Featured Slider

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 13 Nilai Keluarga dan Harga Diri Anak

Nah pada waktu mengamati gaya belajar anak, ibu menemukan hal-hal kecil yang ternyata berkaitan dengan anak secara keseluruhan. 

Nilai keluarga dan harga diri anak. Nilai keluarga ternyata hal kecil dan paling dasar untuk akhirnya anak menemukan nilainya.

Setiap keluarga memiliki nilai yang mereka terapkan dalam rumah masing-masing. Berawal dari hanya suami istri lalu anak pertama kemudian anak kedua dan seterusnya. Nilai setiap keluarga berbeda tidak bisa disamakan apalagi dipaksakan. 

Nilai yang ingin kami tanamkan pada anak-anak adalah bagaimana bisa menerima diri kemudian baru bermanfaat bagi orang lain. Anak juga mampu mengelola emosi dan menerima tantangan dengan lapang dada. Anak menjadi pribadi yang takut Tuhan dalam artian yakin apapun dan dimanapun Tuhan mengawasi dan siap membantu. Saling menyayangi dan berbagi.

Memahami gaya belajar adalah bagian orangtua membantu anak menemukan diri untuk kemudian menjadi pribadi yang memiliki nilai, kompetensi, dan mencintai diri sendiri. 

***

Kegiatan:
Membiasakan Tidur Siang

Tujuan:
1. Anak mulai memiliki jadwal tetap untuk istirahat
2. Ibu mengenalkan sebab akibat
3. Anak tahu kapan harus main
4. Melatih kebiasaan
5. Ibu ikut memiliki prioritas harian
6. Anak mulai mengelola emosi

Deskripsi:
Pukul 11.00-12.00 WIB Gian memiliki waktu untuk menonton youtube dengan alarm standby
Ketika alarm berbunyi, mamas menyerahkan ponsel kepada ibu dan mulai menyantap makanan yang disiapkan sebagai makan siang. Setelah selesai duduk sebentar menikmati kartun kesukaan barulah sekiranya ibu selesai menyiapkan Geni, mamas minum kemudian pipis. Bersiap tidur siang.

Review:
Ibu amati ketika mamas memiliki waktu untuk tidur siang maka dia jauh lebih siap waktu ada tantangan yang datang. Pembicaraan berat seperti: kenapa tidak boleh teriak, tidak pukul, sayang dedek; bisa lebih mudah dipahami dan diaplikasikan. 

Mamas cenderung bisa mengelola emosinya. Mamas mampu bercerita dengan baik ketika adik berlaku kasar dan berteriak. Mamas tidak langsung balas berteriak atau tantrum saat adik memaksa meminta mainan yang sedang dimainkan mamas.

Istirahat bagi mamas adalah jeda bagi ibu sehingga saat berinteraksi lagi sama-sama dalam keadaan yang tenang dan siap.


ibu secara tulus meminta maaf karena sering terburu-buru merespon.
Ibu bereaksi berlebihan ketika mamas Gian tanpa sengaja membenturkan bis mainannya ke bibir adeknya sampai berdarah. Mamas menangis karena dia merasa bersalah tetapi dia juga tidak sengaja.
👦"Makanya ibu jangan marah-marah terus dong. Aku kan juga jadi jahat."
👩"Ibu minta maaf ya nak."
👦"Ibu kalau udah minta maaf, jangan diulangi dong."
👩"Insya Allah ya nak. Mamas bantu ibu juga ya. Kalau ibu marah mamas Gian ingatin."
👦"Iya aku ingetin ibu. Aku kan sayang ibu."
👩"Terima kasih. Boleh minta peluk?"
Semua berakhir dengan pelukan.

Menangis ini memang tantangan di keluarga kami. Ibu akan marah ketika mamas menangis padahal sudah diingatkan untuk ngomong aja apa yang diinginkan tanpa perlu menangis. Kemudian beberapa menit kemudian sebuah artikel menjelaskan bahwa tangisan adalah cara anak meluapkan emosi untuk kemudian menemukan solusi. Datang di saat yang tepat. Saat ibu mengambil jeda untuk sadar utuh dan penuh dalam membersamai anak-anak.


Tunggu ya Ibu! Aku pasti siap menyayangi diriku dan dedek.

Memenuhi kebutuhan anak secara penuh membuat ibu lebih menikmati waktu mengamati gaya belajar anak. Ibu membiarkan anak mengeksplor apa saja dan mengingatkan dengan cara yang baik juga lembut. Nilai keluarga mulai ditanamkan dan harga diri anak mulai dibentuk.

Mamas Gian hari ini membelikan adiknya jasuke lalu membantu melepaskan celana saat adiknya kesusahan karena buru-buru mau pipis, dan membantu ibu memandikan adiknya. 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah tahu waktu, main hp ya main hp terus saatnya tidur ya tidur
2. Suka menjelaskan dengan wara-wiri mengeringkan badan
3. Fokus mandi baru bantu adiknya mandi
4. Bercerita apa yang sedang dilakukan saat ayah pulang kerja
5. Mulai berkurang screen time dan main di luar lebih sering

(593)

#harike13
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 12 Pahami Anakmu Bukan Anak Tetanggamu

Prioritas berubah. AKU MULAI MENERIMA RASA MARAH. Pelan tapi pasti aku sadar dimana aku berada. Tidak perlu nyinyir dengan anak orang karena aku tidak tahu, pertempuran macam apa yang sedang mereka hadapi.

Belum bisa menghargai diri sendiri membuat ibu berkompetisi dalam membesarkan anak

Bagaimana ibu bisa mendidik anak dengan rasa aman sementara dulu dia dididik juga menggunakan perbandingan dengan anak orang? Tentu akan jadi kompetisi tidak sehat yang tak berkesudahan jika ibu tidak segera sadar dan mulai fokus ke diri sendiri, KE ANAK SENDIRI bukan anak tetangga.

Prioritas tentu tentang proses. Tentang menikmati peran sebagai ibu. Tidak melulu ego, cemburu, dan marah. Tuhan kasih amanah suami dan anak-anak juga tidak asal. KESUKSESAN IBU adalah ketika dia IKHLAS ANAKnya MANDIRI. Banggakah ibu ketika anaknya mandiri tetapi masih cengeng sesekali? Ikhlaskah ibu ketika anaknya belum bisa mengkancing baju sendiri? Tetapkah ibu mencintai anaknya saat sudah mulai protes dan mendebat?

Pada saat anak mulai bertumbuh, jika prioritas ibu memang anaknya maka ibu akan fokus dengan kelebihan dan kekurangan anaknya. Bukan melihat kelebihan anak orang dan selalu fokus ke kekurangan anak sendiri. 
Mendidik Seadanya Berharap Hasilnya Luar Biasa, Sadarkah Aku?

Mendidik dengan hati di zaman ini merupakan tantangan sendiri. Tempat mengekspos apa yang dimiliki begitu banyak. Godaan-godaan untuk memberi tahu ke dunia luar betapa hebat dan tanpa celanya anak kita begitu tinggi. Namun begitu prioritas ditetapkan maka ada banyak jalan yang terbuka agar kita tetap fokus pada anak kita bukan anak orang lain. 

👰"Anakku udah bisa baca lho padahal umurnya baru 3 tahun."
👱"Anakku udah bisa baca dan renang tuh."
👰"Oh kalau anakku bisa baca, renang, dan ngomong tiga bahasa asing."
👩"Aku masih bingung gimana cara lepas popok sekali pake nih. Ada ide gak?"
👰👱👯 "😏😏😏."

***





#harike12
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 11 Adakah yang Salah dengan Bermain?

 
"Anak memiliki hak untuk bermain. Melakukan sesuatu untuk bersenang-senang."
Lantas kenapa dilarang? BELUM TUNTAS dengan DIRI SENDIRI. Aku sadar membersamai anak-anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa ada banyak catatan-catatan kelam yang sudah dikubur di bagian paling dalam ingatan, harus dibuka kembali. Percayalah, saat seperti itu mau ditunda selama apapun, akan datang lagi. Siap atau tidak.

TUNTAS BERAWAL dari MENERIMA. Menerima diri sendiri meski tertatih. Ini bukan demi anak-anak tetapi demi diriku sendiri. Lho kok begitu? Semakin aku memaksa memberikan waktu bermain demi kepentingan anak-anak, aku merasa semakin marah. Marah karena dulu aku tidak memiliki cukup masa untuk menikmati masa main suka-suka. Tiba-tiba yang ada di ingatan aku adalah luka-luka dilecehkan juga di-bully di Sekolah Dasar. Setelah segala macam proses naik turun membangun kesadaran bahwa aku sudah menjadi ibu maka tangga yang sedang aku tapaki saat ini adalah menerima. TIDAK APA-APA MEMBIARKAN ANAK BERMAIN SEPUASNYA. Aku hanya perlu mengawasi jika memang ada yang membahayakan.

Tentu tidak ada yang salah dengan bermain. Main adalah hak anak yang ada di undang-undang perlindungan anak. ORANGTUA yang PERLU MENGUBAH CARA PANDANG. 

Membiarkan anak bermain berarti memenuhi haknya dan juga pada akhirnya membuat aku merasa berguna sebagai ibunya. Penerimaan inilah yang akan menumbuhkan hubungan kasih sayang anatara ibu dan anak. TAK PERLU BURU-BURU APALAGI MEMAKSA. Latih terus dan terus. Tumbuh bersama.

***

Kegiatan:
Mengamati Siput

Alat dan Bahan:
Kamera hp
Siput

Tujuan:
1. Ibu mengamati anak
2. Anak mengamati bagian-bagian tubuh siput
3. Anak tahu cara berjalan siput
4. Ibu bertanya untuk mengamati lebih lanjut
5. Anak tahu kenapa siput berjalan lambat

Deskripsi:
Pagi yang basah dan dingin tetapi itu tidak menghalangi mamas Gian untuk duduk di taman yang sudah bersih. Ibu menunggu tukang jamu sambil perlahan menghirup udara segar.

👩"Mamas sedang apa?"
👦"Main game di hp ayah."
👩"Coba lihat mas, ada siput."
👦"Ibu, itu lihat yang di bawah. Siputnya matanya satu. Ada yang kecil juga. Tuh ada juga yang mau masuk ke rumah."
👩"Mamas mau pegang rumahnya?"
👦"Gak ah takut. Nanti gigit."
👩"Coba difoto pakai hp ayah. Apakah jadi lebih besar di layar hp?"
👦"Gak kok bu. Sama aja. Siput jalannya lambat tapi bisa menang lawan kelinci."
👩"Setiap ciptaan Tuhan itu punya kekuatan dan kekurangan mas."
👦"Iya aku tahu. Siput punya temen yang baik, yang bantu dia terus."
👩"Mamas punya siapa yang bantu?"
👦"Ayah, ibu, dedek. Temen-temen aku juga kalau mereka lagi gak jahat."

 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah mulai berkomitmen. Boleh main hp sebentar saat ayah bersiap ke kantor
2. Mulai bisa mengerti kosakata berat seperti kekuatan, kekurangan
3. Mulai bisa bercerita dengan runut
4. Emosi masih naik turun tetapi bisa diajak bernegosiasi
5. Mulai menggunakan jari untuk mengetahui alfabet, angka, dan gambaran kata yang ingin dia ketahui atau jelaskan

(448)

#harike11
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 10 Tanpa Pijakan Bagai Berjalan Tanpa Tujuan

Ada peringatan yang secara tidak sadar sering diberikan orangtua kepada anak-anak, "Sudah jangan main terus, belajar dong."

Terus ketika anak-anak mulai susah diatur, orangtua malah menyalahkan anak dengan bilang, "Masa kecilmu kurang main nih."

BERMAIN. Banyak orangtua yang belum sadar, bermain adalah hak anak dan itulah cara anak mengenal lingkungan, baik itu lingkungan kecil keluarga maupun sudah lingkungan luar rumah. 

BERMAIN SAMBIL BELAJAR. Tanpa bermain anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang rawan stres dan memandang lingkungan dengan penuh ketakutan. Menjalani hidup dengan begitu banyak benturan yang menyakitkan dan drama-drama berlatar belakang cerita tragis. Kenapa begitu? Bermain adalah sarana anak belajar. Bukankah akan lebih bisa maksimal kita mendapatkan manfaat dari sebuah kegiatan jika dilakukan dengan penuh suka cita dan kesadaran juga tanpa paksaan. 

ORANGTUA WAJIB PUNYA ILMU. Masa-masa emas 0-5 tahun, bisa saja berlalu tanpa adanya kesiapan dan kesadaran orangtua bagaimana memberikan pijakan agar anaknya mampu menuntaskan tugas perkembangannya dengan baik. Bisa jadi mahal karena orangtua tidak punya cukup bekal. Ya sudahlah ya sekolahin aja deh di sekolah anak usia dini yang mahal, ada inih uangnya. Namun akan lebih maksimal jika ketika di rumah, ikatan juga dibangun. Jadi ada kesinambungan antara ilmu dari sekolah dan juga visi misi di rumah.

MULAI MEMPELAJARI GAYA BELAJAR ANAK. Setelah mengetahui gaya mengajar diri sendiri, selanjutnya orangtua memberikan waktu yang berkualitas untuk lebih mengenal anaknya. Tidak hanya menyerahkan urusan pendidikan ke pihak sekolah tetapi juga ikut berperan aktif menyehatkan anak baik jasmani juga rohani.
***
👦"Aku mau sekolah kalau guruku gak marah-marah lagi."
👦"Temen-temen sekolah aku jahat. Gak mau temenan sama aku."

Setelah aku telusuri lagi, semua berasal dari ketidakmampuan aku berkomunikasi dengan mamas Gian. Aku kurang benar-benar bisa memastikan apa yang mamas butuhkan. PIJAKAN, RASA AMAN, dan TUJUAN. Aku tidak menjelaskan kenapa sih mamas harus bangun pagi, mandi, sarapan, dan berangkat sekolah. Sehingga pada akhirnya mamas tidak punya tujuan yang jelas ketika bersekolah.

Kemudian aku mulai sadar, aku harus berikan hak main pada mamas. Rasa ingin tahu, kemauan untuk menemukan sesuatu, meningkatkan kreativitas, dan tetap memiliki empati juga beradab.

***
Kegiatan:
Menanam Benih Bunga Texas Lemon

Alat dan Bahan:
1 bungkus benih bunga
Pot
Tanah
Sekop kecil
Cangkul kecil
Panggaruk kecil
Watering can

Tujuan:
1. Ibu mengamati anak
2. Anak bermain tanah dan mengeksplor alat-alat berkebun
3. Anak tahu tahapan menanam bunga
4. Ibu mulai paham bagaimana memberikan pijakan sebelum melakukan kegiatan
5. Anak tahu bagaimana bertanggung jawab setelah menanam benih

Deskripsi:
Setelah satu hari sebelumnya membeli bersama satu bungkus benih bunga, ibu mulai mempersiapkan alat dan bahan untuk berkebun. Mamas Gian sangat suka tanah dan peralatan apapun yang bikin dia bisa lebih dekat dengan tanah. Batu juga sih. Benih bunga ibu beli di Superindo THB dengan harga Rp19.950 (kalau beli online lebih murah tetapi ibu ingin ada pengalaman langsung yang mamas dapatkan).
Jarang ada anak yang menolak main kotor
Setelah bangun tidur, mamas langsung menagih untuk segera menanam. Ibu mulai mencontohkan membuat lubang dengan cangkul kecil, sementara mamas Gian menggunakan penggaruk saat mengambil batu-batu yang mengganjal di sekitaran pot. Ibu memberikan pijakan agar mamas tetap waspada karena alat-alat berkebun memiliki sisi-sisi yang tajam. Setelah itu mamas melakukan semua sendiri.

