimbing menuju nalar yang lebih panjang malah berhenti pada rasa sakit serta masa lalu.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Aku istri macam apa sih? Bolak-balik suami menegaskan kalau baik kekurangan maupun kelebihan aku akan diterima dengan ikhlas.

Aku ibu macam apa ya? DuoG menerima juga segala kasih sayang juga kegalakan.

Jadi kenapa aku masih saja merasa minder untuk bisa menerima diriku sendiri?

Pada titik berhenti kali ini aku menemukan jika gagal adalah asahan pisau agar pisau kembali tajam dan maksimal digunakan. Selain itu saat berhenti aku juga menyadari kalau menerima ketidakpastian dalam hidup itu jauh lebih masuk akal daripada terus menggenggam ekspektasi.

Besok aku akan coba lagi berkomunikasi dengan diri sendiri saat gigi gemeletuk menahan marah. Berterima kasih pada diri untuk tetap kembali sadar jika anak itu punya hak untuk disayangi bukan sekedar pelampiasan emosi.

πŸ‘¨πŸ‘¦πŸ‘Ά "Peluuuk, Ibu!"
πŸ‘©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


#hari12
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 11 Lepaskan Kesempurnaan

You can't be perfect but can be better!

Ada satu pemandangan yang lupa aku ceritakan. Ini kejadian yang sudah lama tetapi komunikasi aku dengan kesayangan-kesayangan mengingatkan aku pada pagi yang penuh pembelajaran. 

Tentang pemandangan seorang ayah yang menggendong putrinya naik motor sendirian. Tentang ingatanku saat hamil Geni dan suamiku menyusul dengan membawa serta mamas Gian. Naik motor laki yang susah kalau anaknya tiba-tiba tertidur. Si ayah itu juga berkali-kali berhenti untuk memastikan posisi gendongannya benar. Berjalan perlahan agar anak perempuan dalam gendongannya tidak terbangun. Suamiku juga bolak-balik ditegur karena mamas Gian tidur. Ya mau bagaimana, jadwal dokter yang mengharuskan aku berangkat lebih dulu. Kemudian mamas Gian minta menyusul ibu. Ketika melihat ayah itu, aku ingin sekali turun dan membantu. Ingin mendengar cerita dibalik kenapa dia sendiri yang menggendong anaknya. Apakah karena istrinya harus ke dokter lebih dulu? Sayangnya aku sudah ada tugas hari itu.  

Terlepas dari semua kekurangan yang semua orangtua di dunia ini miliki, kita pasti mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak. Re-framing sosok bapak yang jadi hantu masa lalu aku. Benar-benar ingin melepaskan kesempurnaan dan menjadi orangtua yang lebih baik lagi.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘¨"Aku kan sudah meminta kamu terlalu banyak. Setidaknya aku bisa kasih sesuatu yang jadi passion kamu."
Saat yang tepat karena memang lagi butuh ngobrol masalah kerjaan, passion, dan juga impian.
πŸ‘¨"Tapi ya sabar sampai tahun depan kalau memang masih mau kuliah psikologi."
πŸ‘©"Jalani dulu saja. Takutnya di tengah jalan galau pindah haluan lagi."
πŸ‘¨"Ya semoga pas gak galau, semuanya udah siap. Ya waktu, tenaga, dan modalnya. Lagian kalau kamu mau kuliah lagi kan bisa mendidik anak-anak jadi lebih baik. Mempersiapkan anak-anak jadi pribadi yang lebih baik. Gak hanya terlunta-lunta di rumah saja."
πŸ‘©"Ya selama ini aku memang merasa berat sekali untuk sekedar berada di rumah. Berurusan seharian hanya dengan anak-anak. Terus ketika kamu menawarkan kuliah lagi entah kenapa rasanya jauh lebih baik."

Melepaskan kesempurnaan kemudian berkomunikasi dengan pasangan secara produktif serta pada akhirnya menyamakan tujuan: menjadi orangtua yang baik dan benar. Butuh menggunakan nalar memang karena bila emosi menguasai komunikasi akan berakhir dengan pertengkaran tak berkesudahan. Maunya dimengerti tetapi ogah mengerti. Nah komunikasi produktif inilah yang dulu gagal aku dapatkan dari kedua orangtuaku, karena itulah aku tidak mau anakku juga berakhir menduga-duga dan salah asumsi padaku dan suamiku. Bila anak-anakku melihat kami bisa berkomunikasi secara produktif maka mereka akan mencontoh juga nantinya.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
Melepaskan kesempurnaan juga termasuk mampu menyaring suara-suara dari luar kemudian menyesuaikan dengan visi dan misi keluarga sendiri.
πŸ‘¦"Ibu, yayi kok marah-marah terus. Aku gak suka yayi."
πŸ‘©"Nak, justru itu karena yayi sayang makanya yayi mengingatkan mamas. Memang mamas mau didiemin aja sama yayi?"
πŸ‘¦"Gak mau. Terus kenapa aku harus makan pakai tangan kanan. Yayi ingetin aku terus. Aku bosen."
πŸ‘© "Tangan kiri, kalau nanti mamas sudah bisa, akan dipake buat cebok mamas. Tangan buat cebok terus dipake buat ambil makanan, kira-kira gimana?"
πŸ‘¦"Jorok ibu."
πŸ‘©"Sip! Mamas pintar sudah tahu tangan kanan buat makan tangan kiri buat cebok."
πŸ‘¦"Tapi kalau udah cuci tangan gimana ibu?"
πŸ‘© "Contoh Nabi Muhammad nak, beliau kalau makan pakai tangan kanan."
πŸ‘¦"Sholat juga."
πŸ‘© "Iya dong."

Komunikasi produktif hari ini diawali dengan mengendalikan emosi terus intonasi yang bersahabat juga bahasa tubuh berupa belaian rambut saat anak merajuk. 

Si ayah itu dan suamiku mungkin memiliki kesamaan, akan menjelaskan dengan pilihan kata yang paling mudah dipahami anak-anak jika istri mereka kebetulan lagi kumat gesreknya. Sementara kalau istrinya waras selalu mendukung apapun yang istrinya tanamkan pada anak-anak.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘©"Adek berenangnya  besok ya. Sudah malam, dedek mau apa dulu?"
πŸ‘Ά"Bobok."
πŸ‘©"Uwi-uwinya mau dibawa?" *pelampung bentuk mobil polisi
πŸ‘Ά"Iya bawa."

Umur dua tahun sudah mampu diajak kompromi. Melepaskan kesempurnaan dengan menikmati perkembangan tanpa ada tuntutan-tuntutan harus begini, harus begitu. Penting untuk mengatakan apa yang aku mau anak lakukan. Aku beri deskripsi sesuai yang dedek Geni tahu.

#hari11
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 10 Terus Membuka Jalan

Ketika berkomunikasi, haruskah selalu dekat? Bagaimana dengan yang long distance marriage, terus yang anaknya masuk pesantren, belum lagi kalau anaknya lebih lengket ke asisten rumah tangga.
Terus membuka jalan, untuk berkomunikasi meski terkadang disertai pertengkaran juga tangis penyesalan. Dari semua kesalahan semoga Tuhan berikan pemahaman.
🎁🎁🎁
Ada yang pernah bilang padaku kalau menikah itu seperti membuka kotak kado. Ada yang aku inginkan, ada yang sesuai kebutuhan, banyak juga yang tidak sesuai keinginan. Begitu game level 1 dimulai, aku sering melihat kembali ke masa-masa awal pernikahanku. Ada masa dimana aku dan suami hanya tinggal di satu atap tetapi jiwa kami terpisah. Larut dalam imajinasi sendiri. Ada banyak luka yang belum terselesaikan bagiku.

Setelah sempat long distance marriage, aku dan suami mulai lagi dari awal. Benar-benar seperti dua orang asing. Aku tak hendak mengenalnya lebih jauh, banyak hal yang aku simpan sendiri. Apa-apa yang aku rasa lama-lama menutup semua jalan masuk bagi suamiku untuk lebih mengenalku.

Alhamdulillah semua jalan kembali terbuka sekarang. Aku mulai menuntaskan masalah satu persatu agar tidur dalam keadaan plong. Bangun tidur dengan segar. Komunikasi kembali kami tingkatkan. Mulai dari memberi kabar agar saling tahu posisi, mengurangi buruk sangka, dan berusaha untuk produktif saat ada di rumah. Tidak lagi diam-diam, mulai bertanya agar jawaban panjang dan ada unsur mengungkapkan perasaan, serta memaknai pertengkaran sebagai pembelajaran. 

πŸ‘©"Aku akan mulai mengungkapkan yang aku rasa. Aku juga akan mengurangi baper. Kalau sudah ya sudah, gak akan ungkit-ungkit."
πŸ‘¨"Pelan-pelan aja gak usah ngoyo. Kurangi dulu aja pikiran yang gak terlalu penting."
πŸ‘©"Oh kirain mau minta gak usah mikir."
πŸ‘¨ "Susahlah. Apalagi wanita, apa saja dijadiin pikiran, beban. Makanya aku tuh suka dan dukung kalau kamu nulis. Setidaknya ada yang berkurang lah yang ruwet di pikiran."
πŸ‘©"Kok kamu ngerti banget sih Bi."
πŸ‘¨"Ya lumayan lah dari 2005."

Weh lama juga yak. Udah 13 tahun. Coba kalau kami sama-sama tidak bertumbuh dan terus membuka jalan komunikasi? Aku akan menyerah pada dia yang masih aja susah taruh piring kotor ke tempat cuci, suami juga akan ogah karena aku terus menerus mengungkit hal-hal yang telah berlalu. Clear and clarify tidak akan dilakukan. 
πŸ‘©"Gak paham ya udah."
πŸ‘¨"Tinggal ngomong lagi apa susahnya sih."

Ya karena waktu itu aku belum paham bagaimana sih komunikasi yang produktif itu. Ternyata harus mengerti dulu kalau kami berasal dari lingkungan, cara didik, juga pengalaman yang berbeda. 
Nah sekarang begitu paham ya usaha untuk setiap hari praktik. Gak gampang jengkel kalau suami bawa pulang sate ayam doang tanpa sop daging karena instruksi kurang lengkap.
πŸ‘¨"Emang adek bilang kalau minta beli sop?"
πŸ‘©"Gak sih, adek pikir Bi inisiatif karena kan sate disitu ada sop dagingnya juga."
πŸ‘¨"Maaf ya adek gak bilang jadi ayah ya belinya sesuai pesanan."
Tidak lagi jengkel karena sudah tahu harus tanggung jawab jika tidak memberikan instruksi yang jelas.

Aku tuh gak bisa bohong kalau udah menatap mata suamiku. Ya memang disitulah jalan untuk komunikasi produktif. Terbuka dan jujur.
πŸ‘©"Aku lelah banget hari ini. Anak-anak jadi korban omelan aku."
πŸ‘¨"Oke kita jadwalin terapi ya. Biar semua kembali sadar dan waras."
🎁🎁🎁
Komunikasi produktif, kejarlah aku! πŸ˜‚πŸ˜‰

Anak-anak akan tetap membuka komunikasi karena segalak apapun orangtua, mereka tetap yakin orangtualah tempat ternyaman untuk kembali.

πŸ‘¦" Ibu aku kadang jahat suka marahin aku tapi kadang baik juga. Aku sayang ibu."
Jawaban jujur dari mamas Gian ketika ditanya tentang ibunya.
Dari jawaban itulah aku merenung. Memang setelah ngomel atau bentak, sebisa mungkin aku jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi kemudian meminta maaf. 
Seburuk apapun keadaan hari itu, sebisa mungkin aku jelaskan. Hanya sejenak menutup akses agar tidak kebablasan marahnya.

Fokus ke masa depan, membahas kesalahan di masa lalu sebagai pembelajaran.
πŸ‘¦"Dulu aku dimarahin ibu kalau pipis di celana. Terus aku sudah lima tahun, aku sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi ya bu? Kenapa sih?"
πŸ‘©"Ya karena mamas belajar terus. Berlatih sampai bisa. Terus kalau udah enam tahun, bisa bobok sendiri?"
πŸ‘¦"Iyalah kan aku hebat."

Jelas dalam memberikan pujian mempengaruhi mamas Gian dalam menentukan target bagi dirinya.
πŸ‘©"Ya mamas hebat sudah bisa pipis dan mandi sendiri."
πŸ‘¦"Entar kalau aku udah enam, aku boleh buka lego yang enam ya bu. Eh kalau aku udah bisa bobok sendiri.

Terus menerus membuka jalan komunikasi tentu akan menghasilkan. Keep the good work and pray hard.
🎁🎁🎁
πŸ‘Ά"Sayang ibu."
Justru dari Genilah aku belajar intonasi dan bahasa tubuh yang jujur nan tulus.

Tiba-tiba anak aku yang berumur 2 tahun 6 bulan ini begitu cepat menyerap kosakata-kosakata di sekitarnya. Aku merasa tiba-tiba karena kadang aku tidak tahu darimana dia dengar. Ya walaupun sebagian dia serap dari aku, suamiku, dan mamas. Mungkin sebagian lagi dari kartun-kartun yang dia tonton.

Observasi sebagai cara untuk meredam emosi dan memahami lebih jauh.
πŸ‘Ά"Aku capek ibu."
πŸ‘©"Kenapa bisa capek?"
πŸ‘Ά"Main terus."
πŸ‘©"Bagaimana kalau kita beresin biar dedek bisa bobok?"
πŸ‘Ά"Biar sakit kena mainan. Ayo ibu ayo beresin."
Dengan cepat bisa memutuskan. Modal telinga, sedikit kesabaran, dan ketulusan.
🎁🎁🎁
Hari ke sepuluh dan masih terus membuka jalan untuk komunikasi yang produktif.

Mengejar ketinggalan. Menikmati hari ini. Menurunkan kecemasan akan hari esok.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 9 Tanpa Ego Bisa Lho!

Ketika kehilangan semangat untuk sekedar bangun dari tempat tidur, mager, dan hanya melayangkan angan tanpa eksekusi. 

Ego menguasai, bermalas-malasan. Suami berangkat dengan perut kosong, anak-anak harus menunggu lama sekedar ingin makan roti oles selai coklat, kepala pening karena kebanyakan tidur.

Komunikasi produktif memang seperti jembatan yang menghubungkan satu ego dengan satu jiwa tulus untuk sekedar mengetuk.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¨"Kalau sudah menyadari tinggal atur strategi agar berubah."
πŸ‘©"Apa kamu gak nyesel punya istri macam aku?"
πŸ‘¨"Kita sama-sama berjuang ya. Gak perlu kebanyakan pikiran yang gak penting. Fokus dan tuntaskan."

Suamiku tahu pasti apa mimpiku. Dia tidak pernah memaksa aku untuk ini dan itu. Akulah yang kadang-kadang kehilangan diriku sendiri. Berusaha selalu menguatkan diri agar tuntas.

πŸ‘¨"Makan pedes boleh tapi gak usah nyiksa diri ya."
πŸ‘©"Iya tapi jadi cemen. Level dua aja udah nyerah."
πŸ‘¨"Gak papa yang penting gak sakit perut kan kamunya?"
πŸ‘© "Aku buat foto aja. Cicip sedikit terus bagi ke mba Dini."
πŸ‘¨"Kalau gak bisa gak usah dipaksa."
Bahan komunikasi kami, seblak level 2 πŸ˜‰
Aku yang suasana hatinya naik turun tetap berusaha menemukan waktu yang pas agar mampu berkomunikasi dua arah dengan suami. Sama-sama memastikan bahwa kami baik-baik saja di sela-sela kerjaan masing-masing merupakan komunikasi yang kami usahakan untuk tetap sadar dan waras.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¦"Ah bikinan ibu jelek."
Protes mamas Gian saat aku membuat mobil perang dari lego.
πŸ‘© 😈 agak bertanduk tapi masih diem dan fokus biar egonya gak menang. Setelah marahnya mereda baru mulai ajak komunikasi.
πŸ‘© "Mamas mau coba bikin? Pasti bisa."
πŸ‘¦"Aku nunggu ayah aja ah. Biar bikinnya bagus."
Di satu sisi senang karena mamas paham siapa yang lebih mampu. Ya memang aku sebagai ibunya belum cukup mampu kalau urusan merakit lego. Sadar diri lah tetapi aku ingin menunjukkan pada mamas artinya usaha dan ketekunan akan membawa hasil suatu saat nanti.
πŸ‘©"Apakah mamas belum mau mencoba seperti yang ibu lakukan?"
πŸ‘¦"Aku udah coba tapi copot-copot terus. Gak tahu salah dimana."
Hihihi, aslinya pengen nyeletuk kalau kualitas kadang dipengaruhi harga. Namun observasi dan penerimaan emosi  cukup sampai di sini hari ini.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘Ά"Ahhh ibu payah."
Ternyata kata itu masih saja melekat hingga hari ini. Meskipun nadanya lebih ke becanda daripada kritikan. 
πŸ‘©"Dedek Geni hebat, dedek Geni hebat, dedek Geni memang hebat. Anaknya ibu Apik." (🎢🎡nada happy birthday)
Pengalihan untuk aku karena memang Geni tidak bermaksud untuk mengkritik ibunya.
πŸ‘©"Dedek kita main air yuk. Tuang di ember."
πŸ‘Ά"Air mancur ibu, bagus ya ibu."
Kemudian aku bisa menikmati mata berbinar Geni saat mengeksplor air dengan menuang ke ember yang sudah dibolongi sehingga bisa menyerupai air mancur.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
Bila mengikuti ego pastilah aku akan berkomunikasi dengan gaya memerintah dan melarang ini itu. Namun aku sadar itu akan merusak komitmenku untuk menjadi orangtua yang sadar.

Tanpa ego, asal aku mau mengambil jeda agar bisa sejenak hening mengembalikan lagi kesadaranku untuk hadir utuh bersama kesayangan-kesayangku, ternyata bisa lho.πŸ˜‰

Ya kembali ke niat. Tidak ada orangtua yang sempurna tetapi tidak akan benar jika hanya mengikuti ego tanpa menyertakan kesadaran juga kewarasan. 

#hari9
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional