Rabu, 25 Mei 2016

Kursinya Nakal Ya Dek? Berhenti Ucapkan 5 Kalimat Ini Jika Ingin Anak Bercitra Positif Terhadap Dirinya!

Bebas bergaya, arahkan anak bukan malah jadi bahan becandaan

Balita atau bawah lima tahun adalah masa membentuk persepsi diri. Masa dimana anak mulai melihat siapakah dirinya? Karakter macam apa dia?

Entah disadari atau hanya melanjutkan tradisi pengasuhan dari orangtua, kita sering mengucapkan 5 kalimat ini.

Senin, 23 Mei 2016

Sengaja Mengabaikan, 5 Kegiatan yang Sering Tak Fokus Dilakukan Setelah Anak Kedua Lahir

Setelah Baby Geni lahir, ada beberapa perubahan dan penyesuaian. Mulai dari berbagi tugas hingga hal-hal yang kadang sengaja diabaikan untuk beberapa waktu. Terus di sesi Curhat Si Emak kali ini, emak sensi mau curhat tentang 5 kegiatan yang sering sengaja diabaikan sejak Baby Geni lahir.

Minggu, 22 Mei 2016

THE POWER OF A DRAFT, 5 REASONS WHY A DRAFT IS IMPORTANT!



This blogpost is based on my case. It can be used in your condition or just a reading article for you.
Jumat, 20 Mei 2016

Oleh-oleh dari Papua

Udah lupa tanggalnya, kayaknya sih akhir tahun kemarin. Desember 2015.

Papua, dulu ayah Hari sempat kerja di sana. Sebelum menikah. 

Eh pas aku hamil anak kedua, dia punya kesempatan buat ke Papua lagi. Hahaha...

Dulu pas sebelum nikah gak dikasih oleh-oleh. Terus pas hamil ada kesempatan ke Papua ya minta oleh-oleh lah. 

1. Tas 

Tas selempang enak buat dibawa jalan. Belum ada yang ngembarin. Hihihi...

2. Keripik Keladi

Ya mirip keripik singkong sebenarnya tetapi agak keras. Itu ada rasa asin dan rasa pedas. Cocok untuk teman lembur.

3. Abon Gulung

Waktu cari referensi apa yang paling cocok jadi oleh-oleh ternyata abon gulung jadi juara satunya. 

Model dadakan, "Enak ibu. Ayo makan!"

Abon gulung enak dinikmati bareng teh hangat di sore hari saat musim hujan.
Tas, keripik keladi, dan abon gulung andalan Papua

4. Tifa

Alat musik pukul dari Papua ini sengaja ayah beli buat Baby Gara yang lagi suka pukul drum.

 Dimainkan saat Baby Gara ingin difoto
Kamis, 19 Mei 2016

Ibu, Berapa Harga Perhatianmu?

Baby Gara bermain di tepian warung. Bolak-balik menyebrang. Ketika menyebrang ketiga kalinya ada motor yang hampir menabraknya. Untung si bapak mengemudi perlahan. Jika tidak mungkin Baby Gara sudah masuk rumah sakit.

"Makanya anaknya diliatin bu."
"Ini lagi diliatin. Makanya bisa teriak."

Ya Tuhan aku pengen ngomel sampai puas kalau gak ingat Baby Gara yang nyaris ketabrak.

Aku tidak sedang ngerumpi. Baby Geni digendongan dan Baby Gara sudah lari melesat untuk menyebrang. Jantung sudah berdetak kencang. It's like an adrenalin rush. Kejadiannya seperti sekedipan mata saja.

Aku tidak sedang bergunjing. Mataku sedang mengawasi gerak Baby Gara. Aku tidak siap dan langsung berteriak pada saat Baby Gara ternyata menyebrang lagi mengekor temannya yang sudah menyebrang duluan.

Ibu, berapa sih harga perhatianmu? Apa perlu dibuat rate card agar tidak kemurahan dikasih harganya?

Sungguh aku tidak sedang meleng. Namun kejadian yang kilat itu hanya menghasilkan teriakan saja.

Ibu oh ibu. Ternyata ini bukan masalah perhatian. Ini masalah bagaimana bereaksi cepat saat anak akan ketabrak.

Ibu perhatikan anakmu biar tidak menyesal kemudian.
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design