Pijakan lebih agar anak tahu alur dan lebih efisien dengan waktu mainnya

Review
Mamas Gian menikmati kegiatan berkebun dengan mengeksplor sendiri tanpa banyak bertanya selama proses. Waktu selesai menanam dan menyiram barulah mamas bertanta.
👦"Aku harus siram berapa kali bu?"
👩"Sehari sekali cukup mas. Kalau sore hujan gimana? Perlu disiram?"
👦"Gak usah."
👩"Kira-kira tumbuhnya bakalan lama apa sebentar."
👦"Ini ada tiga di sini."
👩"Oh itu 3 bulan bacanya. Artinya butuh 3 bulan untuk dia tumbuh."

Seharusnya bukan orang lain yang lebih kenal anakku tapi aku
Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sangat suka menggunting
2. Ketika melihat benih mamas mengamati dari mulai dilihat, dipegang untuk merasakan tekstur hingga mencium apakah benih itu memiliki bau
3. Proses eksekusi berjalan lancar dengan pijakan dan bantuan yang minim. Ibu sibuk motret dan wawancara saja

(636)

#harike10
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 9 Bila Sama Lantas Petaka

Memahami anak tetapi belum memahami diri sendiri, apakah bisa? MODAL NEKAT. Terus mau bagaimana? Lha udah ada anak. Mau mengelaknya kaya apa ya ujungnya harus balik ke tanggung jawab sebagai orangtua. JATUH BANGUN juga NAIK TURUN. Namun, hidup akan selalu begitu kan yak. Tidak hanya menyuguhkan warna-warni tetapi juga gelapnya.

Awalnya menduga-duga dulu aja. Kemudian, aku memutuskan gaya mengajarku adalah memadukan semua baik itu visual, auditori, maupun kinestetik.

Kegiatan:
Membuat label

Bahan dan Alat:
Kertas A3
Krayon
Gunting
Isolasi

Tujuan:
1. Anak memahami konsep merapikan setelah bermain
2. Ibu meneliti gaya belajar anak
3. Ibu mengenalkan konsep gambar dan tulisan

Deskripsi:
Ibu marah karena menemukan mainan yang tercecer dan gak lengkap. Mamas ogah-ogahan membereskan. Ibu mulai menuangkan semua mainan ke karpet main. Setelah itu mengumpulkan semua barang-barang yang bisa dijadikan wadah mainan-mainan. Setelah semua siap, ibu mulai memikirkan taktik untuk mengobservasi mamas yang sedang asyik menonton kartun.

👦"Ibu, kita kemarin sudah beres-beres. Kok beres-beres lagi?"
👩"Kira-kira kenapa?"
👦"Mainan aku kebanyakan ya."
👩"Terus?"
👦"Ibu marah-marah karena mainan aku berantakan."
👩"Kenapa berantakan?"
👦"Dedek kan bikin berantakan melulu. Aku capek ibu kalau suruh beresin melulu."
👩"Lalu harus bagaimana? Apa kita buang saja semua?"
👦"Gaaak! Aku bantu ibu beresin."

Mamas mulai menjadikan satu tempat mainan yang satu macam. Ibu memberikan cerita bagaimana label-label membuat kita jadi lebih mudah dan cepat membereskan barang-barang. Mamas menanggapi dengan menggambar mainan-mainan di kertas yang ibu siapkan dengan menggunakan krayon. Mamas gunting dan kasih isolasi. Sempat mengeluh capek karena sudah terganggu dengan suara teman-teman yang berkejaran di luar. Mamas berusaha menyelesaikan dengan cepat dan kabur setelah selesai.



Review:
Ini kaya semacam pemberontakan, “Lu kan baru hadir yak di hidup gue. Terus lu asyik aja gitu mengambil semua waktu gue yang berharga."

Ini yang muncul ketika anak-anak mulai meminta waktu dan juga porsi perhatian yang lebih besar. Aku menjadi kehilangan diriku juga kewarasanku. Padahal kalau dipikir saat waras, anak mana sih yang minta dilahirkan atau bisa memilih orangtua yang sesuai dengan mau mereka? Ya emang kudu orangtuanya kan yang sadar. Oh aku sudah punya anak. Anak pertamaku sangat baperan karena efek aku yang belum selesai dengan diriku. Aku masih saja kelepasan marah karena memang tidak sadar utuh, membuka hati dan pikiran untuk melihat mamas Gian tanpa penghakiman. BELAJAR  IKHLAS MENCINTAI ANAK TANPA EMBEL-EMBEL. Ada kemungkinan karena kita terlalu sama jadi banyak ributnya ya nak. Namun toh kita berusaha untuk nantinya saling mengisi.

Waktu bersama yang terkadang berakhir saling menyakiti, ya tak apa toh usaha tak akan pernah mengkhianati
Kesimpulan sementara observasi gaya belajar GianGaraGembul:
1. Mudah terganggu keributan
2. Saat bekerja suka bicara pada diri sendiri
3. Mudah mengingat jalan atau tempat saat pernah berada/melewati

(435)

#harike9
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 8 Apa yang ingin Aku Ajarkan?

Di level empat, aku merasa menjadi orangtua tidaklah semudah bikin mie instan. Aku justru semakin melihat siapa diriku sebenarnya saat menghadapi anak-anak.

Sibuk dengan ponsel, mengurus kebutuhan anak sambil balas pesan, dan mudah marah ketika anak-anak mencari perhatian dengan melibatkan orang luar. Gambaran orangtua yang masih belum selesai dengan diri sendiri. Aku terkadang masih antara sadar dan tidak memiliki dua anak. 

Ketika sadar, rasa yang sering muncul adalah menyesal. Komunikasi produktif, melatih kemandirian, dan meningkatkan kecerdasan anak semacam tugas-tugas yang berlalu tanpa kesadaran. Aku kembali pada pola bentakan dan pukulan. 

Menyesal karena baru sekarang belajar dan praktik ilmu mendidik anak. Oleh karena itu aku jadi naik turun juga trial error mode on. Walaupun pada akhirnya berdamai, dan berusaha untuk kembali sadar.

Terus bagaimana mau memahami gaya belajar anak padahal belum tahu apa yang mau diajarkan? Eh apa malah belum tahu apa gaya belajar anaknya?

Aku dong yak. Jiaaah si emak, ngaku kan. Daftar pengakuan emak nih:

1. Belum menemani anak-anak secara utuh dan penuh
2. Kurang observasi dan mencatat secara detil dan konsisten
3. Memaksa anak-anak untuk paham kondisi orangtua
4. Memberikan lingkungan main yang penuh tekanan bukan menyenangkan
5. Masih belum paham bahwa anak-anak harus dibiasakan karena mereka memang belum bisa secara otomatis merespon lingkungan yang berubah-ubah

***


"Emosi ibu yang naik turun sudah mulai ditiru oleh anak. Ya, anak tidak pernah salah meniru."
Pada hari ini, aku mengingat kembali reaksi Gian saat aku belajar foto. Hari itu dengan dengan bersemangat membantu memegang reflektor. Mamas sangat senang karena bisa terlibat dan teman-teman belajarku juga memujinya. Ternyata mamas Gian suka dipuji dengan kata-kata. Semacam pengakuan. 

"Ini lho aku bisa."

Menunggu hingga hari ke delapan untuk akhirnya memulai tantangan level 4. Aku akhirnya mulai mengingat apa yang dulu orangtuaku ajarkan padaku. Bangun karena mau sekolah, disiplin karena harus mengaji, dan jarang berkumpul untuk bertukar pikiran atau sekedar menceritakan apa saja yang dilakukan hari ini. Lantas apa yang ingin aku ajarkan pada anak-anakku? Apakah aku akan berhasil mendidik anak-anak dengan memahami gaya belajar mereka?

Memahami gaya belajar pada akhirnya "memaksa" ayah dan ibu mengorek kembali ke masa saat  dididik oleh orangtua mereka.

Ketika aku ngeh mamas Gian suka sekali meminta pengakuan padaku, ada bohlam menyala sebagai tanda ada rasa takut dia yang menyeruak. Dia takut tidak diakui oleh ibunya. Nah itu aku dulu. Orangtua zaman dahulu bukan tipe yang suka memuji di depan anaknya melainkan koar-koar kepada orang lain. Pada akhirnya aku tumbuh mencari pengakuan orang lain yang seandainya aku dapatkan cukup dari orangtuaku maka aku bisa hidup jauh lebih nikmat.

Awalnya aku berencana membiarkan semua berjalan dengan sendirinya. Ya biarkan waktu saja yang mendewasakan anak-anakku. Terus menyatu lagi puzzleku, tanpa stimulasi dari orangtua lantas bagaimana cara anak bertahan dengan dunia yang serba membingungkan ini? Apakah orangtua jadinya berhutang pada anak?

"Orangtua tugasnya kerja, anak ya tugasnya sekolah. Kalau udah lulus baru kerja gantiin peran orangtua."
"Bisa makan tiap hari aja sudah syukur, ibu harus apa lagi?"
"Sudah bisa sekolah malah mogok, coba lihat yang lain yang tidak bisa sekolah. Harus berkeliaran mencari rongsok."


"Tinggal main aja berisik."

BINGGO. Secara tidak sadar aku membawa masa-masa tumbuh sendiri dan berharap anak-anak juga akan melakukan hal yang sama. GAGAL. Semakin hari anak-anak tumbuh jadi anak yang gampang marah, sok perfeksionis, tapi cepat menyerah. DIKIT-DIKIT BAPER.

Mau tidak mau, aku harus mulai lagi dari awal memberikan kegiatan pada Gian. Aku sebaiknya kembali menjalankan fungsi ibu yang sesungguhnya yaitu menjadi madrasah bagi anak-anakku. Kemudian baru bisa mengobservasi secara detil, tipe pembelajar apakah mamas Gian? Visual, auditori, atau kinestik?

Mungkin bisa aku awali dengan SESERING MUNGKIN BERTERIMA KASIH, MEMUJI dan MEMBERIKAN WAKTU YANG BERKUALITAS sehingga anak-anak bisa belajar serta tahu jika orangtuanya sayang mereka apa adanya. Bukan karena bisa begini bisa begitu. ANAK TAHU KALAU ORANGTUANYA TULUS MENERIMA KEKURANGAN JUGA KELEBIHAN DIA.

(626)

#harike8
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 10 Ujian Ketahanan Mental

Level 3 berakhir dengan rasa menyesal. Kenapa tidak ada perencanaan matang dan jadwal tertib.

Ibu berpikir, keahlian multitasking akan membereskan segalanya. Family project akan selesai sesuai waktu begitu pula laporan.

Ternyata oh ternyata, semua bubar jalan.

Uji ketahanan mental saat ibu sibuk menjadi panitia di beberapa acara rumah belajar sementara mamas Gian menuntut kegiatan agar tidak bosan.

Ibu juga kecewa karena ketiduran dan lupa bikin laporan yang sudah ada di draft.

Ya sudahlah. Mari dibenahi sama-sama. semoga di level selanjutnya lebih maksimal dan utuh lagi.

#harike10
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional